Home / Budaya / BKB Penanda Identitas yang Terancam Beton

BKB Penanda Identitas yang Terancam Beton

“Kalau ada pembangunan di BKB, harus ada koordinasi,” katanya. “Kami, sebagai zuriat, berharap pembangunan gedung tujuh lantai itu tidak dilanjutkan”.

Bagi Sultan dan para zuriat, Benteng Kuto Besak bukan sekadar peninggalan leluhur. Ia adalah marwah—harga diri kolektif yang membentuk Palembang sebagai kota dengan akar sejarah yang kuat. Ketika benteng itu terancam, yang goyah bukan hanya struktur bangunannya, tetapi juga narasi tentang siapa Palembang dan hendak ke mana ia melangkah.

Peserta aksi “12.12 Penyelamatan BKB” di halaman kantor Gubernur Sumsel. (FOTO: D Oskandar)
Peserta aksi “12.12 Penyelamatan BKB” di halaman kantor Gubernur Sumsel. (FOTO: D Oskandar)

Koordinator aksi, RM Genta Laksana, mengingatkan kembali fungsi awal BKB. Sejak berdiri, benteng ini adalah pusat pemerintahan, tempat keraton berada, sekaligus benteng pertahanan. “Sejarah mencatat pertempuran besar pada 1812, 1819, dan 1821—masa-masa ketika Palembang berhadapan langsung dengan kekuatan kolonial”, katanya bersemangat.

Hari ini, pertempuran itu berubah bentuk. Tidak lagi meriam dan bedil, tetapi izin, anggaran, dan kebijakan. Bukan penjajah asing, melainkan logika pembangunan yang kerap lupa menoleh ke belakang.

Benteng Kuto Besak telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional sejak 2004. Ia bahkan tercatat dalam kajian pertahanan sebagai warisan budaya bernilai strategis. Namun status itu belum tentu menjamin perlindungan. Dalam praktiknya, BKB masih berada di bawah penguasaan Kesatuan Kesehatan Kodam II/Sriwijaya (Kesdam II Sriwijaya), dengan fungsi dominan sebagai kawasan rumah sakit dan pendidikan keperawatan.

Di sinilah kegelisahan itu bermula. Ketika ruang sejarah dikelola sepenuhnya dengan logika fungsional modern, publik bertanya, “Di mana tempat ingatan kolektif?”

Aksi 12.12 Penyelamatan BKB bukan sekadar penolakan proyek. Ia adalah upaya mengingatkan negara bahwa benteng bukanlah lahan kosong. Ia adalah teks sejarah yang bisa dibaca, dirasakan, dan diwariskan. Jika teks itu dihapus atau ditimpa, maka satu halaman penting sejarah Palembang akan hilang.

Dari halaman inilah kisah Benteng Kuto Besak berlanjut—dan bersinggungan dengan nasib benteng-benteng lain di Nusantara. Maka bertanyalah kepada negara, “Bagaimana negara memperlakukan warisan pertahanannya? Apakah benteng hanya tinggal monumen mati, atau masih dianggap sebagai jantung identitas bangsa?”

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tagged: