Home / Budaya / BKB Penanda Identitas yang Terancam Beton

BKB Penanda Identitas yang Terancam Beton

 KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK Salat Jumat (12/12) di Masjid Agung SMB I sudah usai. Di depan masjid bersejarah dan menjadi ikon kota Palembang, sudah berkumpul ratusan massa yang menggelar aksi “12.12 Penyelamatan BKB” yang berasal dari berbagai eleman masyarakat yang menamakan diri “Aliansi Penyelemat Benteng Kuto Besak”.

Hujan yang sejak beberapa hari lalu mengguyur kota Palembang, siang itu seperti berhenti sejenak, seperti memberi kesempatan kepada peserta aksi untuk menggelar aksinya di pelataran air mancur yang ada di depan Masjid Agung Palembang.

Hari itu di tengah hiruk-pikuk lalu lintas atau gemericik Sungai Musi yang mengalir malas di bawah Jembatan Ampera, kota tua itu seolah dipanggil kembali oleh ingatannya sendiri. Ratusan orang bergerak perlahan, berjalan kaki dalam barisan panjang melintas di Jalan Jendral Sudirman hendak menuju Kantor Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) di Jalan Kapten A Rivai.

Langkah-langkah mereka bukan sekadar long march unjuk rasa. Ini adalah iring-iringan memori. Di antara massa itu hadir zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, sejarawan, budayawan, seniman, akademisi, dan warga kota yang selama ini hanya menjadi saksi bisu perubahan Palembang. Spanduk dan poster dibentangkan, bukan dengan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan dengan kegelisahan yang telah lama dipendam. Di dada mereka, satu nama terus disebut “Benteng Kuto Besak” atau kerap disebut “BKB”.

Di depan Kantor Gubernur Sumsel, suara terus digemakan. Atraksi kuntau Palembang dipertunjukkan, gerakannya tegas namun penuh tata krama, seperti pesan yang hendak disampaikan tanpa teriak. Syarofal Anam dilantunkan, menyambung doa dengan sejarah. Puisi dan pantun dibacakan, mengingatkan bahwa protes tidak selalu lahir dari amarah, tetapi bisa juga dari cinta.

Hari itu, massa menolak pembangunan gedung baru tujuh lantai Rumah Sakit dr. AK Gani yang berdiri—atau akan berdiri—di zona inti kawasan Cagar Budaya Benteng Kuto Besak (BKB). Bagi mereka, ini bukan sekadar soal bangunan bertingkat, melainkan soal batas, batas antara kebutuhan hari ini dan penghormatan terhadap masa lalu.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Tagged: