Home / Lingkungan / Crowdfunding Bencana Sumatera dari Ferry Irwandi (Bukti Solidaritas Nggak Ada Matinya di Indonesia)

Crowdfunding Bencana Sumatera dari Ferry Irwandi (Bukti Solidaritas Nggak Ada Matinya di Indonesia)

Jika kita lihat aksi Ferry Irwandi sebagai penggiat sosial dan kreator konten, melakukan live streaming dan membuka kampanye di platform Kitabisa.com untuk bantuan bencana di Sumatera. Penggalangan donasi yang dilakukan ayah dua orang anak ini menunjukkan kombinasi strategi, ada storytelling langsung (live), verifikasi lewat platform besar, serta komunikasi intensif di instagram/YouTube. Kemudian laporan media massa nasional dan tangkapan layar kampanye di platform mendokumentasikan angka Rp10.374.064.800 yang berasal dari 87.605 donatur,

Mengapa sukses melakukannya dan mengumpulkan bantaun sebesar itu dalam waktu singkat? Jawabannya, perpaduan trust (pengikut yang percaya), penggunaan platform terverifikasi (Kitabisa.com), dan momentum (bencana memicu empati luas). Selain itu, live streaming memberi mekanisme “real-time accountability” (donatur melihat up-date dan narasi yang berjalan).

Bantuan yang berhasil dikumpulkan Ferry Irwandi dan Kitabisa.com didistribusikan kepada korban terdampak banjir atas nama masyarakat Indonesia. (FOTO: IG @irwandiferry)
Bantuan yang berhasil dikumpulkan Ferry Irwandi dan Kitabisa.com didistribusikan kepada korban terdampak banjir atas nama masyarakat Indonesia. (FOTO: IG @irwandiferry)

Solidaritas Digital

Apa yang terjadi dalam menghimpun dan menyalurkan donasi bencana alam, kita saksikan adanya konvergensi dua tradisi, yaitu gotong royong Indonesia dan civic tech. Di satu sisi, nilai lama, saling bantu, urunan, bumbung kemanusiaan tetap menjadi ruh; di sisi lain, medium baru, siaran langsung, platform digital, analitik donasi memberikan kecepatan, skala, dan transparansi yang belum pernah ada.

Apa yang dilakukan dan dihimpun Ferry Irwandi adalah pertanda warga tidak menunggu; mereka memobilisasi sendiri. Ini menunjukkan literasi sosial yang meningkat, kesediaan bertanggung jawab, dan kemampuan mengidentifikasi kanal terpercaya untuk bertindak. Kemudian adanya, kepercayaan jaringan horizontal. Kepercayaan pada sesama (komunitas, kreator, lembaga filantropi) bekerja sebagai modal sosial. Kepercayaan ini bukan tanpa syarat—ia ditopang oleh transparansi, audit publik, dan reputasi.

Ini juga menjadi potret demokratisasi bantuan. Donasi datang dari pelajar hingga pekerja lepas, dari UMKM hingga diaspora; denominasi donasi mungkin kecil, tapi kumulatifnya besar. Ini membuat respons kebencanaan tidak dimonopoli satu entitas, melainkan dibagi oleh banyak tangan yang saling bergandengan. Di situ juga ada integrasi lintas sektor. Ketika pemerintah menyiapkan skema bantuan dan komunitas menggalang dana, lalu lembaga sosial menyalurkan logistik—maka ekosistem bantuan menjadi berlapis, saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Ini memperkuat resiliensi sosial.

Pages: 1 2 3 4 5 6

Tagged: