Home / Lingkungan / Crowdfunding Bencana Sumatera dari Ferry Irwandi (Bukti Solidaritas Nggak Ada Matinya di Indonesia)

Crowdfunding Bencana Sumatera dari Ferry Irwandi (Bukti Solidaritas Nggak Ada Matinya di Indonesia)

Tahun 2008-2009 menjadi titik balik kritis yang didorong krisis finansial global membuat kesulitan akses pendanaan tradisional, serta kemajuan teknologi pembayaran online. Tahun 2008 lahir platform Indiegogo disusul Kickstarter. Mereka mempopulerkan model reward-based crowdfunding untuk proyek kreatif dan inovasi.

Lalu terjadi ekspansi ke bidang sosial dan kemanusiaan, ditandai dengan hadirnya platform khusus sosial. Seperti, GoFundMe (2010): Awalnya untuk segala kebutuhan pribadi (medis, pendidikan), menjadi raksasa dalam crowdfunding bencana dan sosial.

Kini platform digital telah menjadi pilihan terpecaya dalam menyalurkan dana masyarakat ke korban bencana. Ada sejumlah link donasi tepercaya yang dikurasi media. Selain Kitabisa.com ada Dompet Dhuafa dan juga BAZNAS.

Mengapa menghimpun dana atau donasi publik lewat crowdfunding bisa meningkatkan atau terkumpul dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat? Bisa jadi ini adalah model tata kelola kepercayaan baru. Dimana kepercayaan kini tidak hanya melekat pada atau milik institusi formal, tetapi juga pada figur dan komunitas yang menjaga disiplin akuntabilitas publik. Ini menantang lembaga atau institusi untuk terus memperbaiki transparansi dan komunikasi.

Bantuan yang dihimpun Ferry Irwandi dan Kitabisa.com diangkut ke lokasi bencana dengan pesawat Polri. (FOTO: Dok. Polri)
Bantuan yang dihimpun Ferry Irwandi dan Kitabisa.com diangkut ke lokasi bencana dengan pesawat Polri. (FOTO: Dok. Polri)

Ini juga menjadi pertanda ekonomi moral digital. Di kala terjadi efisiensi anggaran negara ekonomi yang ketat, ternyata ekonomi moral menggerakkan arus kecil dari banyak orang. Dalam 24 jam, belasan ribu mikrotransaksi menjadi jutaan yang relevan untuk pangan, obat, dan selimut.

Sekaligus ini adalah pertanda politik empati. Warga memilih bertindak, bukan sekadar beropini. Empati yang terukur—yang bisa dilihat angka dan jejak penyalurannya—menjadi “mata uang” baru yang memperkuat kohesi sosial. Juga isyarat atau pertanda kesiapan ekosistem sipil. Platform, kreator, media, dan lembaga filantropi telah terhubung. Ketika bencana terjadi, jalur-jalur ini hidup, tidak mulai dari nol. Ini mempercepat golden hours bantuan untuk korban terdampak dari bencana alam.

Pages: 1 2 3 4 5 6

Tagged: