
KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK, Sekayu – Pagi, 3 Desember 2025, ruang rapat Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tampak lebih hidup dari biasanya. Kursi-kursi disusun rapi, proyektor menyala terang, dan para staf tampak menyiapkan berkas dengan ritme sedikit lebih cepat. Ada suasana antusias bercampur penasaran, karena hari itu Tim Patriot dijadwalkan mempresentasikan hasil penelitian mereka tentang kawasan transmigrasi di Kecamatan Sanga Desa, yaitu Air Balui, Jud, dan Nganti.
Selama tiga bulan, Tim Ekspedisi Patriot dipimpin Aufa Fadhil Islami turun langsung ke lapangan. Ada tim yang yang turun ke Muba, mereka adalah Tim Patriot dari Kementerian Transmigrasi yang berasal dari Universitas iponegoro (Undip) Semarang. Tim 1 terdiri dari Ketua LM Sabri, anggota: Aufa Fadhil Islami (Teknik Geodesi), Aurelia Prawita Putri (Administrasi Publik), Giananda Al Aurasesar (Kesehatan Masyarakat) dan Ida Maulida (Perencanaan Wilayah dan Kota). Tim terdiri dari Ketua Rizal Hari Magnadi, anggota: Belva Nadindra Fitri (Oseanografi), Muhammad Fakhru Rozik (Teknik Geodesi), R. Nur Wahab (Kesehatan Masyarakat), Shofi Saida Septiana (Agroekoteknologi).
Selama di lokasi penelitian, mereka menyusuri jalan poros yang sebagian berlubang dan sebagian lagi hanya berupa tanah merah yang mengering. Mereka masuk ke sekolah, menemui petani, berbincang dengan perangkat desa, hingga menatap sendiri batas desa yang garisnya terkadang lebih samar daripada kabut pagi. Semua dilakukan demi satu tujuan, merumuskan peta jalan pembangunan kawasan transmigrasi yang lebih manusiawi, lebih terarah, dan lebih berkelanjutan.
Melihat Lebih Dekat Kawasan Transmigrasi
Air Balui, Jud, dan Nganti bukanlah nama yang asing bagi mereka yang mengikuti sejarah pembangunan transmigrasi di Musi Banyuasin. Kawasan ini merupakan rumah bagi ribuan warga yang dulu berani mengambil langkah besar untuk membangun hidup baru di tanah yang belum sepenuhnya tersentuh pembangunan.

Namun, seiring waktu, sejumlah persoalan muncul, jalan yang belum memadai, fasilitas publik yang mulai menua, pengorganisasian masyarakat yang melemah, hingga persoalan lahan yang belum sepenuhnya memiliki kepastian hukum. Semua itu membutuhkan penyelesaian terarah dan jangka panjang. Itulah yang coba disusun Tim Patriot melalui penelitian intensif mereka.
Pagi menjelang siang di ruang rapat Disnakertrans yang berlokasi di Jalan Kolonel Wahid Udin, layar proyektor mulai menampilkan slide pertama, suasana ruang rapat berubah menjadi ruang diskusi yang serius, namun penuh harapan. Di dalam ruang rapat ada Kepala Dinas Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muba, Herryandi Sinulingga, bersama Akhmad Fanfani Syafri, Kepala Bidang Transmigrasi, Dodi Eka Saputra, Plt. Kepala Bidang Lattas dan staf. Mereka semua mendengarkan dengan seksama.
Rekomendasi dari Lapangan
Dalam pemaparannya, Aufa Fadhil Islami menyampaikan sejumlah rekomendasi yang dibagi menjadi dua tahap: jangka pendek–menengah dan jangka panjang. Setiap rekomendasi lahir dari temuan lapangan, dari keluhan warga, hingga dari potensi yang seharusnya dapat tumbuh lebih besar.
Untuk prioritas jangka pendek–menengah, Tim Patriot menekankan perbaikan yang mendesak—langkah-langkah yang bisa langsung meningkatkan kualitas hidup warga.
Pertama, perbaikan jalan poros SP 1–SP 2. Jalan ini adalah urat nadi mobilitas warga. Setiap pagi, anak sekolah melintasinya, ibu-ibu membawa hasil kebun, dan petani menggunakan jalan itu untuk mengangkut hasil sawit atau padi. Kondisinya yang rusak menjadi hambatan utama produktivitas.
Kedua, renovasi SD 04 Air Balui SP 2. Gedung sekolah adalah tempat harapan masa depan ditumbuhkan. Fasilitas belajar yang memadai menjadi keharusan agar anak-anak transmigran mendapatkan pendidikan yang layak.

Ketiga, bantuan sapi untuk pengembangan sistem SISKA (Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit). Sistem ini digadang-gadang bisa meningkatkan pendapatan petani dengan memanfaatkan kotoran sapi sebagai pupuk organik bagi perkebunan sawit. Namun, tanpa modal awal berupa ternak dan pelatihan, SISKA sulit berkembang.
Keempat, pembangunan posko bencana dan pembersihan parit berkala. Kawasan transmigrasi memang rawan genangan air dan kerusakan lingkungan. Posko bencana menjadi penting sebagai titik koordinasi ketika bencana terjadi.
Kelima, pengaktifan kembali koperasi unit desa (KUD) dan kelompok tani. Koperasi adalah jantung ekonomi desa. Ketika KUD kembali aktif, roda ekonomi warga ikut bergerak.
Keenam, peningkatan layanan transportasi air dan pengembangan UMKM. Di wilayah yang masih mengandalkan sungai, perahu bukan sekadar alat transportasi—ia adalah penghubung ekonomi. Tim Patriot juga melihat potensi besar UMKM lokal, termasuk komersialisasi ikan gabus, yang dikenal bernilai tinggi.
Tim Patriot mengharapkan, rekomendasi ini disusun untuk dapat segera dieksekusi, sehingga dampaknya terasa cepat bagi warga transmigrasi.
Rekomendasi Jangka Panjang
Jika rekomendasi jangka pendek adalah pijakan, maka rekomendasi jangka panjang adalah langkah besar untuk masa depan. Pertama, pemberian lahan ganti bagi warga SP 3 yang direlokasi. Relokasi tanpa kepastian lahan bukan hanya persoalan teknis, tetapi menyangkut keadilan sosial. Tanpa kepastian, warga akan sulit membangun kehidupan yang stabil.
Kedua, penegasan batas desa dan legalisasi lahan. Batas yang jelas diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih lahan, sengketa, atau ketidakpastian hukum.
Ketiga, pembukaan lahan plasma. Plasma menjadi cara untuk meningkatkan kesejahteraan petani, yang selama ini bergantung pada lahan mandiri dengan produktivitas terbatas.
Pada kesempatan itu, Tim Patriot juga memperkenalkan “peta jalan pengembangan komoditas”. Peta jalan ini mencakup strategi hilirisasi padi dan minyak sawit—dua komoditas yang mendominasi kawasan. Dengan hilirisasi, nilai tambah bisa dinikmati langsung oleh warga, bukan hanya oleh rantai pasar di luar desa.

Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan
Dalam bagian akhir presentasi, Tim Patriot menegaskan pentingnya kolaborasi. Tidak ada satu instansi pun yang mampu menjalankan agenda besar ini sendirian. Perlu sinergi pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, kementerian, dan mitra swasta maupun LSM.
Beberapa hal yang perlu diperkuat antara lain, Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL), qkses pembiayaan, dari dana mikro hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR), pendampingan UMKM dan sinergi lintas sektor untuk pengajuan anggaran melalui APBN dan DAK
Tim Patriot telah memetakan jalan, kini giliran pemangku kebijakan di Kabupaten Muba yang yang harus menapakinya.
Kadisnakertrans Muba, Herryandi Sinulingga menanggapi hasil penelitian tersebut menyampaikan, bahwa dokumen rekomendasi ini bukan laporan yang akan disimpan di rak atau sekadar menjadi arsip yang terlupakan.
“Rekomendasi strategis dari Tim Patriot ini adalah mandat aksi bagi kami. Ini bukan sekadar usulan; ini adalah Peta Jalan Pembangunan Kawasan Transmigrasi Muba khususnya Air Balui, Jud, dan Nganti”, katanya.
Mantan Kepala Dinas Kominfo Muba ini memastikan bahwa dokumen tersebut langsung dilaporkan kepada Bupati HM. Toha Tohet dan Wakil Bupati Kyai Abdul Rohman Husen, karena selaras dengan visi-misi *”Muba Maju Lebih Cepat”.
Menurut Sinulingga, beberapa usulan perbaikan infrastruktur sudah ditindaklanjuti. “Berkat rekomendasi Tim Patriot, tiga sekolah dasar di kawasan transmigrasi sudah mendapatkan alokasi rehabilitasi pada akhir tahun sebesar Rp600 juta. Harapannya, pada anggaran APBN 2026, usulan pembangunan lain dapat diprioritaskan oleh Kementerian Transmigrasi berdasarkan hasil kajian Tim Patriot”.

“Muba berkomitmen menjadikan kawasan transmigrasi ini sebagai model percontohan yang mandiri, berkeadilan, dan sejahtera”, ujar Kadisnakertrans Muba.
Pada kesempatan itu, Sinulingga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Tim Patriot. Baginya, tugas yang mereka lakukan bukanlah pekerjaan teknis semata, melainkan kerja kemanusiaan—membantu membuka jalan bagi masa depan ribuan warga transmigrasi. Terima kasih juga kepada Kementerian Transmigrasi yang telah menugaskan Tim Patriot di kawasan Muba. Kolaborasi inilah yang ia harapkan dapat terus berlanjut.” Ujarnya.
Ketika presentasi selesai dan rapat ditutup, layar proyektor perlahan diredupkan. Namun bagi para peserta, diskusi hari itu tidak berakhir. Justru, itulah awal dari perjalanan panjang membangun kawasan transmigrasi yang lebih baik.
Di luar gedung, kawasan Air Balui, Jud, dan Nganti masih menjalani hari seperti biasa. Anak-anak masih pergi ke sekolah melalui jalan yang sama. Petani masih memanen sawit dengan peralatan sederhana. UMKM masih berusaha bertahan.
Tetapi kini, mereka memiliki harapan baru—harapan yang dipetakan melalui riset, rekomendasi, dan tekad kolaboratif.
Tim Patriot mungkin telah menyelesaikan tugasnya. Namun tugas besar selanjutnya kini berada di tangan pemerintah dan seluruh pemangku kebijakan. Dengan peta jalan yang sudah disusun, masa depan kawasan transmigrasi Muba tidak lagi berjalan tanpa arah.
Dan yang terpenting, ada keinginan kuat untuk memastikan bahwa kawasan transmigrasi bukan sekadar tempat untuk memulai hidup baru, tetapi juga tempat di mana kehidupan layak dan sejahtera benar-benar bisa diwujudkan. (maspril aries)
#Penulisan berita ini dibantu dengan menggunakan AI.




