
KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Di antara riuhnya kehidupan kampus di berbagai penjuru Indonesia, ada satu mata kuliah yang hampir selalu menjadi gerbang pertama bagi mahasiswa Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan untuk memasuki dunia keilmuan yang lebih luas, yaitu Pengantar Ilmu Politik. Mata kuliah ini, bagi sebagian mahasiswa, mungkin terdengar sederhana. Hanya “pengantar” atau sebuah permulaan.
Namun bagi generasi terdahulu, terutama mahasiswa di luar Pulau Jawa pada dekade 1980-an, mata kuliah ini bukan sekadar permulaan. Ia adalah pintu yang terbuka sangat sempit, kadang hanya sedikit cahaya ilmu yang dapat masuk, sebab keterbatasan referensi menjadi tantangan besar yang mewarnai zaman itu.
Jika kita menoleh ke masa lalu, ke era 80-an yang kini terasa jauh, mahasiswa-mahasiswa Fisip (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) yang belajar di luar Jakarta sering mengisahkan bahwa perjuangan mereka tidak hanya sebatas memahami teori-teori politik. Mereka harus berjuang bahkan untuk mendapatkan bukunya. Di banyak kota, toko buku besar belum hadir. Beberapa toko buku kecil mungkin ada, tetapi stoknya terbatas, tidak terkurasi, dan sering kali tidak menyediakan buku-buku politik terbaru.
Bayangkan seorang mahasiswa di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau Nusa Tenggara yang baru mulai mengenal istilah “negara”, “kekuasaan”, “legitimasi”, dan “partisipasi politik”. Di kelas, dosen menyebutkan satu atau dua referensi penting, tetapi saat mahasiswa mencari ke toko buku di kotanya, buku itu tidak tersedia. Mereka mengandalkan fotokopi dari teman yang membawa buku dari Jawa, atau bahkan menunggu kiriman dari kerabat di kota besar.
Pada masa itu, internet belum hadir sebagai penyelamat. Tidak ada mesin pencari yang bisa menampilkan ribuan artikel dalam hitungan detik. Tidak ada e-book, journal repository, atau platform daring yang bisa diakses dari kamar kos. Buku fisik adalah segalanya. Tanpa buku, ilmu terasa seperti berdiri di kejauhan, hanya bisa ditatap tanpa bisa direngkuh.

Dua Buku Legenda
Di tengah keterbatasan itu, ada dua buku menjadi sangat penting, bahkan legendaris bagi mahasiswa Ilmu Politik. Kedua buku tersebut menjadi semacam “kitab wajib” yang hampir selalu disebut dalam setiap silabus Pengantar Ilmu Politik. Buku tersebut adalah “Dasar-Dasar Ilmu Politik” karya Miriam Budiardjo dan “Pengantar Ilmu Politik” karya F. Isjwara
Buku yang ditulis guru besar Fisip Universitas Indonesia (UI) Miriam Budiarjo memiliki ciri khas sampul biru dengan tata bahasa yang rapi, serta gaya penulisan yang sistematis membuat buku ini bertahan puluhan tahun. Buku yang terbit pertama kali pada tahun 1968 tersebut sebenarnya bermula dari kumpulan bahan kuliah Prof. Miriam ketika mengajar di Fakultas Ilmu Sosial (sekarang Fisip) UI. Seiring berjalan waktu, buku ini mengalami cetak ulang berkali-kali— tahun 2006 sudah cetak 29 kali. Ini menunjukkan betapa besarnya kebutuhan mahasiswa terhadap literatur politik yang mudah dipahami namun tetap berkualitas.
Kemudian pada tahun 2007 hadir edisi revisi, disusun oleh tim akademisi yang merupakan murid-murid Prof Miriam sendiri. Bab-bab baru bermunculan, seperti bab mengenai berbagai pendekatan dalam ilmu politik, partisipasi politik, hingga sistem pemilu. Buku ini kemudian tak hanya menjadi referensi, tetapi juga bagian dari sejarah perkembangan studi politik Indonesia.
Sedangkan buku “Pengantar Ilmu Politik” karya F. Isjwara sudah lebih dulu terbit pertama kali tahun 1964, buku ini menghadirkan pendekatan politik klasik yang kuat. Nama-nama seperti Aristoteles, Hobbes, Locke, dan Rousseau mengisi halaman demi halaman. Mahasiswa generasi awal studi politik di Indonesia tumbuh dengan buku ini, menjadikannya sebagai rujukan penting untuk memahami dasar-dasar pemikiran politik Barat yang berpengaruh hingga kini.
Dua buku ini menjadi “harta karun” yang dicari mahasiswa. Dan meski zaman berubah, buku-buku tersebut tetap memiliki tempat dalam memori intelektual bangsa.

Setelah tumbangnya Orde Baru, ruang akademik semakin terbuka. Diskusi politik kembali hidup, kampus menjadi lebih dinamis, dan kebutuhan akan literatur baru meningkat. Maka bermunculanlah berbagai buku bertajuk Pengantar Ilmu Politik karya akademisi generasi berikutnya. Ada buku Pengantar Ilmu Politik karya Leo Agustino yang terbit tahun 2020, kemudian buku dengan judul yang sama dari Muhammad Muthahari Ramadhani dan kolega pada 2022, serta karya Ravyansah Zul Fadli dkk di tahun yang sama. Meski jumlahnya masih belum banyak—mungkin belum mencapai sepuluh judul—setidaknya keragaman perspektif semakin kaya.
Setiap penulis membawa suara, pendekatan, dan latar keilmuan masing-masing. Ada yang menekankan pendekatan filsafat politik, ada yang fokus pada sistem politik Indonesia, ada pula yang mencoba menggabungkan teori global dengan studi kasus lokal. Semuanya berkontribusi memperkaya khazanah ilmu politik di Indonesia.
Generasi Baru dan Kemewahan Referensi
Kini, mahasiswa milenial dan Gen-Z bisa dibilang hidup dalam kemewahan intelektual. Dengan sentuhan jari di layar ponsel, ratusan bahkan ribuan jurnal ilmiah dapat diakses. Buku-buku digital, video pembelajaran, podcast akademik, hingga kecerdasan buatan atau Aplikasi Imitasi (AI) turut membantu memperluas pengetahuan.
Namun, kemudahan ini tidak serta-merta menghapuskan relevansi buku cetak. Dalam dunia akademik, buku fisik tetap memiliki keistimewaan, dapat dibaca sambil membuat catatan, dapat disimpan sebagai koleksi, serta memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibanding layar digital.
Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, tetap saja ada nilai dalam menyentuh halaman kertas, mencium aroma tinta, dan meresapi kalimat demi kalimat yang disusun penulis dengan penuh kehati-hatian.
Di tengah dinamika perkembangan literatur politik itu, tahun 2025 menandai lahirnya sebuah buku baru berjudul “Pengantar Ilmu Politik: Teori dan Studi Kasus Kontemporer” karya Ahmad Robi Ul’Zikri, seorang dosen muda di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah.
Buku ini menjadi istimewa bukan hanya karena isinya yang komprehensif, tetapi juga karena tempat kelahirannya—Palangka Raya, kota yang berdiri tenang di tengah pulau berjuluk Borneo, pulau yang dikenal dengan hutan tropisnya, sungai-sungai besar, dan masyarakatnya yang kaya budaya.

Robi bukanlah orang yang asing dengan dunia akademik. Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Lampung, lalu melanjutkan magister di kampus yang sama dan lulus tahun 2021. Setelah itu ia memutuskan untuk merantau ke Kalimantan Tengah dan mengabdikan ilmunya di Universitas Palangka Raya.
Di kota yang jauh dari hiruk-pikuk megapolitan ini, Robi menemukan ruang yang cukup tenang untuk berkarya, sekaligus tantangan nyata untuk menghadirkan literatur berkualitas bagi mahasiswa lokal. Dari sini lahir buku “Pengantar Ilmu Politik Teori dan Studi Kasus Kontemporer” yang tebalnya 326 halaman. “Buku ini mulai saya tulis sejak Agustus 2024, hampir satu tahun penulisannya. Alhamdulillah akhirnya naik cetak dan terbit Agustus 2025”, kata dosen pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Politik di Fisip Universitas Palangka Raya.
Menurutnya penulisan buku ketiga yang pernah ditulis Robi ini berjalan lancar. “Kendalanya, mungkin lebih pada mengatur waktu karena projek buku ini dilakukan sembari pendidikan saat pra jabatan, mengajar, dan tugas kampus lainnya. Juga proses penguatan substantif seperti diskusi dengan para pakar politik”, ujarnya.
Buku diterbitkan oleh Polstac Repositori Riset berisi lima bagian meliputi: Bagian I Fondasi Ilmu Politik; Bagian II Teori-Teori Politik: Dari Klasik hingga Kontemporer; Bagian III Konsep-Konsep Kunci dalam Ilmu Politik; Bagian IV Studi Kasus Politik Kontemporer di Indonesia; dan Bagian V Penutup.
Politik: Bukan Sekadar Kekuasaan
Dalam kata pengantar Ahmad Robi menulis, bahwa ilmu politik secara lebih komplek tidak hanya mempelajari konsep negara dan kekuasaan saja. Melainkan sebuah cakrawala untuk membantu kita mengetahui tentang bagaimana kehidupan, keputusan, serta bagaimana hak-hak dan suara individu menjadi bagian besar dalam sejarah peradaban. Secara praktik, politik tidak hanya terjadi dalam lingkup parlemen maupun praktik pemilu saja, namun lebih kompleks politik hadir dalam ruang lingkup dan lini kehidupan kita.
Kita mungkin menganggap bahwa politik adalah istilah praktik kotor dan membuat antipati sebagian orang. Realitasnya dinamika politik sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari kita sebagai warga negara.

“Buku ini ditulis dengan maksud sebagai penghubung antara pemahaman teoritis terhadap realitas konkret politik yang terjadi begitu komplek. Buku ini didesain agar pembaca mudah memahami mulai dari penalaran teoritis dilengkapi dengan analisis studi kasus agar pembaca dapat memahami teori dan konteks peristiwa yang terjadi kontemporer”, tulis Ahmad Robi.
Satu lagi yang menarik dari buku ini, yang berbeda dari buku literatur atau referensi kuliah pada umumnya. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi atau gambar. Jika Anda selama kuliah belum pernah melihat wajah Socrates atau Plato dan Aristoteles, maka di buku “Pengantar Ilmu Politik Teori dan Studi Kasus Kontemporer” ada gambar mereka walau diambil berdasarkan patung ketiganya. Juga ada potret Niccolo Machiaveli, Thomas Hobes dan John Locke juga lukisan Jean-Jacques Rousseau dan Ibnu Khaldun.
Pada Bagian V Penutup, Ahmad Robi menawarkan dan mengajak mewujudkan politik bermartabat. Menurutnya, ada tiga pilar utama yang diharapkan dapat mengarahkan kita menuju praktik politik yang lebih adil dan bermartabat. Pertama, kita akan melihat harapan terhadap generasi baru yang dihadapkan pada tantangan politik global yang semakin komplek.
Kedua, kita akan mendorong pentingnya partisipasi kritis dan kosntruktif, sebuah upaya untuk tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan yang aktif dalam memperbaiki struktur politik yang ada.
Ketiga, membahas urgensi menuju politik yang adil, transparaan, dan inklusif sebuah sistem yang mampu memberikan ruang bagi seluruh elemen masyarakat untuk berbicara, didengar, dan dihargai.
Robi berpendapat, politik, dalam segala bentuknya adalah sebuah area pertempuran ideologi, nilai, dan kekuasaan yang tak pernah berhenti berkembang. Generasi baru, yang lahir dan tumbuh di tengah gejolak sosoal, ekonomi, dan politik global, menjadi penentu penting dalam pembentukan sistem politik. Harapan terhadap mereka bukan hanya sebatas penerus, tetapi juga pembaharu yang memiliki kesadaran kritis dan konstruktif. Dalam konteks ini, Ilmu Politik sebagai kajian uang dinamis, memainkan peran penting dalam membekali generasi baru dan alat pemahaman yang mendalam tentang struktur politik dan kekuakatan-kekuatan yang mempengaruhinya.

Pada bagian penutup ini, buku ini menitipkan pesan akan pentingnya mengembangkan budaya politik baru yang berbasis pada etika dan tanggung jawab (ethics of responsibility), sebagai mana diusulkan oleh Max Weber dalam Politics as a Vocation (1919). Politikus yang bermartabat bukan hanya mengejar kemenangan elektoral, tetapi sadar akan dampak keputusan mereka terhadap kesejahteraan rakyat jangka panjang. “Politik yang adil mengandaikan adanya pertimbangan etis dalam setiap tindakan politik”, tulis Ahmad Robi Ul’zikri di halaman 318.
Sekaligus, pesan kepada Anda yang berminat ingin memiliki dan membaca buku yang dicetak dengan ukuran standar UNESCO yaitu B5 atau 16 x 24 cm yang menjadi format standar untuk buku buku ajar, buku referensi, dan karya ilmiah, tidak terlalu kecil untuk teks akademik, tapi juga tidak terlalu besar sehingga tetap nyaman dibaca. Edisi cetak buku ini dijual seharga 135.000/ eksemplar. Untuk mendapatkannya bisa menghubungi admin penerbit di nomor telepon 0895-2195-3700 atau secara online melalui toko daring di Shopee: polstacstore.
Di era ketika teknologi merajalela, ketika informasi datang cepat namun sering kali kehilangan kedalaman, kehadiran buku seperti “Pengantar Ilmu Politik: Teori dan Studi Kasus Kontemporer” menjadi angin segar. Ia bukan hanya buku teks untuk mahasiswa, tetapi juga penanda bahwa ilmu pengetahuan terus tumbuh bahkan dari tempat-tempat yang mungkin tidak banyak disorot media nasional.
Palangka Raya, kota yang berada di jantungnya Kalimantan, menghadirkan suara baru dalam dunia akademik. Dari kota ini seorang dosen muda mempersembahkan karyanya bagi generasi yang sedang belajar memahami politik—bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai bagian dari kehidupan.
Buku ini adalah pengingat bahwa ilmu bisa lahir di mana saja, selama ada tekad, ruang berpikir, dan keberanian untuk menulis. Dan bagi mahasiswa yang kini belajar di tengah limpahan sumber pengetahuan, buku Robi hadir sebagai panduan yang menjembatani teori dan realitas, masa lalu dan masa kini, akademisi dan masyarakat.
Sebuah kontribusi dari Borneo untuk Indonesia. Sebuah cerita tentang buku, ilmu, dan perjalanan seorang dosen muda yang percaya bahwa politik selalu layak dipelajari—karena politik adalah wajah kehidupan itu sendiri. (maspril aries)

