KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Apakah Anda tahu apa itu pantomim? Kapan ada pementasan pantomim di kota Anda, tahun berapa? Apakah generasi milenial dan Gen Z tahu apa itu pantomim? Siapa aktor pantomim yang Anda kenal? no, Pada Ahad, 23 November 2025 di Palembang ada pementasan pantomim.
Pementasan pantomim kali ini berlangsung Graha Taman Budaya Sriwijaya, Palembang. Di belakang panggung, ada 30 pemain muda berdiri diam. Wajah mereka yang diputihkan dengan riasan kontras dengan kegelapan panggung. Lalu, musik mulai mengalun, layar LED menyala dengan visual Sungai Musi, dan tubuh-tubuh itu pun mulai bergerak. Tanpa sepatah kata pun, mereka bercerita tentang kehidupan, tentang budaya, tentang denyut nadi kota yang tak pernah lepas dari sungai terbesarnya.
Inilah “Musiku Musimu”, sebuah pertunjukan pantomim yang digelar pada Minggu, 23 November 2025. Sebuah pertunjukan yang mengembalikan kepada esensi paling murni dari seni pertunjukan: komunikasi melalui gerak, isyarat, dan ekspresi. Dalam diam mereka, justru terdengar suara paling lantang tentang warisan budaya yang hampir terlupakan.
“Musiku Musimu” hari itu digarap oleh Palembang Mime Club bekerja sama dengan Blok E Art Company, serta berbagai kelompok teater pelajar seperti Teater Askuter SMK Muhammadiyah 1, Teater Terkam SMKN 6, Teater Satu Dua SMPN 12, dan sejumlah seniman muda lainnya.
Entah sudah berapa tahun tidak ada pementasan pantomim di Palembang? Hari itu, pementasan “Musiku Musimu” juga menonjolkan inovasi dan kreativitas. Para seniman muda seperti Saleh, Bebeg, Dedi Jordan, Sukma, dan Nasrulah memperkuat komposisi pertunjukan. Penggarapan musik dipercayakan kepada Randi dan Krismawan, visual dikerjakan oleh Rillo, serta tata panggung ditangani oleh Marta, Sonof, dan Koko.
Yang menarik adalah penggunaan teknologi modern. “Pertunjukan pantomim gratis menggunakan layar LED, di Taman Budaya Sriwijaya Sriwijaya, meskipun gratis, tetapi terbilang keren dibanding pementasan berbayar”, tulis seniman M Iqbal Permana di laman media sosial (medsos) nya.

Pertunjukan pantomim di Taman Budaya Palembang berbeda dengan pementasan pantomim pada umum yang terkadang minim properti. Pada pementasan kali ini, penggunaan layar LED sebagai latar belakang pendukung menunjukkan bahwa pantomim, meskipun seni tradisional, mampu beradaptasi dengan teknologi modern. Ini menciptakan pengalaman visual yang lebih kaya dan dinamis, memperkuat ilusi yang diciptakan oleh para pantomimer (seniman yang melakukan seni pantomim). Ini adalah bukti bahwa “pantomim selalu beradaptasi dengan konteks budaya setempat”.
Pementasan “Musiku Musimu” pada November 2025 bukan sekadar pertunjukan biasa. Yang menarik, pertunjukan ini melibatkan generasi yang sangat muda – dari SD hingga SMA – menunjukkan bahwa pantomim memiliki daya tarik lintas generasi. Dalam konteks ini, pantomim tidak hanya menjadi medium ekspresi seni, tetapi juga alat pendidikan karakter dan pelestarian budaya.
Sungai Musi sebagai Metafora
Pemilihan Sungai Musi sebagai tema sentral adalah pilihan yang cerdas dan penuh makna. Bagi masyarakat Palembang, Sungai Musi bukan hanya badan air, tetapi ibu peradaban, saksi sejarah, dan nadi kehidupan.
Melalui pantomim, para seniman muda ini menceritakan berbagai aspek kehidupan di sekitar sungai, nelayan yang mencari nafkah, anak-anak yang bermain di tepian, ritual budaya, hingga perubahan sosial yang terjadi seiring modernisasi. Semua diceritakan tanpa kata, namun penuh makna.
Layar LED pada pementasan dengan sutradara Johni Harla, yang lebih dikenal dengan nama Wak Dolah dengan supervisi Hasan, tidak hanya memperkaya visual, tetapi juga berfungsi sebagai narator visual yang melengkapi gerakan para pemain. Visual Sungai Musi yang diproyeksikan di layar menciptakan ruang imajinatif yang memungkinkan penonton lebih mudah memasuki dunia yang diciptakan para pemain.
Menurut Wak Dolah pemilihan pementasan seni pantomim dan tema Sungai Musi bukan tanpa alasan. “Sungai Musi adalah nadi kehidupan masyarakat Palembang yang menyimpan banyak kisah dan kearifan lokal”, ujarnya.

“Sungai Musi bukan hanya aliran air yang membelah Kota Palembang, tetapi juga menjadi saksi tumbuhnya budaya lokal, kebiasaan, dan dinamika sosial masyarakat. ‘Musiku Musimu’ kami hadirkan sebagai bentuk refleksi kehidupan masyarakat Musi melalui seni tanpa kata yang menyentuh dan mendalam”, katanya.
Pementasan “Musiku Musimu” kali ini didukung oleh Dana Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025, menunjukkan adanya pengakuan institusional terhadap pantomim sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Juga dari dukungan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumatera Selatan, BPC HIPMI Kota Palembang, RMPN, LED Project, Revinda Sound, dan Jama Jama Project juga menunjukkan bahwa pantomim mulai mendapat tempat dalam ekosistem seni pertunjukan Indonesia.
Kehadiran para pelajar SD, SMP, SMA dan SMK dalam pementasan ini menjadi bukti bahwa seni pertunjukan dapat menjadi ruang kreatif yang inklusif dan edukatif.
“Melalui pementasan ini, kami berharap dapat menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga budaya lokal, serta menginspirasi lahirnya kegiatan serupa di berbagai daerah. Pertunjukan ini juga menjadi sarana edukasi budaya yang menyajikan hiburan sekaligus pengetahuan mengenai kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Musi”, kata Wak Dolah yang menurut Iqbal Permana, sebagai Raja Pantomim Sumatera Selatan (Sumsel).
Johni Harla atau Wak Dolah adalah seniman Sumsel yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan dan melestarikan seni pantomim, khususnya di Palembang dan Sumatera Selatan.
Melalui Palembang Mime Club, Wak Dolah tidak hanya menciptakan pertunjukan-pertunjukan berkualitas, tetapi juga aktif melatih generasi muda. Perannya dalam “Musiku Musimu” adalah bukti komitmennya untuk menjadikan pantomim sebagai medium ekspresi bagi anak muda. “Dalam diam, kita justru bisa mendengar lebih banyak”, begitulah kira-kira filosofi yang dipegang Wak Dolah dalam setiap karyanya.
Menurutnya, dengan keberagaman tampilan seni dan kolaborasi para seniman muda, “Musiku Musimu” menjadi upaya nyata memperkuat identitas budaya Palembang sekaligus mendorong apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisional maupun kontemporer.
Ihwal Pantomim

Apakah Anda sudah pernah menonton pantomim? Apa Anda juga tahu sejarahnya? Baca ini untuk menjelaskannya. Berikut ini adalah jejak sejarah panjang pantomim dari kuil Yunani hingga Charlie Chaplin. Atau akar kuno di peradaban awal.
Pantomim, dari bahasa Yunani “pantomimos” yang berarti “meniru segala sesuatu”, adalah seni pertunjukan yang mengandalkan ekspresi wajah dan gerak tubuh untuk menyampaikan cerita, tanpa menggunakan kata-kata. Seni ini adalah bentuk teatrikal paling purba sekaligus paling kontemporer – sebuah paradoks yang membuatnya tetap relevan dari masa ke masa.
Menurut Aristoteles, bentuk-bentuk awal pantomim sudah dikenal sejak peradaban Mesir Kuno dan India. Namun, catatan sejarah yang lebih terperinci menunjukkan bahwa pantomim sebagai bentuk seni terorganisir mulai berkembang di Yunani Kuno sekitar abad ke-5 SM.
Di Yunani, pantomim awalnya merupakan bagian dari pertunjukan drama dalam festival Dionysia. Aktor-aktor menggunakan topeng dan gerakan tubuh untuk menceritakan kisah-kisah mitologis kepada penonton yang duduk di amphitheater besar. Yang menarik, dalam budaya Yunani Kuno, seni pertunjukan tanpa kata ini justru dianggap sebagai bentuk seni tinggi yang membutuhkan keahlian luar biasa.
Pantomim mulai berkembang pada masa Romawi. Kekaisaran Romawi mengembangkan pantomim menjadi bentuk seni yang lebih sistematis. Pada abad pertama Masehi, Kaisar Augustus sangat mendukung perkembangan pantomim. Seorang budak bernama Pylades dari Cilicia dan muridnya Bathyllus dari Alexandria sering disebut sebagai bapak pantomim Romawi.Mereka mengembangkan pantomim menjadi pertunjukan yang elegan dan penuh gaya, biasanya menampilkan kisah-kisah dari mitologi Yunani dan Romawi. Seorang pantomimus (aktor pantomim) Romawi biasanya tampil sendirian, menggunakan topeng yang mengekspresikan berbagai emosi, dan diiringi oleh paduan suara yang menyanyikan narasi cerita.

Kemudian pada abad ke-16 terjadi lompatan besar dengan munculnya Commedia dell’arte di jalanan Italia.Ini bentuk teater improvisasi ini menampilkan karakter-karakter stereotip seperti Harlequin, Columbina, dan Pulcinella – karakter yang kemudian menjadi ikonik dalam perkembangan pantomim modern. Ciri khas Commedia dell’arte adalah penggunaan masker, improvisasi dialog berdasarkan kerangka cerita sederhana, dan yang paling penting – penekanan pada physical comedy dan gerakan tubuh yang ekspresif.
Pada abad ke 18 dan 19 di Eropa, pelakon Jean Gaspard Deburau mengukuhkan gaya pantomim panggung di Paris. Dari sinilah pantomim modern mewarisi karakter “penghibur diam” dengan wajah putih dan riasan hitam yang kita kenal hari ini.
Di Inggris, pantomim berkembang menjadi bentuk yang unik – pantomime (biasanya disingkat panto) yang biasanya dipentaskan selama musim Natal. Pantomime Inggris memiliki karakteristik khusus: cerita dongeng, penampilan cross-dress (pria berperan sebagai wanita dan sebaliknya), dan partisipasi penonton. Tradisi pantomime Inggris inilah yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia melalui kolonialisme Inggris, membawa pengaruh terhadap perkembangan pantomim di berbagai negara, meski di banyak tempat bentuknya beradaptasi dengan budaya lokal.
Di Eropa abad ke 18 dan 19, figur Pierrot dan Harlequin dipopulerkan oleh pelakon seperti Jean Gaspard Deburau, yang mengukuhkan gaya pantomim panggung di Paris. Setelah itu lahirlah pantomim era modern. Abad ke-20 menandai era emas pantomim melalui dua legenda, Charlie Chaplin dan Marcel Marceau.
Charlie Chaplin, meski bekerja di medium film bisu, sebenarnya adalah seorang pantomim sejati. Karakter The Tramp-nya adalah mahakarya pantomim – melalui gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan penggunaan properti sederhana, Chaplin mampu menyampaikan kompleksitas emosi manusia dari humor hingga tragedi.
Sementara Marcel Marceau, yang karakternya Bip the Clown menjadi ikon pantomim modern, membawa pantomim kembali ke panggung live. Tekniknya yang sempurna dan filosofi di balik gerakannya mengangkat pantomim menjadi bentuk seni yang diakui secara global. Marceau pernah berkata, “Pantomim, seperti musik, tidak mengenal batas negara maupun benua”.
Pantomim berbeda dengan teater konvensional, monolog dan badut. Terater mengandalkan dialog atau monolog yang meski solo tetap menggunakan kata-kata. Sama halnya dengan Badut yang juga menggunakan kata-kata, suara, dan teriakan, fokus pada komedi fisik dan humor slapstick. Riasan warna-warni dan mencolok, kostum berwarna cerah dengan aksesori berlebihan.

Pantomim murni adalah seni visual. Aktor pantomim harus mampu menciptakan ilusi, menceritakan kisah, dan menyampaikan emosi hanya melalui bahasa tubuh. Mereka adalah pelukis yang kanvasnya adalah ruang pertunjukan, dan kuasnya adalah gerakan mereka sendiri.
Di sisi teoretis, pantomim menempati persimpangan antara teater, tari, dan seni pertunjukan non‑verbal. Ia berbagi struktur dramatik dengan teater (konflik, klimaks, resolusi) tetapi mengekspresikannya melalui ritme tubuh dan ruang, bukan dialog. Pantomim menuntut pembacaan visual yang teliti, setiap detail gestur, tempo, dan jarak antar‑aktor memikul makna. Tradisi pelatihan fisik modern menegaskan bahwa pantomim bukan sekadar “aksi lucu tanpa kata”, melainkan disiplin dramaturgis yang kompleks dan terlatih.
Pantomim di Indonesia
Pantomim mulai dikenal di Indonesia pada era 1970-an, terutama melalui pengaruh pendidikan teater modern. Salah satu pelopor pantomim Indonesia adalah Bagong Kussudiardja, seniman multitalenta dari Yogyakarta yang mengembangkan pantomim sebagai bagian dari kurikulum di padepokannya. Pada masa ini, pantomim masih dianggap sebagai bentuk seni impor yang elitis, hanya dipentaskan di sanggar-sanggar seni dan institusi pendidikan teater. Namun, lambat laun, seniman Indonesia mulai mengadaptasi pantomim dengan muatan lokal.
Memasuki era 1980-1990-an, pantomim mulai menemukan bentuk Indonesianya. Seniman-seniman seperti Septian Dwi Cahyo, Didi Petet dan Butet Kertaradjasa mulai memasukkan unsur-unsur budaya lokal ke dalam pertunjukan pantomim. Cerita-cerita rakyat, tradisi lokal, dan isu sosial Indonesia mulai diangkat melalui medium pantomim. Pantomim juga mulai digunakan sebagai alat pendidikan dan kritik sosial. Banyak seniman menggunakan pantomim untuk menyampaikan pesan-pesan sosial-politik secara halus, memanfaatkan sifatnya yang simbolis dan tidak konfrontatif.
Kemudian di era milenium atau tahun 2000-an, pantomim semakin beragam baik dalam bentuk maupun konten. Muncul kelompok-komunitas pantomim di berbagai kota, masing-masing dengan karakteristiknya sendiri. Pantomim juga mulai memasuki media populer, muncul dalam iklan, video musik, dan acara televisi.

Yang menarik, pantomim semakin sering dipadukan dengan seni pertunjukan tradisional Indonesia. Wayang, topeng, dan gerakan tari tradisi mulai diinkorporasikan ke dalam pertunjukan pantomim, menciptakan bentuk-bentuk hibrida yang unik.
Selain yang disebutkan di atas, Indonesia mulai memunculkan banyak talenta pantomimer. Seperti di Sumsel atau Palembang ada Johni Harla atau Wak Dolah, adalah salah satu sosok paling dalam perkembangan pantomim Indonesia kontemporer. Dijuluki “Raja Pantomim Sumsel”, Wak Dolah telah mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan dan melestarikan seni pantomim, khususnya di Palembang dan Sumatera Selatan.
Melalui Palembang Mime Club, Wak Dolah tidak hanya menciptakan pertunjukan-pertunjukan berkualitas, tetapi juga aktif melatih generasi muda. Perannya dalam “Musiku Musimu” adalah bukti komitmennya untuk menjadikan pantomim sebagai medium ekspresi bagi anak muda. “Dalam diam, kita justru bisa mendengar lebih banyak”, begitulah kira-kira filosofi yang dipegang Wak Dolah dalam setiap karyanya.
Selain Wak Dolah, Indonesia memiliki banyak seniman pantomim berbakat seperti, Dindon WS yang dikenal dengan gaya pantomim teatrikalnya, Jemek Supardi yang memadukan pantomim dengan humor jalanan, Catur “Benyek” Kuncoro yang mengembangkan pantomim komedi. Atau Andi Muvi yang aktif mengembangkan pantomim pendidikan. Mereka ini bersama puluhan seniman pantomim lainnya, telah membentuk ekosistem pantomim Indonesia yang dinamis dan terus berkembang.
Pantomim di Indonesia tidak muncul sebagai fenomena tunggal yang tiba‑tiba. Ia datang perlahan, lewat gelombang pengaruh budaya Barat yang masuk sejak awal abad ke‑20, lewat film bisu, rombongan teater yang berkeliling, hingga program pendidikan seni di kota‑kota besar. Namun yang membuat pantomim benar‑benar hidup di Nusantara adalah kemampuannya untuk berbaur, menyerap ritme lokal, meminjam musik tradisi, dan menyesuaikan narasi dengan kisah rakyat setempat. Di tangan seniman Indonesia, pantomim menjadi medium hibrida—sebuah bahasa tubuh yang berbicara dengan aksen lokal.
Di Palembang, itu telah terjadi, tengah berlangsung, dan di Palembang pantomim masih ada. Pantomim adalah kebutuhan manusia untuk berkomunikasi secara visual. Sebelum kata‑kata menjadi alat utama, manusia sudah bercerita lewat gerak—melalui ritual, tarian, dan imitasi. (maspril aries)





