
KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK, Sekayu – Pagi baru menjelang, sinar matahari memantul lembut di permukaan Sungai Musi. Dari kejauhan, suara perahu kecil terdengar pelan mengiris air, menjadi latar alami bagi kehidupan warga desa yang mulai berdenyut di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Di balik ketenangan itu, ada cerita-cerita besar tentang keberanian anak-anak muda Musi Banyuasin yang memilih merantau ke negeri seberang demi masa depan keluarga. Namun, tak semua kisah migrasi berjalan mulus. Di antara asa yang tumbuh, terselip risiko, kerentanan, dan ketidakpastian yang sering kali tidak mereka ceritakan.
Di sinilah kisah Desa Migran Emas bermula—sebuah inisiatif yang lahir bukan sekadar untuk memberi bantuan, tetapi untuk membangun ruang aman dan bermartabat bagi mereka yang mencari rezeki di luar batas tanah kelahiran. Emas sendiri bukan sekadar nama; ia adalah akronim dari Edukatif, Maju, Aman, dan Sejahtera, empat kata yang mencerminkan cita-cita besar bagi pekerja migran Indonesia (PMI) dan keluarga mereka.
Mengapa Desa Migran EMAS Hadir?
Bagi banyak warga desa, menjadi pekerja migran adalah pilihan besar yang diambil setelah perenungan panjang. Tidak sedikit yang berhasil, pulang membawa pengalaman, pengetahuan, dan rezeki untuk membangun kehidupan lebih baik. Tetapi ada pula yang pulang dengan cerita pahit, seperti gaji tak dibayar, kontrak tak sesuai, hingga masalah hukum yang menjerat karena proses keberangkatan yang tidak prosedural.
Situasi inilah yang mendorong lahirnya Desa Migran Emas sebagai pusat perlindungan, pemberdayaan, dan edukasi bagi pekerja migran—baik yang sedang merencanakan keberangkatan maupun yang baru pulang kampung membawa pengalaman dari luar negeri.
“Kehadiran program ini menjadi langkah konkret untuk memastikan migrasi yang aman dan bermartabat, sekaligus mencegah penempatan ilegal yang selama ini menjadi ancaman tersembunyi bagi calon PMI,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Muba Herryandi Sinulingga, Rabu (26/11).

Menurut Sinulingga, sengan dukungan penuh dari BP3MI (Badan Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) program ini menjadi gerakan strategis yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Dua Desa Migran Emas
Dalam rapat virtual pada 25 November 2025, dua desa diusulkan sebagai pionir Desa Migran Emas. Setiap desa memiliki kisahnya sendiri, diwarnai semangat para warganya yang memilih merantau.
Pertama, Desa Ulak Paceh. Desa ini mungkin tampak seperti desa-desa di Muba, ada jalan tanah yang lengang, namun, siapa sangka dari desa ini terdapat 17 orang warganya yang bekerja di Malaysia.
“Sebagian bekerja sebagai operator produksi, sebagian lain sebagai general worker di berbagai sektor industri. Menariknya, mayoritas dari mereka adalah lulusan SMA dan SMK—lulusan muda dengan kemampuan teknis dasar yang menjanjikan. Mereka merantau bukan karena keterpaksaan, tetapi karena ingin memanfaatkan peluang yang lebih luas”, ujar Sinulingga.
Dengan modal pendidikan, para pemuda Ulak Paceh sebenarnya punya potensi besar untuk berkembang dalam dunia kerja global. Dan Desa Migran Emas diharapkan menjadi kompas yang menuntun mereka menuju proses migrasi yang aman, profesional, dan penuh persiapan.
Kedua, Desa Tebing Bulang. Jika Ulak Paceh mengirimkan pekerja ke Malaysia, Desa Tebing Bulang justru melahirkan warganya yang merantau lebih jauh ada yang ke Turki, Bulgaria, Dubai, dan Hong Kong. Menurut
Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/710978/kabar-gembira-untuk-pmi-pemkab-muba-bangun-desa-migran-emas
Ada kebanggaan tersendiri bagi warga desa ini ketika mendengar nama-nama negara tersebut disebutkan dalam percakapan sehari-hari. Menurut Kadisnakertrans Muba, sebagian besar mereka adalah lulusan SMA/SMK, memiliki dorongan kuat untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.
“Mereka membawa harapan yang melintasi ribuan kilometer, namun juga menghadapi tantangan yang sama besar: perbedaan kultur, risiko pekerjaan, hingga kurangnya akses informasi sebelum keberangkatan. Dari sinilah kebutuhan akan pusat edukasi, perlindungan, dan pemulihan menjadi semakin nyata”, ujarmya.

Dukungan Penuh Dari Pemimpin Daerah
Bupati Musi Banyuasin, HM. Toha Tohet, menyambut program ini dengan semangat yang tak kalah besar dari para warganya. Dari ruang kerjanya, ia menyampaikan dukungan penuh.
"Saya sangat mendukung penuh usulan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Musi Banyuasin untuk menetapkan dua desa—Desa Ulak Paceh dan Desa Tebing Bulang—sebagai Desa Migran Emas. Ini adalah langkah strategis yang tidak hanya memberikan pelindungan dan pemberdayaan bagi PMI, tetapi juga memperkuat komitmen kami dalam memastikan migrasi yang aman dan bermartabat sesuai visi misi kami bersama Wakil Bupati Kyai Abdur Rohman Husen”, katanya.
Dukungan ini bukan sekadar pernyataan politik. Ia adalah bentuk kehadiran pemerintah daerah di tengah masyarakat—khususnya bagi mereka yang bekerja jauh dari rumah, namun tetap mengharumkan nama kampung halaman.
Wakil Bupati Muba, Kyai Abdur Rohman Husen, bahkan menyatakan, Desa Migran Emas merupakan bukti nyata bahwa pemerintah ingin memperkuat pengelolaan penempatan dan perlindungan PMI. Negara hadir hingga lapis desa, memastikan tidak ada warga yang berangkat tanpa bekal informasi dan perlindungan.
Misi Besar Desa Migran Emas
Desa Migran Emas bukan hanya papan nama atau kantor layanan. Ia adalah gerakan perubahan dengan empat misi utama, yaitu memberikan Akses Informasi dan Pelatihan dimana desa akan menjadi titik awal bagi calon PMI untuk mendapatkan informasi lengkap, mulai dari prosedur legal, persyaratan, hingga pelatihan sebelum berangkat.
Misi kedua Perlindungan Hukum. Keberangkatan non-prosedural adalah risiko yang sering menjadi pintu masalah. Desa Migran Emas hadir untuk memutus rantai tersebut melalui pendampingan hukum yang tepat.
Misi berikutnya adalah Reintegrasi Sosial dan Ekonomi. Ketika purna PMI kembali ke desa, mereka sering bingung bagaimana memulai kembali. Program ini membantu mereka membangun usaha, memanfaatkan keterampilan baru, dan kembali menjadi bagian aktif dari masyarakat.

Pengawasan Berbasis Komunitas
Desa Migran Emas akan memiliki struktur pengawasan untuk memastikan setiap proses migrasi terpantau dan terarah sesuai aturan. Layanan yang diberikan mencakup layaknya pusat layanan terpadu, Desa Migran Emas menyediakan berbagai fasilitas penting.
“Yaitu edukasi migrasi aman yang mengajarkan masyarakat mengenai jalur yang benar dan risiko jalur non-prosedural. Bantuan hukum dengan memberikan pendampingan bagi PMI yang menghadapi masalah. Kemudian layanan informasi terpadu, yaitu menjadi pusat data migrasi yang akurat dan mudah diakses. Saat PMI kembali ke desanya, ada program reintegrasi untuk membantu purna PMI membangun kehidupan baru di desa. Tentunya akan ada pendampingan usaha yang memberdayakan keluarga PMI agar mandiri melalui UMKM dan pelatihan kewirausahaan. Semua layanan ini dirancang agar desa bukan hanya menjadi tempat asal, tetapi juga tempat kembali yang ramah dan siap mendukung”, ujar Sinulingga.
Masa Depan yang Lebih Cerah
Di Musi Banyuasin, cerita migrasi bukan lagi sebatas kisah tentang keberangkatan—tetapi juga kepulangan yang lebih bermartabat. Dengan hadirnya Desa Migran Emas, setiap warga desa yang merantau tidak lagi merasa berjalan sendirian. Mereka memiliki dukungan, perlindungan, dan tempat kembali yang memahami perjalanan hidup mereka.
Inisiatif ini bukan hanya tentang membangun infrastruktur layanan. Ia adalah upaya membangun jembatan antara mimpi dan kenyataan, antara desa dan dunia global, antara keberangkatan dan kepulangan yang penuh harapan.
Dan bagi para pekerja migran dari Ulak Paceh dan Tebing Bulang, kini mereka tahu: desa mereka selalu ada untuk mereka—dari langkah pertama hingga kembali menapakkan kaki di tanah kelahiran. (maspril aries)
#Penulisan berita ini dibantu dengan menggunakan AI




