Home / Literasi / Tak Ada Gunanya Mencoba Menularkan Virus Membaca ke Dalam Diri Anak-Anak Jika Anda Sendiri Tak Pernah Memilikinya

Tak Ada Gunanya Mencoba Menularkan Virus Membaca ke Dalam Diri Anak-Anak Jika Anda Sendiri Tak Pernah Memilikinya

Ilustrasi pengukuhan Bunda Literasi. (FOTO: AI)

KINGDOMSRIWIJAYA-Republika – Judul artikel ini agak panjang, namun ini menjadi pengingat pada peristiwa selama bulan Oktober dan November 2025. Selama kurun waktu tersebut di beberapa daerah di Indonesia, tengah ramai melantik yang namanya “Bunda Literasi”. Bunda Literasi ini ada dari tingkat provinsi sampai ke kabupaten dan kota. Mereka yang menyandang gelar Bunda Literasi tersebut adalah istri dari kepala daerah/ pimpinan daerah.

Apa hubungannya judul artikel ini dengan Bunda Literasi yang banyak di seluruh Indonesia tersebut? Ini bukan tentang ramai dan megahnya seremonial pelantikan Bunda Literasi yang banyak dihadiri oleh para pejabat daerah, melainkan sebuah ajakan, mari membayangkan sejenak sebuah suasana sore hari di sebuah ruang keluarga. Di ruangan itu ada sofa, setumpuk komik, ponsel di mejanya, tentu juga ada segelas kopi hangat, serta seorang anak yang menatap layar ponselnya. Di balik layar, notifikasi berdenting dan video-video singkat berputar tanpa henti.

Di sudut ruangannya ada sebuah buku—mungkin sebuah novel anak atau kumpulan cerita pendek—menganggur, sudut halamannya tak lagi dijamah. Siapa yang harus menyalakan kembali rasa ingin tahu pada anak itu? Siapa yang harus “menularkan virus” membaca?

Judul di atas adalah kutipan dari Paul Jennings. Ia merangkum tentang sebuah kebenaran sederhana dan sekaligus eksplosif, yakni menyulut kecintaan membaca pada anak bukan hanya soal program sekolah, kampanye viral, atau gelar kehormatan sebagai “Bunda Literasi, Duta Baca atau Duta Literasi”. Ia tentang teladan hidup — tentang orang dewasa yang benar-benar membaca, hidup bersama buku, dan menjadi contoh hidup bagi anak-anak.

Ketika saya kecil, ada seorang tetangga yang setiap sore duduk di teras dengan sebuah novel tebal di pangkuannya. Anak-anak komplek sering berkumpul, bukan karena tetangganya bercerita pada mereka—tetapi karena mereka ingin duduk di dekatnya, melihat halaman-halaman yang dibalik dengan pelan, menghirup aroma kertas, mendengar suara halusnya membaca untuk dirinya sendiri. Tanpa banyak kata, kebiasaan itu menularkan rasa ingin tahu: buku tampak seperti sesuatu yang berharga, rahasia, dan menyenangkan.


Belum tertular virus baca, masih asyik dengan ponselnya menonton video-video satu menit. (FOTO: AI)
Belum tertular virus baca, masih asyik dengan ponselnya menonton video-video satu menit. (FOTO: AI)

Fenomena kecil itu merekam pelajaran: anak meniru perilaku orang dewasa. Mereka meniru apa yang dilakukan, bukan hanya apa yang dikatakan. Seorang ibu yang memegang ponsel setiap waktu namun mengaku “ingin anaknya gemar membaca” memberi pesan campur aduk. Di situlah relevansi kalimat Jennings, upaya untuk menularkan kecintaan membaca akan gagal jika si “penular” sendiri tidak pernah benar-benar menjadi pembaca.

Paul Jennings

Paul Jennings, penulis cerita anak dari Australia, menulis dari kacamata orang yang tahu bagaimana cerita pendek yang aneh, lucu, lalu berujung plot twist bisa membuat anak tertawa dan—lebih penting—membuat mereka membuka halaman berikutnya. Ia bukan sekadar berkata bahwa buku itu penting; ia menyampaikan bahwa orang yang mempromosikan membaca haruslah orang yang mempraktikkan membaca dalam hidupnya sendiri. Sebab anak, seperti spons, menyerap apa yang dilihatnya.

Sebelum membaca lebih lanjut artikel ini sampai tuntas, perkenalkan dahulu siapa Paul Jennings dan mengapa kita perlu mendengar pesannya?

Paul Jennings (lahir 30 April 1943) adalah penulis cerita anak asal Australia yang populer, terkenal karena kumpulan cerita pendeknya seperti Unreal!, Unbelievable!, Uncanny! dan karya-karya yang menjadi sumber serial televisi populer Round the Twist. Ini merupakan kumpulan cerita pendek yang absurd, lucu, dan penuh kejutan, yang kemudian diadaptasi menjadi serial televisi legendaris di Australia (1989–2001).

Nama lengkapnya, Paul Raymond Jennings lahir di Inggris, pada usia sembilan tahun pindah ke Australia. Ia bukan sekadar penulis—ia seorang guru, psikolog anak, dan pendongeng ulung. Sebelum menjadi penulis terkenal, ia menghabiskan 25 tahun mengajar di sekolah dasar, bekerja dengan anak-anak berkebutuhan khusus, dan mempelajari bagaimana anak-anak benar-benar belajar, merasakan, dan membangun dunia lewat cerita.

Pengalaman inilah yang membentuk filosofinya, bahwa membaca bukanlah keterampilan teknis semata, tapi pengalaman emosional dan relasional. Ia percaya bahwa anak tidak akan mencintai buku hanya karena disuruh—tapi karena melihat orang dewasa di sekitarnya menikmatinya.


Menularkan virus membaca dengan cara membagikan buku secara gratis kepada siswa SMAN. (FOTO: Maspril Aries)
Menularkan virus membaca dengan cara membagikan buku secara gratis kepada siswa SMAN. (FOTO: Maspril Aries)

Dalam karyanya “Round the Twist”— dalah satu cerita ikoniknya, “Little Squirt”, bercerita tentang anak laki-laki yang bisa menyemprotkan air dari telinganya saat gugup—sebuah metafora genius tentang tekanan sosial dan keunikan anak. Jennings menulis lebih dari 100 buku, mayoritas untuk pembaca muda.

Paul Jennings memulai menulis karena pengalaman berinteraksi dengan anaknya—ingin membuat bacaan yang menarik bagi anak yang kesulitan membaca—sehingga ia paham bahwa cerita yang “menangkap” anak dan teladan dewasa di rumah bergabung dalam proses pembentukan pembaca anak. Profil dan biografinya menjelaskan bagaimana ia mengamati anak sebagai pembentuk keputusan menulisnya, sehingga pernyataan tentang menularkan “virus” membaca bukan retorika, tetapi refleksi praktik hidupnya.

Yang membuat Jennings istimewa bukan hanya kualitas tulisannya, tapi komitmennya pada proses membaca sebagai relasi. Ia sering berkata dalam wawancara: “Aku tidak pernah menulis untuk ‘mendidik’ anak. Aku menulis untuk membuat mereka tertawa, terkejut, lalu—tanpa sadar—mulai berpikir”.

Rekam Jejak

Kini kita pindah plot. Kita mulai dengan kisah seorang ibu yang berdiri di panggung pengukuhan sebagai “Bunda Literasi”. Pengukuhan ini berlangsung di daerah tetangga negeri Konoha. Ibu itu tersenyum, menerima selempang, lalu membaca sambutan dari teks yang disiapkan staf. Di rumah, anak-anaknya tak pernah melihatnya membaca buku. Di sekolah, ia jarang hadir di kegiatan literasi. Namun status sosialnya menjadikannya simbol gerakan membaca. Di sinilah kutipan Paul Jennings menggema: “Tak ada gunanya mencoba menularkan ‘virus’ membaca ke dalam diri anak-anak jika Anda sendiri tak pernah memilikinya”.

Di dalam agenda literasi, kutipan Paul Jennings menjadi sinyal tentang pentingnya keteladanan dalam menumbuhkan minat baca anak. Penunjukan figur publik sebagai Duta Literasi, Duta Baca atau Bunda Literasi sering kali tidak didasarkan pada rekam jejak literasi, melainkan status sosial.


Tertular visur baca, Siswa SDN 14 Palembang membaca buku puisi Chairil Anwar. (FOTO: Maspril Aries)
Tertular visur baca, Siswa SDN 14 Palembang membaca buku puisi Chairil Anwar. (FOTO: Maspril Aries)

Dari berbagai gelar seperti Duta Baca, Duta Literasi, dan Bunda Literasi sering disematkan pada figur publik: selebritas, kepala daerah, istri pejabat, atau anggota keluarga pejabat. Tujuan programnya sering mulia, meningkatkan visibilitas literasi, menyediakan wajah publik untuk kampanye, dan membuka akses program di daerah. Namun dalam praktik muncul pro dan kontra.

Keuntungan menunjuk figur publik sebagai Duta Baca, Duta Literasi, dan Bunda Baca dapat dapat menarik perhatian media dan publik secara cepat—memperbesar jangkauan kampanye literasi. Meta-analisis tentang endorsement selebritas menunjukkan pengaruh positif dalam menaikkan awareness—tetapi efektivitasnya bergantung pada konteks, kecocokan pesan, dan kredibilitas si endorser.

Kemudian mampu memobilisasi sumber daya, pejabat yang memiliki jaringan dapat membantu mengakses sumber daya, menggerakkan birokrasi, atau memfasilitasi program di lapangan. Keuntungan lainnya, simbolik. pengangkatan figur publik sebagai duta memberi sinyal bahwa isu literasi dipandang penting oleh elit pemerintahan—ini bisa membantu legitimasi program.

Selain keuntungan tersebut bukan berarti tidak ada kritik dalam pemilihan/ penetapan Duta Baca, Duta Literasi, dan Bunda Literasi. Kritiknya, dalam prakteknya gelar tersebut disematkan pada figur yang tidak jelas rekam jejaknya dalam literasi. Apakah gelar ini merefleksikan kecintaan pada buku atau sekadar gelar seremonial?

Kajian empiris tentang endorsement publik untuk kampanye non-komersial (misalnya kesehatan) menunjukkan bahwa keberhasilan bergantung pada kredibilitas dan autentisitas figur yang dipilih. Jika publik menilai duta sebagai hanya simbol—kurang pengalaman di bidang literasi—efeknya bisa menguap atau bahkan menimbulkan sinisme. Konsep teoritis “source credibility” menegaskan bahwa keahlian (expertise) dan dapat dipercaya (trustworthiness) adalah kunci persuasi; tanpa itu, pesan kesulitan untuk menggerakkan sikap dan perilaku.

Duta Baca, Duta Literasi dan Bunda Literasi simbol atau substansi? Fenomenanya banyak istri pejabat, anak pejabat, atau figur publik dikukuhkan sebagai Duta Baca, Bunda Literasi, tanpa rekam jejak literasi.


Bersama Duta Baca Indonesia Gol A Gong yang akan mengakhiri tugasnya Desember 2025. Gol A Gong punya tagline "Membaca itu Sehat, Menulis itu Hebat" (FOTO: D Oskandar)
Bersama Duta Baca Indonesia Gol A Gong yang akan mengakhiri tugasnya Desember 2025. Gol A Gong punya tagline “Membaca itu Sehat, Menulis itu Hebat” (FOTO: D Oskandar)

Pertanyaan kritisnya, “Apakah mereka membaca? Apakah mereka menulis? Apakah mereka pernah menginisiasi gerakan literasi?” Dampak simboliknya ketika jabatan literasi diberikan karena status, bukan kompetensi, pesan yang sampai ke publik adalah bahwa literasi adalah kosmetik, bukan kerja.

Jika itu yang terjadi, maka akan ada ketimpangan representasi. Padahal literasi adalah kapital sosial. Teori Pierre Bourdieu menyebutkan, literasi bisa menjadi cultural capital yang diperebutkan oleh elite untuk memperkuat posisi sosial. Risikonya, literasi dijadikan alat branding politik, bukan gerakan transformasi, Faktanya, banyak pengukuhan Duta Baca dan Bunda Literasi lebih menonjolkan seremoni daripada program nyata.

Apa yang seharusnya dimiliki oleh Duta Baca atau Bunda Literasi? Yang pertama adalah memilik rekam jejak membaca dan menulis. Berikutnya, keterlibatan aktif dalam komunitas literasi. Memiliki kemampuan berbicara tentang buku, bukan hanya membacakan sambutan. Kemudian konsistensi dalam membangun ruang baca, diskusi, dan produksi pengetahuan.

Bisakah Duta Baca, Bunda Literasi atau Duta Literasi dari akar rumput? Seperti guru yang membangun perpustakaan kelas. Aktivis kampung yang membuat taman baca. Penulis muda yang menggerakkan komunitas menulis. Atau anak-anak yang aktif membaca dan menulis di media sosial.

Seharusnya dalam menetapkan Duta Baca atau Bunda Literasi ada kriteria-kriteria yang digunakan untuk menilai “layak” atau tidaknya seorang Duta Baca, Bunda Literasi atau Duta Literasi. Jika kita merumuskan kriteria rasional berdasarkan bukti ilmiah dan teori komunikasi, berikut adalah tolok ukur yang bisa digunakan pemerintah daerah atau organisasim yaitu mencakup: Pertama, Teladan Literasi (Practice). Apakah kandidat benar-benar sering membaca? Apakah mereka aktif dalam kegiatan membaca bersama anak, mempromosikan buku? (Jennings: menulari memerlukan contoh).

Kedua, Kredibilitas dan Keahlian (Expertise and Trustworthiness). Apakah kandidat memiliki pengalaman kerja di bidang pendidikan, perpustakaan, penulisan, atau gerakan literasi? Jika tidak, apakah mereka mau dilatih dan terlibat dalam kegiatan substansial? Teori source credibility menekankan pentingnya ini.

Ketiga, Keterlibatan Komunitas (Engagement). Apakah kandidat berkomitmen mengunjungi sekolah, perpustakaan komunitas, dan bekerja dengan guru dan pustakawan? Intervensi yang berhasil melibatkan aktivitas lapangan, bukan hanya inagurasi.


Ketua Umum IKAPI Arys Hilman (ketiga dari kiri) turun langsung kampanye Indonesia Darurat Literasi. (FOTO: Republika/ Thoudy Badai)
Ketua Umum IKAPI Arys Hilman (ketiga dari kiri) turun langsung kampanye Indonesia Darurat Literasi. (FOTO: Republika/ Thoudy Badai)

Dengan kriteria atau standar tersebut, maka masyarakat tidak mempermasalahkan asal sosial (istri pejabat atau anak pejabat) melainkan mengevaluasi performa, keterlibatan, dan kredibilitas. Bila pemegang gelar memenuhi kriteria, mereka pantas. Bila tidak, maka penunjukan bersifat kosmetik—bisa jadi merugikan. Prinsip Jennings mengingatkan: jangan berharap menularkan virus membaca jika Anda sendiri bukan pembawa virus itu.

Dengan berbekal pada pesan dari Paul Jennings, ke depan harus melakukan refleksi bahwa Literasi sebagai gerakan, bukan gelar. Literasi bukan pangkat, melainkan proses. Kemudian keteladanan lebih penting daripada seremoni. Di Indpnesia anak-anak membutuhkan figur yang membaca karena cinta, bukan karena jabatan.

Mari kembali ke ruang keluarga, melihat ada anak yang menundukkan kepala pada halaman buku, anak-anak belajar dari itu. Mereka terlihat bukan karena pidato atau gelar, tetapi karena contoh. Paul Jennings mengingatkan kita bahwa sebelum kita sibuk menggantungkan harapan pada gelar-gelar seremonial, kita harus memastikan bahwa sosok yang kita angkat sebagai “penular” membaca benar-benar pembaca.

Di belantara kebijakan publik, ini bukan soal meniadakan peran figur publik—melainkan menekankan akuntabilitas, otentisitas, dan kerja berbasis bukti.

Di Indonesia, di mana Duta Baca, Bunda Literasi atau Duta Literasi dapat berwujud ragam figur, tantangannya adalah membuat penunjukan itu memiliki muatan substansial, bukan hanya seremonial. Kita membutuhkan duta yang mau turun ke lapangan, belajar teknik membaca bersama yang efektif, bekerja dengan pustakawan lokal, dan yang—yang terpenting—membaca.

Virus membaca dan keteladanan memiliki makna bahwa membaca bukan sekadar aktivitas, tapi kebiasaan yang menular lewat contoh. Menurut kajian psikologi pendidikan. anak-anak meniru perilaku orang tua dan guru, bukan hanya instruksi verbal. Jadikan literasi sebagai budaya rumah, dimana studi menunjukkan bahwa lingkungan rumah yang kaya bacaan meningkatkan kemampuan literasi anak secara signifikan. (maspril aries)

Tagged: