Fiksi AI
Langit malam Palembang seperti kanvas kusam yang nyaris tak memberi warna. Lampu-lampu Jembatan Ampera memantul di air Sungai Musi, membentuk kilauan tak simetris—indah bagi turis, gelap bagi mereka yang tahu cerita di baliknya.
Di pelataran Benteng Kuto Besak, tempat ratusan orang berlalu-lalang setiap hari, ada wilayah yang tak dicatat peta resmi. Wilayah itu milik Raka, seorang pemuda berjaket kulit usang, yang berjalan pelan sambil menyulut rokok kretek dari bungkus yang sudah terlipat kusut.
Ia pernah jadi anak jalanan. Pernah tidur di bawah jembatan, dan sekali—dulu—pernah dipukuli oleh preman hanya karena mencoba menjual air mineral tanpa “izin”. Sejak saat itu, ia belajar: di kota ini, siapa yang berkuasa bukan ditentukan oleh hukum, tapi oleh siapa yang berani tampil garang.
Kini, ia pemilik “lapak”, penguasa parkiran liar dan pengamen malam. Ia bukan sekadar preman. Ia sistem yang tumbuh dari pembiaran.
Malam itu, satu keluarga dari Jakarta tiba dengan mobil minibus silver, parkir di area partkit pelataran Benteng Kuto Besak kadang ada yang menyebutnya, “BKB”.
Arman, anak buah Raka yang baru dua bulan bergabung, mendekat dengan gaya santai. Wajahnya muda dan masih ada keraguan dalam sorot matanya.
“Bang, retribusi malam. Seikhlasnya ya…” katanya kepada sang pengemudi, Pak Hari yang duduk di belakang stir tampak kebingungan.
“Saya sudah bayar tadi ke juru parkir resmi. Ini karcisnya”, jawab Pak Hari, menunjukkan secarik kertas kecil.
Arman terdiam. Dalam dadanya, ada dorongan untuk berkata, ‘Maaf, saya salah orang.’ Tapi ia sudah diajari bahwa ragu adalah pintu kehancuran.
“Seikhlasnya berlain. Ini buat keamanan”, ia lanjutkan dengan nada lebih tegas.
Pak Hari menggeleng, menolak.
Dari kejauhan, Raka mengamati, dan seperti biasa, ia turun tangan saat anak buahnya kehilangan kendali. Langkah Raka berat tapi terukur. Ia berdiri di antara lampu taman dan bayangannya sendiri. Saat ia mendekat, anak kecil di kursi belakang mobil mulai menangis.

“Kau keberatan, bang?” tanya Raka. Suaranya datar, tapi dingin.
“Saya cuma ingin jalan-jalan sama keluarga, mas. Nggak mau ribut”.
“Ribut itu pilihan. Aman juga pilihan. Kita semua cuma kasih opsi”, jawab Raka.
Pak Hari menatap matanya. Ada luka lama yang bersarang di sorot mata Raka, tapi tertutup oleh lapisan kemarahan dan keyakinan bahwa dunia tak akan memberi ruang bagi mereka yang lemah.
Di seberang area parkir BKB, Dian, seorang aktivis muda dan konten kreator di media sosial, sedang menyiapkan kamera ponselnya. Ia merekam suasana malam, berusaha menangkap wajah-wajah ketidakadilan yang kerap tersembunyi di balik euforia wisata.
Ia tahu siapa Raka. Pernah membaca dan mendengar cerita dari beberapa warga, sosok yang dihormati sekaligus ditakuti. Dian bukan pengecut, tapi ia juga bukan penyelamat. Ia hanya percaya bahwa kebenaran kadang harus direkam, meski tanpa izin.
“Kalau kota ini terus diam, kita semua hidup di bayang-bayang”, bisiknya sambil menekan tombol rekam.
Sungai Musi tetap mengalir, membawa cerita yang tak tercatat. Kota ini bukan hanya tentang pempek dan sejarah maritim, tapi juga tentang siapa yang boleh menentukan batas. Raka tahu ia tak abadi, tapi selama lampu Ampera tetap menyala dan petugas terus menutup mata, kekuasaannya akan bertahan. Dan mungkin, suatu malam nanti, akan ada satu rekaman yang mengubah segalanya.
* * *
Angin malam berhembus pelan dari arah Sungai Musi, mengangkat aroma air dan debu jalan yang tersimpan di sela trotoar BKB. Di bawah lampu taman yang redup, Raka berdiri mematung. Di tangannya, rokok sudah padam, tapi ketegangan belum reda.
Sejak insiden semalam dengan keluarga dari Jakarta, desas-desus mulai bergema. Ada perekam diam-diam. Ada unggahan viral. Kata-kata seperti “pungli” dan “premanisme” mulai menari di grup media sosial warga.

Di sudut pelataran, Arman datang tergesa, wajahnya cemas.
“Rak, ada warga yang kumpul di lapak Pak Usman. Katanya mau bikin pos pemantau. Ada kamera segala ”.
Raka tak menjawab. Ia hanya menatap air Sungai Musi berwarna coklat yang mengalir pelan, seolah mencari jawaban dalam gerakan arus yang abadi.
Di warung kopi kecil dekat taman, Pak Usman duduk bersama dua pemuda salah seorang diantaranya, Dian, sang aktivis. Di depan mereka, laptop menyala menampilkan rekaman semalam.
“Mereka bilang ini hanya uang jaga”, kata Dian, pelan. “Tapi wajah anak itu yang menangis itu bukan jaga, itu teror”.
Pak Usman menyeduh kopinya, lalu bergumam, “Dulu orang bilang, diam itu selamat. Tapi sekarang, diam itu setuju”. Dian dan kelompok kecilnya sepakat membuat inisiatif—merekam, memantau, dan jika perlu, mengunggah ke media sosial, sampai mengirimkan laporan ke stasiun televisi dan redaksi ke media nasional. Dian sangat mengerti, melawan sistem seperti Raka dan kawan-kawannya tak semudah mengganti status WhatsApp.
Di sisi lain pelataran, Raka mengumpulkan anak buahnya. “Kalian dengar, mereka mau lawan kita. Pakai kamera, pakai kata-kata. Tapi mereka lupa, kata-kata bisa dibungkam, kamera bisa dihancurkan”, katanya dengan suara tegas.
Arman mencoba menyela, “Raka, kalau makin ramai, kita bisa disorot. Dulu nggak seramai ini ”
Raka menatapnya dingin. “Kalau mereka mau main terang-terangan, kita tunjukkan gelap yang sebenarnya”.
Malam berikutnya, ketika Dian mencoba merekam dari kejauhan, lampu taman tiba-tiba padam. Suara langkah cepat mendekat. Tiga pemuda mengenakan masker dan kepalanya tertutup topi menghampiri posko, salah seorang berusaha menarik tas kamera Dian.
Namun sebelum mereka sempat bertindak lebih jauh, suara lantang terdengar. “Hei Cukup!” Pak Usman berdiri dari balik tiang bendera BKB, disusul lima warga yang membawa tongkat kayu.

Para pelaku mundur, satu di antaranya melempar kata-kata kasar dan berlari.
Pak Usman menatap Dian, “Mulai sekarang, kita jaga BKB dengan cara kita”, katanya.
Benteng Kuto Besak malam itu berubah. Dari benteng yang dulu penuh keindahan yang dibungkam ketakutan, menjadi panggung perlawanan diam-diam. Raka tahu, kekuasaannya digoyang, tapi ia belum akan jatuh. Ia masih punya masa, tapi bayangan kekuasaannya kini mulai retak.
Dan Sungai Musi, tetap mengalir. Menyimpan jejak-jejak malam yang tak dicatat, tapi tidak mudah dilupakan.
* * *
Suasana malam di pelataran Benteng Kuto Besak mulai berubah. Warna gemerlap lampu wisata tak lagi cukup menutupi ketegangan yang merayap di antara pedagang, pengunjung, dan para penjaga “wilayah gelap”.
Semenjak insiden kamera dan gerakan warga yang dipelopori Dian dan Pak Usman, skema kekuasaan Raka mulai terlihat rapuh. Tapi Raka bukan orang yang menyerah dengan desas-desus. Ia bangkit, membentuk barisan baru—lebih tertutup, lebih brutal.
Di belakang warung kopi tua, di bawah jembatan Ampera, Raka mengumpulkan beberapa wajah lama. Dobi, mantan narapidana yang dulu mengatur distribusi rokok ilegal di pasar 16 Ilir, duduk bersila sambil membersihkan kuku dengan pisau kecil.
“Kau ingin perang terbuka, Raka?” tanya Dobi, suaranya berat seperti batu yang baru diangkat dari Sungai Musi.
“Aku ingin pengingat,” jawab Raka, “Bahwa ruang ini milik mereka yang berani menjaga, bukan yang berani merekam”.
Malam berikutnya, pelataran BKB lebih sepi dari biasanya. Beberapa warung tutup lebih awal, dan para pengunjung hanya berani bertahan sebentar. Di sisi lain, kelompok warga yang aktif menjaga mulai mendirikan pos kecil dari tenda bekas dan banner bertuliskan “Warga Menolak Pungli”. Dian duduk di meja kayu, mengedit video untuk diunggah ke kanal media sosialnya.

“Aku ingin mereka tahu bahwa kamera bisa menyala lebih lama dari bayangan,” gumamnya sambil merapikan footage.
Namun ketegangan tak bisa ditahan lama. Sekitar pukul 21.30, tiga motor tanpa pelat nomor menyambangi pos warga. Mereka tak bicara, hanya melintas lambat. Salah satu dari mereka melempar batu ke banner warga sebelum melaju cepat ke arah Ampera. Pak Usman berdiri sigap, tapi tak mengejar.
“Ini bukan sekadar preman”, katanya pelan, “Ini pesan”.
Di sisi sungai, Raka berdiri memandang air Musi. Ia tak bicara, hanya menarik napas panjang. Arman mendekat, namun kali ini lebih tenang.
“Raka aku rasa kita sudah di ambang yang lain. Kalau kita pakai cara lama terus, nama kita nggak cuma dicerca bisa dicari.”
Raka memandang Arman, lama. “Kalau kau ingin berhenti, berhenti. Tapi jangan harap kota ini akan melindungi mereka. Hukum cuma kuat di siang hari. Malam masih milik kita”.
Arman mundur perlahan. Di dalam matanya, ada keraguan yang tumbuh seperti lumut—pelan, tapi pasti melekat. Dan malam itu, Ampera tetap menyinari arus Musi. Tapi bayang-bayang yang dulu diam mulai bergerak. Bukan hanya dari sisi Raka, tapi dari suara warga yang tak lagi memilih diam.
* * *
Angin malam di Benteng Kuto Besak tak lagi terasa sejuk. Udara menjadi terasa panas, seperti menahan napas atas sesuatu yang belum terjadi tapi terasa dekat. Para warga di pos penjaga menyusun barisan kecil, membawa senter, tongkat kayu, bahkan alat dapur. Sementara itu, dari sisi lain pelataran, Raka dan kelompok lamanya bersiap.
Malam itu, tidak ada wisata. Tidak ada pempek hangat. Tidak ada keramaian selfie berlatar jembatan Ampera. Yang ada hanya bisikan dan langkah kaki yang dipercepat.
Sekitar pukul 23.00, tiga pria dari kubu Raka menyambangi lapak milik Pak Usman dan mencoret banner warga dengan cat hitam. Dian mencoba merekam, tapi salah satu dari mereka menendang tripod kameranya.

“Kami hanya ingin tempat ini aman. Kenapa kalian takut pada sorotan kamera?” kata Dian.
Pemuda yang wajahnya tertutup masker menjawab, “Karena kamera nggak bisa nolong saat tangan kami bicara!”
Serangan fisik pun terjadi. Tongkat kayu terangkat, kursi plastik terpelanting, suara teriakan dan kaca pecah mengisi malam yang biasanya hangat oleh tawa anak-anak. Arman, yang awalnya berdiri di barisan Raka, menatap gemetar. Ia melihat seorang remaja—adiknya, yang ternyata ikut di barisan warga. “Adikmu ada di sana, Man,” bisik suara dalam hatinya, “Kalau malam ini jadi perang, kau kehilangan adik mu”.
Raka melangkah maju ke tengah kericuhan. Ia tak membawa senjata, hanya tatapan yang selama ini cukup untuk menundukkan banyak wajah. “Kalau kalian mau kota ini bebas pungli, silakan. Tapi jangan kira kota ini bisa bersih tanpa darah”, katanya.
Pak Usman berdiri tegak. Meskipun gemetar, suaranya mantap.
Pak Usman berkata, “Darahmu bukan solusi, Nak. Dulu kami diam karena takut. Sekarang, kami bicara meski masih takut”.
Raka menatapnya lama. Di balik sorot matanya yang menyimpan kenangan jalanan dan kesepian, terselip keretakan. Ia melihat Arman menunduk, tak ikut melangkah. Bahkan Dobi mundur, berkata pelan, “Raka, ini bukan wilayah kita lagi. Mereka sudah punya nyali”.
Kericuhan mereda bukan karena polisi datang. Mereka tetap tak tampak. Tapi sesuatu berubah ketika warga tetap bertahan, tidak lari. Kamera Dian merekam semua, dan suara warga menggema. Seseorang berteriak, “Bukan cuma parkir yang kami rebut, ini tentang hak untuk tidak ditakuti!”
Raka diam. Untuk pertama kalinya, ia tak tahu harus bicara apa. Bayang-bayang kekuasaannya, yang dulu tegak seperti benteng, kini retak oleh keberanian yang tumbuh perlahan—seperti akar di tanah yang dulunya tandus.
Ia berbalik, berjalan pelan ke arah sungai. Tidak lari. Tapi juga tidak menang.
* * *

Sungai Musi malam itu tampak lebih tenang. Mungkin bukan karena konflik telah usai. Tapi karena suara warga mulai mengalir seperti arusnya, pelan, konsisten, dan tidak bisa dibendung oleh ketakutan.
Benteng Kuto Besak tidak menjadi bebas seketika. Tapi malam itu, ia menjadi benteng perlawanan batin dan tubuh yang berkata, “Cukup”.
Hari ini Benteng Kuto Besak perlahan kembali ramai, bukan dengan keriuhan yang riuh-rendah, tapi dengan suasana baru yang mengandung kewaspadaan. Banner warga masih terpampang, meski warnanya mulai pudar. Di sudut warung kopi, kamera ponsel milik Dian tetap menyala, tak lagi sembunyi. Ia kini dipandang bukan sebagai provokator, melainkan pengingat bahwa kota ini pernah melawan dalam diam.
Raka, sejak malam konflik, tidak tampak. Beberapa orang bilang ia meninggalkan kawasan dan pindah ke Ilir yang lebih tenang. Yang lain percaya ia masih mengamati dari kejauhan, menunggu momentum. Tapi jejak kekuasaannya perlahan terhapus. Lapak-lapak kini dijaga bergiliran oleh warga dan pemuda. Tak ada lagi pungutan “seikhlasnya” yang berubah jadi intimidasi.
Arman berhenti memakai jaket lusuhnya. Ia kini membantu Pak Usman membersihkan pelataran tiap pagi, dan kadang berdiri menjaga parkiran dengan tanda resmi yang ia buat sendiri: “Parkir Aman, Tanpa Tekanan”. Ia tak banyak bicara, tapi pandangan matanya kini berbeda, tidak menyembunyikan rasa bersalah, melainkan mengandung harapan.
Sungai Musi tetap mengalir. Menyimpan cerita tentang bayang-bayang yang pernah menguasai malam. Tapi air juga membersihkan, dan cahaya Ampera kini tak hanya sekadar estetika kota—ia menjadi saksi bahwa nyali bisa tumbuh di tempat paling tak terduga.
Benteng itu bukan lagi milik preman. Ia menjadi milik warga. Milik mereka yang memilih untuk melawan, bukan dengan pukulan, tapi dengan keberanian untuk bertahan.
Dan ketika malam tiba, tenda kecil di sudut pelataran tetap menyala. Di atasnya terpasang spanduk bertuliskan, “Kami jaga kota ini. Bukan dengan takut, tapi dengan terang”. * * *
Penyusun: Maspril Aries






