Home / Lingkungan / Banjir Landa Kabupaten Mura, Muratara, Muba, Pali dan 8 Jembatan Gantung Putus

Banjir Landa Kabupaten Mura, Muratara, Muba, Pali dan 8 Jembatan Gantung Putus

Banjir di Muratara. (FOTO: Dok BPBD Muratara)

KAKI BUKIT – Hujan deras yang turun pada beberapa daerah di Sumatera Selatan (Sumsel) pada 10 dan 11 Januari 2024 telah mengakibatkan banjir terjadi di Kabupaten Musi Rawas (Mura), Musi Rawas Utara (Muratara), Musi Banyuasin (Muba) dan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali).

Hujan yang turun dengan intensitas tinggi telah menyebabkan beberapa sungai besar di daerah ini airnya meluap diantaranya Sungai Rawas dan Sungai Rupit di Mura dan Muratara serta Sungai Musi di Muba. Banjir tersebut merendam rumah warga, sekolah, jalan dan fasilitas umum diantaranya masjid dan puskemas, juga memutuskan jembatan gantung.

Banjir di Muratara menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terjadi di Kecamatan Ulu Rawas, Kecamatan Rawas Ulu, Karang Jaya, Rupit, Karang Dapo dan Rawas Ilir

Banjir terjadi Rabu, 10 Januari 2024 Pukul 07.00 WIB di Kecamatan Rupit. Ulu Rawas, Rawas Ulu akibat curah hujan dengan intensitas sedang-tinggi yang menguyur sebagian wilayah Kabupaten Muratara yang menyebabkan debit air sungai Rawas naik, sehingga terjadinya luapan air di bagian hulu sungai yang berdampak banjir susulan di Kecamatan Rupit, Karang Dapo, dan Rawas Ilir.

Akibat banjir tersebut, BPPD mendata ada sekitar 20.000 rumah warga dan fasilitas umum terendam. Kemudian, ada delapan jembatan gantung terputus, yaitu jembatan gantung Desa Batu Gajah, jembatan gantung Desa Sosokan, jembatan gantung Desa Muara Kuis, jembatan gantung Dusun Kemang Desa Muara Kuis, jembatan gantung Dusun Desa Muara Kuis, jembatan gantung Pulau Kidak, jembatan gantung Kelurahan Muara Kulam dan jembatan gantung Desa Karang Anyar.


Salah satu jembatan gantung putus akibat banjir di Muratara. (FOTO: Dok. BPBD Muratara)

Banjir juga merendam 17 sekolah, diantaranya terdata SDN Biaro Baru, SDN 4 Bingin Teluk, SDN 1 Noman Baru, SDN 1 Karang Dapo, SDN Pantai, SDN 3 Muara Rupit, SDN 2 Maur, SDN Biaro Lamo, SDN 2 Karang anyar, SDN 1 Rantau Kadam, SDN 1 Lesung Batu, dan SDN Kertasari. Juga merendam SMPN Karang Anyar, SMPN Translok Pauh, SMPN Pulau Lebar, dan SMPN Pangkalan.

Juga ikut terendam 40 unit bangunan fasilitas kesehatan (faskes) yang terdiri dari sat Puskesmas, 10 Puskesmas Pembantu dan 29 Poliklinik Desa (Polindes).

Saat banjir datang melanda BPBD Muratara dan BPDP Mura bersama BPBD Provinsi Sumsel turun ke lokasi memantau banjir dan memberikan bantuan kepada warga yang terdampak.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana, BPPD Sumsel bekerja sama dengan OPD (Organisasi Perangkat Dinas) terkait, seperti Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan telah mendirikan dapur umum dan memberikan pelayanan kesehatan. “Kami juga mengirimkan petugas trauma healling. Jadi setiap kejadian bencana alam maupun non alam kita mengirimkan psikolog” katanya.

Banjir Pali dan Muba

Selain Kabupaten Mura dan Muratara, banjir juga melanda Kabupaten Pali dan Kabupaten Muba. Di Pali, jalan penghubung alternatif antara Pali dan Mura terendam, lalu lintas dialihkan. Lokasi banjir terparah di daerah ini melanda Dusun Tumpang Sari, Desa Semangus, Kecamatan Talang Ubi.

Banjir akibat curah hujan yang tinggi juga memicu terjadinya banjir di Kabupaten Muba. Berdasarkan data BPBD Muba pada 10 Januari 202banjir melanda di lima kecamatan. Salah satunya terjadi di wilayah Kecamatan Sanga Desa mulai melanda di Desa Ulak Embacang. Akibatanya ada 150 kepala keluarga dan tiga sekolah terdampak banjir.


Pj Bupati Muba meninjau banjir yang melanda wilayahnya. (FOTO: Dinkominfo Muba)

Banjir juga terjadi di wilayah Kecamatan Lais dan Kecamatan Plakat Tinggi dengan ketinggian air mencapai satu meter yang menutupi badan jalan. dari badan jalan. Banjir juga melanda Kecamatan Sungai Keruh di Desa Kertajaya dan Kecamatan Jirak Jaya. Pj Bupati Muba Apriyadi juga telah meninjau banjir di Desa Kertajaya Kecamatan Sungai Keruh.

Dari Palembang Penjabat (Pj) Gubernur Sumsel Agus Fatoni telah mengadakan rapat koordinasi mengantisipasi terjadinya banjir dan longsor serta persiapan untuk antisipasi bencana. “Kita berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk pemerintah kabupaten/kota untuk tanggap darurat saat kondisi dibutuhkan”, kata Fatoni.

Pj Gubernur Sumsel Agus Fatoni meminta pemerintah kabupaten dan kota untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan akhir-akhir ini karena sewaktu-waktu dapat saja terjadi bencana banjir dan tanah longsor.

“Sumatera Selatan tidak hanya rawan terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau tetapi juga pada musim hujan rawan terjadi banjir dan tanah longsor”, ujarnya.

Agus Fatoni meminta para bupati dan wali kota di Sumsel untuk mulai mempersiapkan diri mengantisipasi bencana banjir dan longsor. “Dengan persiapan maksimal diharapkan bencana banjir dan longsor yang sewaktu-waktu terjadi di wilayah 17 kabupaten dan kota dapat ditanggulangi dengan baik serta bisa dicegah timbulnya korban jiwa”, kata Pj Gubernur Sumsel.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana banjir pada musim hujan 2024 ini. “BPDB di seluruh kabupaten dan kota menyiagakan petugas didukung dengan peralatan yang memadai seperti perahu karet dan peralatan selam”, ujarnya. (maspril aries)

Tagged: