Home > Politik

Hari Buruh, SK Trimurti, Marsinah dan Wiji Thukul

Pemerintahan Orde Baru menuding peringatan Hari Buruh yang dilakukan dengan gerakan buruh berhubungan dengan gerakan dan paham komunis.
Peringatan Hari Buruh Intrnasional, 1 Mei 2023 di Jakarta. (FOTO : Republika)

/1/

Marsinah buruh pabrik arloji,

mengurus presisi:

merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;

waktu memang tak pernah kompromi,

ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati,

tak lelah berdetak

memintal kefanaan

yang abadi:

“kami ini tak banyak kehendak,

sekedar hidup layak, sebutir nasi”.

/2/

Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,

ia hanya suka merebus kata

sampai mendidih,

lalu meluap ke mana-mana.

“Ia suka berpikir”, kata Siapa,

“itu sangat berbahaya”.

Marsinah tak ingin menyulut api,

ia hanya memutar jarum arloji

agar sesuai dengan matahari.

“Ia tahu hakikat waktu”, kata Siapa,

“dan harus dikembalikan

ke asalnya, debu”,

(“Dongeng Marsinah” Karya Sapardi Djoko Damono)

KAKI BUKIT – Tepat tanggal 1 Mei 2023, ribuan buruh bergerak serentak memperingati Hari Buruh Internasional. Pada hari itu, para buruh serentak pada beberapa daerah di Indonesia berunjuk rasa, melakukan aksi demonstrasi turun ke jalan menuntut hak-haknya dan perbaikan kesejahteraan para buruh.

Hari Buruh Internasional yang saat ini diperingati adalah sejarah panjang dai perjalanan buruh atau pekerja di seluruh dunia. Di Indonesia Hari Buruh pada 1 Mei pertama kali diperingati tahun 1918 oleh oleh Serikat Buruh Kung Tang Hwee. Kemudian tahun 1926 pemerintah kolonial melarang peringatan hari buruh karena kerap memicu pemogokan.

Pada tahun 1946 peringatan Hari Buruh Internasional lalu diiizinkan diperingati pada 1 Mei 1946 oleh pemerintahan masa Kabinet Sjahrir. Kemudian pemerintahan Orde Lama tumbang berganti dengan pemerintahan Orde Baru yang melarang dilaksanakan peringatan Hari Buruh setiap tanggal 1 Mei.

Pemerintahan Orde Baru menuding peringatan Hari Buruh yang dilakukan dengan gerakan buruh berhubungan dengan gerakan dan paham komunis pasca peristiwa G30S/ PKI pada tahun 1965. Sejak saat itu peringatan Hari Buruh pada 1 Mei tabu untuk diperingati di Indonesia.

Setelah era Orde Baru tumbang berganti dengan era reformasi, tanggal 1 Mei kembali diperingati Hari Buruh Internasional oleh buruh di seluruh Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Hari Buruh Internasional tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Peringatan Hari Buruh Internasional juga dikenal dengan istilah May Day terlahir dari aksi buruh di Kanada pada 1872 yang menuntut diberlakukannya delapan jam kerja sehari. Ada yang menulis, sejarah Hari Buruh bermula pada 1 Mei 1886, ketika serikat buruh melakukan unjuk rasa di Chicago dan beberapa kota besar di Amerika Serikat untuk menuntut penentuan jumlah jam kerja per hari maksimal delapan jam.

Kemudian sejak 1886, tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Sedunia oleh Federation of Organized Trade and Labor Unions.

May Day adalah momentum bagi kaum buruh untuk memperjuangkan nasib mereka dengan menyuarakan aspirasi terhadap kebijakan di bidang ketenagakerjaan yang ditetapkan pemerintah.

Gerakan Buruh

Gerakan buruh di Indonesia masa pemerintahan kolonial atau masa Pra-Indonesia, menjadi kekuatan buruh yang dimobilisasi untuk kepentingan kontra penjajahan Belanda. Pada masa itu terjadi berbagai pemogokan kerja. Pada masa itu sejarah mencatat kelahiran tokoh-tokoh pergerakan yang menjadi pelopor gerakan buruh, diantaranya, Semaoen (1899-1971), Iwa Kusuma Sumantri (1899-1971), dan Surjopranoto (1871-1959). Mereka tokoh yang sangat diperhitungkan baik oleh pemerintah kolonial.

× Image