Home / News / PT Satria Bahana Sarana “Quatrik” Raih ATM Award

PT Satria Bahana Sarana “Quatrik” Raih ATM Award

Pimpinan PT Satria Bahana Sarana bersama penghargaan ATM 2026. (FOTO: Humas PT SBS)

KINGDOMSRIWIJAYA, Palembang – PT Satria Bahana Sarana (SBS) perusahaan tambang yang berada di wilayah Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan (Sumsel) sukses meraih penghargaan di bidang kesehatan. PT SBS untuk empat kali berturut-turut atau quatrik sejak 2023 meraih penghargaan Corporate Social Responsibility (CSR) dalam Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM) Award Tahun 2026.

Ini menjadi prestasi membanggakan bagi PT SBS di tengah tantangan kesehatan masyarakat yang tak kunjung selesai, dunia usaha punya peran yang makin penting. Penghargaan diserahkan pada Selasa, 3 November 2026, di Harris Hotel & Conventions Festival Citylink, Jalan Peta No. 241, Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat. Penyerahan berlangsung dalam rangkaian Pertemuan Nasional Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES), forum yang mempertemukan para pemangku kepentingan sektor kesehatan dari berbagai daerah.

Dalam keterangan pers PT SBS menyebutkan, penghargaan tersebut diterima perusahaan dari ADINKES. Dimana ADINKES melalui Program Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) dengan dukungan Global Fund terus mendorong penguatan komitmen pemerintah daerah, dunia usaha dan mitra pembangunan dalam mendukung keberlanjutan Program PP ATM.

 “Alhamdulillah, PT Satria Bahana Sarana kembali berhasil meraih Penghargaan CSR dalam Pencegahan dan Pengendalian AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria  atau ATM Award Tahun 2026 untuk keempat kalinya secara berturut-turut sejak tahun 2023”, kata Sekretaris Perusahaan PT SBS, Yudhi Wibowo didampingi AM CSR dan Komunikasi Korporat, CSR Officer Iis Fatmala dan Humas Gito Siswanto.

Menurut Yudhi, “Pencapaian ini menjadi bukti nyata komitmen dan konsistensi PT SBS dalam menjalankan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), khususnya dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian AIDS, Tuberkulosis dan Malaria secara berkelanjutan”.

ATM di Indonesia

Penghargaan ini penting mengingat besarnya beban tiga penyakit tersebut di Indonesia. Indonesia termasuk negara dengan beban tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), posisinya berada di kisaran peringkat kedua setelah India, dengan estimasi lebih dari satu juta kasus baru setiap tahun. TBC menular lewat udara dan kerap menyerang kelompok usia produktif, sehingga dampaknya terasa pada keluarga dan produktivitas ekonomi. Pemerintah sendiri telah menetapkan target eliminasi TBC pada 2030.

Dari sisi HIV/AIDS, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menemukan orang dengan HIV dan memastikan mereka menjalani pengobatan antiretroviral (ARV) secara teratur. Stigma masih sering membuat orang enggan memeriksakan diri.

Malaria punya persoalan yang berbeda. Penyakit ini terkonsentrasi di wilayah timur Indonesia, sementara banyak kabupaten/kota di wilayah barat dan tengah sudah dinyatakan bebas malaria. Pemerintah menargetkan Indonesia bebas malaria pada 2030. Mencapainya butuh kerja bersama lintas sektor, termasuk di wilayah yang aktivitas industrinya beririsan dengan daerah endemis.

Ketiganya punya kesamaan, penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Penanggulangan butuh edukasi di tingkat komunitas, deteksi dini, dukungan terhadap kepatuhan pengobatan, dan lingkungan sosial yang tidak menstigma. Di sinilah mitra non-pemerintah seperti perusahaan mengambil peran.


Para peraih penghargaan ATM Award 2026, (FOTO: Humas PT SBS)

Penghargaan ini bagian dari upaya ADINKES memperkuat komitmen berbagai pihak. Melalui Program Resilient and Sustainable Systems for Health (RSSH) dengan dukungan Global Fund, ADINKES terus mendorong pemerintah daerah, dunia usaha, dan mitra pembangunan agar mendukung keberlanjutan Program Pencegahan dan Pengendalian (PP) ATM.

Global Fund sendiri adalah lembaga pendanaan internasional yang dibentuk untuk mempercepat pengakhiran epidemi AIDS, TBC, dan malaria. Indonesia termasuk penerima dukungannya selama bertahun-tahun. Namun, seiring meningkatnya kemampuan ekonomi negara, ketergantungan pada pendanaan eksternal diarahkan untuk makin berkurang. Pembiayaan domestik, termasuk dari pemerintah daerah dan sektor swasta, menjadi kunci agar program tetap berjalan. Keterlibatan perusahaan lewat CSR bukan sekadar tambahan, tetapi bagian dari strategi keberlanjutan.

CSR ke Dampak Nyata

Istilah TJSL yang disebut Yudhi merujuk pada kewajiban perusahaan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas, untuk memberi perhatian pada dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan usahanya. Dalam praktik terbaik, TJSL tidak berhenti pada donasi sesaat. Ia dirancang sebagai program berkelanjutan yang punya indikator jelas dan melibatkan masyarakat sebagai pelaku, bukan hanya penerima.

Pada isu ATM, bentuk dukungan perusahaan bisa beragam. Contohnya sosialisasi dan edukasi kesehatan bagi karyawan, keluarga, dan masyarakat sekitar wilayah operasional, fasilitasi skrining dan pemeriksaan, hingga kolaborasi dengan dinas kesehatan dan puskesmas. Pendampingan kader kesehatan dan upaya mengurangi stigma terhadap penderita juga termasuk di dalamnya. Pendekatan seperti ini menjangkau kelompok yang sering luput dari layanan formal.

Pengakuan Ini Bermakna

Bagi perusahaan, penghargaan dari ADINKES membawa dua makna. Pertama, ia menjadi pengakuan dari lembaga yang berhadapan langsung dengan persoalan kesehatan di daerah. ADINKES menghimpun dinas kesehatan di seluruh Indonesia, sehingga penilaiannya berangkat dari kebutuhan lapangan. Kedua, penghargaan ini menjadi pengingat bahwa komitmen harus dijaga. Tiga edisi sebelumnya kini menjadi tolok ukur yang harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan.

Bagi masyarakat, contoh seperti ini diharapkan mendorong lebih banyak perusahaan terlibat. Target eliminasi TBC dan malaria pada 2030 tinggal beberapa tahun lagi, dan pekerjaan rumahnya masih besar. Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan mitra pembangunan menjadi syarat agar target itu realistis.

Dengan empat penghargaan beruntun, PT SBS kini punya modal reputasi sekaligus tanggung jawab. Pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah perusahaan peduli, melainkan seberapa dalam dampak yang bisa dihadirkan dan seberapa lama keberlanjutannya.

Yang pasti, sinyal dari Bandung hari itu jelas, penanggulangan AIDS, TBC, dan malaria bukan hanya urusan rumah sakit dan dinas kesehatan. Ia urusan bersama, dan dunia usaha adalah bagian dari jawabannya. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI 

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *