Home / Literasi / Sastrawan Anto Narasoma Bongkar Buku Kumpulan Cerpen “Perempuan di Tengah Labirin Mal” Karya AI

Sastrawan Anto Narasoma Bongkar Buku Kumpulan Cerpen “Perempuan di Tengah Labirin Mal” Karya AI

Dua pembicara Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, Maspril Aries (kiri) dan Muhammad Rachmadi (kedua dari kiri) di kampus Universitas MDP Palembang. (FOTO: Aina RA)

Ringkasan:

Peluncuran buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal” karya AI disunting Maspril Aries, dibahas Anto Narasoma di Universitas MDP Palembang.

KINGDOMSRIWIJAYA – Di ruangan yang penuh tawa dan harapan, pada tanggal 3 Oktober 2026, sebuah tonggak baru terukir dalam dunia sastra Indonesia. Buku kumpulan cerpen “Perempuan di Tengah Labirin Mal” hadir bukan sekadar sebagai tumpukan halaman bertinta, melainkan sebuah jembatan yang merentang antara logika kode dan kehangatan jiwa manusia.

Hari itu bertempat di kampus Universitas MDP yang ada di Jalan Rajawali, Palembang berlangsung peluncuran buku kumpulan cerpen yang disunting Maspril Aries seorang jurnalis senior yang sudah menulis dan menerbitkan 23 judul buku tunggal dan buku antologi.

Di peluncuran itu, sastrawan Anto Narasoma yang hadir langsung, mengulas tentang dua suara yang menjadi nara sumber,  Muhammad Rachmadi dan Maspril Aries pada acara bertajuk “Bincang Buku”.  Satu dari dunia teknologi, satu lagi dari dunia pena, berbicara tentang hal yang sama,  kecerdasan buatan atau artificial intellegence (AI) dapat menulis kerangka cerita, tetapi hanya manusia yang mampu meniupkan napas kehidupan ke dalamnya.

Berikut ulasan Anto Narasoma dengan mengutip Muhammad Rachmadi, dosen Sistem Informasi Universitas MDP, menjelaskan, sebagai seseorang yang memahami bahasa mesin sekaligus dunia kreativitas, ia melihat apa yang sering luput dari pandangan orang lain.

“Secara permukaan, alur cerpen yang dihasilkan AI sudah tersusun rapi, sesuai kaidah bahasa yang baik, seolah tak ada yang kurang. Namun ketika dibaca perlahan, diresapi kalimat demi kalimat, terasa ada sesuatu yang hilang. Ceritanya berdiri, tetapi tidak bernapas. Ada bentuk, tetapi tidak ada ruh”, ujar Rachmadi.


Sastrawan Anto Narasoma memberikan ulasannya pada bincang buku di Universitas MDP. (FOTO: Aina RA)

Rachmadi bukan sekadar pengamat dari pinggir dunia tulis-menulis. Ia sendiri adalah penulis yang telah melahirkan sejumlah cerpen dan novel. Ia tahu betul bahwa sebuah kisah bukan sekadar urutan peristiwa yang saling menyambung. Sebuah cerita hidup ketika ada getaran di balik kata-katanya, ada rindu yang tak terucap, amarah yang membakar dada, ketakutan yang diam-diam merayap, atau kebahagiaan yang membuat mata berkaca-kaca. Hal-hal itulah yang tak bisa diambil sekadar dari menelusuri jutaan teks yang sudah ada. Itu harus lahir dari pengalaman, perenungan, dan kedalaman batin.

“AI dapat menyusun kerangka, memilih kata yang tepat di tempat yang tepat, bahkan menciptakan kejutan yang tak terduga”, lanjut Rachmadi. “Tetapi menyentuh hati pembaca? Itu tetap wilayah manusia. Kita harus masuk ke dalam alur itu, merasakan apa yang dirasakan tokoh, lalu menularkannya lewat kalimat yang hidup. Tanpa itu, karya seindah apa pun akan terasa dingin, seperti patung yang cantik namun tak berdetak jantungnya”.

Rachmadi menegaskan bahwa peran penulis tidak tergantikan. Bukan untuk menolak kemajuan zaman, melainkan untuk melengkapi apa yang tidak bisa dipenuhi oleh teknologi. AI adalah rekan yang cerdas, penyedia kemungkinan yang tak terbatas, tetapi manusialah yang memilih, menyaring, dan menyempurnakannya hingga menjadi karya yang layak dihayati.

Mesin Menyusun, Manusia Menghidupkan

Maspril Aries, penyunting buku sekaligus jurnalis senior, memandang proyek ini dengan pandangan yang lebih luas. Baginya, Perempuan di Tengah Labirin Mal bukan sekadar kumpulan cerita. Ia adalah pertanyaan yang diajukan secara terbuka kepada semua orang: dapatkah mesin memahami kerinduan, kesepian, kebahagiaan yang tak terkatakan?

“Kecerdasan buatan adalah akal imitasi”, ujar Maspril dengan senyum tipis yang menyiratkan kedalaman makna. “Buku ini bukan sekadar hasil cetak dari perintah yang diketik seseorang. Ia adalah dokumentasi sastra yang menguji batas, seberapa jauh kita dapat berbagi ruang kreativitas dengan sesuatu yang tidak memiliki perasaan”.


Para peserta Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal” dari mahasiswa/i Unversitas MDP Palembang. (FOTO: Maspril Aries)

Proyek ini bermula dari hal sederhana, sebuah prompt, sebaris permintaan yang dituliskan seseorang, cerita tentang cahaya, kenangan, pulau yang eksotis. Cerita-cerita lain menyusul, tentang kehidupan sosial, tentang legenda, tentang keresahan yang melekat di hati masyarakat. AI merespons dengan cepat. Ia merangkai kata, membangun tokoh, menyusun alur, mengambil dari ribuan, jutaan karya yang pernah ditulis manusia. Hasilnya tampak utuh, lengkap, tak kurang satu bagian pun.

Maspril memaparkan, “Di sinilah peran manusia masuk. Di sinilah perbedaan antara ‘teks yang dihasilkan’ dan ‘karya yang dirasakan’ mulai tampak. AI membangun cerita demi cerita, tetapi ia tidak hidup di dalamnya”.

, “AI menulis tapi ia tidak merasakan dinginnya angin di pulau seperti pada cerpen Cahaya yang Tertinggal di Santorini, tidak mengenang orang yang telah pergi, tidak merasa bingung di tengah keramaian yang sepi. Maka kehadiran penyunting, manusia yang membaca, merasakan, menyempurnakan, menjadi kunci. Tugas manusia bukan sekadar memperbaiki tanda baca atau kata yang kurang pas. Tetapi menambal tempat yang hampa, memberi napas pada kalimat yang mati, menyisipkan getaran di tempat yang datar”.

Ia menekankan bahwa ini bukan soal siapa menggantikan siapa. Justru sebaliknya: penciptaan tidak lagi menjadi monopoli satu pihak, melainkan sebuah pertemuan. Mesin menyediakan keraguan, pilihan, dan kemungkinan yang luas; manusia memberi makna, kedalaman, dan perasaan. Keduanya berjalan beriringan, melengkapi kekurangan masing-masing.

“Ini bukan berarti menyerahkan pena kepada mesin, lalu duduk diam”, pesan Maspril kepada para penulis muda. “Justru sebaliknya, semakin canggih teknologi, semakin kita harus mempertajam kepekaan diri. Jangan menerima apa yang ditampilkan layar secara apa adanya. Bacalah, rasakan, dan kembangkan. Jadikan AI sebagai batu loncatan, bukan tempat berhenti”.

Menulis dengan Hati di Era Mesin

Kata-kata yang terucap di peluncuran itu membawa pesan yang tenang namun tegas kepada kita semua, kemajuan teknologi tidak akan pernah mengurangi nilai kemanusiaan dalam seni. AI mampu meniru gaya, meniru struktur, bahkan meniru gaya bahasa yang puitis. Tetapi satu hal yang tidak bisa ditirunya adalah keaslian perasaan yang lahir dari pengalaman nyata.


Pembicara Maspril Aries menerima cendera mata dari Abdul Rahman Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Rekayasa Universitas MDP. (FOTO: Aina RA)

Ketika seseorang membaca cerita dan merasa seolah-olah membaca bagian dari dirinya sendiri, ketika mata pembaca berkaca-kaca tanpa disadari, ketika dada terasa sesak atau hangat karena kalimat yang baru saja dibaca – di situlah letak kehadiran penulis. Itulah hal yang tidak bisa dihasilkan oleh algoritma, sekompleks apa pun ia disusun.

Rachmadi mengingatkan bahwa di tengah kemudahan yang ditawarkan teknologi, tugas penulis justru semakin berat, tidak sekadar menceritakan peristiwa, tetapi menyampaikan makna di baliknya. Menemukan kemanusiaan di setiap sudut kisah, mengangkat perasaan yang umum namun tersembunyi, dan menyampaikannya dengan cara yang menyentuh langsung ke hati pembaca.

Maspril menutup perbincangan dengan ajakan yang tulus, “Silakan membaca buku ini. Bacalah bukan sekadar untuk mengetahui ceritanya, tetapi untuk merasakan pertemuan antara logika dan perasaan. Di sini mesin telah menyusun, tetapi manusialah yang menghidupkan”.

Di halaman-halaman buku itu, kita tidak hanya membaca kisah tokoh-tokoh yang dilahirkan dari pertemuan kode dan pena. Kita juga membaca tentang diri kita, tentang kerinduan, harapan, kesepian, dan kebahagiaan yang membuat kita tetap manusia, di tengah dunia yang semakin banyak dijalankan oleh mesin.

Dan pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa bukanlah “apakah mesin bisa menulis?”, melainkan, “cerita seperti apa yang ingin kita lahirkan bersama?” karena jawabannya tidak ada di layar, melainkan di dalam hati setiap orang yang masih percaya bahwa kata-kata, jika diisi dengan jiwa, mampu mengubah dunia. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *