Home / Literasi / Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, Maspril Aries Berbagi Kiat Menulis Cerpen dengan Akal Imitasi (AI)

Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, Maspril Aries Berbagi Kiat Menulis Cerpen dengan Akal Imitasi (AI)

Acara Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal” di kampus Unversitas MDP Palembang. (FOTO: Aina RA)

KINGDOMSRIWIJAYA, Palembang – Akhir pekan lalu, tepatnya Sabtu, 3 Oktober 2026, Universitas MDP menyelenggarakan acara “Bincang Buku – Perempuan di Tengah Labirin Mal”. Acara berlangsung di kampus Universitas MDP, Jalan Rajawali, Palembang dengan pembicara Maspril Aries sebagai penyunting buku dan Muhammad Rachmadi Dosen Sistem Informasi Universitas MDP.

Bincang buku tersebut juga membahas perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga disebut Akal Imitasi mulai merambah semakin jauh ke dunia literasi dan sastra. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk membantu pekerjaan sehari-hari, tetapi juga dimanfaatkan dalam proses penciptaan cerita pendek (cerpen) hingga novel, puisi dan juga pantun.

Pada acara yang dibuka Abdul Rahman Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Rekayasa tersebut diikuti mahasiswa dan penyair Anto Narasoma tersebut, Maspril Aries sebagai penyunting buku yang terbit September 2026 membagikan pengalaman dan kiatnya bereksperimen menggunakan AI untuk menghasilkan karya sastra dalam hal ini cerpen yang disiarkan atau tayang di kingdomsriwijaya.id.

Menurut Maspril yang juga seorang jurnalis dengan kualifikasi wartawan utama, dirinya mengenal AI termasuk terlambat baru pada 2025 untuk mengekploitasi teknologi A dalam karya kreatif yakni karya fiksi atau sastra. “Sebelumnya saya sudah menggunakan AI untuk membantu menulis artikel. Lalu saya coba mesin ini untuk membuat atau menulis karya sastra, setelah beberapa kali eksprimen baru pada cerpen berjudul Cahaya yang Tertinggal di Santorini aroma sebuah cerpen tercium di sini”, katanya.

Dalam perkembangan penggunaan AI yang semakin pesat, sekarang makin banyak orang pintar memanfaatkan AI ini tanpa harus berlatar belakang pendidikan komputer. “AI telah mempermudah proses pembuatan karya dari teks, gambar, audio, sampai video,” ujar jurnalis pemegang kartu PCNO (Press Card Number One) yang diterimanya pada Hari Pers Nasional (HPN) 2023 di Medan.


Dua pembicara Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal”, Maspril Aries (kiri) dan Muhammad Rachmadi (kedua dari kiri) di kampus Universitas MDP Palembang. (FOTO: Aina RA)

Maspril menceritakan cara dirinya berproses menggunakan mesin yang sekarang dicap rakus menggunakan air, untuk menghasilkan sebuah cerpen Maspril tidak hanya memasukkan dari ide pribadi sebagai perintah atau prompt kepada Generate AI. Ia juga menggunakan berbagai sumber sebagai bahan awal untuk mengembangkan cerita dari berbagai sumber idem ada dari berita koran atau media online, ada dari Catatan Pinggir wartawan senior Goenawan Mohamad, dari foto yang beredar di media sosial hingga lirik lagu heroik karya musisi Leo Kristi.

Bahan-bahan tersebut kemudian diolah sebagai gagasan atau cerita melalui sejumlah platform AI. Untuk mendapatkan hasil cerpen yang sesuai kaidah atau teori sastra dalam menulis cerpen, Maspriel membandingkan respons dari beberapa platform, termasuk ChatGPT dan Gemini. Ada juga juga dari Grok, Kimi dan lainnya. “Dari situ lahir berbagai versi cerita yang dihasilkan, kemudian saya memilih, mengolah, dan menyunting kembali cerita yang dianggap paling sesuai dengan struktur sastra”, katanya.

Maspril juga mengingatkan, untuk menuju proses menghasilan sebuah cerpen yang bercerita AI tidak serta-merta menghasilkan karya yang langsung dapat diterbitkan. Harus ada proses seleksi, penyuntingan dan penilaian manusia yang tetap harus dilakukan. “Juga penting, manusia yang akan menulis cerpen AI itu punya latar belakang suka membaca karya sastra, apa cerpen atau novel”, pesannya.

“Untuk buku Perempuan di Tengah Labirin Mal, Saya tidak bisa mengklaim ini murni sebagai karya Saya.  Ini tetap karya mesin, walaupun ide ceritanya datang dari saya. Mesin yang menulis, manusia yang menentukan layak atau tidaknya cerita tersebut”, tegasnya.

Maspril juga menekankan pentingnya etika ketika menggunakan AI untuk menghasilkan karya tulis, baik artikel atau karya fiksi. “Jika Anda menulis artikel menggunakan AI, buat pernyataan atau disclaimer bahwa itu karya AI atau berkolaborasi dengan AI. Sebagai seorang wartawan dalam menghasilkan karya jurnalistik saya tetap berpegang pada kode etik jurnalistik”, pesannya.

Pesan lainnya, Menurut wartawan yang sudah menghasilkan 23 buku, baik buku karya tunggal atau antologi, pengguna AI tetap harus memperhatikan ketentuan hukum dan etika dalam mempublikasikan konten, termasuk potensi persoalan terkait informasi elektronik maupun isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Ia menegaskan, “Tanggung jawab terhadap karya yang menggunakan AI dan dipublikasikan tetap berada pada manusia yang menggunakan dan mengendalikan teknologi tersebut”.


Para peserta Bincang Buku “Perempuan di Tengah Labirin Mal” dari mahasiswa/i Unversitas MDP Palembang. (FOTO: Maspril Aries)

Juga ada persoalan lain yang harus menjadi perhatian ke depan, adalah berkaitan dengan aspek yaitu hak cipta terhadap karya yang dihasilkan AI atau bersama manusia.

“Untuk dunia pendidikan, perkembangan atau keterlibatan AI dalam karya fiksi atau sastra dapat menjadi objek penelitian baru bagi akademisi dan mahasiswa, khususnya di bidang bahasa dan sastra. Misalkan dengan membandingkan karakter bahasa karya yang dihasilkan AI dengan karya yang sepenuhnya ditulis manusia. Ciri khas AI itu dari sisi struktur bahasa Indonesia yang cenderung rapi dan mengikuti pola tata bahasa baku”, ujar jurnalis yang pernah bergabung dengan Harian Republika.

Pada kesempatan itu, Maspril juga membagikan kiat dengan praktek langsung menggunakan ChatGPT untuk menghasilkan cerpen yang idenya dari lirik lagu berjudul “Hitam Putih” karya penyanyi Leo Kristi. Caranya dengan memasukan seluruh lirik ke dalam promt dengan perintah menghasilkan sebuah cerpen. Hanya dalam hitungan detik lahirlah sebuah cerpen.

“Cara ini yang saya lakukan saat AI membuat cerpen berjudul Di Ujung Jalan Kemerdekaan dalam buku Perempuan di Tengah Labirin Mal. Silahkan ada bereksprimen dengan menggunakan cara ini”, katanya.

Kedalaman Emosi

Sementara itu pembicara Muhammad Rachmadi mengatakan, “AI memang mampu menghasilkan cerita secara cepat, tetapi hasil awalnya belum tentu memiliki kedalaman emosi dan konteks seperti yang diinginkan penulis”.

Rachmadi yang telah menulis sejak remaja menjelaskan, AI lebih tepat ditempatkan sebagai mitra kreatif daripada pengganti penulis. “AI itu tidak bisa memahami apa yang ada di dalam kepala maupun rasa yang dimiliki penulis. Kunci utama dalam bekerja dengan AI adalah intens atau tujuan dan penyampaian konteks yang jelas”, pesannya.

Menurut Rachmadi, AI dapat digunakan untuk memancing ide awal, membuat rancangan cerita atau menghasilkan draf. Namun, tidak semua ide yang dihasilkan dapat langsung digunakan. “Dari puluhan ide yang muncul hanya sebagian kecil yang benar-benar relevan untuk dikembangkan menjadi cerita. Bukan berarti ketika kita meminta AI membuat cerpen, hasilnya bisa langsung dipakai begitu saja secara mentah. Proses penyuntingan dan penajaman konflik tetap memerlukan keterlibatan manusia”, katanya.


Pembicara Maspril Aries menerima cendera mata dari Abdul Rahman Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Rekayasa Universitas MDP. (FOTO: Aina RA)

Dalam penulisan fiksi, Dosen Universitas MDP menjelaskan, terdapat sejumlah unsur yang tidak bisa begitu saja diserahkan kepada mesin. Seperti konflik internal dan eksternal, perkembangan karakter, latar belakang tokoh hingga konsistensi logika cerita harus diperiksa kembali oleh penulis.

Ia mencontohkan pengalaman ketika mengembangkan cerpenya berjudul Lukisan yang Belum Selesai. Dalam salah satu draf yang dihasilkan AI, terdapat detail mengenai posisi surat lama di dalam sebuah tumpukan. Detail tersebut kemudian perlu diperbaiki karena tidak sesuai dengan logika cerita.

“Secara logika, surat yang paling lama ditulis pasti berada di urutan bawah tumpukan. Detail-detail logika penulisan seperti unsur budaya, kedalaman latar belakang karakter, hingga dinamika konflik merupakan bagian yang harus diarahkan dan diisi oleh penulis manusia”, ujar dosen yang masa mahasiswa sempat aktif sebagai aktivis pers mahasiswa di Gelora Sriwijaya Unsri.

Dari contoh tersebut menurut Rachmadi menunjukkan bahwa kemampuan AI menghasilkan teks tidak otomatis membuat seluruh hasilnya benar secara logika. “Manusia tetap harus membaca, memeriksa dan menyunting setiap bagian cerita”.

Pengalaman menggabungkan teknologi dan sastra kemudian mendorong Rachmadi mengembangkan sebuah platform bernama Studio Fiksi. Platform tersebut dirancang untuk membantu penulis dalam sejumlah tahapan proses kreatif, mulai dari menyusun kerangka cerita (outline), membuat deskripsi karakter hingga menganalisis alur.

Salah satu fitur yang dikembangkan adalah analisis konsistensi cerita untuk membantu mendeteksi kemungkinan plot hole, yakni ketidaklogisan atau celah dalam alur cerita antar bab. Platform Studio Fiksi juga dirancang memungkinkan penulis melakukan simulasi percakapan dengan karakter fiksi. “Fitur tersebut dapat digunakan untuk mengeksplorasi kemungkinan respons dan karakterisasi tokoh dalam situasi tertentu”, ujarnya

Bagi Rachmadi, perkembangan AI tidak harus dilihat sebagai ancaman terhadap dunia sastra. Teknologi justru dapat menjadi alat bantu bagi penulis selama manusia tetap memegang kendali atas proses kreatif. “AI dapat membantu menghasilkan ide, menyusun draf dan mengolah struktur cerita. Namun, rasa, pengalaman, logika, kedalaman karakter serta keputusan akhir mengenai kualitas karya tetap berada di tangan penulis (manusia)”, katanya. (D Oskandar)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *