Poster film “Jongot”
KINGDOMSRIWIJAYA – “Jongot” kata yang tidak ada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tetapi Jongot ada dan dapat ditemukan di Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumatera Selatan (Sumsel). Jongot bisa disaksikan dalam film dokumenter berjudul “Jongot”.
Berbekal kreativitas dan bermodalkan dana dari Danaindonesiaraya lahirlah sebuah film dokumenter berjudul “Jongot”. Film dokumenter berdurasi 50 menit, diputar perdana di sebuah perkebunan lahan basah di kawasan Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kecamatan Penukal Utara, Kabupaten PALI, Sabtu, 6 Juni 2026 pukul 19.00 WIB. Film ini dibuat dan diputar bukan sekadar cahaya biasa, melainkan pembuka gerbang menuju sebuah dunia yang hampir terlupakan, jongot.
Film hasil garapan Nopri Ismi, seorang jurnalis pun pegiat budaya dan lingkungan dari Rumah Sri Ksetra yang dikerjakan hampir lima bulan ini menarasikan tentang jongot. Jongot adalah hutan adat yang dilestarikan selama puluhan hingga seratusan tahun oleh masyarakat Suku Musi yang menetap di lanskap Penukal (Kecamatan Penukal dan Penukal Utara), Kabupaten PALI. Jongot berfungsi sebagai sumber pangan, papan, obat-obatan tradisional, serta sebagai penjaga air tanah dan rumah bagi sejumlah satwa.
Ada konsep “triade kehidupan” yang menjadi tulang punggung film ini, yaitu ume (ladang), kebun karet, dan jongot. Ketiganya bukan entitas yang terpisah, melainkan sebuah simbiosis mutualisme yang sempurna. Ume menyediakan sumber pangan pokok seperti beras dan palawija; kebun karet menjadi nadi ekonomi keluarga; sementara jongot hadir sebagai penyedia nutrisi tambahan, obat-obatan tradisional, bahan papan, dan yang paling krusial, penjaga keseimbangan air tanah.

Di jongot masih ditemukan sejumlah buah-buahan hutan, yang saat ini sudah sulit ditemukan, seperti dian rimbe (Durio oxleyanus), dian jerging (Durio kutejensis), tampui (Baccaurea macrocarpa), rambai (Baccaurea motleyana), rukam (Baccaurea dulcis), dan lainnya.
Film dokumenter ini selain memotret kehidupan masyarakat adat yang masih berdiam di jongot, juga merangkum pandangan dan pendapat dari tokoh adat, tokoh masyarakat, akademisi, pegiat budaya, dan pelaksana pemerintahan dari bidang kebudayaan.
“Film ini mengisahkan hubungan manusia dengan jongot. Dan, ternyata jongot itu bagian dari lanskap kehidupan masyarakat di Penukal, seperti di Tempirai. Lanskap kehidupan itu berupa ume, kebun karet dan jongot. Ketiganya saling terhubung, dan saling melengkapi. Ume sebagai sumber pangan seperti beras dan palawija, kebun karet sebagai sumber ekonomi, sementara jongot sebagai sumber nutrisi, obat-obatan, dan papan”, kata Nopri, Selasa (9/6).
Menurut Nopri yang juga pimpinan Rumah Sri Ksetra yang mendapatkan Anugerah Kebudayaan Tahun 2025 dari Kementerian Kebudayaan, film ini juga menyinggung ancaman terhadap jongot. Dengan alasan ekonomi, sejumlah jongot dijual para pewarisnya atau berubah fungsi menjadi kebun sawit atau karet. “Harapan saya, film dan foto yang saya kerjakan ini dapat mendorong upaya perlindungan atau pelestarian jongot, seperti menjadi hutan budaya. Di tengah krisis iklim yang kita rasakan saat ini, jongot adalah sebuah harapan”, katanya.
Jongot saat ini memiliki luas sekitar setengah hektar, pada saat ini jumlahnya sekitar seratusan titik yang tersebar di lanskap Penukal. Lanskap Penukal luasnya sekitar 68.000 hektar, berupa pemukiman, perkebunan sawit, perkebunan karet, ume, dan jongot.

Menurut Taufik WIjaya yang menjadi produser, film yang didukung Danaindonesiaraya Tahun 2025 ini menjadi bagian dalam program “Jongot: Warisan Leluhur untuk Alam dan Manusia”. Selain film, juga ada pameran foto dan diskusi. Diharapkan kegiatan ini menjadi ruang komunikasi antara masyarakat adat, akademisi, pegiat lingkungan dan budaya, dalam menelisik jongot.
Sosok Nopri Ismi
Di balik lensa kamera yang menangkap setiap detail ini, ada sosok Nopri Ismi. Seorang jurnalis, pegiat budaya, dan aktivis lingkungan yang tak kenal lelah. Selama hampir lima bulan, Nopri dan timnya terjun langsung, hidup bersama masyarakat, dan meresapi ritme alam Penukal untuk merangkai narasi ini.
Nopri Ismi juga seorang visual storyteller asal Bangka Belitung yang dikenal luas atas karya-karyanya tentang lingkungan, keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan masyarakat adat. Ia aktif menulis di Mongabay Indonesia, Rumah Sriksetra, serta berbagai media internasional, dan telah meraih sejumlah penghargaan bergengsi.
Sebagai jurnalis, Nopri fokus pada liputan isu lingkungan, biodiversitas, masyarakat adat, serta dampak perubahan iklim. Karya-karyanya selai dipublikasikan di Mongabay juga dapat ditemukan di Project Multatuli, The Gecko Project, New Naratif, BBC, dan kanal YouTube Rumah Sriksetra.
Nopri pernah meraih penghargaan dan prestasi Asia Pacific Story Grants dari Earth Journalism Network & Internews (2019), Permata Photo Journalist Grant – Panna Foto Institute (2020), Pulitzer Center Rainforest Journalist Fund (2022) dan Honorable Mention di SOPA Awards 2023 (Society of Publishers in Asia) dan foto esai “Menjaga Keluarga di Benak” dimuat dalam buku Badai Belum Usai oleh Kurawal Foundation.

Nopri juga pendiri Rumah Sri Ksetra, komunitas kreatif yang fokus pada isu lingkungan dan budaya. Komunitas ini kerap menggelar pameran foto, diskusi publik, dan produksi film dokumenter seperti “Jongot”, yang menyoroti hutan adat Suku Musi di Penukal.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan ekspansi perkebunan, sebuah film dokumenter berjudul “Jongot” hadir sebagai pengingat bahwa kearifan lokal masih menjadi benteng terakhir dalam menjaga keseimbangan alam. Film ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah perjalanan visual yang menyingkap hubungan intim antara manusia dan hutan adat yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Suku Musi di lanskap Penukal, Kabupaten PALI.
Film “Jongot” adalah pengingat yang keras namun indah. Ia menampar kita dengan fakta bahwa di tengah gempuran kapitalisme agraria dan perubahan iklim global, masih ada segelintir orang yang bertahan menjaga warisan leluhur.
Dengan luas rata-rata hanya sekitar setengah hektar per titiknya, jongot mungkin tampak kecil di atas peta satelit. Namun, dampaknya bagi ketahanan pangan, kesehatan, dan ekologi masyarakat Penukal sangatlah raksasa.
Kini, setelah pemutaran perdananya usai, tugas sebenarnya baru saja dimulai. Film ini harus berkeliling, dari desa ke desa, dari kampus ke gedung pemerintahan, hingga ke layar-layar internasional. Ia harus menjadi alat advokasi untuk mendorong pengakuan hukum terhadap jongot sebagai Hutan Budaya atau Hutan Adat yang dilindungi.
Seperti akar-akar pohon dian rimbe yang mencengkeram tanah dengan kuat di dalam jongot, demikian pula semangat pelestarian ini harus mengakar dalam kesadaran kita bersama. Sebab, ketika jongot hilang, bukan hanya pohon yang tumbang, melainkan sebuah peradaban yang kehilangan rumahnya. (maspril aries)





