Cerpen Oleh: AI
Lembah Sebelum Badai
Angin dari Laut Mediterania membawa aroma garam dan minyak zaitun yang matang di bawah matahari Juli. Ia menyapu lereng-lereng rendah al-Ludd, menyentuh atap-atap batu kapur, menyelip di antara daun-daun anggur yang merambat di pagar kayu, dan akhirnya berhenti di halaman sebuah klinik kecil bercat putih. Di sana, seorang pria berusia tiga puluhan dengan jas dokter yang sedikit kebesaran sedang membalut pergelangan kaki seorang anak laki-laki Arab. Tangannya tenang, matanya fokus, dan bicaranya lembut dalam campuran bahasa Jerman yang masih kental dengan aksen Ibrani yang ia pelajari secara otodidak.
“Jangan menangis, ya. Besok kau sudah bisa berlari lagi”, ujar Siegfried Lehmann, sambil menepuk pelan kepala anak itu. Ibunya, seorang perempuan dengan syal biru yang dililit rapi, mengucapkan terima kasih dengan mata yang berkaca-kaca. Lehmann hanya mengangguk. Ia tahu bahwa kata-kata tidak cukup. Di lembah ini, di kota yang oleh orang Arab disebut al-Ludd dan oleh orang Yahudi disebut Lod, tindakan lebih keras suaranya daripada pidato.
Tahun itu 1934. Dunia masih jauh dari perang yang akan mengoyak benua Eropa, tetapi di Timur Tengah, benih-benih perubahan sudah tumbuh di tanah yang retak. Lehmann datang bukan sebagai penakluk, melainkan sebagai pelarian yang mencari tanah untuk menanam harapan. Ia lahir di Berlin, dari keluarga Yahudi yang mapan, pernah menjabat sebagai dokter tentara Jerman dalam Perang Dunia Pertama, dan pernah mendirikan rumah penampungan yatim piatu di Kovnia, Lituania. Tapi di sana, antisemitisme merayap seperti lumut di dinding lembap. Orang-orang yang seharusnya dilindungi justru diasingkan, dicurigai, dipukuli di gang-gang sepi. Lehmann pulang dengan hati yang pecah dan satu keyakinan yang tak tergoyahkan, anak-anak harus tumbuh di tanah yang menerima mereka, di antara pohon-pohon yang berakar, bukan di antara pagar-pagar yang memisahkan.
Lehmann memilih lembah al-Ludd. Lima belas kilometer di tenggara Tel Aviv, di perbukitan yang landai dan tanah yang subur, ia mendirikan sebuah desa-pemuda. Ia menamainya Ben Shemen. Di sini, anak-anak yatim dari Eropa Timur, Polandia, Jerman, Rusia, diajari cara menanam anggur, merawat sapi, membaca buku, dan menyanyi. Lehmann percaya bahwa pendidikan harus menyatu dengan tanah. Tangan yang kotor oleh tanah akan memahami nilai kehidupan. Pikiran yang diisi puisi dan matematika akan menolak kekerasan. Dan hati yang pernah kehilangan rumah harus belajar membangunnya tanpa merobohkan rumah orang lain.
“Kita bukan di sini untuk mengambil”, katanya suatu sore di hadapan para pemuda yang duduk melingkar di bawah pohon zaitun raksasa. “Kita di sini untuk tumbuh. Dan tumbuh berarti berbagi akar, bukan mencabut akar orang lain”.

Di antara yang duduk melingkar itu ada seorang pemuda bernama Avram. Ia datang dari Warsawa pada usia dua belas, setelah orang tuanya hilang dalam pogrom yang tak pernah ia pahami sepenuhnya. Matanya masih menyimpan bayangan kebakaran, telinganya masih mendengar teriakan yang tak jelas asalnya. Tapi di Ben Shemen, ia belajar mencangkul, membaca Rainer Maria Rilke, dan mendengarkan Lehmann berbicara tentang kemanusiaan yang tak mengenal batas suku. Avram jatuh cinta pada lembah ini. Ia jatuh cinta pada udara yang hangat, pada tanah yang merah, pada perempuan-perempuan Arab yang membawa keranjang buah ke pasar Al-Ludd dan tersenyum ketika ia menyapa dalam bahasa yang masih patah-patah.
Di sisi lain lembah, di antara gang-gang sempit dan pasar yang ramai, hiduplah Tariq. Ia adalah guru sekolah dasar di al-Ludd, putra seorang pedagang rempah yang meninggal karena demam tifus saat Tariq masih remaja. Tariq mengajar anak-anak membaca Alquran dan syair Mahmoud Darwish yang belum terkenal, mengajarkan mereka cara menghitung dengan biji zaitun, dan mengajak mereka mengamati bintang-bintang di malam yang jernih. Ia percaya bahwa pengetahuan adalah jembatan. Ia sering berjalan kaki ke Ben Shemen untuk meminjam buku dari perpustakaan kecil desa itu, dan Lehmann sendiri yang menyambutnya di gerbang kayu.
“Kau membawa udara yang berbeda, Tariq”, kata Lehmann suatu kali, sambil menuangkan teh mint ke gelas kaca. “Udara yang membuatku ingat bahwa kita semua hanya tamu di bumi ini”.
“Bukan tamu, Doktor. Saudara”, jawab Tariq, tersenyum. “Tanah ini tidak memilih siapa yang boleh menangis di atasnya”.
Mereka duduk bersama, membahas puisi, sejarah, dan masa depan. Kadang-kadang, pemuda-pemuda Ben Shemen datang ke festival desa di Al-Ludd. Mereka membawa biola dan gitar, orang-orang Arab membawa darbuka dan ney. Musik menyatu seperti air hujan yang menyatu dengan tanah kering. Anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa, tertawa dalam bahasa yang campur aduk. Seorang perempuan Yahudi dari Ben Shemen mengajar perempuan Arab cara menjahit pola Eropa; seorang pemuda Arab mengajari anak-anak Ben Shemen cara memetik buah zaitun tanpa melukai ranting. Air mancur yang dibangun oleh pemuda Zionis di alun-alun kota menjadi tempat pertemuan. Di hari yang terik, baik anak Arab maupun anak Yahudi minum dari pancuran yang sama, tangan mereka basah, wajah mereka bersinar.
Itu adalah masa yang seolah-tertangkap dalam foto kartu pos. Lembah yang tenang. Kota yang hidup. Manusia yang percaya bahwa coexistence mungkin, selama tangan tetap terbuka dan hati tetap mendengar.
Tapi sejarah tidak pernah beristirahat lama di tempat yang tenang. Ia hanya menarik napas, menunggu retakan muncul di permukaan yang tampak utuh.
Baca Juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/732865/sumur-sumur-jiwa-di-bumi-setia-jaya/
Retakan di Tanah Janji
Retakan itu tidak datang dari langit. Ia datang dari peta yang digambar di ruang-ruang jauh, dari keputusan yang dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah mencium aroma tanah al-Ludd, dari janji-janji yang diucapkan di meja-meja kayu jati di London, Paris, dan New York.

1945 Perang Dunia II berakhir. 45. Dunia berlutut di atas reruntuhan. Enam juta Yahudi hilang dalam asap dan besi. Bagi yang selamat, Eropa bukan lagi rumah, melainkan kuburan berjalan., yang selama puluhan tahun hanyalah gagasan di buku-buku dan pidato-pidato, kini menjadi kebutuhan mendesak. Tanah yang dijanjikan. Tanah yang harus direbut. Tanah yang harus diamankan, bahkan jika harus dengan darah.
Inggris, yang selama puluhan tahun memegang mandat Palestina, mulai mundur. Tangan mereka lelah. Kaki mereka ingin pulang. Mereka menyerahkan wilayah itu kepada sejarah, tanpa menyadari bahwa sejarah di Timur Tengah tidak pernah berjalan lurus. Ia berputar, meliuk, dan selalu menuntut harga.
Di al-Ludd, suasana berubah seperti langit sebelum badai. Angin masih berhembus, tapi baunya berbeda. Bau asap yang bukan dari tungku roti. Bau besi yang bukan dari pisau dapur. Bau ketakutan yang merayap di balik senyum-senyum yang dipaksakan.
Tariq merasakan perubahan itu pertama kali di kelas. Anak-anak mulai bertanya tentang tentara, tentang perbatasan, tentang mengapa orang-orang dari luar datang dengan seragam dan senjata. Ia mencoba menjawab dengan kejujuran yang ia bisa: “Tanah ini milik semua yang mencintainya. Tapi cinta kadang dibayar mahal”.
Di Ben Shemen, suasana juga berubah. Lehmann semakin sering diam. Matanya yang dulu cerah kini kerap menatap jauh, seolah membaca surat yang tidak pernah sampai. Para pemuda tidak lagi hanya belajar bertani. Mereka dilatih memegang senapan. Mereka diajari cara bergerak dalam formasi, cara menembak, cara bertahan. “Kita harus siap”, kata instruktur mereka, seorang bekas pejuang dari Haganah. “Dunia tidak akan memberi kita tanah dengan permohonan. Ia hanya memberi dengan kekuatan”.
Avram duduk di pojok barak, membersihkan laras senapan yang diberikan kepadanya. Tangannya gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena konflik yang merobek dadanya. Ia ingat wajah anak-anak al-Ludd yang ia ajak bermain bola. Ia ingat perempuan yang memberinya kurma di pasar. Ia ingat Lehmann yang berkata, “Tumbuh berarti berbagi akar”. Tapi ia juga ingat kamp-kamp di Eropa. Ingat adik perempuannya yang tidak pernah kembali. Ingat janji yang diucapkan di atas kuburan massal – Tidak akan pernah terjadi lagi pada kita.
Bagaimana mungkin ia memilih? Antara kemanusiaan yang ia pelajari di bawah pohon zaitun, dan kelangsungan hidup yang ia lihat sebagai satu-satunya jalan?
Suatu malam, ia berjalan ke perbatasan tak terlihat antara Ben Shemen dan al-Ludd. Bulan purnama menerangi lembah. Di kejauhan, lampu-lampu rumah Arab berkedip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Ia mendengar suara azan Maghrib yang merdu, menyayat udara yang dingin. Di saat yang sama, dari arah barak, terdengar suara latihan militer: “Kiri! Kanan! Maju! Bertahan!”
Avram duduk di atas batu, memeluk lututnya. Ia bertanya pada tanah, pada langit, pada Tuhan yang ia belum yakin masih mendengar doa orang sepertinya, “Apakah keselamatan harus dibayar dengan pengusiran? Apakah rumah baru harus dibangun di atas reruntuhan rumah lama?” Tidak ada jawaban. Hanya angin yang membawa debu.

Di al-Ludd, Tariq mulai menyimpan dokumen penting. Akta kelahiran, sertifikat tanah, foto keluarga, buku-buku puisi. Ia memasukkannya ke dalam peti kayu yang ia kubur di bawah pohon zaitun tua di halaman rumahnya. “Jika suatu hari kita harus pergi”, katanya pada istrinya, Umm Nour, “Biarkan tanah yang mengingat kita. Biarkan akar yang menjadi saksi”.
Umm Nour tidak menjawab. Ia hanya mengelus perutnya yang mulai membesar. Nour, anak kedua mereka, akan lahir di dunia yang retak.
Lehmann mencoba bertahan pada prinsipnya. Ia menolak mengubah Ben Shemen menjadi kamp militer. Ia tetap membuka klinik untuk orang Arab. Ia tetap mengundang musisi al-Ludd ke festival desa. Tapi ia tahu bahwa prinsipnya sedang diuji oleh mesin sejarah yang tidak mengenal belas kasihan.
Suatu hari, seorang perwira Zionis mendatanginya. “Dokter, dunia berubah. Anda tidak bisa menyelamatkan semua orang dengan klinik dan puisi”. Lehmann menatapnya lama. “Jika kita tidak menyelamatkan kemanusiaan kita sendiri, untuk apa kita membangun negara?”
Perwira itu pergi tanpa menjawab. Lehmann tahu bahwa ia sedang kalah. Bukan oleh senjata, tapi oleh narasi yang lebih kuat, narasi kelangsungan hidup yang mengorbankan moral, narasi janji yang membenarkan kekejaman, narasi yang mengatakan bahwa untuk menjadi manusia, kadang kau harus berhenti menjadi manusiawi.
Musim semi 1948 datang dengan bunga-bunga yang mekar dan ketakutan yang mengeras. Inggris resmi menyerahkan mandat. Dewan PBB mengeluarkan resolusi pembagian. Perang saudara meletus di seluruh Palestina. Jalan-jalan sepi. Pasar ditutup. Anak-anak tidak lagi bermain di luar. Perempuan-perempuan menyimpan perhiasan di balik dinding. Laki-laki membentuk milisi, bukan untuk menyerang, tapi untuk bertahan.
Di al-Ludd, milisi Arab berjumlah sedikit. Senjata mereka tua. Amunisi terbatas. Tapi mereka tahu satu hal, ini rumah mereka. Mereka tidak punya tempat lain untuk pergi.
Di Ben Shemen, Avram kini memakai seragam. Ia telah lulus pelatihan. Ia telah bersumpah. Ia telah menerima perintah. Lehmann tidak lagi mengajar di kelas utama. Ia lebih banyak duduk di klinik, mengobati luka-luka yang datang dari pertempuran di tempat lain. Matanya semakin dalam. Tangannya semakin gemetar.
“Aku tidak bisa menghentikan apa yang akan datang,” katanya pada Avram suatu sore, saat mereka berdua membersihkan alat medis. “Tapi aku memintamu satu hal, Avram. Jangan biarkan mereka mencuri matamu. Jangan biarkan mereka membuatmu buta terhadap wajah manusia di seberang laras senapan. Karena sekali kau kehilangan itu, kau bukan lagi pejuang. Kau hanya mesin”.
Avram menunduk. “Aku akan ingat, Dokter”.
“Ingat saja tidak cukup. Kau harus bertindak sesuai ingatanmu.”
Tapi bagaimana bertindak ketika perintah datang dari atas? Ketika sejarah menuntut pengorbanan? Ketika kelangsungan hidup bangsa dipertaruhkan?
Juli 1948 mendekat. Udara semakin berat. Burung-burung terbang rendah. Anjing-anjing menggonggong tanpa sebab. Kota al-Ludd menahan napas.
(Bersambung ke Bagian 2)
(Dikembangkan dari Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad berjudul “Al-Ludd, 1948-2014-…” Majalah Tempo, 10 Agustus 2014)
Penyunting: Maspril Aries





