Home / Olahraga / Sriwijaya FC Berisiko Bubar, Teringat Chelsea dan Roman Abramovich

Sriwijaya FC Berisiko Bubar, Teringat Chelsea dan Roman Abramovich

KINGDOMSRIWIJAYA – Pekan pertama bulan Januari 2026, membaca sebuah berita di media online yang membuat hati miris. Dalam ringkasan berita dari berita tersebut ada penggalan diksi tertulis “Sriwijaya FC masih punya 13 laga tersisa, namun tanpa investor baru berisiko WO dan bubar”.

Pertanyaan yang muncul, apa yang tengah terjadi pada klub sepak bola profesional yang pernah berjaya di kasta tertinggi sepak bola Indonesia tersebut? Apa yang tengah melanda klub sepak bola yang pada tahun 2004 tersebut hijrah ke Sumatera Selatan (Sumsel) setelah diakuisisi Pemerintah Provinsi Sumsel.

Tulisan ini tidak berkehendak menjawab pertanyaan di atas. Apa yang terjadi pada Sriwijaya FC, sejak klub ini (Persijatim FC) menjejakkan kakinya di Bumi Sriwijaya hingga saat ini, mengingatkan kepada kisah sosok Roman Abramovich yang sukses mengakuisisi klub yang berkompetisi di Liga Inggris, Chelsea FC. Bagaimana jika kita bersama-sama membayangkan atau bermimpi pengusaha dari Rusia tersebut mengakusisi Sriwijaya FC? Bermimpi boleh untuk hal-hal yang muluk.

Roman Abramovich adalah nama yang tidak bisa dilepaskan dari transformasi sepak bola modern, khususnya di Inggris. Ketika ia membeli Chelsea FC pada tahun 2003, dunia sepak bola dikejutkan oleh skala investasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Abramovich bukan hanya seorang pemilik klub, tetapi juga simbol dari masuknya modal besar ke dalam sepak bola, yang mengubah wajah kompetisi, strategi transfer, hingga cara klub beroperasi.

Awal Juli 2003, dunia sepak bola Inggris diguncang berita yang hampir tak terduga. Chelsea Football Club, klub papan tengah atas yang berasal dari London, yang penuh karakter namun sering kali labil secara finansial, telah dijual kepada seorang miliarder Rusia yang hampir tak dikenal di kancah sepak bola bernama Roman Arkadyevich Abramovich.

Transaksi senilai £140 juta ini bukan sekadar akuisisi biasa, ini adalah sebuah momen pembuka yang menandai dimulainya era baru dalam sepak bola modern — sebuah era di mana kekuatan kapital global, khususnya dari sumber daya alam, mengalir deras ke dalam liga-liga Eropa, mengubah selamanya lanskap kompetisi, ekonomi, dan ambisi klub.

Dalam dua dekade berikutnya, Abramovich mengubah Chelsea dari klub yang sering tercekik utang menjadi mesin juara Eropa, dengan investasi miliaran pound sterling, mencatatkan prestasi yang gemilang, namun juga menuai kontroversi.

Roman Abramovich yang lahir di Rusia tahun 1966, adalah seorang pengusaha yang membangun bisnis pada era privatisasi pasca-runtuhnya Uni Soviet, terutama di bidang minyak melalui perusahaan Sibneft. Pada awal 2000-an, kekayaannya diperkirakan mencapai miliaran dolar.  Motivasinya membeli klub sepak bola Eropa diduga kombinasi dari cinta sepak bola, keinginan untuk memperoleh aset prestisius di Barat, dan mungkin juga pertimbangan keamanan pribadi dengan memiliki profil publik yang tinggi.


Roman Abramovich (kanan) dan pelatih Antonio Conte Chelsea memegang trofi Premier League. (FOTO: IG @_roman_abramovich_)

Chelsea saat itu, meski baru memenangkan Piala FA tahun 2000 dan berada di posisi empat besar, sedang dalam kesulitan keuangan yang serius. Pemiliknya, Ken Bates, telah membangun kembali Stamford Bridge menjadi stadion modern namun meninggalkan klub dengan utang yang membengkak, diperkirakan mencapai £80 juta. Krisis keuangan yang melanda penyiar TV ITV Digital memperparah situasi, membuat Chelsea terancam administrasi.

Proses akuisisi berlangsung cepat dan rahasia. Abramovich, melalui perusahaan holding-nya, Millhouse LLC, melakukan pembelian saham Chelsea Village plc (perusahaan induk klub) seharga £59,3 juta. Selain itu, ia mengambil alih utang klub sekitar £80 juta. Total nilai transaksi mencapai sekitar £140 juta. Pembayaran dilakukan secara tunai, sebuah fakta yang mengejutkan banyak pihak.

Langkah Abramovich tersebut mendapat persetujuan dari The Football Association (FA) dan Premier League relatif cepat. Ada beberapa alasan yang memuluskan akusisi Chelsea tersebut. Pertama, Kekuatan Finansial yang Jelas. Abramovich menunjukkan bukti dana yang sangat kuat. Ia lulus uji “fit and proper person test” versi saat itu, yang lebih berfokus pada kemampuan finansial dan catatan kriminal, bukan pada sumber kekayaan.

Kedua, Penyelamat Finansial: Abramovich dilihat sebagai sosok penyelamat yang akan membebaskan Chelsea dari jurang kebangkrutan, yang dianggap lebih baik bagi stabilitas liga. Ketiga, Regulasi yang Longgar. Pada era itu, regulasi kepemilikan belum serumit sekarang. Isu mengenai sumber kekayaan yang kontroversial atau keterkaitan politik tidak menjadi penghalang utama. FA dan Premier League melihat ini sebagai investasi asing yang akan meningkatkan daya saing liga.

Akuisisi ini diselesaikan pada 1 Juli 2003. Dalam sekejap, Chelsea berubah dari klub yang terancam bangkrut menjadi klub terkaya di dunia. Abramovich, yang memiliki kekayaan bersih yang sangat tinggi, muncul sebagai calon pembeli yang ideal sekaligus penyelamat.

Abramovich datang ke Chelsea membawa uang bukan membawa janji atau membawa calon investor baru yang berminat menanamkan investasnya ke klub yang bermarkas di London Barat tersebut. Ia menggelontorkan lebih dari £1,5 miliar selama masa kepemilikannya. Dana ini digunakan untuk berbagai aspek. Seperti, transfer pemain bintang, ada Didier Drogba, Michael Essien, Arjen Robben, Eden Hazard, Fernando Torres, dan banyak lagi. Kemudian memboyong pelatih kelas dunia, adao dari Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, Antonio Conte, hingga Thomas Tuchel.

Abramovich juga berinvestasi pada infrastruktur klub seperti pengembangan akademi, fasilitas latihan di Cobham, serta modernisasi Stamford Bridge. Sebagai dampak dari investasi tersebut (bukan janji) Chelsea berubah dari klub papan tengah menjadi kekuatan dominan di Inggris dan Eropa. Investasi Abramovich menciptakan era baru di Premier League, di mana modal besar menjadi faktor penentu kesuksesan.

Investasi ini tidak hanya membantu Chelsea dalam meraih kesuksesan di lapangan, tetapi juga menciptakan reputasi klub sebagai salah satu tim terkuat di Eropa. Abramovich memahami bahwa untuk bersaing di level tertinggi, klub perlu memiliki pemain berkualitas dan infrastruktur yang memadai, juga renovasi Stadion Stamford Bridge.

Apa yang dilakukan Abramovich di Chelsea adalah revolusi transfer dan model investasi “uang tunai”. Strategi Abramovich sederhana namun revolusioner: infus modal besar-besaran untuk membangun tim juara dalam waktu singkat. Ia mengadopsi pendekatan “win-now”. Musim panas 2003 menjadi transfer window paling spektakuler dalam sejarah Inggris saat itu.


Gubernur Sumatera Selatan Syahrial Oesman (memegang bola) saat meluncurkan klub Sriwijaya FC yang sebelumnya bernama Persijatim FC tahun 2004. (FOTO: Humas Pemprov Sumsel)

Investasi total Abramovich merupakan investasi yang kompleks karena melibatkan ekuitas, pinjaman tanpa bunga, dan pembiayaan operasional. Namun, perkiraan konservatif dari berbagai laporan keuangan. Infus modal untuk transfer pemain (2003-2021), rata-rata lebih dari £100 juta per musim (net spend), dengan puncaknya di awal-awal kepemilikan. Total diperkirakan melebihi £1.5 miliar hanya untuk transfer pemain bersih. Total estimasi investasi (ekuitas + pinjaman) diperkiran melebihi £2 miliar.

Investasi dan Prestasi

Investasi besar Abramovich terbukti sangat berhasil dalam hal prestasi olahraga. Selama 19 tahun kepemilikannya, Chelsea memenangkan berbagai gelar dan penghargaan. Gelar domestik adalah Premier League dengan 5 gelar (2004-05, 2005-06, 2009-10, 2014-15, 2016-17). Juara FA Cup dengan 8 gelar (2007, 2009, 2010, 2012, 2018, 2021, 2022), dan juara League Cup 5 gelar (2005, 2007, 2015, 2018, 2022).

Di level internasional Chelsea sukses di UEFA Champions League sukses dengan 2 gelar (2011-12, 2020-21). Di UEFA Europa League meraih 2 gelar (2012-13, 2018-19), dan UEFA Super Cup dengan 2 gelar (2012, 2021). Total gelar yang diraih Chelsea di bawah kepemimpinan Abramovich, memenangkan lebih dari 30 gelar dan menjadikan mereka salah satu klub paling sukses di Eropa selama periode ini.

Kehadiran Abramovich tidak hanya berdampak pada Chelsea namun juga terhadap sepak bola Inggris. Dampak yang dirasakan, terjadi inflasi pasar pemain. Chelsea menaikkan harga transfer dan gaji pemain secara signifikan. Kemudian adanya perubahan ambisi yang membuktikan bahwa dengan investasi besar, klub bisa mengejar gelar utama dalam waktu singkat, memicu perlombaan senjata finansial.

Juga adanya pergeseran kekuatan di Liga Inggris dengan memecah hegemoni tradisional Manchester United dan Arsenal. Juga terlihat adanya pendekatan manajerial yang tak sabar. Abramovich dikenal sering mengganti manajer (10 manajer berbeda dalam 19 tahun), mencerminkan tuntutan tinggi untuk hasil instan.

Dampak yang tidak kalah penting, evolusi keuangan. Di bawah tekanan Financial Fair Play (FFP) UEFA, Chelsea perlahan berusaha menyeimbangkan buku dengan meningkatkan pendapatan komersial, penjualan pemain akademi, dan model sewa-belinya yang terkenal. Meski tetap bergantung pada investasi pemilik, mereka menjadi lebih canggih secara bisnis.

Satu hal yang menarik dari investasi Abramovich tersebut, ia tidak pernah mengambil keuntungan pribadi dari Chelsea. Sebagian besar dana yang ia keluarkan dianggap sebagai “pinjaman” kepada klub. Chelsea sering mencatat kerugian finansial, tetapi keberhasilan di lapangan membuat nilai klub meningkat drastis. Ketika menjual Chelsea pada 2022, Abramovich menegaskan bahwa hasil penjualan akan digunakan untuk tujuan kemanusiaan, khususnya membantu korban perang di Ukraina.


Roman Abramovich (kanan) dan pemain Chelsea John Terry memegang trofi Premier League (FOTO: IG @_roman_abramovich_)

Manchester City

Membaca ulang kisah Roman Abramovich dan Chelsea mengingatkan juga pada kisah serupa, bagaimana Sheikh Mansour mengakuisisi Manchester City yang juga berkompetisi di Premier League. Lima tahun setelah Roman Abramovich mengakuisisi Chelse, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan dari Abu Dhabi datang ke Inggris untuk membeli Manchester City dengan harga sekitar £210 juta.

Manchester City adalah klub yang memiliki sejarah panjang tetapi tidak pernah mencapai tingkat kesuksesan yang sama dengan Manchester United atau klub-klub besar lainnya. Pada awal 2000-an, Manchester City mengalami kesulitan finansial dan bermain di divisi yang lebih rendah.

Pada 1 September 2008, Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, anggota keluarga kerajaan Abu Dhabi dan wakil perdana menteri Uni Emirat Arab, membeli Manchester City dengan harga 210 juta pound. Ini adalah investasi yang lebih besar dibandingkan dengan harga pembelian Chelsea oleh Abramovich (140 juta pound pada 2003), tetapi dalam konteks inflasi, investasi awal serupa.

Strategi Sheikh Mansour dengan Manchester City sangat mirip dengan strategi Abramovich dengan Chelsea. Sama-sama melakukan investasi transfer pemain dengan membeli pemain besar, termasuk Sergio Agüero, Carlos Tévez, dan kemudian Erling Haaland, Kalvin Phillips, dan lainnya.

Juga merekrut manajer terbaik dan berbakat seperti Manuel Pellegrini dan kemudian Pep Guardiola, yang dianggap sebagai salah satu manajer terbaik di dunia. Juga melakukan investasi infrastruktur. Manchester City berinvestasi dalam fasilitas pelatihan dan stadion. Pangeran dari Arab tersebut menggelontorkan investasi lebih dari £1,5 miliar.

Hasil dari investasi itu berbuah manis, Manchester City berubah menjadi klub dominan di Inggris, memenangkan banyak gelar Premier League dan akhirnya Liga Champions pada 2023. Sheikh Mansour menggunakan City Football Group (CFG) untuk memperluas kepemilikan ke berbagai klub dunia, termasuk New York City FC dan Melbourne City.

Hasil dalam kompetisi, Manchester City di Premier League meraih 6 gelar (2011-12, 2013-14, 2017-18, 2018-19, 2020-21, 2021-22). Di FA Cup dengan 2 gelar (2019, 2023), di League Cup sukses dengan koleksi 8 gelar (2014, 2016, 2017, 2018, 2019, 2021, 2022, 2023). Pada UEFA Champions League meraih 1 gelar (2022-23).

Capaian prestasi tersebut tak jaug berbeda dengan Chelsea. Dari perspektif gelar, kedua klub mencapai kesuksesan yang luar biasa. Namun, Manchester City telah mencapai dominasi yang lebih konsisten dalam Premier League dalam beberapa tahun terakhir, terutama di bawah kepemimpinan Pep Guardiola.


Kembali ke Roman Abramovich, ia adalah sosok paradoks. Ia adalah tokoh sentral yang mengawali modernisasi finansial sepak bola Premier League, membawa Chelsea ke puncak Eropa, dan memberikan momen-momen tak terlupakan bagi fans. Namun, ia juga menjadi simbol masuknya kekayaan oligarki yang kontroversial dan keterkaitan geopolitik ke dalam ranah olahraga. Akhir kepemilikannya yang dipaksakan oleh sanksi politik mengungkapkan betapa rapuhnya fondasi ketika olahraga berimpit dengan kekuasaan negara.

Mengapa Abramovich terpaksa menjual Chelsea? Krisis politik yang terjadi tahun 2022, Abramovich terpaksa menjual Chelsea akibat sanksi yang dikenakan oleh pemerintah Inggris terkait dengan invasi Rusia ke Ukraina. Chelsea dijual dengan harga £4.25 miliar kepada konsorsium yang dipimpin oleh Todd Boehly.

Todd Boehly berhasil akuisisi Chelsea setelah melalui proses yang ketat. Todd Boehly dan grupnya menjadi pemilik baru Chelsea FC, membawa visi baru untuk klub.  Chelsea dijual dengan harga 2,5 miliar pound (sekitar 3,2 miliar dolar). Harga ini mencerminkan peningkatan nilai klub yang signifikan sejak Abramovich membelinya pada tahun 2003 dengan harga 140 juta pound. Abramovich tidak menerima hasil penjualan ini secara pribadi karena asetnya dibekukan oleh pemerintah Inggris. Sebagian besar hasil penjualan dialokasikan untuk tujuan amal, terutama untuk membantu korban perang di Ukraina.

Roman Abramovich telah meninggalkan jejak yang mendalam di Chelsea FC dan dunia sepak bola secara keseluruhan. Dari akuisisi yang kontroversial hingga penjualan yang terpaksa, perjalanan Abramovich mencerminkan dinamika kompleks dalam industri sepak bola modern. Dengan perbandingan terhadap akuisisi lainnya, kita dapat melihat bagaimana investasi besar dapat membawa perubahan signifikan, baik positif maupun negatif, dalam sebuah klub sepak bola.

Ada warisan Abramovich yang bisa dicontoh, yaitu sebuah cetak biru sekaligus peringatan. Cetak biru bahwa investasi besar dapat membangun raksasa dalam waktu singkat. Peringatannya, ketergantungan pada satu figur dengan kekayaan dan agenda politik yang rentan dapat berisiko tinggi. Model yang dikembangkan kemudian oleh Manchester City—lebih institusional, berjaringan, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan—tampak lebih tahan uji waktu, meski juga tidak lepas dari kritik.

Sebagai catatan penutup, harus diingat, dalam kompetisi sepak bola profesional di muka bumi ini, masa depan sepak bola akan terus dibentuk oleh investasi besar dari investor kaya dengan mengikuti regulasi yang ketat untuk memastikan bahwa investasi ini dilakukan secara etis dan berkelanjutan. Regulasi yang lebih baik dapat membantu menciptakan kompetisi yang lebih adil sambil tetap memungkinkan investasi yang mendorong pertumbuhan dan pengembangan sepak bola.

Investasi besar dalam sepak bola memiliki implikasi yang kompleks. Investasi ini meningkatkan kualitas permainan dan menciptakan lapangan kerja. Masa depan sepak bola akan terus dibentuk oleh investasi besar dari investor kaya. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *