KINGDOMSRIWIJAYA – Berjalan menyusuri jalan-jalan di kota Istanbul tak ada rasa bosan. Perjalanan kali ini menjejakkan kaki di kawasan Bosphorus dan sekitarnya yang berada di Distrik Beyoğlu, bukan yang pertama, ini yang ketiga kalinya. Itu sebagai bukti tidak ada rasa bosan walau berkali-kali melintasinya.
Angin sepoi-sepoi yang membawa aroma garam dari Selat Bosphorus menyapa wajah siapa saja yang menapakkan kakinya di sini, di persimpangan dua benua. Merapatkan jaket adalah salah satu cara saat hawa dingin menerpa tubuh untuk menemukan jejak sejarah yang tidak hanya tertulis di dalam buku-buku tebal yang berdebu, melainkan terukir pada batu-batu jalanan yang menanjak, pada besi-besi jembatan yang kokoh, dan pada siluet sebuah menara yang telah berdiri tegak selama berabad-abad.
Istanbul bukan sekadar kota; ia adalah sebuah panggung raksasa di mana kekaisaran bangkit dan runtuh, di mana cinta dan legenda berpilin, dan di mana masa lalu serta masa depan berpelukan dalam satu harmoni yang indah.
Perjalanan saya kini adalah menelusuri jejak sejarah di “Segitiga Emas” dari Distrik Galata. Ada Menara Galata yang legendaris, Jembatan Galata yang menjadi nadi kehidupan, dan semangat Galatasaray yang membara.
Dari tepi Selat Bhoporus saya mendongak ke langit di bagian utara Tanduk Emas (Golden Horn). Mata saya pasti akan tertuju pada satu struktur yang mendominasi cakrawala, Menara Galata, atau Galata Kulesi dalam bahasa setempat. Dengan tinggi mencapai 66,9 meter, menara batu ini bukan sekadar bangunan tinggi, ia adalah saksi bisu yang telah melihat wajah Istanbul berubah dari masa ke masa, dari era Bizantium hingga Republik Turkiye modern.
Menara Galata saksi bisu di puncak bukit, jangan bayangkan bukit itu masih berpohon rindang. Ia telah menjadi sebuah siluet yang menembus zaman
Berdiri kokoh di atas bukit Galata, menara ini seolah menjadi penjaga abadi yang tak pernah tidur. Kisahnya bermula jauh sebelum kita lahir. Fondasi awalnya diletakkan oleh Kaisar Bizantium Justinianus pada tahun 507-508 Masehi. Kala itu, ia hanyalah sebuah struktur sederhana. Namun, bentuk megah yang kita kenal sekarang adalah buah karya orang-orang Genoa pada tahun 1348-1349.

Bayangkan suasana tahun 1348. Saat itu, kawasan ini adalah koloni Republik Genoa, sebuah kekuatan maritim dari Italia yang mendirikan benteng pertahanan di seberang Konstantinopel. Mereka menamai menara ini dengan sebutan yang religius dan agung: Christea Turris atau “Menara Kristus”. Ia dibangun sebagai titik tertinggi dan paling utara dari benteng pertahanan mereka, sebuah mata yang waspada mengawasi ancaman dari laut dan darat.
Namun, takdir menara ini berubah drastis pada tahun 1453. Tahun itu adalah tahun yang mengguncang dunia, ketika Konstantinopel jatuh ke tangan Kekaisaran Ottoman di bawah pimpinan Sultan Mehmed II, yang kemudian dikenal sebagai Sultan Muhammad Al Fatih.
Tahun 1453 M, Sultan Mehmed II dari Dinasti Utsmaniyah, yang kemudian dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih (“Sang Penakluk”), berhasil menaklukkan Konstantinopel. Penaklukan ini sangat penting karena mengakhiri Kekaisaran Bizantium, menjadikan Konstantinopel (Istanbul) sebagai pusat peradaban Islam dan membuka jalan bagi penyebaran Islam ke Eropa Timur dan Balkan.
Jika membaca sejarah penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih dan pasukan. Ada satu kisah heroik yang melekat erat pada tanah di mana Menara Galata berdiri. Bukit Galata bukan sekadar onggokan tanah, bukit ini jalur strategi militer paling brilian dalam sejarah peperangan.
Pada masa Kekaisaran Bizantium membuat pertahanan dengan mamasang rantai besar untuk menutup akses ke Tanduk Emas di Selat Bhosporus yang membuat angkatan laut Ottoman tak berkutik. Namun, Sultan Muhammad Al Fatih memiliki visi yang melampaui logika biasa. Dalam satu malam yang gelap dan penuh ketegangan, memerintahkan pasukannya untuk memindahkan 70 kapal perang melalui daratan.
Anda sedang tidak salah baca. Kapal-kapal itu ditarik melintasi bukit Galata, tepat di tempat di mana menara ini berdiri kokoh sekarang, untuk menghindari rantai penghalang dan meluncur kembali ke perairan Tanduk Emas di sisi yang tak terduga. Keputusan brilian inilah yang menjadi kunci kemenangan besar, mengubah Konstantinopel menjadi Istanbul, dan menjadikan kota ini sebagai ibu kota Khilafah Utsmaniyah selama berabad-abad berikutnya. Menara Galata berdiri di sana, menjadi saksi bisu dari derap langkah ribuan prajurit dan gesekan kayu kapal yang mengubah sejarah dunia.

Transformasi Menara
Setelah Konstantinopel beralih menjadi Istanbul, Menara Galata pun berganti peran. Di bawah bendera Ottoman, menara ini tidak lagi hanya menjadi simbol pertahanan Genoa. Ia menjadi serbaguna, melayani kebutuhan zaman.
Pada abad ke-16, menara ini sempat merasakan kelamnya fungsi sebagai penjara tempat penampungan tahanan perang. Dinding-dinding batunya mungkin pernah mendengar keluh kesah para tawanan yang merindukan kebebasan. Namun, menara ini juga pernah menjadi tempat ilmu pengetahuan berkembang sebagai observatorium, sebelum akhirnya menemukan fungsi vital lainnya pada tahun 1717.
Istanbul, dengan ribuan rumah kayunya, adalah kota yang rentan terhadap kebakaran. Oleh karena itu, Khilafah Utsmaniyah menjadikan Menara Galata sebagai menara pengawas kebakaran (fire watchtower). Dari ketinggiannya, para penjaga akan memindai cakrawala, mencari kepulan asap yang menandakan bahaya, dan membunyikan drum besar untuk memperingatkan warga.
Namun, ironisnya, sang penjaga api ini pun tak luput dari jilatan api itu sendiri. Tahun 1794 pada masa Sultan Selim III terjadi kebakaran yang merusak sebagian besar menara. Setelah diperbaiki, atapnya dibuat dari timah dan kayu, serta ditambahkan jendela kaca patri yang indah.
Tahun 1831 kembali terjadi kebakaran kembali melanda pada masa Sultan Mahmud II. Renovasi dilakukan dengan menambahkan dua lantai lagi dan sebuah bukit berbentuk kerucut. Kemudian tahun 1875 datang badai dahsyat menghancurkan atap kerucut yang ikonik dari Menara Galata.
Selama sisa periode Utsmaniyah, Menara Galata berdiri tanpa “topi” kerucutnya, membiarkan puncaknya terbuka menantang langit. Baru pada tahun 1965-1967, di era Republik Turki modern, topi kerucut aslinya dikembalikan, memberikan kembali siluet klasik yang kita lihat hari ini. Interior kayu yang rapuh diganti dengan beton kokoh, dan menara ini pun dibuka untuk umum, mengundang penduduk dunia untuk masuk ke dalam perut sejarahnya.

Selain catatan sejarah, Menara Galata juga menyimpan legenda. Sebuah bangunan tua tanpa legenda ibarat tubuh tanpa jiwa. Menara Galata memiliki keduanya. Di balik batu-batu dinginnya, tersimpan kisah-kisah hangat tentang ambisi manusia dan cinta yang melankolis.
Mari kita putar waktu ke tahun ke tahun 1632 ada kisah tentang Hezarfen Ahmed Celebi yang terbang dari puncak Menara Galata. Ia terbang mengenakan sayap kayu buatannya sendiri yang menyerupai sayap burung elang. Di bawah tatapan takjub warga Istanbul, ia melompat. Bukan untuk jatuh, melainkan untuk terbang. Angin Bosphorus menangkap sayapnya. Ia melayang, meninggalkan Menara Galata, melintasi selat yang memisahkan Eropa dan Asia, dan mendarat dengan selamat di Doğancılar, distrik Üsküdar, sejauh tiga kilometer dari titik awalnya.
Ini adalah salah satu penerbangan manusia pertama dalam sejarah yang berhasil. Sultan Murad IV yang menyaksikan keberanian dan kecerdasan ini awalnya memberikan hadiah sekantong emas. Namun, kekaguman sang Sultan bercampur dengan kekhawatiran, dia adalah seseorang yang harus ditakuti. Hezarfen diangkat menjadi pejabat kemudian diasingkan ke Aljazair yang jauh, berada di sana hingga wafat pada tahun 1640. Kisah ini mengajarkan kita bahwa terkadang, sayap kebebasan harus dibayar dengan harga yang mahal.
“Wahai Istanbul, bukankah engkaulah yang memisahkan seluruh kota demi sebuah Bosphorus?” Di Istanbul, ada dua menara yang saling memandang namun tak pernah bersentuhan: Menara Galata yang gagah di sisi Eropa, dan Menara Gadis (Maiden’s Tower) yang anggun di tengah laut dekat sisi Asia.
Legenda bercerita, Menara Galata jatuh cinta pada Menara Gadis. Ia berdiri tegak setiap hari, mengagumi kecantikan Menara Gadis dari kejauhan. Menara Gadis, yang merasa kesepian di tengah laut, pun diam-diam mencintai Menara Galata. Namun, Bosphorus yang luas dan dingin menjadi penghalang abadi di antara mereka.
Konon, ketika Hezarfen Ahmed Celebi hendak terbang, Menara Galata menitipkan tumpukan surat cinta dan puisi untuk disampaikan kepada Menara Gadis. Sayangnya, badai yang kencang membuat surat-surat itu terlepas dari genggaman Hezarfen dan jatuh berserakan ke dalam perairan Bosphorus yang dingin. Meski surat itu tak pernah sampai, Menara Gadis merasakan ketulusan cinta itu melalui angin yang berhembus, membuat keduanya bersinar lebih terang di malam hari, merayakan cinta yang tak sampai namun tetap abadi.

Mendaki Sang Legenda
Kini, Menara Galata telah bertransformasi menjadi museum modern di bawah naungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki. Sejak restorasi besar-besaran tahun 2020, interiornya menjadi lebih elegan dan informatif.
Untuk mencapai puncaknya, Anda tidak perlu lagi bersusah payah menaiki ratusan anak tangga kayu seperti penjaga api di masa lalu. Ada lift modern yang akan membawa Anda hingga ke lantai 6. Namun, petualangan sebenarnya dimulai di sini, Anda harus menaiki tangga spiral untuk mencapai dua lantai terakhir menuju dek observasi.
Di lantai 7, Anda akan disuguhi maket kota Istanbul yang detail. Dari sini, Anda bisa mempelajari tata letak kota sebelum melihat aslinya. Namun, lantai 8 adalah permata yang sesungguhnya. Saat Anda melangkah keluar ke balkon sempit di puncak menara, bersiaplah untuk menahan napas. Pemandangan 360 derajat kota Istanbul terhampar di depan mata tanpa penghalang.
Dari ketinggian ini, “Tanduk Emas” benar-benar terlihat seperti tanduk yang membelah daratan. Di kejauhan, Anda bisa melihat kubah raksasa Hagia Sophia yang seolah melayang di atas bukit, bersanding dengan kemegahan Masjid Biru (Blue Mosque) dengan enam menaranya yang ikonik. Anda juga bisa melihat Jembatan Galata yang sibuk di bawah sana, serta Jembatan Ataturk dan Jembatan Bosphorus yang menghubungkan dua benua.
Bagaimana untuk bisa menjangkau puncak Menara Gelata? Untuk naik ke puncaknya, tidak gratis. Harga tiketnya sekitar 175 Lira (sekitar Rp 144.000) atau 215 Lira jika ditambah audio guide. Harga tiket bisa berubah. Anda juga bisa datang kapan saja ke sana. Waktu terbaik datanglah saat hari kerja atau pagi hari untuk menghindari antrean panjang yang mengular. Namun, jika Anda pemburu sunset, bersiaplah antre karena pemandangan matahari terbenam dari sini adalah salah satu yang terbaik di dunia.

Jembatan Galata, Penghubung Dua Dunia
Setelah puas menikmati pemandangan dari atas, langkahkan kaki Anda menuruni bukit menuju tepian air. Di sana, membentang sebuah struktur yang lebih dari sekadar beton dan besi namanya Jembatan Galata (Galata Bridge). Jembatan ini panjangnya 490 meter ini bukan hanya penghubung fisik antara kawasan Eminonu (Kota Tua) dan Karakoy/Beyoglu (Kota Modern); ia adalah jembatan budaya, jembatan sejarah, dan jembatan kuliner.
Jika Anda ke Trukiye atau Istanbul har ini, jembatan yang Anda lewati adalah jembatan kelima yang dibangun di lokasi ini. Sejarah jembatan ini penuh dengan drama api dan pembangunan ulang. Jembatan Gelata pertama kali dibangun tahun 1836. Tahun 1845 dibangun jembatan baru (Cisr-i Cedid) di mulut Tanduk Emas. Kemudian tahun 1912 dibangun jembatan keempat dibangun oleh arsitek Jerman, Fritz Leonhardt, setelah usulan arsitek Prancis ditolak Sultan Abdülhamit II karena alasan keamanan.
Pada tahun 1992, jembatan ini terbakar. Kebakaran besar menghancurkan jembatan bersejarah ini. Tahun 1994 jembatan kelima, yang kita lewati sekarang, selesai dibangun. Dulu pada tahun 1980-an, area di bawah jembatan ini kotor dan menjadi tempat pembuangan limbah industri.
Namun, transformasi besar-besaran telah mengubahnya menjadi salah satu destinasi wisata paling romantis di Istanbul. Di tingkat bawah, tepat di bawah jalan raya, terdapat deretan restoran dan kafe yang menghadap langsung ke laut. Di sini, aroma ikan bakar menggoda selera. Ini adalah tempat terbaik untuk menikmati kuliner khas Balık Ekmek (Sandwich Ikan). Bayangkan duduk di salah satu restoran ini, menyantap roti berisi ikan makarel segar yang baru dipanggang, ditaburi selada, bawang, dan perasan lemon, sambil melihat feri-feri lalu lalang membelah air.
Di tingkat atas, lalu lintas mobil dan trem bergemuruh, namun di sisi pagar pembatas, kehidupan berjalan lebih lambat. Ratusan pemancing lokal berjejer rapi, melempar kail mereka ke perairan Golden Horn. Bagi mereka, memancing di sini bukan sekadar mencari ikan, melainkan ritual harian. Pemandangan para nelayan dengan latar belakang masjid-masjid tua di kejauhan adalah salah satu spot foto paling ikonik di Istanbul.

Galatasaray
Perjalanan Anda di distrik ini tidak akan lengkap tanpa menyebut satu nama yang melekat erat dengan identitas Galata: “Galatasaray.” Secara harfiah, “Galatasaray” berarti “Istana Galata”. Nama ini bukan sekadar label, melainkan representasi dari warisan budaya yang kaya di kawasan Beyoglu (dulu disebut Pera). Di dekat Lapangan Galatasaray, berdiri sebuah institusi pendidikan legendaris bernama Sekolah Tinggi Galatasaray (Galatasaray Lisesi), yang awalnya dikenal sebagai Mekteb-i Sultani. Sekolah ini adalah salah satu sekolah tertua dan paling bergengsi di Turki, yang telah melahirkan banyak pemikir, seniman, dan pemimpin negara. Gerbangnya yang megah di Jalan Istiklal adalah penanda bahwa Anda berada di jantung budaya intelektual Turki.
Namun, bagi sebagian besar dunia, nama Galatasaray identik dengan sepak bola. Galatasaray S.K. (Spor Kulubu) adalah salah satu klub sepak bola paling terkenal dan sukses di Turkiye. Didirikan pada tahun 1905 oleh Ali Sami Yen dan teman-temannya (yang merupakan siswa Sekolah Tinggi Galatasaray), klub ini lahir di jantung distrik ini. Masa itu mereka tak punya stadion, hanya lapangan. Mereka tak punya sponsor, hanya nama. Tapi mereka punya keyakinan, sepak bola bisa menjadi bahasa persatuan.
Di kawasan itu ada museum kecil yang menampilkan trofi, foto hitam-putih, serta jersey bergaris kuning-merah. Di dinding tertulis motto: “Bir gün mutlaka”—Suatu hari nanti, pasti. Aku tersentuh. Bukan karena bola, tapi karena konsistensi mimpi. Dan mereka benar. Hingga kini, Galatasaray adalah satu-satunya klub Turki yang menjuarai UEFA Champions League (2000).
Warna merah dan kuning kebanggaan mereka bukan hanya warna jersey, melainkan simbol semangat juang yang lahir dari perempatan bersejarah ini. Bagi warga lokal, Galatasaray bukan sekadar tim; itu adalah identitas, sebuah kebanggaan yang mengakar dari sejarah panjang distrik Galata itu sendiri.
Terima kasih Anda sudah menemani menaiki Menara Galata, menyeberang Jembatan Galata, dan duduk di Lapangan Galatasaray. Jika suatu hari Anda ke Istanbul, ingat, ketiga tempat ini bukan sekadar tujuan. Mereka adalah tiga nada dalam satu lagu. Dan lagunya, jika kau dengar dengan hati, berbunyi: “Selamat datang. Kau sudah sampai. Tapi perjalananmu baru saja dimulai.” (maspril aries)




