Home / Literasi / Ini Buku tentang Sejarah Kesultanan Palembang dalam Naskah Kuno

Ini Buku tentang Sejarah Kesultanan Palembang dalam Naskah Kuno

KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Sebuah buka yang ditulis bersumber dari naskah kuno Kesultanan Palembang, Ahad (16/11) diluncurkan di aula Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam. Buku tersebut berjudul “Warisan Budaya Palembang: Sejarah Kesultanan Palembang Dalam Naskah Kuno” dengan penulis Leni Mastuti.

Leni yang aktif di Forum Wisata dan Budaya Sumatera Selatan (Forwida) menulis buku yang bersumber dari naskah kuno tersebut butuh waktu selama tiga bulan sejak Agustus – Oktober 2025. Tidak hanya mengumpulkan data sejarah, penulis juga harus bergelut dengan proses alih aksara (transliterasi) dari dokumen-dokumen tua.

“Tantangan terberat muncul karena sebagian naskah mengalami kerusakan dan ditulis menggunakan aksara Jawi atau aksara Melayu, sehingga membutuhkan ketelitian ekstra dan kemampuan membaca manuskrip lama”, pada diskusi peluncuran buku yang dihadiri Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja dan kerabat Kesultanan Palembang serta akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.

Leni Mastuti yang meraih gelar Magister Humaniora di Sejarah Peradaban Islam UIN Raden Fatah menjelaskan, penulisan buku dilakukan dengan menggarap tiga naskah utama yang masing-masing memiliki sudut pandang dan alur penulisan berbeda. Ketiga naskah tersebut kemudian dibandingkan, disinkronkan, dan dicari kesamaannya untuk memetakan alur sejarah Kesultanan Palembang secara utuh dan ilmiah.

“Prosesnya tidak mudah karena tiap naskah punya detail berbeda. Tantangannya adalah menyatukan kembali potongan-potongan sejarah itu ke dalam satu alur yang akurat,” katanya.

Menurut Leni, naskah kuno memiliki kedudukan sangat penting sebagai sumber sejarah primer. “Sekarang banyak generasi muda yang belum memahami betapa berharganya manuskrip klasik, baik sebagai identitas kultural maupun fondasi pengetahuan sejarah. Kita harus memahami bahwa naskah kuno bukan hanya catatan lama atau benda usang. Di dalamnya tersimpan ilmu, nilai budaya, dan jejak sejarah yang sangat berharga. Jika kita tidak mempelajarinya, siapa lagi yang akan melanjutkan kisah sejarah ini?” ujar Leni.


Penulis Leni Mastuti memaparkan isi bukunya. (FOTO: D Oskandar)
Penulis Leni Mastuti memaparkan isi bukunya. (FOTO: D Oskandar)

Leni mengingatkan pentingnya mengenalkan naskah kuno kepada generasi muda sebagai bagian dari mengenali jati diri. “Melalui buku ini, saya berharap semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa pelestarian sejarah bukan hanya tugas akademisi, tetapi tugas bersama”, katanya.

Dengan terbitnya buku ini Leni berharap masyarakat, terutama generasi muda dapat membuka mata bahwa sejarah Palembang tidak hanya tersimpan dalam cerita lisan, tetapi juga dalam dokumentasi tertulis yang sangat kaya.

“Naskah kuno adalah jendela utama memahami masa lalu. Kita sebagai generasi penerus harus menghargai, memelajari, dan melestarikannya” ujarnya.

Buku “Warisan Budaya Palembang: Sejarah Kesultanan Palembang Dalam Naskah Kuno” bukan buku pertama yang ditulis Leni Mastuti. Sebelumnya telah terbit buku “Makan Idangan” (2021), “Alih Aksara Silsilah Kesultanan Palembang: Naskah Catatan Raden Syarif bin Raden Haji Abdul Habib” (2023), “Alih Bahasa Naskah Mujarobat dan Surat Obat-Obatan” (2023) dan “Kisah Perjalanan Keturunan Sultan Palembang: Naskah Catatan Raden Haji Abdul Habib” 2024).

Sementara itu Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH mengatakan, “Indonesia, termasuk Palembang, saat ini menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan identitas nasional. Banyak narasi sejarah yang beredar berasal dari sudut pandang kolonial, sehingga tidak sepenuhnya menggambarkan realitas budaya dan peradaban bangsa”.

Menurutnya, catatan sejarah kita 70–80 persen masih bersumber dari tulisan kolonial. Karena itu, kita perlu mengembalikan identitas nasional dengan meluruskan narasi sejarah berdasarkan sudut pandang kita sendiri.

“Pemenang dalam peristiwa sejarah seringkali menjadi pihak yang membangun narasi dan propaganda, sehingga meninggalkan jejak sejarah yang tidak selalu objektif”, ujarnya seraya memberi contoh pada berbagai kasus internasional sampai peristiwa-peristiwa lokal yang mengalami distorsi narasi.


Penulis buku menyerahkan bukunya kepada  Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja. (FOTO: D Oskandar)
Penulis buku menyerahkan bukunya kepada Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja. (FOTO: D Oskandar)

SMB IV menyatakan tentang pentingnya memperkuat narasi sejarah Palembang berdasarkan bukti-bukti primer, seperti prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo, serta catatan I-Tsing yang menegaskan keberadaan Sriwijaya di Palembang. Pernyataan ini menanggapi munculnya klaim dari daerah lain yang menghubungkan Sriwijaya dengan wilayahnya. “Penemuan prasasti-prasasti awal Sriwijaya ada di Palembang. Itu harus menjadi dasar yang memperkuat narasi sejarah kita”, ujarnya.

SMB IV juga menjelaskan tentang Malaysia yang mengakui asal-usul para raja Melayu dari Bukit Seguntang, sebagaimana tercatat dalam Sulalatus Salatin. Kemudian SMB IV juga menjelaskan beberapa narasi sejarah yang dinilainya keliru. Seperti kisah penyerangan Banten ke Palembang serta konflik dengan Inggris. “Sejumlah catatan kolonial sengaja menampilkan Palembang dalam posisi negatif demi kepentingan politik dan perdagangan. Sering kali narasi dibuat agar publik percaya bahwa Palembang yang bersalah. Padahal faktanya berbeda dengan yang ditulis kolonial”, katanya.

Sementara untuk manuskrip kuno SMB IV menegaskannya sebagai bahan primer penelitian sejarah. “Naskah-naskah kuno yang diwariskan leluhur bukan hanya catatan budaya, tetapi juga kunci untuk memahami jati diri bangsa. “Buku ini sangat penting untuk memperkuat identitas sejarah kita. Narasi yang benar akan mengubah cara pandang kita bahwa leluhur Palembang memiliki peradaban yang tinggi”, ujarnya.

Nara sumber lain pada peluncuran buku karya Leni Mastuti, Sejarawan Palembang Kemas Ari Panji mengulas naskah kuno sebagai warisan budaya Kesultanan Palembang Darussalam. Menurutnya, manuskrip harus dijadikan sumber primer penelitian untuk meluruskan berbagai kesalahpahaman sejarah.

“Kami mengapresiasi buku karya Leni Mastuti ini dan mengajak semua kalangan untuk membuat buku sejarah sehingga narasi sejarah yang ada tidak bisa dibelokkan atau disalahgunakan terutama sejarah Palembang”, ujar Kemas Ari.

Bagi yang berminat membaca atau memiliki buku “Warisan Budaya Palembang: Sejarah Kesultanan Palembang dalam Naskah Kuno” dapat dipesan kepada penulisanya Leni Mastuti pada nomor kontak 0838-1539-6030. (d. oskandar)

Tagged: