Mobil semen curah Semen Baturaja melintas di jalan Sumatera Selatan. (FOTO: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Industri semen di Indonesia bermula dari Ranah Minang, di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) berdiri pabrik semen atau industri semen pertama di wilayah Hindia Belanda sekaligus menjadi perusahaan semen tertua di Asia Tenggara.
Nama perusahaan itu sekarang bernama PT Semen Padang yang pabrik pertamanya didirikan pada 18 Maret 1910 dengan nama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM) setelah penemuan batu kapur berkualitas di daerah Indarung yang layak dijadikan bahan baku semen.
Pendiriannya dipelopori oleh insinyur Belanda yang menemukan potensi bahan baku lokal, yang kemudian diikuti oleh pembangunan infrastruktur pabrik dan jalur distribusi untuk melayani kebutuhan semen di Sumatera Barat dan sekitarnya.
Setelah Indonesia merdeka, pada 5 Juli 1958 terjadi proses nasionalisasi. Perusahaan semen Nederland yang awalnya dimiliki asing diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia, sebuah langkah yang mencerminkan kebijakan nasionalisasi aset strategis pada periode awal kemerdekaan. Setelah dinasionalisasi, Semen Padang menjalani rehabilitasi dan pengembangan kapasitas produksi, misalnya peningkatan kapasitas Indarung I hingga menjadi 330.000 ton per tahun pada periode tertentu dalam rekonstruksi pasca-nasionalisasi.
Setelah Indonesia merdeka berdiri beberapa pabrik semen yang tersebar di beberapa daerah. Di pulau Sumatera setelah Semen Padang berdiri perusahaan PT Semen Baturaja yang pabriknya dibangun di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Selain di Sumsel, Pemerintah juga membangun pabrik semen di Aceh yang bernama PT Semen Andalas yang diresmikan Presiden Soeharto pada 2 Agustus 1983. Pabriknya berlokasi di Lhok Nga, Aceh Besar.
Sama seperti Semen Andalas, pabrik Semen Baturaja juga diresmikan Presiden Soeharto pada 29 April 1981 di Baturaja. PT Semen Baturaja sendiri telah berdiri tanggal 14 November 1974. Pada 14 November 2025, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semen ini telah berusia lebih dari setengah abad, tepatnya berusia 51 tahun.

Ada banyak dinamika dalam rentang 51 tahun tersebut dalam perjalangan sejarah PT Semen Baturaja. Sebuah buku berjudul “Indarung Tonggak Sejarah Industri Semen Indonesia” yang terbit 2001 ditulis sejarawan Mestika Zed (almarhum) dan dua wartawan senior dari Sumatera Barat (Sumbar) Hasril Chaniago dan Khairul Jasmi (pernah menjabat Komisaris PT Semen Padang) menulis tentang kehadiran perusahaan semen yang kemudian tumbuh menjadi besar di wilayah Sumatera bagain Selatan (Sumbagsel)
Salah satunya menyebutkan bahwa: “Untuk memperkuat posisi Semen Padang dalam persemenan di wilayah Sumatera, maka pada tahun 1974 dilakukan kerjasama dengan Semen Gresik dalam membangun pabrik Semen Baturaja dengan kapasitas 500.000 ton/ tahun di Kertapati, Palembang. Selain itu dipersiapkan pula pembangunan packing plant di Telukbayur dan di Belawan Medan.”
Kemudian pada halaman lain, mencatat beragam, hubungan historis antara dua pabrik semen yang ada di pulau Sumatera. PT Semen Padang sebagai pabrik semen tertua di Indonesia, banyak berkontribusi pada penyedian teknologi dan sumber daya manusia (SDM) bagi industri semen di Indonesia, khususnya, bagi produsen atau pabrik semen yang dimiliki pemerintah Indonesia sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Pada Bagian Ketujuh dari buku “Indarung Tonggak Sejarah Industri Semen Indonesia” di bawah judul “Bukan Sekedar Pabrik Semen” juga memaparkan bagaimana Semen Padang bukan hanya ekspor semen ke luar negeri tapi juga ekspor SDM ke berbagai bidang.
Pada halaman 259 tertulis, “Ekspor SDM dari Semen Padang ini diawali oleh Ir Azwar Anas Direktur Utama yang tahun 1977 terpilih sebagai Gubernur Kdh. Tingkat I Sumatera Barat. Joni Marsinih, SE, penerus Azwar, kemudian dipromosikan untuk memimpin PT Pupuk Sriwidjaja, sebuah BUMN bidang pupuk buatan yang bermarkas di Palembang.”
Pada halaman 260 bercerita tentang Ikhdan Nizar yang sempat menjadi Direktur Utama PT Semen Baturaja. Berikut penggalan paragrafnya : “Lain lagi ceritanya Ir. Ikhdan Nizar. Ia memulai karirnya di PT Semen Padang, lalu dikaryakan ke PT Semen Gresik sebagai Direktur Penelitian Penelitian dan Pengembangan. Terakhir ia menjadi Direktur Utama PT Semen Baturaja, BUMN semen yang berlokasi di Sumatera Selatan dengan produksi 650.000 ton pertahun.”

Pada tulisan berjudul “Pabriknya Pabrik Semen” di halaman 263 menuliskan, “PT Semen Padang juga memasok peralatan pabrik untuk pabrik semen lain di Indonesia. Sementara pengadaan unit pabrik komplit pernah dilakukan untuk pembangunan pabrik baru PT Semen Baturaja di Sumatera Selatan, dan PT Semen Andalas di Aceh”.
Tidak hanya Ikhdan Nizar, SDM dari Semen Padang yang pernah menjabat Direktur Utama PT Semen Baturaja diantaranya Poernomo, kemudian ada Pamudji Rahardjo yang sebelumnya menjabat sebagai salah satu direktur di pabrik semen tertua tersebut.
Kini PT Semen Baturaja yang telah berubah nama menjadi PT Semen Baturaja (Persero) Tbk jabatan Direktur Utama kemudian dipegang Daconi yang perjalanan karirnya di industri semen bermula di PT Semen Padang. Kemudian ada Tubagus Muhammad Dharury yang menjabat Direktur Keuangan & Manajemen Risiko, sebelumnya menjabat Direktur Keuangan PT Semen Padang dan Muhammad Syafitri yang menjabar Direktur Operasi.
Ada satu halaman menarik dari buku ini yang menceritakan pelaksanaan pembangunan pabrik Semen Baturaja. Poernomo salah satu SDM dari Semen Padang yang pada tahun 1974 dipindahtugaskan ke PT Semen Baturaja menjadi Direktur Teknik. Saat itu pembangunan PT Semen Baturaja oleh pemerintah diserahkan kepada PT Semen Padang. Kemudian Purnomo menjadi Direktur Utama PT Semen Baturaja.
Dalam lembar halaman 385, Poernomo menceritakan riwayat atau sejarah PT Semen Baturaja sejak masih dalam tahap rancangan bangun. “Dewasa itu, pabrik semen di Baturaja baru dalam tahap rancangan bangun. Artinya, tugas pertama direksi di sana adalah mengadakan survei lanjutan tentang cadangan batu kapur dan tanah liat sebagai bahan baku semen untuk kemudian membuat studi kelayakan : financing arrangement, construction dan pabrik dengan rencana kapasitas produksi 500.000 ton/ tahun”.
Menurut Poernomo, “Ada sejumlah alasan mengapa pabrik semen di Baturaja layak didirikan.” Ada empat alasan yang diceritakan Poernomo. Pertama, cadangan bahan bakunya cukup besar. Kedua, daerah Sumatera bagian Selatan (Sumatera Selatan, Bangka/Belitung, Lampung, Jambi dan Bengkulu) merupakan pangsa pasar semen potensial karena pada atahun 1973 saja, kebutuhan semen untuk kawasan ini mencapai 300.000 s.d 400.000 ton pertahun.

Ketiga, keberadaan pabrik akan menambah pendapatan daerah Sumatera Selatan, serta pembakaran dalam kiln untuk pembuatan klinker yang menggunakan batu bara kurang lebih 70.000 ton/ tahun diperkirakan akan menambah pendapatan Perusahaan Negara (PN) Batu Bara Bukit Asam yang kala itu (1970 – 1975) – sekarang PT Bukit Asam Tbk – produksinya masih tergolong rendah karena kalah bersaing dengan bahan bakar minyak yang harganya relatif murah, US$ 4 s.d 6 per barel.
Keempat, keberadaannya juga akan memberikan pendapatan bagi Perusahaan Jawatan Kereta Api (sekarang PT Kereta Api Indonesia) karena hampir seluruh angkutan klinker menggunakan jasa angkutan ini.
Mengangkut Lewat Sungai
Ada yang sangat menarik dari catatan Poernomo ini adalah tentang pengangkutan peralatan pabrik yang ukurannya cukup besar yang harus diangkut ke Baturaja di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). “Namun pertimbangan yang sangat berat waktu itu untuk menentukan keputusan kelanjutan pabrik semen/ clinker plant Baturaja ini adalah pemecahan pengangkutan peralatan pabrik dalam ukuran yang cukup besar, seperti kiln, tire dari kiln, mill shell dllnya.”
Bisa dibayangkan pada masa itu tahun 1974. Jarak Palembang – Baturaja melalui perjalanan darat sekitar sekitar 200 km harus dilalui untuk mengangkut peralatan pabrik semen yang berukuran besar. Menurut Poernomo, “Pada tahun 1974 PT Semen Padang terpaksa mengadakan survei terdiri atas kemungkinan-kemungkinan angkutan dari pelabuhan Palembang atau Panjang ke Baturaja menggunakan jasa kereta api dan/ atau angkutan darat. Tetapi, masalahnya, kedua jenis angkutan ini tidak memungkinkan untuk membawa peralatan besar tersebut.”
“Akibat terbatasanya kemampuan sarana transportasi darat itu, maka PT Semen Padang melakukan survei ke Sungai Ogan yang cukup besar dan mengalir dari Baturaja ke sungai Musi Palembang. Hasil survei menyimpulkan, dengan kapal tongkang 500 s.d 1000 ton, sungai Ogan dapat digunakan untuk angkutan peralatan pabrik tersebut sampai 12 km ke arah ilir sebelum kota Baturaja.”

Untuk peralatan tersebut bisa sampai ke lokasi pabrik yang berada di Kecamatan Baturaja Timur, Poernomo menceritakan, “Untuk bisa sampai ke lokasi pabrik yang akan dibangun dilakukan dengan menggunakan jalur darat melalui jalan kelas IV dengan tujuh buah jembatan yang kondisinya waktu itu tak memadai untuk sebuah angkutan besar. Untuk memperbaiki ruas jalan di pinggir sungai Ogan ini, termasuk pembangunan jembatan darurat, juga membutuhkan dana yang tidak sedikit.”
Sebelum pendirian pabrik semen di Sumatera Selatan (Sumsel) terlebih dahulu dilakukan studi kelayakan pendirian pabrik Semen Baturaja tahun 1974 kemudian dilanjutkan pembangunan fisik pabrik tahun 1978. Pembangunan pabrik selesai akhir tahun 1980 kemudian diresmikan pengoperasiannya pada 29 April 1981, lalu beroperasi secara komersil mulai tanggal 1 Juni 1981.
Pabrik dibangun di Baturaja, tempat penambangan bahan baku dan tempat pabrik pengolahan sampai bahan setengah jadi berupa terak / klinker. Pabrik kedua di Palembang yang merupakan pabrik penggilingan terak menjadi semen dan sekaligus pengantongan, dan di Panjang (Lampung) pabrik penggilingan terak menjadi semen dan pengantongan serta pabrik pembuatan kantong semen.
Melantai di Bursa
Membaca sejarahnya, PT Semen Baturaja lahir dari “perkawinan” PT Semen Padang dan PT Semen Gresik. Dalam peran dan kontribusinya dari histori yang ada, PT Semen Padang memiliki porsi yang besar mengasuh dan membesarkan PT Semen Baturaja. Ibaratnya, jika PT Semen Padang adalah “ibu” dari PT Semen Baturaja maka dalam sistem kekerabatan PT Semen Baturaja termasuk dalam garis “keturunan ibu atau matrilineal.”
Semua itu hanya perumpamaan semata. Pada 2022 PT Semen Baturaja atau kelak juga disebut PT SMBR Tbk telah berusia 48 tahun. Usia tersebut terhitung merujuk pada Akta Notaris Jony Frederik Berthold Tumbelaka Sinjal Nomor 34 tanggal 14 November 1974 yang menjadi dasar pendirian perusahaan. Sejak saat itu setiap tanggal 14 November setiap tahun diperingati, dirayakan sebagai hari lahirnya PT Semen Baturaja.

PT Semen Baturaja berdiri dan berkedudukan di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Pada awal mula pendirian, kepemilikan saham perseroan terdiri dari PT Semen Padang (Persero) sebesar 55 persen dan PT Semen Gresik (Persero) sebesar 45 persen.
Pada usia lima tahun tepatnya 9 November 1979 terjadi perubahan komposisi kepemilikan saham, menjadi: 88 persen Pemerintah Republik Indonesia, 7 persen PT Semen Gresik (Persero) dan 5 persen PT Semen Padang (Persero). PT Semen Baturaja berganti nama menjadi PT Semen Baturaja (Persero) pada 19 Agustus 1980.
Pada tahun 1991 Pemerintah Republik Indonesia menerbitkan PP Nomor : 3 tahun 1991 yang mengambil alih kepemilikan saham PT Semen Gresik dan PT Semen Padang. Itu terjadi 15 Oktober 1991. Sejak saat itu saham PT Semen Baturaja 100 persen milik Pemerintah.
Dalam perjalanan selama 14 tahun Perseroan tercatat beberapa kali mengalami perubahan nama dari PT Semen Baturaja menjadi PT Semen Baturaja (Persero) 19 Agustus 1980. Lalu menjadi PT Semen Baturaja (Persero) Tbk pada 14 Maret 2013.
Pada tahun 2011 pemerintah melalui Menteri BUMN meminta beberapa BUMN melepas saham perdana ke publik atau IPO (initial public offering). Menteri BUMN saat itu Mustafa Abubakar meminta PT Angkasa Pura (AP) II, PT Pelindo II, Bank BTN, Pembangunan Perumahan, Krakatau Steel termasuk PT Semen Baturaja untuk go public melantai di lantai di pasar modal sehingga perusahaan mendapat tambahan modal untuk ekspansi.
IPO PT Semen Baturaja yang dijadwalkan bisa berlangsung pada 2011 tidak terealisasi. Awal Maret 2011, tim privatisasi menyetujui IPO PT Semen Baturaja. Saham yang rencananya akan dilepas perseroan sebesar 30 persen dengan target dana sebesar Rp1 triliun. Dana hasil IPO akan digunakan perseroan untuk membangun pabrik baru dengan kapasitas mencapai 1,5 juta ton per tahun.

Untuk merealisasikan bisa “melantai di lantai bursa” perjalanan IPO tidak berlangsung mulus. IPO PT Semen Baturaja terhambat status kepemilikan lahan pabrik yang PT Pelindo II dan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Masalah ini terpecahkan setelah Menteri BUMN Dahlan Iskan yang menggantikan Mustafa Abubakar turun tangan menyelesaikannya. Akhirnya PT Pelindo II dan PTKAI dengan Semen Baturaja sepakat untuk melakukan penyewaan aset jangka panjang selama 30 tahun.
Selesai satu masalah ternyata belum bisa memuluskan IPO PT Semen Baturaja. Tahun 2012 rencana listing BUMN PT Semen Baturaja belum mendapat persetujuan DPR. Alasannya waktu itu, seperti dikutip dari penjelasan Erik Satrya Wardhana,Wakil Ketua Komisi VI DPR kepada wartawan, DPR belum merestui izin IPO Semen Baturaja karena masih mempermasalahkan proses pergantian direksi Semen Baturaja yang dilakukan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan. DPR menilai pengangkatan direksi yang baru tidak sah maka proses privatisasi tidak bisa diselesaikan dalam waktu dekat.
Parlemen menolak diberlakukannya privatisasi BUMN PT Semen Baturaja (Persero) melalui IPO. Saat itu anggota parlemen, Sadar Subagyo dari Komisi XI mengusulkan PT Semen baturaja digabungkannya PT Semen Baturaja ke PT Semen Indonesia untuk memperkuat Holding BUMN industri semen. Alasannya, bergabungnya PT Semen Baturaja ke PT Semen Indonesia, dapat meningkatkan kemampuan produksi yang dihasilkan PT Semen Gresik, PT Semen Padang, dan PT Semen Tonasa.
Setelah melalui proses pembahasan yang alot akhirnya parlemen memberi lampu hijau untuk PT Semen Baturaja bisa tercatat di Bursa Efek Indonesia pada Februari 2013. DPR menyetujui Semen Baturaja menjadi perusahaan terbuka. DPR setuju IPO dengan jumlah saham yang dilepas adalah 20 persen atau lebih sedikit dari rencana pemerintah, yakni 35 persen.
DPR menerima usulan IPO PT Semen Baturaja dengan dengan tiga pertimbangan. Pertama, Semen Baturaja membutuhkan modal besar untuk ekspansi usaha dan IPO merupakan salah satu cara mendapatkan modal murah dan segar. Semen Baturaja melantai di bursa dengan kode saham SMBR.

Kedua, maksimum saham yang dijual ke publik sekitar 35 persen, sehingga kepemilikan mayoritas masih di tangan pemerintah. Ketiga, jika Semen Baturaja dikembangkan, akan membawa manfaat bagi masyarakat luas, seperti terbukanya lapangan kerja baru dan industri semen memperlihatkan perkembangan positif.
Industri semen di Indonesia bukan sekadar cerita tentang produksi bahan bangunan; ia adalah jalur sejarah ekonomi, infrastruktur, dan kebijakan industri yang mempengaruhi perkembangan wilayah, lapangan kerja, dan strategi korporasi nasional.
Sebagai pabrikan semen yang basis produksinya berada di Sumatera Selatan, PT Semen Baturaja memainkan peran penting dalam perekonomian lokal: menyerap tenaga kerja, mendorong tumbuhnya industri pendukung (seperti transportasi, jasa bongkar muat, dan perdagangan material konstruksi), serta menyediakan semen untuk proyek pembangunan jalan, jembatan, dan fasilitas publik di kawasan Sumbagsel. Keberadaan fasilitas penggilingan di Palembang dan Panjang meningkatkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan pasar kota-kota besar di Sumatera bagian tengah dan selatan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pengiriman dari pabrik inti.
Dalam beberapa dekade terakhir, PT Semen Baturaja melakukan diversifikasi produk dan peningkatan kualitas, termasuk pengembangan produk-semen dengan kepedulian lingkungan (misalnya semen PCC atau produk dengan kandungan bahan baku alternatif) dan sertifikasi kandungan lokal untuk memenuhi preferensi pemerintah serta kebijakan pengadaan yang mendukung produk domestik. Strategi ini juga menjadi upaya perusahaan agar tetap relevan ketika menghadapi tantangan penurunan permintaan dan ketatnya persaingan harga.
Sejarah PT Semen Baturaja adalah bagian dari narasi panjang industri semen Indonesiam berdiri di daerah didukung aktor nasional, transformasi status kepemilikan, hingga integrasi korporasi dan adaptasi strategi menghadapi tekanan pasar. Koneksi historis dengan PT Semen Padang dan pabrik-pabrik lain di Sumatera menempatkan Baturaja dalam konteks kompetisi regional yang kompleks, di mana faktor kapasitas produksi, logistik, kebijakan pemerintah, dan dinamika investasi asing saling bersinggungan. (maspril aries)






