WS Rendra. (FOTO: Republika/ Darmawan)
Prolog:
Bayangkan suasana sebuah panggung sederhana di Yogyakarta pada akhir 1960-an. Di situ ada lampu redup, kursi kayu berderit, dan seorang lelaki berambut panjang berdiri dengan sorot mata tajam. Suaranya lantang, puisinya berapi-api, dan setiap kata terasa seperti peluru yang ditembakkan ke arah kekuasaan. Lelaki itu adalah Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo pada 7 November 1935, kelak dikenal sebagai WS Rendra—sastrawan yang mengubah wajah sastra dan teater Indonesia.
KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – WS Rendra adalah penyair, dramawan, budayawan besar Indonesia dan pemikir demokrasi yang dijuluki Burung Merak. Ia mendirikan Bengkel Teater, menulis puisi dan drama yang kritis terhadap sosial-politik, dan menjadi ikon perlawanan budaya.
Namun, banyak generasi milenial dan Gen-Z kini kurang mengenalnya WS Rendra yang meninggal 6 Agustus 2009, pukul 22.20 WIB, di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok. Dikebumikan keeesokan harinya, 7 Agustus 2009, di kompleks pemakaman keluarga Bengkel Teater WS Rendra, Cipayung Jaya, Citayam, Depok, Jawa Barat. Rendra meninggal dunia tepat di awal era media sosial dan ponsel pintar mulai mendefinisikan kehidupan generasi milenial (Gen-Y) dan Generasi Z (Gen-Z).
Mengapa Generasi Milenial dan Gen-Z banyak yang tidak mengenal Rendra? Ada beberapa jawaban dari pertanyaan tersebut. Pertama, perubahan media, banyak generasi ini lebih akrab dengan TikTok, Instagram, dan YouTube dan platform media sosial lainnya daripada buku puisi atau panggung teater.
Kedua, kurikulum pendidikan sastra di sekolah sering hanya disebut sekilas dalam pelajaran Bahsa Indonesia dan tanpa pengalaman langsung membaca atau menonton karya Rendra. Ketiga, komodifikasi budaya dimana seni dianggap hiburan, bukan ruang refleksi sosial. Keempat, jarak sejarah, Rendra wafat pada 2009, sehingga generasi muda tidak mengalami langsung aura panggungnya.
Iya. Ada jarak generasi yang nyata. Banyak anak muda kini tumbuh dalam ekosistem digital dengan durasi perhatian yang pendek, format vertikal, ritme cepat, dan algoritma yang menyukai yang ringan. Puisi panjang, teater penuh jeda, pembacaan yang menuntut pendengaran cermat—semua itu bersaing dengan video 15 detik. Ditambah kurikulum yang sering menempatkan sastra sebagai pelengkap, bukan pengalaman hidup. Akibatnya, Rendra menjadi nama dalam daftar, bukan suara di telinga.

Namun masalahnya bukan semata “anak muda tak peduli”. Masalahnya juga pada kanal arsip yang kurang terjangkau, pementasan yang jarang terdokumentasi apik, pengantar yang kurang dialogis. Pada era ketika estetika audio-visual menjadi tulang punggung konsumsi pengetahuan, warisan Rendra belum dikelola dengan strategi media yang memadai.
Dalam kajian yang lebih luas, ini adalah sebuah fenomena yang kompleks, sebuah “amnesia kultural” yang terjadi bukan tanpa sebab. Ada pergeseran media dan perhatian dari generasi sekarang hidup di era banjir informasi. Perhatian mereka terfragmentasi ke dalam ribuan konten digital yang singkat, visual, dan instan. Puisi, apalagi puisi yang sarat kritik sosial seperti Rendra, membutuhkan ruang dan waktu untuk direnungkan. Ia tidak bersaing dengan TikTok atau Instagram Reels. Kemudian teater, sebagai seni pertunjukan “langsung”, juga kalah glamor dibandingkan dengan konser musik besar atau streaming film.
Di situ juga ada konteks sejarah yang hilang. Puisi-puisi Rendra lahir dari rahim Orde Baru—sebuah konteks yang asing bagi Gen-Z yang lahir di era Reformasi. Mereka tidak merasakan langsung atmosfer ketakutan, represi, dan pembungkaman yang menjadi bahan bakar karya Rendra. Tanpa pemahaman konteks itu, puisi berjudul “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” mungkin hanya akan dibaca sebagai metafora yang aneh, bukan sebagai teriakan protes terhadap komersialisasi ibu kota oleh rezim.
Kemudian juga pada kegagalan sistem pendidikan. Pengajaran sastra di sekolah seringkali terasa kering, sekadar menghafal nama, judul, dan tema, tanpa mampu menghidupkan roh dari karya tersebut. Rendra diajarkan sebagai momok untuk diingat saat ujian, bukan sebagai suara hidup yang relevan dengan persoalan mereka hari ini—ketimpangan, ketidakadilan, korupsi, dan krisis lingkungan.
Kemudian minimnya kurasi dan regenerasi. Upaya untuk mengkurasi karya Rendra dalam format yang lebih segar dan menarik bagi generasi muda masih sangat minim. Mungkin ada pembacaan puisi di YouTube atau dokumenter singkat, tetapi belum ada upaya masif untuk menerjemahkan semangat Rendra ke dalam bahasa visual dan digital yang dikuasai Gen-Z.
Narasi besarnya tidak/ belum diterjemahkan ke format yang akrab bagi generasi kini. Ada juga faktor psikologis budaya, keletihan sosial, kompetisi akademik, tuntutan ekonomi digital yang memaksa anak muda lebih pragmatis. Mereka mencari seni yang langsung berguna sebagai personal branding, skill cepat. Rendra menawarkan yang lebih dalam berupa keberanian, kedisiplinan, kejujuran. Itu semua berguna, tetapi tidak selalu tampak di permukaan sebagai “manfaat instan”.

Podcast Membaca Rendra
Namun, menariknya, ada beberapa anak muda kini justru mengenal Rendra lewat video lama di media sosial, di mana ia membacakan puisi dengan suara bergetar penuh energi.
“Menghidupkan” kembali Rendra untuk generasi sekarang dan yang akan datang adalah upaya agar Rendra menjadi pengalaman, bukan sekadar nama. Ada serial video pendek yang berisi potongan pembacaan puisi, dikontekstualkan dengan isu hari ini. Disusun sebagai episodik, 60–90 detik, dengan teks yang jelas. Kemudian ada teater mikro di ruang publik dengan pementasan mini yang berlangsung di kampus, kafe, taman kota, dengan aktor melibatkan penonton sebagai warga yang berdialog.
Bisa juga dihadirkan Podcast “membaca Rendra”. Setiap episode satu puisi atau satu adegan, dibedah dengan narasi ringan untuk memanggil anak muda dari berbagai bidang untuk menafsir. Serta arsip digital interaktif seperti peta karya yang menghubungkan tema, tokoh, konteks sejarah. Ini memudahkan penjelajahan semacam “pilih petualangan”. Bangun juga kolaborasi lintas seni antara musik, ilustrasi, film pendek yang menafsirkan karya Rendra.
Itu semua akan menjembatani estetika lama dan format baru. Inisiatif seperti ini bukan kosmetik; ini strategi pertemuan. Rendra tidak minta dipuja, ia minta didengar.
Untuk generasi milenial dan Gen Z, Rendra adalah warisan yang perlu diterjemahkan ulang. Warisannya bukan hanya pada puisi-puisinya, tetapi pada spirit keberanian untuk berbicara lantang melawan ketidakadilan. Tugas generasi berikutnya adalah menemukan “Burung Merak” dalam diri mereka sendiri, menggunakan puisi Rendra bukan sebagai mantra sejarah, melainkan sebagai api yang terus membakar semangat kritis.
Rendra dan Akar Budaya
Rendra lahir dari keluarga yang sarat seni. Ayahnya seorang guru bahasa sekaligus dramawan tradisional, ibunya penari serimpi di Keraton Surakarta. Dari kecil ia sudah akrab dengan panggung, bahasa, dan gerak tubuh. Dunia seni bukan sekadar hiburan baginya, melainkan cara memahami kehidupan.

Menurut adik kandung WS Rendra, Sudibyanto, ada hal yang melatarbelakangi Rendra menjadi seorang penyair yang sangat tajam menyuarakan persoalan bangsa dan negara kepada penguasa. “Abang saya melakukan itu salah satunya karena nasehat dari eyang kakung-nya yang juga seorang pujangga Keraton Yogyakarta”, katanya.
Sudibyanto bercerita, “Dulu sewaktu Mas Rendra masih kecil, Eyang kakung melihat Mas Rendra punya darah penyair. Dia ditanya, kamu mau serius enggak jadi pujangga, Rendra jawab iya,”. Dan Eyangnya memberi petuah kepada Rendra, yang menyebut, mengumpamakan pujangga dan pemerintah merupakan roh dan badan.
Pujangga bertugas mengurus roh masyarakat, sedangkan pemerintah harus mengurus badan masyarakat. Untuk menyelesaikan permasalahan bangsa dan negara secara maksimal, maka diperlukan kerja sama antara keduanya.
“Jadi tugasmu memelihara roh masyarakat,” kata Eyang kepada Rendra, seperti ditirukan Sudibyo.
Ayah Rendra bernama Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjoadalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa. Selain itu, ayahnya juga dikenal sebagai pelaku seni drama tradisional. Sang Ibu, Raden Ayu Catharina, seorang penari di istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Selepas SMA, Rendra melanjutkan pendidiknnya ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, lalu sempat belajar di Akademi Seni Drama Amerika. Di sana ia menyerap tradisi teater modern Barat, yang kemudian ia padukan dengan kekayaan tradisi Nusantara. Hasilnya adalah gaya teater yang unik: eksperimental, penuh improvisasi, dan sarat kritik sosial.
Menurut Bakdi Soemanto dalam buku berjudul “Rendra Karya dan Dunianya” (2003), jagat menyastra sudah dimulai WS Rendra sejak sangat dini, yaitu sejak ia berusia 15 tahun. Pada waktu itu tahun 1950. Di sebuah majalah Pembimbing Putera, ada sebuah cerita pendek dengan judul “Drama di Pasar Pon”. Ceritanya berkisah tentang detektif kecil.
Dua tahun kemudian, naskah lakonnya diterbitkan dalam bentuk stensilan dengan judul “Goncangan Pertama”. Majalah Tempo (27 Maret 1971) menulis, lakon ini mengandung anjuran dan pesan-pesan moral untuk ukuran sekolah pada era-era itu.

“Goncangan Pertama” tidak hanya sebatas sastra lakon saja, kemudian lakon yang menampilkan adegan tembak menembak yang cukup menarik dipentaskan. Rendra yang saat itu masih duduk ke kelas 2 SMA di Surakarta menjadi sutradaranya. Menurut saksi mata yang menyaksikan pementasan tersebut menceritakan bahwa penonton masa itu cukup banyak dan terpukau dengan pementasan tersebut.
Tahun 1953 Rendra juga sempat merambah drama radio. Di sebuah Majalah Drama muncul sandiwara radio dengan judul “Daratan Lembah Neraka”. Rendra mengatakan, ia menulis sandiwara radio tersebut karena dirinya menyukai sound system, terutama orang tertawa terbahak-bahak, dan bunyi lain yang menyeramkan, termasuk bunyi musik yang menggelegar. Kemudian Rendra tidak mengembangkan drama radio tersebut.
Itu adalah cerita awal Rendra berkarya untuk dunia sastra dan teater. Setelah tamamt SMA, Rendra kuliah di UGM dan sempat belajar di Akademi Seni Drama Amerika. Di sana ia menyerap tradisi teater modern Barat, yang kemudian ia padukan dengan kekayaan tradisi Nusantara. Hasilnya adalah gaya teater yang unik, eksperimental, penuh improvisasi, dan sarat kritik sosial.
Rendra menempuh pendidikan di Yogyakarta, kota yang menawari keseimbangan antara tradisi keraton dan dinamika kampus. Di universitas, ia memelajari ilmu dan bertemu perdebatan—dua hal yang mengasah lidah dan pikiran. Di panggung, ia memelajari tatapan penonton dan daya hening—dua hal yang mengasah keberanian. Pada dirinya, modernitas dan tradisi tidak berlomba, mereka berdialog.
Kesempatan mengintip teater modern Barat membuka pintu baru pada teknik, dramaturgi, dan keberanian bentuk. Ia membaca, menterjemahkan, dan membandingkan: Shakespeare, Lorca, Brecht—lensa dunia yang kemudian ia pasangkan ke tubuh Indonesia. Namun Rendra tidak menjadi sekadar murid. Ia pulang dengan rumus baru: bahan bakar Barat, mesin Nusantara. Katanya, seni harus membumi; kritik harus memakai bahasa orang banyak; panggung harus terasa seperti jalanan, bukan menara gading.
Di titik ini, Rendra menemukan tugas dirinya, menjadi perantara. Ia menghubungkan kosmopolitanisme dengan kearifan lokal, melintasi batas estetika sekaligus menyambar yang politis. Pada Rendra, seni menjadi disiplin batin sekaligus kerja sosial.

Rendra adalah jembatan antara tradisi dan modernitas, antara estetika dan politik, antara panggung dan jalanan. Ia menunjukkan bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan cara untuk melawan lupa, melawan penindasan, dan merawat harapan.
Bengkel Teater & Burung Merak
Pada 1967 Rendra mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta, yang kehadirannya bukan sekadar kelompok pementasan. Ia adalah sekolah tanpa ijazah, laboratorium tanpa dinding, tempat aktor dilatih dengan ketat—pernapasan, artikulasi, kepekaan tubuh, ritme hening, keberanian bersuara. Rendra merancang latihan yang menuntut kedisiplinan, tubuh harus jujur, suara harus bertanggung jawab, pikiran harus tajam. Di Bengkel Teater, “seni” tidak bebas dari kewargaan.
Pementasan Bengkel Teater sering terasa seperti ritual sosial. Penonton tidak diminta duduk sebagai konsumen, melainkan sebagai warga yang diajak melihat kenyataan lebih telanjang. Improvisasi dipakai bukan untuk memamerkan kelihaian, tetapi untuk menangkap detik-detik kebenaran yang sulit dipalsukan. Di situ, kritik lahir dari pengalaman, bukan teori yang kering.
Bengkel Teater menjadi rumah bagi generasi yang gelisah. Mereka belajar bahwa panggung adalah ruang publik, bahwa tubuh aktor adalah arsip hidup, bahwa suara bisa menjadi tempat pengetahuan. Kelak banyak seniman, aktivis, dan penulis yang mengaku menemukan “bahasa kedua” mereka di Bengkel Teater—bahasa yang memaksa melampaui ketakutan.
Dari Bengkel Teater lahir generasi baru aktor dan seniman yang belajar bukan hanya teknik panggung, tetapi juga keberanian bersuara. Bengkel Teater menjadi simbol perlawanan budaya terhadap kekuasaan yang represif.
Mengapa diberi nama “Bengkel”? Bengkel ini sangat signifikan. Ini bukan sekadar kelompok teater, melainkan sebuah laboratorium, sebuah bengkel kerja tempat kata-kata, tubuh, suara, dan ide-ide ditempa, diolah, dan diujicobakan.
Bengkel Teater menjadi fenomena. Di bawah pimpinan Rendra, teater tidak lagi menjadi hiburan bagi kaum elite. Ia menjadikannya sebagai medium rakyat. Panggung-panggungnya adalah lapangan, halaman kampus, dan ruang-ruang publik. Penontonnya adalah mahasiswa, buruh, petani, dan rakyat biasa.

Rendra, dengan karismanya, menjadi semacam “dukun panggung”. Ia menghidupkan panggung pementasan, puisi-puisinya sendiri dan karya sastra lainnya menjadi pertunjukan yang total atau teater mini kata. WS Rendra adalah pelopor teater mini kata di Indonesia melalui Bengkel Teater. Istilah “teater mini kata” pertama kali diperkenalkan oleh Goenawan Mohamad pada tahun 1969.
Pada masa itu Rendra menciptakan bentuk pertunjukan yang disebut Mini Kata melalui karya-karya seperti Bip Bop dan Rambate-Rata-Rata yang dipentaskan bersama Bengkel Teater pada tahun 1968. Bentuk pementasan ini menekankan gerak tubuh, bunyi non-verbal, dan improvisasi, serta menghindari penggunaan kata-kata secara berlebihan. Tujuannya adalah menyampaikan makna secara langsung melalui tubuh dan suasana, bukan lewat dialog verbal.
Dalam setiap pertunjukan-pertunjukan Bengkel Teater adalah peristiwa kultural yang menegangkan, menggugah, dan seringkali kontroversial. Rendra melatih para pemainnya—yang disebut sebagai anak-anak bengkel—dengan disiplin besi. Mereka bukan sekadar menghafal dialog, tetapi meresapi setiap kata, setiap jeda, hingga menjadi energi murni yang dipancarkan ke penonton. Adegan-adegannya seringkali keras, ekspresif, dan penuh metafora visual yang powerful.
Melalui Bengkel, Rendra menciptakan bahasa teater yang khas Indonesia. Ia tidak menjiplak gaya Barat, melainkan mencangkokkan teknik-teater modern itu ke akar tradisi Nusantara. Wayang, ludruk, dan tradisi tutur dihidupkannya kembali dalam bentuk yang segar dan relevan. Ia membuktikan bahwa untuk menjadi modern, kita tidak perlu meninggalkan yang tradisional.
Bagaimana dengan puisi-puisi Rendra? Bakdi Soemanto menulis, dalam suatu wawancara dengan majalah Gamma (21 November 1999), Rendra diminta untuk menyebut satu kata yang memberikan definisi tentang dirinya. Seniman yang dikenal dengan sebutan “Burung Merak” itu menjawab “Penyair”. Ya, Rendra memang seorang penyair. Puisi adalah medianya untuk mengungkapkan tidak hanya gagasan-gagasannya, tetapi juga pembuka dirinya.

Puisi-puisi Rendra adalah suara jalanan, doa, dan peluru kata. Puisi bagi Rendra adalah alat bedah sosial. Ia menulis bukan untuk menghibur, melainkan untuk menggaruk luka agar kita sadar masih punya badan. Dalam “Balada Orang-Orang Tercinta”, “Blues untuk Bonnie”, dan “Potret Pembangunan dalam Puisi”, Rendra mengangkat orang kecil menjadi pusat pandang. Ia menyusun bait sebagai dialog, menjadikan sajak sebagai panggung mini, memanggil kita untuk melihat lagi siapa kita.
Dalam puisi-puisinya, ada tiga arus yang sering bertemu. Pertama, Orkes jalanan, yakni kata-kata berbau pasar, kantor, kampus, permukiman. Mereka terdengar akrab, seperti obrolan di warung, tetapi mengandung kritik yang tajam. Kedua, Doa yang berani. Rendra menulis doa tanpa minta ampun pada ketidakadilan. Doa menjadi tindakan, bukan sekadar permohonan. Ketiga, Peluru kata, ada metafora yang meledak, ritme yang menekan, jeda yang menghentak. Ia tahu kapan harus berteriak, kapan harus diam.
Rendra membawa puisi keluar dari halaman. Ia menjadikannya teater suara, dibaca, dihadirkan, dihadapkan ke orang banyak. Ketika ia berdiri membaca sajak, penonton memaknai puisi bukan sebagai seni elit, melainkan sebagai bagian dari napas hari itu
Rendra dijuluki “Burung Merak” karena penampilannya flamboyan, rambut panjang, pakaian mencolok, dan gaya membaca puisi yang teatrikal. Namun di balik itu, ia adalah sosok yang serius, penuh disiplin, dan konsisten memperjuangkan kebebasan berekspresi. Orang menyebutnya Burung Merak karena kebebasan gaya dan sorot mata yang tak sudi menunduk. Sejak awal, hidupnya terasa seperti epik yang menolak berakhir, sebuah suara yang menolak diam.
Epilog:
Rendra adalah burung merak yang tak pernah mati. Ia menari, ia berkicau, ia menaburkan bulu-bulu indahnya, tapi juga menampakkan kotoran di bawah ekornya. Ia menulis cerpen, naskah drama, kumpulan puisi, dan antologi esai. Ia membentuk teater, membentuk musik, membentuk perlawanan. Ia dipenjara, diasingkan, dicap komunis, tapi tak pernah berhenti bernapas.
Di era di mana kata-kata telah menjadi komoditas—dijual di marketplace, dijiplak di caption, dikosongkan makna—kita butuh Rendra. Kita butuh seseorang yang berani berkata: “Aku bukan penjilat kekuasaan. Aku adalah lidah yang terus menggigit.” (maspril aries)






