Home / Wisata / Ber-geowisata ke Negeri Erdogan

Ber-geowisata ke Negeri Erdogan

Tiang-tiang sisa peninggalan yang tersisa di Ephesus (FOTO-FOTO : Dok. Muhammad Rifky)

KAKI BUKIT – Berkunjung ke Turkiye yang dulu bernama Turki adalah perjalanan menyaksikan keindahan bentang alam ciptaan Allah SWT. Kesempatan mengunjungi negeri yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdoğan adalah perjalanan yang mengingat kembali tentang geowisata yang pertama kali di kenal saat kuliah di jurusan Teknik Geologi Universitas Sriwijaya (Unsri).

Dalam diskusi di ruang kuliah, topik tentang geowisata khususnya di Indonesia adalah bahasan yang belum dikenal luas dan kerap konsepnya dianggap tidak punya pijakan atau pondasi yang konkret sehingga tidak digarap sebagai destinasi wisata yang bisa membuat wisatawan tertarik untuk datang seperti halnya di Turkiye.

Walau sebagian wilayah di negara ini pada 6 Februari 2023 sempat dilanda gempa 7.8 skala richter di daerah selatan Turkiye dan daerah barat Suriah. Gempa ini merengut nyawa lebih dari 55.000 orang meninggal di Turkiye dan Suriah, lebih dari 130.000 orang terluka dan kehilangan tempat tinggal, serta menghancurkan sebagian besar rumah dan infrastruktur di daerah tersebut.

Geowisata dan Geologist Muda

Selat Bosphorus laut yangt membagi dua Turkiye wilayah di Benua Asia dan Benua Eropa.

Saat pesawat maskapai Turkish Airlines mendarat di bandara Istanbul sudah melintas bayangan tentang beberapa destinasi geowisata yang belum pernah dikunjungi, kini saatnya datang ke sana.

Sebelum berkelana lebih jauh di Turkiye, mari mengenal dulu apa itu geowisata? Mungkin saja banyak yang belum tahu apa itu geowisata dibanding wisata lainnya?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi jawaban bahwa geowisata adalah wisata yang mendukung karakter geografis suatu tempat, lingkungan, budaya, warisan, estetika, dan kesejahteraan masyarakatnya

Wikipedia memberi definisi geowisata yang dikutip dari modul Pusdiklat Geologi (2007), geowisata merupakan pariwisata minat khusus dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam seperti bentuk bentang alam, batuan, struktur geologi dan sejarah kebumian. Bisa diringkas geowisata atau geoturisme (geotourism) adalah wisata yang memadukan ilmu kebumian dan keindahan alam.

Ber-geowisata di negeri Erdogan adalah wisata tentang ilmu kebumian dan keindahan alam. Berjalan ke Turkiye akan mengunjungi berbagai objek wisata terkenal. Sebagian besar merupakan peninggalan peradaban kuno, seperti Ottoman, Byzantium, Perang Troya, hingga Makedonia.

Seperti Istanbul, salah satu kota terbesar dan terpenting di Turkiye, memiliki bangunan dan arsitektur lampau yang masih tegak berdiri. Bangunan-bangunan ini didirikan menggunakan berbagai macam material yang mampu bertahan lama, termasuk batuan beku hingga sedimen yang dapat diamati pada dinding dan pilar di tiap bangunan tersebut. Sebagian besar objek wisata ini terletak di jantung kota Istanbul yang sangat padat.

Salah satu detinasi favorit di Istanbul adalah selat Bosphorus yang menghubungkan laut Marmana dan laut Hitam yang terkenal. Secara geografis, selat Bosphorus memisahkan bagian tenggara dan selatan Turkiye yang terhubung ke Benua Asia dengan bagian barat laut dan utara Turkiye yang terhubung ke benua Eropa.

Sebagai kota pesisir, Istanbul memiliki posisi unik menjadi pusat perdagangan dan wisata modern. Jalanan yang padat dan berliku, bangunan kuno dan modern yang saling tumpang tindih menghiasi setiap sudut kota, hingga elevasi dan morfologi khas pesisir menjadi ciri utama kota ini.

Tantangan yang bakal dihadapi Istanbul di masa mendatang adalah bagaimana mereka menjaga keberlangsungan kota seiring meningkatnya kepadatan penduduk. Selain itu, mencegah potensi bahaya/ bencana alam semacam banjir hingga perubahan iklim drastis yang kerap mengintai kota-kota pesisir.


Beranjak meninggalkan Istanbul, perjalanan selanjutnya adalah menuju Ephesus dan Canakalle. Perjalanan menuju Canakalle sempat berlayar naik kapal penyebrangan atau ferry menyebrangi Selat Dardanelles.

Dari Istanbul menuju Canakalle menggunakan ferry menyebrangi Selat Dardanelles.

Mampir di Ephesus adalah reruntuhan kota peradaban kuno yang kini hanya menyisakan bangunan dan arsitektur klasik. Terletak di lereng perbukitan, kota ini telah ada dan berkembang sejak zaman Yunani Kuno hingga awal Kristiani.

Di sini terdapat bangunan-bangunan kuil, perpustakaan, hingga arena pertunjukan berbentuk setengah lingkaran yang dikenal sebagai ampitheater dan dapat menampung hingga 24.000 orang. Kini, Ephesus hanya meninggalkan jejak-jejak peradaban berupa sisa pilar, patung, keramik dan lainnya. Erosi dan sedimentasi selama ratusan hingga ribuan tahun telah mengikis dan mengubah sebagian besar bangunan yang terbuat dari batuan marbel, mengubur sejumlah artefak berharga, hingga mengubah kenampakan bentang alam dan morfologi daerah sekitarnya. Reruntuhan yang tersisa di Ephesus adalah peninggalan Yunani Kuno.

Destinasi selanjutnya adalah Canakalle, di dekat kota ini terdapat area yang diyakini sebagai kota penting dalam mitologi dan sejarah Yunani kuno, Troya. Terletak sekitar 6 km dari laut Aegean, Kota Troya dikenal sebagai tempat berlangsungnya perang antara pasukan Yunani yang dipimpin Raja Sparta, Agamemnon, dengan pasukan Troya. Taktik dan analogi “Kuda Troya” yang terkenal itu berasal dari Perang Troya. Wisatawan dapat melihat langsung replika kuda kayu yang menjadi pajangan kebangaan Canakalle.

Meski kisah perang Troya dianggap sebagai dongeng atau mitos, namun jejak peradabannya dapat ditemukan di sekitar Canakalle atau Turkiye. Lokasi ini menjadi salah satu titik favorit turis yang ingin mempelajari peradaban kuno. Arkeolog menggali dataran dan perbukitan sedimen yang dipercaya sebagai lokasi awal kota Troya. Hasilnya mereka menemukan berbagai artefak dan peninggalan peradaban kuno, termasuk yang berasal dari era Yunani Kuno.

Replika kuda troya di Canakalle.

Dari sudut pandang geologist muda, kedua lokasi di atas memberi gambaran bagaimana sejarah peradaban manusia dan sejarah geologi dapat saling bersinggungan dan mungkin terkait satu sama lain. Turkiye dulunya termasuk dalam geografi wilayah kekuasaan Yunani dan Romawi Kuno.

Ini menyebabkan peneliti dan akademisi yang tertarik untuk melakukan penelitian. Arkeolog menggali dan menganalisis berbagai peninggalan purba yang terpendam di bawah permukaan atau tererosi dan menjadi bagian morfologi daerah tersebut. Sementara geologist dapat memberi penjelasan terkait proses erosi, perubahan struktur dan geomorfologi, hingga menelusuri umur dan proses pembentukan bentang alam di situs sejarah itu.

Geologist juga dapat membantu arkeolog menjelaskan fenomena alam yang terjadi, seperti lokasi kota Troya yang selama ini dipercaya berada sangat dekat dengan kawasan pesisir atau tingkat pelapukan yang berlangsung pada pilar dan dinding bangunan kuno yang tersusun oleh batuan.

Ephesus dan Canakalle menjadi objek wisata berkat keberadaan peradaban kuno dan campur tangan manusia terhadap bentang alam daerah di sekitarnya pada masa lalu (antropogenik). Prinsip geowisata dapat diterapkan pada lokasi-lokasi ini melalui integrasi penjabaran dan edukasi sejarah geologi, kenapa banyak artefak dan struktur bangunan yang lapuk atau tererosi, bagaimana membangun fasilitas atau infrastruktur wisata yang terpadu dengan bentang alam dan lainnya.

Pesona Kastil Kapas dan Bentang Alam

Jejak geologis peninggalannya di Ephesus

Setelah fokus menjelajahi situs peradaban kuno, perjalanan selanjutnya menuju Hierapolis yang terletak di wilayah Pamukkale. Pamukkale yang diartikan sebagai Benteng atau Kastil Kapas, merupakan salah satu wisata alam terkenal di Turkiye. Sesuai namanya, Pamukkale memiliki kenampakan morfologi unik berupa sebaran batu gamping (limestone) putih yang dikenal sebagai Travertine.

Deposit atau endapan batu gamping ini diperkirakan berasal dari aliran mata air panas yang kaya mineral karbonat, khususnya kalsium karbonat yang menghasilkan kenampakan warna putih menyerupai ladang kapas bila dilihat dari kejauhan. Aliran mata air ini terbentuk sepanjang wilayah perbukitan dan membentuk lapisan bertingkat menyerupai teras sepanjang 24-30 meter.

Keindahan teras batuan karbonat dan aliran mata air yang menuruni lereng perbukitan membentuk kolam-kolam kecil berwarna biru terang tentunya menarik minat wisatawan. Banyak yang mencoba berendam atau bermain dan menelusuri formasi karbonatan ini. Sebagian percaya bahwa objek wisata alam ini dapat memberi manfaat bagi kesehatan, terutama kesehatan kulit. Tak jauh dari lokasi ini juga terdapat pemandian, kolam renang hingga sumber mata air panas lainnya yang ramai dikunjungi turis lokal dan mancanegara.


Benteng atau Kastil Kapas salah satu wisata alam terkenal di Turkiye yang ada di Pamukalle.

Tak jauh dari “Kastil Kapas” terdapat reruntuhan peradaban kuno Hierapolis yang diartikan sebagai Kota Suci (Holy City). Hierapolis adalah kota era peradaban Yunani Kuno yang menjadi destinasi liburan untuk warga Yunani dan Anatolia berkat terdapatnya sejumlah mata air panas alami dan spa panas bumi yang dibangun di sekitar Hierapolis.

Seperti halnya Ephesus dan Troya, Hierapolis juga merupakan situs arkeologi peninggalan Yunani dan Rowami kuno. Di sini wisatawan dapat melihat jejak progresi dan kemajuan yang pernah dicapai kota ini, khususnya dari segi arsitektur dan teknologi. Jalanan berbatu, gerbang, kuil, teater, jalur irigasi, pemandian, dan sebangsanya menghiasi tiap sudut kota. Sedikit berbeda dengan Ephesus atau Troya, reruntuhan di Hierapolis terlihat lebih luas dan megah. Selain itu, kondisi beberapa reruntuhan terlihat lebih terjaga dibandingkan dua lokasi sebelumnya.

Di Hierapolis, bisa diindikasikan dampak erosi dan pelapukan mungkin tidak separah seperti yang terjadi di Ephesus. Catatan menarik terkait geologi Hierapolis adalah indikasi terjadinya gempa akibat patahan (fault) yang mendorong pembangunan kuil-kuil dewa di kota ini.

Pamukkale memiliki kenampakan morfologi unik berupa sebaran batu gamping (limestone) putih yang dikenal sebagai Travertine.

Beranjak dari Pamukkale tujuan berikutnya adalah Cappadocia yang terkenal dengan wisata balon udara serta rangkaian gua dan terowongan bawah tanah yang pernah menjadi pemukiman warga lokal. Bentang alam Cappadocia umumnya dataran tinggi, lembah atau sabana, dan formasi perbukitan dan gunung vulkanik yang tererosi oleh angin hingga menyisakan struktur geologi menyerupai cerobong yang saling berselang-seling atau dikenal sebagai Hoodoo.

Pada masa-masa awal kekaisaran Romawi dan Byzantium, banyak warga yang tinggal di rumah yang dibangun sepanjang lereng perbukitan serta gua alami dan terowongan bawah tanah yang menghubungkan pemukiman lainnya. Masyarakat di masa itu memahat tebing dan struktur Hoodoo untuk dijadikan sebagai tempat tinggal hingga gereja.

Rumah gua di Cappadocia yang sudah tidak dihuni.

Sekarang gua dan rumah-rumah tersebut telah menjelma menjadi situs sejarah dan aktraksi utama turis di Cappadocia. Selain rumah dari gua, Cappadocia juga terkenal dengan tur balon udara. Wisatawan dapat menikmati pemandangan alam dan struktur geologi Cappadocia yang unik dari ketinggian. Biasanya turis akan diajak terbang pada pagi hari ini agar dapat menikmati matahari terbit dan kumpulan balon udara yang ikut terbang menghiasi langit Cappadocia.

Rumah gua di Cappadocia yang dibangun di lereng gunung batu.

Sepanjang perjalanan antara Istanbul dan Cappadocia, akan melihat pemandangan alam yang indah berupa variasi bentang alam, morfologi hingga struktur geologi yang ada di Turkiye.

Sebagai negara yang terletak diantara pertemuan benua Asia dan benua Eropa, Turkiye memiliki posisi unik dari sudut pandang geologi. Mulai dari pantai dan teluk yang berhadapan langsung dengan laut Hitam di utara dan laut Mediterrania di selatan, hingga barisan pegunungan dan perbukitan yang membelah dataran Turkiye dari timur ke barat. Geomorfologi Turkiye modern juga sangat bervariasi; terdiri dari dataran banjir dan fluvial, danau, perbukitan sedimen karbonat, pegunungan vulkanik, karst, dsb.

Turkiye sukses memanfaatkan sejumlah aspek geowisata pada lokasi-lokasi pariwisata populernya. Pemerintah lokal dan warga bekerjasama menghidupkan objek wisata alam dengan mendirikan fasilitas penunjang seperti akses jalan, transportasi dan museum.

Cuma saat berada di lokasi itu, tidak ada panduan atau bentuk edukasi geologi semacam poster dan papan pengumuman hingga pemandu yang menjelaskan sejarah geologi atau proses pembentukan daerah tersebut ditinjau dari ilmu kebumian.

Jadi selain berfoto dan menikmati pemandangan, wisatawan akan dapat mengapresiasi keunikan situs dan objek wisata seperti Hoodoo Cappadocia dan mata air panas Pamukkale. Selain itu, pemahaman terkait geologi suatu daerah wisata dapat membantu menjelaskan dan memberi ketenangan turis dan warga lokal terhadap bencana alam, seperti gempa yang terjadi baru-baru ini di Turkiye.


Bencana Gempa dan Geowisata

Geowisata menjadi salah satu andalan pariwisata Turkiye.

Gempa bumi baru saja melanda sebagian wilayah Turkiye pada 6 Februari 2023 lalu dan Turkiye terletak di pertemuan antara tiga lempeng bear, yaitu lempeng Anatolia, lempeng Eurasia dan lempeng Arab. Ketiga lempeng ini berkontribusi membentuk bentang alam dan morfologi Turkiye yang kita kenal sekarang. Namun, hal ini juga berpotensi mengakibatkan terjadinya bencana alam di Turkiye, khususnya terkait gempa bumi.

Gempa yang terjadi Februari lalu bukan kali pertama gempa terjadi di Turkiye. Jika tinggal atau berada di wilayah rawan gempa penting bagi warga dan pemerintah setempat untuk memahami geologi tempat mereka berada. Dengan pemahaman geologi akan dapat meminimalisir potensi bencana dan mengantisipasi kerusakan dan korban yang mungkin bisa terjadi.

Gempa 6 Februari 2023 tentu memunculkan kekhawatiran diantara calon wisatawan yang ingin mengunjungi Turkiye. Dengan adanya pemahaman geologi akan membantu meyakinkan calon wisatawan terkait keamanan dan keselamatan serta potensi bahaya yang mungkin bakal mereka hadapi di Turkiye.

Dalam implementasinya, seharusnya geowisata akan membantu menyatukan geologist, masyarakat, pemangku kepentingan, hingga ahli-ahli terkait dalam menghadapi potensi bahaya hingga membangun infrastruktur yang aman dari bencana seperti gempa, banjir, atau tsunami.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari ilmu kebumian atau geologi dan implementasinya sebagai geowisata. Geowisata juga bakal menguntungkan banyak orang, tidak terbatas pada geologist atau akademisi saja. Indonesia punya banyak potensi geowisata saatnya untuk dikembangkan dengan tetap memperhatikan keterlibatan geologist, masyarakat, pemangku kepentingan, hingga ahli-ahli terkait.

Turkiye dari kacamata geowisata sukses menjual keindahan alam yang natural sebagai atraksi utama turis, juga menjaga peninggalan peradaban masa lalu yang berhubungan langsung dengan sejarah kebumian. Turkiye mengembangkan turisme lebih jauh dengan mengintegrasikan sejarah, bentang alam, dan geowisata ke dalam satu paket dan lainnya. (muhammad rifky)

Tagged: