Home / Literasi / Gubernur Sumsel (1998-2003) Rosihan Arsyad Luncurkan 3 Buku Terbaru

Gubernur Sumsel (1998-2003) Rosihan Arsyad Luncurkan 3 Buku Terbaru

KINGDOMSRIWJAYA, Jakarta – Mantan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Rosihan Arsyad meluncurkan buku terbarunya. Ahad, 5 April 2026 di Jakarta, Rosihan Arsyad yang juga mantan perwira tinggi TNI AL dengan pangkat terakhir Laksamana Muda, meluncurkan tiga buku sekaligus. “Tiga buku ini merupakan buku ketiga, keempat dan kelima”, katanya, Jumat, 10 April 2025.

Rosihan Arsyad yang menjabat Gubernur Sumsel periode 1998 – 2003 meluncurkan tiga buku berjudul “Indonesia dalam Pusaran Arus Samudra: Menjadi Negara Maritim, Menuju Sea Power 2045” (Februari 2026), “NUSANTARA SHIELD: A Grand Strategy for the World’s Largest Archipelagic Power” (Maret 2026), dan “KOMPAS NUSANTARA: Berlayar di Tengah Badai Krisis Karakter dan Kedaulatan” (April 2026). Sebelumnya mantan Kepala Staf Armada Barat (Kasarmabar) TNI AL telah menerbitkan dua buku berjudul “Membangunkan Indonesia” dan “Indonesia’s Maritime Interest, Cooperation and Capacity Building” yang terbit 2024. Khusus buku NUSANTARA SHIELD dan Indonesia’s Maritime Interest ditulis dalam bahasa Inggris.

Buku “KOMPAS NUSANTARA: Berlayar di Tengah Badai Krisis Karakter dan Kedaulatan” memiliki ketebalan 228. Buku “NUSANTARA SHIELD: A Grand Strategy for the World’s Largest Archipelagic Power” tebalnya 230 halaman dan buku “Indonesia dalam Pusaran Arus Samudra: Menjadi Negara Maritim, Menuju Sea Power 2045” setebal 250 halaman. 

Menurut Rosihan, bagi yang berminat membeli buku tersebut bisa kontak melalui komunikasi langsung ke akun Instagram @rosihanars dan email di roarsyad@gmail.com. Tiga buku terbaru tersebut diterbitkan penerbit Teras Budaya Jakarta yang beralamat di Jln. H Zakaria No. 32 – RT 001/RW 03, Lenteng Agung. Jakarta Selatan – 12610.

Pada buku “KOMPAS NUSANTARA: Berlayar di Tengah Badai Krisis Karakter dan Kedaulatan” yang terbit April 2026, lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Perwira Angkatan Laut Angkatan ke-17, membedah berbagai spektrum kedaulatan yang kian rentan di era modern. Buku ini menguraikan tiga dimensi krisis kedaulatan yang paling krusial. Pertama, Kedaulatan Ruang Udara (FIR), penulis mengkritisi keras pendelegasian ruang udara Indonesia (Flight Information Region) yang dinilai telah mencederai harga diri bangsa. Isu ini seringkali terlupakan dalam diskusi publik, namun Rosihan mengingatkan bahwa kontrol ruang udara merupakan bagian integral dari kedaulatan negara. Delegasi kewenangan kepada negara lain—meski dengan justifikasi ekonomi atau teknis—dapat menjadi preseden berbahaya bagi klaim-klaim kedaulatan lainnya di masa depan.


Buku “KOMPAS NUSANTARA: Berlayar di Tengah Badai Krisis Karakter dan Kedaulatan” (FOTO: Teras Budaya Jakarta)

Kedua, Kedaulatan Pangan. Buku ini mengekspos mitos swasembada pangan yang selama ini dibanggakan. Rosihan menganalisis bagaimana ketergantungan pada impor, ketidakefisienan sistem pertanian, dan kebijakan jangka pendek telah melemahkan fondasi ketahanan pangan nasional. Krisis ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan refleksi dari krisis karakter kepemimpinan yang lebih mementingkan kepentingan jangka pendek daripada kesejahteraan rakyat jangka panjang.

Ketiga, Kedaulatan Digital. Di era disrupsi teknologi, kedaulatan digital menjadi medan pertarungan baru. Rosihan mengingatkan bahwa ketergantungan pada infrastruktur digital asing, dominasi platform global, dan lemahnya regulasi data pribadi merupakan ancaman serius terhadap kedaulatan nasional. Krisis ini berbeda dari ancaman konvensional karena bersifat invensible—tidak terlihat namun dampaknya sangat nyata terhadap keamanan dan ekonomi bangsa.

Baca Juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/218794/mantan-gubernur-sumsel-rosihan-arsyad-serahkan-tiga-buku-untuk-perpustakaan-nasional/

Judul “KOMPAS NUSANTARA” sendiri merupakan metafora yang kuat—Indonesia sebagai kapal besar yang sedang berlayar di tengah badai ganda: krisis karakter bangsa dan krisis kedaulatan. Kompas dalam konteks ini bukan sekadar alat navigasi, melainkan representasi dari arah dan tujuan bangsa yang harus terus dikalibrasi.

Selain kekuatan analisis, buku ini ditulis dengan gaya penulisan mengalir dengan bahasa yang lugas namun dalam, mengalihkan pengalaman seminar dan dialog internasionalnya ke dalam narasi yang mudah dicerna. Ia menggabungkan data faktual dengan refleksi personal dari pengalaman bertugas di berbagai posisi strategis. Buku ini juga kaya dengan referensi historis dan kontemporer, menunjukkan bahwa Rosihan tidak hanya berbicara berdasarkan intuisi, melainkan riset dan pengamatan mendalam. Pengalamannya memimpin operasi SAR kecelakaan Silk Air di Sungai Musi (1997) dan partisipasinya dalam berbagai dialog keamanan maritim internasional memberikan kredibilitas pada analisisnya.

Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks—dari sengketa Laut China Selatan hingga persaingan teknologi AS-China—buku ini memberikan peta jalan untuk memahami posisi Indonesia. Buku ini hadir dengan perspektif unik.  Jarang ada buku yang menggabungkan analisis militer, politik, dan sosial-kultural dengan begitu komprehensif. Pengalaman praktis Rosihan sebagai gubernur, perwira tinggi, dan akademisi memberikan nuansa yang kaya. Dan Buku “KOMPAS NUSANTARA: Berlayar di Tengah Badai Krisis Karakter dan Kedaulatan” bukan sekadar buku—ia adalah kompas spiritual dan intelektual bagi bangsa Indonesia di persimpangan jalan.


Buku “NUSANTARA SHIELD: A Grand Strategy for the World’s Largest Archipelagic Power” (FOTO: Teras Budaya Jakarta)

Dengan buku-bukunya Rosihan Arsyad telah membuktikan bahwa pengabdian pada bangsa tidak berakhir ketika seragam dilepas. Melalui tulisan-tulisannya yang telah diterbitkan dalam berbagai publikasi internasional, ia terus mengabdi dengan cara yang berbeda namun tidak kalah pentingnya.

Bagi siapa pun yang ingin memahami Indonesia seutuhnya—bukan versi romantisme nasionalisme yang dangkal, melainkan realitas pahit dan harapan yang realistis—buku ini adalah bacaan wajib. Karena pada akhirnya, kedaulatan bukan hanya soal batas geografis yang tercatat di peta, melainkan karakter bangsa yang tercermin dalam setiap tindakan individu dan kolektif kita.

Buku lainnya bagaimana? Sama menariknya, buku Rosihan Arsyad ini adalah bacaan wajib, siapa pun anda? Buku ini layak menjadi bacaan para pemimpin dan calon pemimpin bangsa, pejabat pemerintah, wakil rakyat DPR dan DPRD, gubernur, bupati, dan walikota. Juga untuk perwira TNI dan Polri, akademisi dan mahasiswa, pelaku bisnis dan pengusaha, sampai masyarakat umum yang peduli bangsa serta Diaspora Indonesia.

Buku berikutnya, “NUSANTARA SHIELD: A Grand Strategy for the World’s Largest Archipelagic Power” adalah karya strategis paling komprehensif dan visioner yang pernah ditulis oleh seorang perwira tinggi TNI AL tentang masa depan maritim Indonesia. Dengan pengalaman langsung sebagai penerbang angkatan laut (hampir 7.000 jam terbang) dan komandan kapal perang, penulis menyajikan analisis tajam, berbasis fakta sejarah, hukum internasional, serta realitas geopolitik terkini. Buku setebal lebih dari 240 halaman yang ditulis dalam bahasa Inggris bukan sekadar analisis akademis, melainkan blueprint konkret bagi Indonesia untuk bertransformasi dari “Negara Kepulauan” (Archipelagic State) menjadi “Negara Maritim” (Maritime Power) yang sesungguhnya menjelang Indonesia Emas 2045.

Dengan membaca Nusantara Shield, Anda tidak hanya memahami ancaman, tetapi juga peluang luar biasa yang dimiliki Indonesia. Buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan panggilan untuk bertindak. Rear Admiral Rosihan Arsyad telah meletakkan fondasi pemikiran strategis yang dibutuhkan bangsa ini. Sekarang giliran kita—pembaca—untuk menjadikannya kenyataan. Jalesveva Jayamahe. Di laut kita jaya. Buku ini adalah kompas menuju kejayaan itu.


Buku Biografi Rosihan Arsyad dan buku karya Rosihan Arsyad. (FOTO: Maspril Aries)

Buku lainnya berjudul “Indonesia dalam Pusaran Arus Samudra” sebuah karya seminal yang lebih dari sekadar kumpulan esai; ia adalah sebuah dokumen strategis, seruan bangsa, dan peta jalan yang ambisius untuk masa depan maritim Indonesia. Lahir dari kegelisahan seorang prajurit yang telah mengabdikan hidupnya di laut, buku ini menawarkan sebuah refleksi yang jujur, tajam, dan mendalam tentang paradoks mendasar yang dihadapi bangsa ini: sebuah negara dengan 70% wilayahnya adalah air, namun selama berdekade berpikir dan bertindak seolah-olah hidup di sebuah benua.

Buku ini sangat layak dibaca karena berhasil mengurai kompleksitas isu maritim ke dalam kerangka berpikir yang jernih, mengkritik fondasi mentalitas dan tata kelola bangsa, serta menawarkan visi komprehensif yang bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah rencana aksi yang terstruktur.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kerangka analitis yang elegan dan mudah dipahami. Buku ini juga berisi kritik fundamental terhadap dua penyakit kronis bangsa. Pertama, “mentalitas kontinental” yang diwariskan dari era kolonial, di mana laut dipandang sebagai “halaman belakang” bukan sebagai fondasi eksistensi.

Kedua, fragmentasi birokrasi maritim yang Arsyad gambarkan dengan metafora brilian: “Orkestra Tanpa Dirigen”. Menurutnya, betapa laut kita dikelola oleh setidaknya 13 instansi dengan kewenangan tumpang tindih, yang masing-masing berjalan sendiri dengan ego sektoral. Hasilnya bukan simfoni kebijakan, melainkan “kakofoni” yang menyebabkan biaya logistik nasional membengkak (23,5% dari PDB) dan menciptakan celah keamanan yang dimanfaatkan oleh kejahatan transnasional.

Rosihan Arsyad menawarkan solusi, dengan memperkenalkan revolusi pemikiran, peralihan dari memandang laut sebagai “Wilayah” yang statis ke “Domain” yang dinamis dan terinterkoneksi. Ia menawarkan cetak biru Lima Dimensi Sistem Maritim Nasional—Kedaulatan & Keamanan, Ekonomi & Logistik, Energi & Sumber Daya, Teknologi & Data, serta Lingkungan & Ketahanan Iklim—sebagai fondasi untuk membangun kebijakan yang holistik. Dengan merujuk pada praktik terbaik negara maritim maju seperti Jepang (kepemimpinan kebijakan terpusat) dan Norwegia (integrasi industri laut), buku ini menunjukkan bahwa jalan keluar ada, asalkan ada kemauan politik untuk berubah. (maspril aries)

#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *