Home / Opini / Hari Buku Anak Sedunia: Antara Gawai, Kemalasan Membaca, dan Ilusi Literasi Digital

Hari Buku Anak Sedunia: Antara Gawai, Kemalasan Membaca, dan Ilusi Literasi Digital

Oleh: Udo Z Karzi (Jurnalis-Penulis, tinggal di Bandar Lampung)

SETIAP tanggal 2 April, dunia memperingati “International Children’s Book Day” atau Hari Buku Anak Sedunia. Namun, pertanyaannya sederhana sekaligus menggelitik: siapa yang tahu, dan lebih jauh lagi, siapa yang peduli? Peringatan ini nyaris tenggelam di tengah hiruk-pikuk perayaan lain yang lebih populer, bahkan di kalangan pendidik sekalipun. Padahal, momen ini semestinya menjadi titik refleksi bersama tentang masa depan budaya baca anak—sebuah fondasi yang menentukan kualitas peradaban di masa depan.

Artikel “Tantangan Buku Anak di Era Digital” (Kompas, 6 April 2026) menyoroti satu hal yang kerap dianggap sebagai biang keladi: gawai. Anak-anak disebut semakin jauh dari buku karena ketergantungan pada perangkat digital. Argumen ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya tepat. Menyederhanakan persoalan pada “era digital” justru berisiko menutup akar masalah yang lebih mendasar, yakni kemalasan membaca dan kemalasan berpikir—sebuah penyakit kultural yang diwariskan lintas generasi.

Masalah utama bukanlah pada zamannya—apakah digital, analog, atau pascadigital—melainkan pada habitus. Orangtua yang tidak memiliki tradisi membaca hampir pasti tidak akan melahirkan anak-anak yang gemar membaca. Kebiasaan ini diturunkan, bukan melalui ceramah atau nasihat, melainkan melalui teladan sehari-hari. Anak yang tumbuh di rumah tanpa buku, tanpa percakapan reflektif, dan tanpa kebiasaan berpikir kritis, akan menganggap membaca sebagai aktivitas asing, bahkan membosankan.

Dengan kata lain, gawai hanyalah medium. Ia menjadi dominan karena kekosongan yang ditinggalkan oleh buku. Ketika buku tidak hadir sebagai pilihan yang menarik, maka layar akan mengambil alih. Maka, menyalahkan teknologi sama saja dengan menyalahkan bayangan, sementara benda aslinya kita abaikan.

Lebih jauh, dalam beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan semacam euforia terhadap “literasi digital”. Istilah ini dielu-elukan sebagai solusi masa depan, seolah-olah kemampuan mengakses informasi melalui layar identik dengan kemampuan berpikir kritis. Padahal, literasi digital sering kali berhenti pada سطح ( sath, permukaan) konsumsi cepat: membaca singkat, scrolling tanpa refleksi, dan pemahaman yang dangkal.

Literasi digital tanpa fondasi literasi konvensional ibarat membangun rumah tanpa pondasi. Anak-anak mungkin terampil mengoperasikan perangkat, tetapi tidak terlatih untuk membaca panjang, memahami kompleksitas, atau menulis secara runtut. Mereka menjadi pengguna informasi, bukan pengolah makna.

Karena itu, penting untuk mengembalikan perhatian pada literasi konvensional: membaca buku cetak dan menulis dengan tangan. Ini bukan nostalgia, melainkan kebutuhan kognitif. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa membaca teks cetak membantu pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan membaca di layar. Demikian pula, menulis tangan terbukti memperkuat daya ingat dan kemampuan berpikir.


Ilustrasi Hari Buku Anak Se-Dunia 2026. (FOTO: AI)

Generasi 1970–1990-an di Indonesia dapat menjadi contoh konkret bahwa budaya baca tidak mustahil dibangun. Pada masa itu, pemerintah melalui proyek Inpres Perbukuan menghadirkan buku-buku ke sekolah-sekolah secara masif. Buku tidak menjadi barang mewah, melainkan bagian dari keseharian. Perpustakaan sekolah hidup, taman bacaan bermunculan, dan ekosistem perbukuan—penulis, penerbit, hingga pembaca—mengalami gairah yang nyata.

Kita tentu tidak perlu kembali ke masa Orde Baru dalam arti politis, tetapi ada pelajaran penting dari kebijakan tersebut: negara hadir secara serius dalam membangun budaya baca. Hari ini, yang kita butuhkan bukan sekadar kampanye literasi, melainkan kebijakan konkret yang memudahkan akses anak-anak terhadap buku.

Pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu memastikan bahwa setiap sekolah memiliki perpustakaan yang layak, bukan sekadar ruangan formalitas. Perpustakaan desa dan perpustakaan umum juga harus dihidupkan kembali sebagai ruang interaksi sosial dan intelektual. Buku harus mudah diakses, murah, dan relevan dengan dunia anak-anak.

Lebih dari itu, guru dan orangtua harus menjadi agen utama dalam membangun kebiasaan membaca. Program sederhana seperti 15 menit membaca sebelum pelajaran dimulai, sebagaimana diusulkan dalam artikel Kompas, patut diapresiasi. Namun, program ini tidak akan efektif jika tidak disertai dengan perubahan budaya di rumah. Orangtua harus kembali menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan keluarga, bukan sekadar alat pendidikan formal.

Kita juga perlu berhenti mengukur keberhasilan literasi semata-mata dari angka indeks atau statistik. Budaya baca tidak bisa direduksi menjadi skor. Ia adalah proses panjang yang melibatkan emosi, kebiasaan, dan lingkungan. Anak yang membaca karena kewajiban berbeda dengan anak yang membaca karena kebutuhan.

Dalam konteks ini, Hari Buku Anak Sedunia seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni. Ia harus menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa krisis membaca bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan budaya. Kita tidak sedang melawan gawai, tetapi melawan kemalasan berpikir yang telah lama berakar.

Jika kita terus-menerus berlindung di balik alasan “era digital”, maka kita sedang menunda solusi yang sesungguhnya. Sebaliknya, jika kita berani mengakui bahwa masalahnya ada pada diri kita sendiri—pada kebiasaan, pada pola asuh, pada prioritas—maka langkah perbaikan akan menjadi lebih jernih.

Akhirnya, masa depan buku anak tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh sejauh mana kita, sebagai orang dewasa, bersedia membaca, berpikir, dan memberi teladan. Anak-anak tidak membutuhkan ceramah tentang pentingnya membaca; mereka membutuhkan lingkungan yang membuat membaca menjadi sesuatu yang wajar, menyenangkan, dan bermakna.

Hari Buku Anak Sedunia mungkin hanya diperingati oleh segelintir orang hari ini. Namun, jika kita serius membangun budaya baca, bukan tidak mungkin suatu saat nanti peringatan ini akan menjadi milik bersama—bukan karena dipromosikan secara besar-besaran, melainkan karena membaca telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. ●

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *