Gubernur Alex Noerdin dan poster film “Pengejar Angin” serta film “Gendeng Sriwijaya”. (FOTO: Kolase AI)
KINGDOMSRIWIJAYA – Ahad, 5 April 2026 lalu bertempat di Masjid Taqwa Palembang, ribuan warga Sumatera Selatan (Sumsel) menghadiri doa bersama 40 hari wafatnya Alex Noerdin Gubernur Sumatera Selatan periode 2008-2013 & 2013-2018 yang meninggal dunia 25 Februari 2026. Sepekan sebelumnya, 29 Maret 2026, saya berkesempatan mengikuti diskusi terpumpun atau Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Dinamika Perfilman Daerah: Dari Tantangan Menuju Kemungkinan Baru” di Guns Cafe, yang letaknya tak jauh dari Masjid Taqwa, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Apa keterkaitannya, acara 40 hari wafatnya Alex Noerdin Gubernur Sumatera Selatan dengan FGD tentang film tersebut? Pada FGD tersebut yang diprakarasi Della Rosa seorang anak muda Sumsel, pelaku budaya penerima Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan yang akan membuat film dokumenter serta penulisan buku berjudul “Maybe, Film Industry is Not for Everyone” (Mungkin, Industri Film Bukan Untuk Semua Orang) ada mencuat nama Alex Noerdin.
Pada diskusi yang mengundang penggiat kesenian dan kebudayaan serta pembuat film yang sering disebut “filmmaker “dan jurnalis tersebut, nama Alex Noerdin menjadi bagian dari diskusi karena kontribusi dalam bidang kebudayaan dan kesenian di Sumsel. Jika membahas tentang perfilman atau sinema di Sumsel maka itu tidak akan terlepas dari nama Gubernur Sumsel Alex Noerdin, karena pada masa kepemimpinannya sebagai kepala daerah lahir dua film layar lebar berjudul “Pengejar Angin” dan “Gending Sriwijaya”. Jadi jika ingin membuat buku tentang industri film di Sumatera Selatan tidak bisa lepas dari ide dan gagasan yang lahir dari Alex Noerdin.
Saat itu di bawah langit Sumatera Selatan yang terbentang luas, ada cerita-cerita yang menunggu untuk diceritakan — bukan hanya mitos-mitos lama tentang kejayaan maritim dan perdagangan, tetapi juga kisah-kisah masa kini tentang pergulatan identitas, ambisi pembangunan, dan cara sebuah pemerintahan daerah memanfaatkan seni untuk berbicara pada dunia. Dua film nasional yang muncul pada awal dekade 2010-an — “Pengejar Angin” (2011) dan “Gending Sriwijaya” (2013) — keduanya bukan sekadar proyek sinematik. Ini adalah perwujudan strategi pembangunan budaya dan seni, sebuah usaha memahat citra daerah lewat layar lebar, sebuah kolaborasi yang menempatkan pemerintah provinsi dan dunia perfilman di satu panggung.

Alex Noerdin, yang menjabat sebagai Gubernur Sumatera Selatan pada masa itu, melihat peluang besar pada industri kreatif — terutama film. Ide dasarnya sederhana: film dapat menjadi medium kuat untuk mempromosikan Sumatera Selatan, budaya dan alamnya serta even-even besar seperti SEA Games yang waktu itu juga hendak diberi sorotan.
Di benak para pembuat kebijakan, sinema bukan sekadar hiburan, ia adalah alat diplomasi lunak, pameran budaya, dan iklan turisme yang elegan. Sebuah film yang menampilkan lanskap-lanskap indah, kebudayaan lokal, serta cerita yang menyentuh hati, akan memikat penonton untuk datang, bertualang, dan mengingat. Ambisi ini tak hanya tentang pemasukan dari wisata, tetapi juga penguatan identitas lokal, menampilkan Sumatera Selatan bukan sebagai titik di peta, melainkan sebagai ruang hidup yang kaya sejarah, seni, dan manusia.
Sumatera Selatan sendiri memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang pantas untuk diceritakan. Dalam banyak hal, dua film itu hanyalah awal dari perjalanan panjang. Yang paling penting bukanlah seberapa megah produksi itu tampak, melainkan apakah kisah-kisah lokal yang diangkat mampu memberi ruang bagi warga untuk menuturkannya kembali — di layar, di festival, di ruang kelas, dan di cerita keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kolaborasi
Untuk mewujudkan gagasan besar itu, Pemprov Sumsel perlu mitra yang mampu menerjemahkan visi menjadi bahasa visual yang berdaya tarik nasional. Nama yang dipercaya adalah Hanung Bramantyo, sutradara yang kala itu telah memiliki reputasi kuat di industri film Indonesia. Kolaborasi antara pemerintahan dan sutradara papan atas ini menandai peralihan baru dalam tata kelola promosi daerah — bukan sekadar baliho atau iklan di televisi, melainkan film layar lebar yang diproduksi dengan dukungan pemerintah.
Hanung Bramantyo, yang dikenal sebagai sutradara yang mampu menangani beragam genre dari drama keluarga, religi, hingga cerita kehiduoan sosial. Hanung punya nada estetika yang kuat, dia mampu menangkap nuansa lokal namun tetap menjaga bahasa film yang dapat diterima khalayak luas. Hanung menjadi sutradara yang bisa menjaga keseimbangan: memproduksi film yang mempromosikan daerah, namun tetap berkualitas artistik dan tak kehilangan kredibilitas.

Kolaborasi ini dimulai dengan sebuah pertemuan antara dua dunia yang berbeda yaitu birokrasi pemerintahan dan industri kreatif. Alex Noerdin, sebagai inisiator, memiliki visi yang jelas. Ia ingin Sumatera Selatan dikenal bukan hanya sebagai penghasil batu bara, migas, karet atau sawit, tetapi sebagai destinasi wisata yang eksotis dan pusat peradaban yang agung.
Namun, visi itu membutuhkan eksekusi artistik agar tidak terjebak menjadi “film propaganda” yang membosankan. Untuk itulah, dibutuhkan sosok yang mampu menerjemahkan keinginan pemerintah menjadi bahasa sinema yang universal dan menggugah. Pilihan jatuh kepada Hanung Bramantyo.
Sosok Hanung hadir bukan sekadar sutradara, ia adalah salah satu maestro perfilman Indonesia yang dikenal mampu mengolah isu sosial dan budaya menjadi tontonan yang populer namun tetap memiliki bobot kualitas. Kehadiran Hanung dalam memproduksi film di Sumatera Selatan ini memberikan jaminan bahwa film-film yang akan diproduksi nantinya tidak hanya akan menjadi arsip pemerintah, tetapi benar-benar bisa bersaing di bioskop dan dinikmati oleh masyarakat luas.
Sinergi antara Alex Noerdin dan Hanung Bramantyo menciptakan sebuah pola kerja yang unik. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berperan sebagai fasilitator dan penyedia sumber daya, sementara Hanung diberikan kebebasan kreatif untuk mengemas potensi daerah tersebut ke dalam plot yang menarik.
“Pengejar Angin” & “Gending Sriwijaya”
Tahun 2011 adalah tahun yang sangat krusial bagi Sumatera Selatan. Provinsi ini dipercaya menjadi tuan rumah ajang olahraga terbesar di Asia Tenggara, SEA Games 2011. Tekanan dan ekspektasi sangat tinggi. Palembang harus bersolek, infrastruktur dipercepat, dan dunia harus tahu bahwa Sumatera Selatan siap menyambut tamu internasional.
Dalam momentum inilah, film pertama lahir, berjudul “Pengejar Angin”. Film ini tidak dirancang sebagai dokumenter perjalanan, melainkan sebuah drama yang membungkus promosi pariwisata dalam sebuah alur cerita yang menyentuh. Hanung Bramantyo mengambil pendekatan yang organik. Ia tidak sekadar menampilkan objek wisata, tetapi menjadikannya bagian dari perjalanan emosional karakter-karakternya.

Kamera bergerak menyusuri perbukitan hijau di Lahat. Penonton diajak melihat kemegahan alam yang jarang tersorot kamera nasional—lembah-lembah yang berkabut, sungai-sungai yang jernih, dan keramahan penduduk lokal yang masih menjaga tradisi. Lahat ditampilkan bukan sekadar titik koordinat di peta, melainkan sebuah ruang penuh misteri dan keindahan yang menunggu untuk ditemukan.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Palembang. Di sini, kontras antara alam liar Lahat dan dinamika urban Palembang ditampilkan dengan apik. Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, hingga kuliner pempek yang menggoda selera, hadir sebagai latar belakang yang memperkuat identitas lokal. “Pengejar Angin” juga menampilkan aktor besar Indonesia pada masa itu, ada Mathias Muchus, Lukman Sardi, Agus Kuncoro serta artis dan aktivis Wanda Hamidah.
“Pengejar Angin” menjadi alat diplomasi budaya yang efektif. Saat atlet dan ofisial dari berbagai negara datang untuk SEA Games, film ini hadir sebagai pengantar yang manis, membisikkan kepada dunia bahwa ada surga tersembunyi di Sumatera Selatan. Film ini berhasil mengubah persepsi; bahwa Sumsel bukan hanya tentang pertandingan olahraga, tetapi tentang angin yang membawa pesan keindahan, tentang pencarian jati diri, dan tentang kekayaan alam yang tak ternilai.
Film “Pengejar Angin” bukan film kaleng yang dibuat dengan biasa-biasa saja, ini film yang memang bermutu. Buktinya film ini pada Festival Film Indonesia (FFI) 2011 mampu meraih satu Piala Citra, Aktor Mathias Muchus yang berperan sebagai ayah dari Dapunta tokoh utama dari film ini sukses meraih penghargaan tertinggi film nasional untuk kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik. Dan Qausar HY berhasil meraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terpuji pada Festival Film Bandung (FFB) 2012.
Dua tahun kemudian, tahun 2013, jika “Pengejar Angin” adalah tentang keindahan fisik alam, hadi film kedua berjudul “Gending Sriwijaya” bercerita tentang kebesaran dan sejarah masa lalu.
Alex Noerdin dan Hanung Bramantyo ingin melangkah lebih jauh. Mereka tidak ingin hanya mempromosikan apa yang ada sekarang, tetapi ingin mengingatkan dunia tentang siapa Sumatera Selatan di masa lalu. Mereka ingin membangkitkan kembali memori tentang Kerajaan Sriwijaya—imperium maritim terbesar di Asia Tenggara yang pernah menjadi pusat pembelajaran agama Buddha dan perdagangan dunia.
“Gending Sriwijaya” hadir sebagai drama laga kolosal fiksi. Mengapa fiksi? Karena sejarah seringkali meninggalkan celah-celah kosong yang hanya bisa diisi oleh imajinasi kreatif. Film ini mengambil latar waktu pasca runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, sebuah era penuh gejolak di mana kekuasaan diperebutkan dan loyalitas diuji.

Tangkapan layar salah satu adegan film “Gending Sriwijaya”
Produksi film ini jauh lebih kompleks dibandingkan film sebelumnya. Dibutuhkan riset mendalam mengenai kostum, arsitektur bangunan kuno, hingga tata krama kerajaan masa itu. Hanung Bramantyo membangun dunia kolosal yang megah, dengan adegan-adegan laga yang koreografinya disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan kegagahan prajurit Sriwijaya.
Membuat film kolosal tidak mudah — apalagi di lokasi-lokasi yang menuntut logistik besar. Rencana syuting skala besar dalam Gending Sriwijaya menuntut koordinasi sumber daya, mulai dari bakat artis, kru, properti, kostum, hingga lokasi yang representatif. Pemerintah provinsi, sebagai penginisasi, memainkan peran penting dalam memfasilitasi produksi: dari izin, pengamanan lokasi, hingga pemasokan fasilitas.
Tetapi ada juga tantangan kreatif: bagaimana menggabungkan akurasi sejarah dengan kebutuhan drama? Sutradara dan penulis naskah harus membuat keputusan sulit: kapan mengikuti bukti sejarah, kapan melakukan penafsiran kreatif? Ketegangan seperti ini tidak unik di Indonesia, sementara film-film sejarah di seluruh dunia sering kali bergulat antara mantapnya teori sejarah dan kebutuhan dramaturgi. Ketika pemerintah terlibat, tekanan politik pun mungkin muncul, ada kecenderungan untuk memoles cerita agar lebih heroik, atau menutup aspek-aspek kontroversial. Untuk menjaga kredibilitas film, keputusan artistik ini harus diambil dengan cermat.
Gending Sriwijaya juga menjadi panggung bagi upaya revitalisasi budaya, kostum, tarian, musik pengiring yang mengambil inspirasi dari budaya lokal dimunculkan untuk memberi rasa otentik. Namun otentisitas ini seringkali menjadi kompromi antara bahan referensi yang tersedia (seringkali minim) dan kebutuhan produksi modern. Ketika sumber sejarah terbatas, imajinasi film mengambil peran besar — menciptakan versi visual Sriwijaya yang mungkin lebih mirip fiksi sejarah daripada dokumentasi akademik.
Untuk menarik minat penonton luas, film ini melibatkan nama-nama besar pada masa itu. Ada artis Julia Perez, yang saat itu berada di puncak popularitas, memberikan warna tersendiri dengan peran yang kuat dan karismatik. Sementara itu, Agus Kuncoro, aktor watak yang disegani, memberikan kedalaman emosional pada karakter yang dimainkannya. Perpaduan antara star power Julia Perez dan kualitas akting Agus Kuncoro membuat film ini memiliki daya tarik komersial sekaligus nilai seni.
Melalui “Gending Sriwijaya”, penonton diajak merenungi tentang kejayaan, kejatuhan, dan harapan. Film ini bukan sekadar tontonan perang, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana sebuah bangsa besar bisa runtuh jika kehilangan persatuan, dan bagaimana warisan budaya harus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

UU Perfilman
Bagi Alex Noerdin, kehadiran dua film layar lebar ini adalah upaya konkret dalam mengimplementasikan UU Perfilman 2009, di mana film digunakan untuk melestarikan nilai-nilai sejarah daerah.
Di era reformasi, walau ada UU No.33 Tahun 2009 yang menjadi landasan daerah untuk membuat film, namun banyak daerah tidak melakukannya. Sangat jarang ada pemerintah daerah yang berani mengalokasikan anggaran untuk produksi film layar lebar dengan standar industri nasional. Biasanya, pemerintah daerah hanya membuat video profil berdurasi 10 menit yang membosankan. Namun Gubernur Alex Noerdin melakukannya dengan membawa Hanung Bramantyo, Pemprov Sumsel menunjukkan bahwa mereka memahami perbedaan antara “iklan” dan “karya seni”. Mereka tidak ingin membuat iklan, mereka ingin membuat warisan (legacy).
Alex Noerdin seperti amat mengerti bahwa film adalah medium yang paling efektif untuk menciptakan emotional connection. Saat seseorang menonton “Pengejar Angin”, mereka tidak merasa sedang dipaksa untuk berwisata ke Lahat, tetapi mereka “merasakan” keinginan untuk berada di sana. Inilah kekuatan sinema. Citra Sumatera Selatan bergeser dari sekadar provinsi administratif menjadi sebuah destinasi yang memiliki cerita dan jiwa.
Selain itu, pada yang dilakukan Alex Noerdin di Sumatera Selatan ini menjadi contoh nyata bagaimana regulasi pemerintah pusat dapat dioptimalkan di tingkat daerah. UU Perfilman 2009 memberikan payung hukum, namun eksekusinya bergantung pada kemauan politik (political will) pemimpin daerah. Alex Noerdin menggunakan celah hukum ini untuk melakukan terobosan budaya.
Namun, tentu saja, perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Menggabungkan kepentingan birokrasi yang cenderung kaku dengan proses kreatif yang cair seringkali menimbulkan gesekan. Ada tantangan dalam hal distribusi film agar benar-benar sampai ke seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya menjadi konsumsi kalangan tertentu.
Legacy yang Tertinggal
Kini, bertahun-tahun setelah film-film tersebut dirilis, apa yang tersisa? Jika kita melihat ke belakang, “Pengejar Angin” dan “Gending Sriwijaya” mungkin bukan film dengan pendapatan tertinggi dalam sejarah bioskop Indonesia. Namun, keberhasilan mereka tidak boleh hanya diukur dengan angka box office. Keberhasilan mereka terletak pada keberanian untuk memulai.

Film-film ini telah membuka jalan bagi sineas dan filmmaker lokal di Sumatera Selatan untuk berani bermimpi. Mereka melihat bahwa daerah mereka bisa menjadi latar film layar lebar yang megah. Mereka melihat bahwa pemerintah bisa menjadi mitra dalam berkarya. Hal ini memicu tumbuhnya komunitas film pendek dan dokumenter di Palembang dan sekitarnya, yang mulai mengeksplorasi isu-isu lokal dengan cara yang lebih modern.
Lebih dari itu, film-film ini menjadi dokumen visual. Mereka merekam wajah Sumatera Selatan pada masa itu—semangat menyambut SEA Games, keasrian alam Lahat yang mungkin kini telah berubah, dan interpretasi artistik atas kejayaan Sriwijaya.
Kisah tentang kolaborasi Alex Noerdin dan Hanung Bramantyo adalah sebuah pengingat bahwa pembangunan sebuah daerah tidak boleh hanya terpaku pada pembangunan fisik. Jembatan yang megah, jalan tol yang mulus, dan gedung-gedung tinggi memang penting, tetapi Alex Noerdin melengkapinya dengan “cerita” tentang daerah Sumatera Selatan adalah apa yang akan diingat oleh generasi mendatang.
Sumatera Selatan telah membuktikan bahwa dengan memanfaatkan UU Perfilman 2009, sebuah daerah bisa bertransformasi menjadi produser budaya. Mereka tidak hanya menjadi objek yang difilmkan oleh orang luar, tetapi menjadi subjek yang menceritakan kisahnya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, kita berharap akan ada lebih banyak “Pengejar Angin” dan “Gending Sriwijaya” baru. Film-film yang tidak hanya mempromosikan wisata, tetapi juga menggali lebih dalam tentang kemanusiaan, konflik sosial, dan harapan masyarakat di Bumi Sriwijaya. Karena pada akhirnya, sebuah daerah akan tetap hidup selama ceritanya masih diceritakan, dan sinema adalah cara paling indah untuk menjaga cerita itu tetap abadi.
Alex Noerdin telah pergi selamanya ke haribaan Ilahi dan matahari telah terbenam di ufuk Palembang (Sumsel), tetapi cahaya dari layar perak akan terus memancarkan pesona Sumatera Selatan kepada siapa saja yang bersedia menonton dan merasakannya. Alex Noerdin telah memulainya menanti mereka yang ingin melanjutkannya. (maspril aries)





