Pelukis Afnan Malay menyerahkan lukisan kepada budayawan Taufik Rahzen setelah membuka pameran lukisan Rup 3 Rupa di Jiwa Jawi Gallery, Bantul, Yogyakarta. (FOTO: Fb @afnan malay).
KINGDOMSRIWIJAYA, Yogyakarta – Tiga seniman lintas disiplin, Afnan Malay, Kaji Habeb, dan Luwi Darto, menyatukan tafsir visual mereka dalam pameran bertajuk “Rupa 3 Rupa” yang digelar di Jiwa Jawi Gallery, Bantul, Yogyakarta, pada 3–26 April 2026. Pameran ini dibuka budayawan Taufik Rahzen dan menghadirkan pembacaan reflektif atas realitas sosial, tubuh, dan ingatan melalui medium seni rupa.
Kurator Edo Pop menyebut pameran ini sebagai pertemuan tiga bahasa artistik yang berbeda namun saling bersinggungan. “Mereka datang dari latar yang beragam—puisi, teater, hingga seni rupa—tetapi bertemu pada kegelisahan yang sama: bagaimana manusia merespons perubahan zaman,” ujarnya.
Afnan Malay, yang dikenal sebagai penyair sekaligus pelukis, menghadirkan karya-karya yang lahir dari pengalaman personal dan kontemplasi panjang. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini sebelumnya menempuh pendidikan seni rupa di Yogyakarta. Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi dan prosa, serta mengikuti residensi internasional di Chili (2022) dan Kazakhstan (2024). Pada 2025, ia menerima Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan untuk kategori penciptaan karya kreatif inovatif. Dalam beberapa tahun terakhir, Afnan juga dikenal sebagai penyintas stroke yang terus berkarya.

Sementara itu, Kaji Habeb menampilkan eksplorasi visual yang berakar dari praktik teater dan penciptaan wayang kontemporer. Ia dikenal melalui karya “Wayang Mikael”, yakni wayang berbahan mika yang berfungsi sebagai medium refleksi dan pengingat. Lulusan ISI Yogyakarta dan UIN Sunan Kalijaga ini aktif berpameran di dalam dan luar negeri, termasuk di Arab Saudi, Jepang, dan Malaysia. Dalam “Rupa 3 Rupa”, Kaji menghadirkan karya yang memadukan simbol, spiritualitas, dan kritik sosial.
Adapun Luwi Darto, yang selama ini dikenal di dunia teater sebagai sutradara, aktor, dan penulis naskah, menghadirkan sisi lain dirinya melalui lukisan. Pendiri Teater Embrio ini telah lama aktif dalam berbagai pementasan, baik di Yogyakarta maupun luar kota. Dalam beberapa tahun terakhir, ia intens mengembangkan praktik seni rupa dan telah mengikuti puluhan pameran di berbagai ruang seni.
“Rupa Rupa” tidak sekadar menampilkan karya, tetapi juga menjadi ruang dialog antar medium dan pengalaman hidup. Ketiganya menawarkan cara pandang yang personal sekaligus kolektif dalam membaca dinamika sosial hari ini.
Pameran yang berlangsung di kawasan Jiwa Jawi Gallery, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul milik penyair Sitok Srengenge ini terbuka untuk publik dan diharapkan menjadi ruang pertemuan antara seniman, penikmat seni, serta masyarakat luas yang ingin menyelami makna di balik rupa. (Christian Saputro – Yogyakarta)





