Home / Literasi / Buku Menyemai Bibit Perlawanan di “Lahan” Pers Mahasiswa

Buku Menyemai Bibit Perlawanan di “Lahan” Pers Mahasiswa

Buku “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan”. (FOTO: Maspril Aries)

KINGDOMSRIWIJAYA – Awal Maret 2026 sejumlah mantan aktivis pers mahasiswa era 80 dan 90-an menyelenggarakan buka puasa bersama Ramadan 1447 H. Yang menarik dari acara ini, selain mereka yang hadir, adalah ada peluncuran buku. Buku yang meluncur ke pembacanya berjudul “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan”. Sebuah buku yang mendokumentasikan perjalanan hidup dan perjuangan aktivis pers mahasiswa pada masa Orde Baru, mereka adalah pegiat pers mahasiswa dari kampus Universitas Gajah Mada (UGM).

Di antara mereka yang hadir ada Anies Baswedan yang menulis di laman Instagramnya @aniesbaswedan, “Undangan buka bersama memang banyak. Tapi baru kali ini bukber-nya sekaligus meluncurkan buku. “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan” dari Kagama Persma UGM. Kumpulan cerita alumni pers mahasiswa UGM lintas generasi.

Mereka adalah intelektual pejuang yg di masa mudanya, melalui tulisan2nya yg solid, tajam dan berani telah konsisten menyuarakan perjuangan demokrasi, keadilan dan anti korupsi. Di era penuh tekanan rejim, aktivis pers mahasiswa sering ketemu tekanan tapi mereka bertahan dan tak goyah”.

Apa yang ditulis Calon Presiden (Capres) pada pemilihan Presiden Republik Indonesia tahun 2024 tersebut adalah fakta historis yang terjadi pada masa itu, pers mahasiswa hadir dan bergerak di bawah tekanan rezim Orde Baru yang jemarinya sampai masuk ke dalam kampus. Buku ini menjadi catatan sekaligus dokumentasi terhadap apa yang terjadi masa itu.

Buku ini bisa menjadi bukti bahwa mereka-mereka itu memang aktivis mahasiswa masa itu yang bergerak melalui pers mahasiswa. Perjuangan mereka sebagai aktivis mahasiswa tidak sia-sia saja karena ada dokumentasi tertulis dalam sebuah dokumen berbentuk buku. Minimal sejarah mencatat nama aktivis mahasiswa dalam sebuah buku seperti buku “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan”. Para mantan aktivis pers mahasiswa dari kampus lain di Indonesia perlu melakukan hal yang sama, mencatat kembali dan mendokumentasikan aktivitasnya pada masa yang lalu agar sejarah pers mahasiswa bisa diwariskan.


Abdulhamid Dipramono pendiri Majalah Balairung memberikan buku “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan” kepada Anies Baswedan yang juga aktivis gerakan mahasiswa. (FOTO: IG @aniesbaswedan)

Saat buku ini diluncurkan saya sempat melihatnya pada laman media sosial (medsos) teman-teman yang hadir pada buka puasa bersama tersebut. Saya pun tergerak berminat untuk memiliki buku ini. Bagaimana caranya untuk mendapatkan buku yang tebalnya 248 halaman tersebut? Cara tercepat yang terlintas adalah menghubungi tiga orang teman, Andi Arief, Rommy Fibri dan Agus Sudibyo yang hadir pada acara tersebut. Andi Arief menjawab melalui pesan yang dikirim WhatsApp, “Nanti gua mintain.” Sementara pesan yang dikirim ke Rommy mendapat jawaban, “He..hee alamat dimana?” Pada 3 April 2026, datang kiriman paket bukunya yang dikirim dari Kagama Persma yang beralamat di Jalan Pemuda, Pulogadung, Jakarta Timur. Siapa pun yang mengirim buku “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan”, terima kasih.

Buku Pers Mahasiswa

Buku-buku tentang pers mahasiswa yang terbit sejak masa Orde Baru sampai saat ini, jumlahnya mungkin saja tidak banyak, masih bisa dihitung dengan jari, tidak butuh kalkulator. Walau sejarah atau lini masa mencatat pers mahasiswa, atau pers (surat kabar) yang diterbitkan mahasiswa Indonesia sudah ada sejak masa kolonial, ditandai dengan terbitnya koran Jong Java yang diterbitkan oleh organisasi mahasiswa nasional dan “Indonesia Merdeka” yang diterbitkan mahasiswa yang keliah di Belanda, jumlah buku tentang pers mahasiswa tak banyak.

Dari jumlah buku yang tidak banyak tersebut, tercatat ada beberapa buku yang kerap jadi rujukan bacaan aktivis pers mahasiswa sera 80 – 90 an. Seperti buku yang ditulis tokoh pers mahasiswa Amir Effendi Siregar berjudul “Pers Mahasiswa Indonesia Patah Tumbuh Hilang Berganti” yang terbit tahun 1983. Buku in menjadi rujukan wajib aktivis pers mahasiswa masa itu, mungkin juga sekarang?

Amir Effendi Siregar menjadi orang pertama yang secara khusus menulis buku tentang perkembangan pers mahasiswa di Indonesia dari masa ke masa. Dalam bukunya, “Bang Amir” demikian aktivis pers mahasiswa memanggilnya, menulis dalam buku tersebut, “Belum pernah ada suatu penulisan tentang pers mahasiswa Indonesia melalui studi khusus, melihat dan mengamati perkembangan pers mahasiswa Indonesia dari masa ke masa.”


Anies Baswedan (kedua dari kanan) dan Andi Arief (kiri) pada diskusi peluncuran buku “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan”. (FOTO: IG @aniesbaswedan)

Buku berikutnya yang juga kerap menjadi rujukan aktivis pers mahasiswa adalah “Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia – Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974” karya penulis asing, Francois Raillon dari Prancis yang diterjemahkan Nasir Tamara. Buku ini terbit tahun 1985. Buku ini sejarah politik Indonesia modern dengan menyoroti gerakan mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari peran media masa yang dikelola mahasiswa. Media yang terbit pada periode transisi Orde Lama ke Orde Baru bernama koran mingguan “Mahasiswa Indonesia” yang terbit di Bandung. François Raillon menempatkan koran Mahasiswa Indonesia sebagai salah satu instrumen penting dalam artikulasi ideologi mahasiswa.

Menulis penulis Prancis yang sempat mengajar di ITB tersebut, bahwa mahasiswa tidak hanya bergerak melalui demonstrasi jalanan, tetapi juga melalui produksi wacana. Pers mahasiswa menjadi arena strategis untuk menyebarkan gagasan, membangun opini publik, dan bahkan memengaruhi arah kekuasaan. Dalam konteks ini, Mahasiswa Indonesia—terutama yang berkembang di Bandung—menjadi contoh penting bagaimana pers mahasiswa bertransformasi menjadi aktor politik yang signifikan.

Menurut Raillon bahwa mahasiswa pada periode 1966 bukan sekadar kekuatan moral, tetapi juga kekuatan intelektual dan ideologis. Gagasan mereka “secara menyolok terbaca dalam mingguan Mahasiswa Indonesia” yang secara aktif menyerukan rasionalisasi dan modernisasi negara. Hal ini menunjukkan bahwa pers mahasiswa bukan hanya media informasi, melainkan juga alat perjuangan ideologis. Isi koran Mahasiswa Indonesia adalah mengkritik kebijakan Orde Lama, mendukung agenda perubahan politik dan menyebarkan ide modernisasi dan pembangunan. Dengan kata lain, pers mahasiswa berfungsi sebagai “ruang publik alternatif” yang memungkinkan mahasiswa berpartisipasi dalam diskursus politik nasional.

Pada era 1990-an lalu muncul buku-buku tentang pers mahasiswa yang ditulis pelaku atau aktivis pers mahasiswa itu sendiri. Seperti buku “Perlawanan Pers Mahasiswa Protes Sepanjang NKK/ BKK” yang ditulis Didik Supriyanto aktivis pers mahasiswa dari Majalah Balairung UGM. Dalam buku yang diangkat dari skripsinya di Fisipol UGM, Didik menulis, pers mahasiswa bukan sekadar ruang belajar jurnalistik, melainkan arena perlawanan politik yang subtil, intelektual, dan strategis. Salah satu tesis utama buku ini adalah bahwa pers mahasiswa memiliki fungsi ganda. Fungsi jurnalistik yakni menyampaikan informasi dan fungsi politis yakni menjadi alat kritik dan perlawanan. Pers mahasiswa tidak bisa dipahami hanya sebagai media biasa. Ia adalah produk dari aktivisme mahasiswa, sehingga secara inheren memiliki dimensi politik.


Buku “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan” dan buku lain tentang pers mahasiswa. (FOTO: Maspril Aries)

Buku lainnya tentang pers mahasiswa adalah “Pers Mahasiswa & Permasalahan Operasionalisasinya” yang ditulis Ana Nadhya Abrar dan sekarang guru besar di Fisipol UGM terbit tahun 1992.Buku pers mahasiswa yang terbit pada era reformasi adalah “Menapak Jejak Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia” ditulis Moh. Fathoni, dan kawan-kawan terbit tahun 2012.

Pers Mahasiswa Laboratorium

Kembali ke “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan”, buku ini terbit dengan Prolog ditulis Agus Sudibyo mantan aktivis pers mahasiswa yang kini menjadi Ketua Dewan Pengawas LPP TVRI (2023-2028) dan Epilog ditulis Taufik Rahzen mantan aktivis mahasiswa UGM yang kini dikenal sebagai budayawan.

Sementara mantan aktivis pers mahasiswa yang kata, pikiran dan tindakannya ada dalam buku ini, ada Abdulhamid Dipramono yang menjadi motor terbitnya majalah Balairung UGM, Abdul Rahman Ma’mun yang pernah menjabat anggota Komisi Informasi (KI) Pusat seperti halnya Abdulhamid juga pernah menjadi Ketua KI Pusat (2013 – 2017). Kemudian Agung Suprihanto, Afnan Malay yang kini menjadi sastrawan dan pelukis, juga ada Andi Arief yang pernah menjadi aktivis pers mahasiswa menjadi Pemimpin Umum Majalah Sintesa yang diterbitkan Fisipol UGM tahun 1994.

Ada juga M Thoriq mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM yang tercatat sebagai salah seorang pendiri Majalah Balairung bersama Abdulhamid Dipramono. Thoriq dikenal sebagai aktivis pers mahasiswa yang kerap menemui teman-teman aktivis pers mahasiswa di daerah (luar Yogyakarta). Ciri khasnya, selalu membawa ransel besar seperti seorang pencinta alam. Tentu ada juga dua orang mantan aktivis pers mahasiswa yang ada dalam kabinet Presiden Prabowo Subianto, yaitu Nezar Patria dan Mugiyanto Sipin.

Nezar yang pernah menjadi Pemimpin Umum Majalah Pijar terbitan Fakultas Filsafat kemudian menjadi wartawan di beberapa media massa nasional dan sempat menjadi anggota Dewan Pers kini sebagai Wakil Menteri Komdigi. Sedangkan Mugiyanto yang sempat menjadi aktivis pers mahasiswa di Majalah Dian Budaya Fakultas Sastra kini sebagai Wakil Menteri HAM.


Buku-buku tentang pers mahasiswa yang pernah terbit. (FOTO: Maspril Aries)

Agus Sudibyo dalam prolog buku ini menulis, “Pers mahasiswa jelas merupakan laboratorium keterlibatan sosial sekaligus kepemimpinan. Ketika seorang mahasiswa menulis untuk penerbitan kampus atau terlibat dalam gerakan mahasiswa, ia sesungguhnya sedang membayangkan diri berada dalam lanskap sosial-politik yang nyata”.

Menurut Agus yang juga pernah menjadi anggota Dewan Pers, buku ini mengajak untuk melihat tiga dimensi, yaitu pengalaman pelibatan diri dalam lingkup pers serta gerakan mahasiswa, jejak profesionalisme ketika idealisme di kampus dterjemahkan ke dunia nyata yang kompleks, dan refleksi tentang bagaimana semestinya pers mahasiswa bertransformasi di era sekarang.

Pers mahasiswa era 80-an dan 90-an telah memberikan kontribusi besar dalam membangun kesadaran kritis di kalangan mahasiswa sampai saat ini. Melalui tulisan-tulisan mereka, pers mahasiswa sejak masa itu sampai tumbangnya Orde Baru telah berkontribusi mengedukasi pembaca tentang isu politik, mengajak berpikir kritis dan menantang narasi resmi negara. Dalam istilah Didik Supriyanto, “Hal ini menunjukkan bahwa pers mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai media, tetapi juga sebagai institusi pendidikan alternatif”.

Di bawah tekanan Orde Baru yang masuk sampai ke kampus-kampus di Indonesia, pers mahasiswa hadir sebagai bentuk “gerakan sunyi” (silent movement). Mereka berbeda dengan demonstrasi yang bersifat terbuka dan konfrontatif, pers mahasiswa bekerja melalui produksi wacana, penyebaran ide dan pembentukan opini. Gerakan ini tidak selalu terlihat, tetapi memiliki dampak jangka panjang. Ia membentuk cara berpikir mahasiswa, mempengaruhi diskursus publik, dan secara perlahan menggerakkan perubahan.

Masa itu pers mahasiswa hadir dengan mengembangkan gaya penulisan yang khas, ironi dan satire, metafora politik dan kritik implisit. Strategi ini memungkinkan mereka untuk tetap kritis tanpa langsung berhadapan dengan aparat negara. Dalam perspektif teori komunikasi politik, ini dapat dilihat sebagai bentuk “hidden transcript”—yakni cara kelompok subordinat menyampaikan kritik secara terselubung.

Affan Gaffar dosen Fisipol UGM dalam kata pengantar buku “Perlawanan Pers Mahasiswa Protes Sepanjang NKK/ BKK” menulis “Kita memahami pentingnya gerakan pers mahasiswa dalam hal memberikan kerangka konseptual (pemikiran alternatif), baik bagi penyadaran masyarakat maupun mahasiswa sendiri”. Buku “Bibit Perlawanan Kampus: Kata, Pikiran, Tindakan” yang terbit edisi perdana Maret 2026 telah mencatat dan mendokumentasikan semuanya. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *