Home / Budaya / Usmar Ismail Penjaga Layar Perak Bangsa yang Merajut Revolusi di Balik Kamera (Hari Film Nasional – 30 Maret 2026)

Usmar Ismail Penjaga Layar Perak Bangsa yang Merajut Revolusi di Balik Kamera (Hari Film Nasional – 30 Maret 2026)

Bersama patung figuratif tokoh perfilman Indonesia dari kiri Usmar Ismail, Djamaluddin Malik, dan dua artis Indonesia masa lalu Titin Soemarni dan Rukiah. (FOTO: Muhammad Rifky)

KINGDOMSRIWIJAYA – Malam itu, pertengahan tahun 1950, Istana Negara di Jakarta masih terasa baru. Presiden Sukarno baru beberapa bulan menempati istana setelah kedaulatan Republik Indonesia dipulihkan. Lampu-lampu kristal berkelap-kelip, kursi-kursi empuk berderet rapi, dan para pemuka bangsa – menteri, jenderal, seniman, duduk tegang menanti.

Pandangan mereka terfokus ke layar putih besar, yang menampilkan gambar-gambar pertama muncul, barisan tentara yang lelah berjalan kaki melintasi hutan Jawa, melangkah dengan darah dan doa yang bercampur dalam satu nafas revolusi. Hati sutradara muda itu yang berusia 29 tahun berdebar, tangannya dingin, mata tak lepas dari layar. “Ada-ada saja kesalahan yang saya lihat”, katanya setelah gambar itu menghilang.

Itulah malam perdana pemutaran film berjudul Darah dan Doa, atau The Long March. Film Indonesia pertama yang diputar di kediaman Bung Karno. Bukan sekadar film. Itu pengakuan pertama bagi sebuah bangsa yang baru lahir.

Sutradara muda itu, Usmar Ismail berdiri di sana, diam, tapi dalam hatinya ada badai. Film itu lahir dari semangat yang meluap, dari kantong kosong, dari peralatan primitif, dari mimpi yang tak mau mati. “Saya lebih senang menganggap Darah dan Doa sebagai film saya yang pertama, yang seratus persen saya kerjakan dengan tanggung jawab sendiri”, tulisnya di majalah Intisari tahun 1963. Dua film sebelumnya – Harta Karun dan Tjitra – dibuat untuk perusahaan Belanda South Pacific Film Corporation. Ia merasa terkekang, seperti burung di sangkar emas. Kini, dengan Perfini yang ia dirikan, pada 30 Maret 1950 pengambilan gambar pertama dimulai, ia bebas. Bebas menulis sejarah dengan cahaya proyektor.

Kisah Usmar Ismail bukan sekadar riwayat seorang sutradara. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah bangsa menemukan wajahnya di layar perak. Dari Bukittinggi yang hijau hingga Yogyakarta yang bergolak, dari panggung sandiwara Maya hingga studio sederhana di Purwakarta, Usmar merajut nasionalisme bukan dengan pedang, tapi dengan kamera. Ia tak hanya membuat film. Ia mendirikan industri, mendidik generasi, dan mengajarkan bahwa film bukan hiburan murah, melainkan cermin jiwa bangsa.

Usmar Ismail lahir tanggal 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatra Tengah, saat itu masih bernama Fort de Kock. Jam Gadang berdiri gagah di tengah kota. Di sebuah rumah sederhana tapi terpandang, lahirah Usmar Ismail, anak bungsu dari enam bersaudara. Ayahnya, Ismail Gelar Datuk Manggung seorang guru yang tegas. Ibunya, Siti Fatimah dari Lintau, Batu Sangkar, perempuan saleh yang mengajarkan kitab kuning dan huruf Arab gundul.

Keluarga ini tak kaya raya, tapi cukup untuk mengirim anak-anak ke sekolah Belanda. Usmar masuk HIS (Hollandsch Inlandsch School), lalu Tawalib untuk mengaji. Sesekali keluarga ini sering berjalan ke bioskop menonton Robinson Crusoe, Flash Gordon, Tommix – film-film Hollywood itu menyulut api pertama di dada bocah kecil itu. Dari situlah kesenangan Usmar terhadap dunia film tumbuh kemudian berkembang.

Pendidikan terus berlanjut ke MULO di Padang, lalu AMS-A II di Yogyakarta jurusan Bahasa, Klasik Timur. Di kota ini Usmar Ismail bertemu Rosihan Anwar (kemudian dikenal sebagai tokoh pers nasional), sahabat seumur hidup. Mereka indekos bersama, mandiri, lapar tapi penuh mimpi. Usmar tak hanya belajar. Ia menulis. Opstel-opstel-nya (karangan, esai, atau komposisi) dalam Bahasa Belanda yang dimuat di majalah sekolah Vox Populi Vox Dei. Tapi hatinya lebih dekat dengan Bahasa Indonesia. Koran Tjahaja Timoer jadi bacaan wajibnya tahun 1940. Kata-kata Melayu mengalir lancar di tangannya.

Pendudukan Jepang tahun 1942 mengubah segalanya. Bahasa Belanda dilarang. Bahasa Indonesia mekar. Usmar tak kehilangan. Ia bergabung di Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) pimpinan Sanusi Pane. Menulis cerpen, puisi, sandiwara radio. Buku sajaknya Puntung Berasap (1950) lahir dari masa itu – 40 sajak dari 1943-1947. Bersama kakaknya El Hakim (Abu Hanifah) dan Rosihan, ia mendirikan kelompok sandiwara Maya pada 27 Mei 1944. “Maya berarti bayangan, impian, cita-cita,” kata Usmar. Azasnya: kebangsaan, kemanusiaan, ketuhanan.

Pementasan perdana adalah karya berjudul Taufan di atas Asia karya El Hakim di Siritu Gekizyo (kini Gedung Kesenian Jakarta). Usmar sutradaranya. Rosihan jadi Dr Abdul Azaz. Sandiwara Maya bereksperimen: skenario wajib, dekorasi baru, realisme yang tajam. Lakon Usmar seperti Liburan Seniman berisi kalimat yang jadi mantra: “…karena semua tidak lain hanyalah alat belaka untuk mencapai cita-cita, menuju kemuliaan nusa dan bangsa.” Ia juga menulis Tjitra, Api, Mutiara dari Nusa Laut. Teater modern Indonesia lahir di sini.

Revolusi 1945 memanggil. Jakarta jatuh ke Belanda. Ibukota pindah ke Yogyakarta. Usmar ikut hijrah dan waktu itu ia berpangkat Mayor di intelijen TNI di bawah Kolonel Zulkifli Lubis. Tapi tetap tak lepas dari pena. Ia asuh Harian Patriot, Mingguan Tentara, dan Majalah Arena. Kemudian terpilih menjadi Ketua PWI 1946-1947. Bergabung dengan Sarekat Artis Sandiwara Yogya danPermusyawaratan Kebudayaan Indonesia.



Buku tentang Usmar Ismail karya Wina Armada Sukardi. (FOTO: Maspril Aries)

Nasionalisme dan Sinema

Tahun 1948 Usmar Ismail sempat ditangkap Belanda saat konferensi pers Perundingan Renville. Empat bulan di Cipinang ia dibebaskan berkat jaminan Mohamad Natsir.

Keluar penjara ia mendapat tawaran yang kemudian mengubah hidupnya, asisten sutradara di film Gadis Desa, produksi South Pacific Film Corporation. Andjar Asmara yang memanggil. Dunia film terbuka. Usmar tak ragu. Pangkat militer ditanggalkannya. “Saya tak mau disebut veteran”, katanya. Dari asisten sutradara naik jadi sutradara. Usmar Ismail lalu menyutradarai filim Harta Karun (saduran Moliere) dan Tjitra (dari sandiwaranya sendiri). Walau si dunia film Usmar Ismail merasa terkekang. Produser Belanda mengatur segalanya. “Terlalu banyak mengingatkan saya kepada ikatan-ikatan yang saya rasakan sebagai pengekangan terhadap daya kreasi saya”, ujarnya.

Cita-cita mandiri menggelegak dalam diri. Sejak berita kedaulatan dipulihkan, Usmar sudah ngobrol dengan kawan-kawan Multifilm untuk membuat film. Modal bagaimana? Menggunakan uang dari pesangon TNI sebesar Rp30.000. Peralatan? Sewa dari PFN. Teman-teman yang mendukung Max Tera (kameramen), Basuki Resobowo (art director), Sjawal Muchtaruddin (sound), Suryo Sumanto dari Yogya. Pada 30 Maret 1950, firma Perfini berdiri. Hari itu juga, rombongan berangkat ke Purwakarta untuk shooting atau pengambilan pertama gambar film pertama Darah dan Doa.

Pembuatan film ini menggunakan peralatan ala kadarnya. Kamera Akeley tua yang sudah berusia puluhan tahun. Opelet rongsokan. Uang tinggal Rp 12.500. Shooting malam, skrip diketik pagi. Rush print dikirim balik dari PFN. Para pemainnya merupakan aktor dan artis amatir seperti Del Juzar, Aedy Mowardi, dan Awaluddin (kelak menjadi Kapolri). Latihan di Gedung Kesenian bantuan tentara Siliwangi gratis. Kapten dokter Sadono jadi penasehat.

Kesulitan bertumpuk. Ada adegan tidak dipakai, shooting tambahan di Gunung Lawu, Gede, Kali Citarum. Usmar Ismail merangkap menjadi segalanya: sebagai sutradara, produser, sopir, kuli, juru make-up. “Sekarang rasanya tidak sanggup mengulangi kembali semua pengalaman itu”, Usmar Ismail menulis semua kenangan itu. Semangat menyelesaikan pembuatan film Darah dan Doa terus meluap. Datang tawaran dari Tong, pemilik bioskop, memberikan persekot. Biaya produksi sampai film selesai Rp150.000 – mahal untuk zamannya.

Penayangan perdana di Istana. Reaksi campur. Sebagian perwira AD marah: tentara digambarkan lemah, bukan heroik. Tapi Usmar tak peduli. “Saya ingin menceritakan secara jujur kisah manusia Indonesia dengan tidak jatuh menjadi film propaganda yang murah”. Film itu tak sukses komersial, tapi jadi tonggak lahirnya film nasional. Usmar merasa, “Buat pertama kali sebuah film diselesaikan seluruhnya baik secara teknis-kreatif, maupun secara pertanggung-jawaban ekonomi, oleh anak-anak Indonesia”.

Perusahaan Perfini terus berjalan kemudian membuat film berjudul Enam Djam di Djogja (1951), Lewat Djam Malam (1954) yang menjadi film terbaik Usmar Ismail berisi kritik tajam pada bekas pejuang yang kehilangan arah. Dalam film berikutnya, Tiga Dara (1956) Neo-realisme Italia memengaruhinya, film ini secara komersial sukses dan mendapat penghargaan Venezia 1957.

Film Pedjuang (1959) meraih penghargaan aktor terbaik pada Festival Film di Moskow 1961. Kemudian film Tamu Agung (1955) dan Anak Perawan di Sarang Penyamun (1962) yang diangkat dari novel Sutan Takdir Alisjahbana – dilarang beredar oleh komunis karena Usmar Ketua Lesbumi (NU).

Lebih dari 30 film lahir dari tangannya Usmar Ismail. Ada film Krisis, Asrama Dara, Toha Pahlawan Bandung Selatan, hingga Ananda (1970). Selain pejuang, Usmar Ismail juga belajar sinematografi di UCLA 1951-1952. Mendirikan ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia) 1955 – cikal bakal IKJ (Institut Kesenian Jakarta), pernah menjadi anggota DPR-GR 1966-1969. Ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional.

Pada tahun 1951, Usmar Ismail mendapatkan beasiswa dari Yayasan Rockefeller untuk belajar film di Universitas California, Los Angeles (UCLA). Ini adalah kesempatan emas—berangkat ke Hollywood, pusat industri film dunia, dan belajar dari yang terbaik. Di UCLA, Usmar menyerap ilmu seperti spons. Ia belajar tentang pencahayaan, editing, sound design, dan berbagai aspek teknis film yang sebelumnya hanya ia baca dalam buku. Ia juga menonton ratusan film klasik Hollywood, menganalisis teknik para master seperti John Ford, Orson Welles, dan Billy Wilder.

Tapi yang paling berarti adalah pemahamannya tentang industri film sebagai bisnis. Usmar melihat bagaimana Hollywood menggabungkan seni dan komersial, bagaimana studio-studio besar mengelola produksi, distribusi, dan pemasaran. Ia tahu bahwa Perfini harus belajar dari ini—tapi juga harus menemukan jalannya sendiri, jalan yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

Setahun di UCLA mengubah Usmar. Ia kembali ke Indonesia pada tahun 1953 bukan hanya sebagai sutradara yang lebih matang secara teknis, tapi juga sebagai visioner yang punya rencana besar untuk perfilman nasional.

Usmar Ismail yang namanya diabadikan pada sebuah gedung di Jalan Rasuna Said, Jakarta yakni gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, ia tak hanya seniman. Ia teknokrat: merebut hak politik film, lindungi industri nasional dari impor Amerika yang kuasai 80%.

Menggampar Hegemoni Asing di Layar Bioskop

Garin Nugroho, dalam artikel 100 tahun Usmar (Kompas, 2021), menyebutkan, “Ia tidak saja sutradara film, tetapi juga pribadi yang lengkap. Ia sastrawan dan teaterwan… Ia berani memproduksi film yang pro-kontra berkait isu sensualitas.” Tak hanya itu, jiwa nasionalisme yang bersemayam dalam tubuh Usmar Ismail sempat geram dan marah ketika masa itu bioskop di Jakarta memberikan prioritas terhadap film asing khususnya film Amerika Serikat. Mereka menolak film Indonesia termasuk film karya Usmar Ismail. Maka terjadi peristiwa Usmar Ismail menggampar manajer bioskop.


Pusat Perfilman H. Usmar Ismail yang berada di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan. (FOTO: Maspril Aries)

Ini menjadi kisah legendaris dalam dunia film nasional. Meskipun dikenal sebagai sosok sastrawan, wartawan, dan budayawan yang tenang serta berpendidikan tinggi, Usmar Ismail ternyata punya sisi garang jika menyangkut harga diri film nasional. Kejadian ia melayangkan pukulan (bogem mentah) kepada seorang manajer bioskop adalah fakta, bukan kisa dalam film.

Peristiwanya terjadi tahun 1953 di Bioskop Capitol, sebuah bioskop kelas satu di Jakarta yang sangat bergengsi pada masanya (sekarang sudah tidak ada). Sosok yang seorang pria ekspatriat yang akrab disapa Mister Weskin manajer atau bos pengelola bioskop Capitol. Kisahnya bermula awal tahun 1950-an, bioskop-bioskop kelas satu di Jakarta didominasi penuh oleh film-film impor dari Barat (terutama Amerika Serikat dan Inggris). Film bertema cowboy sangat digandrungi oleh kalangan pejabat dan masyarakat kelas atas. Akibatnya, film karya sineas pribumi dianaktirikan dan hampir tidak diberi ruang untuk tayang di bioskop bagus.

Usmar Ismail yang baru saja menyelesaikan film komedi satire berjudul Krisis (1953) berniat mendobrak diskriminasi ini. Ia mendatangi Mister Weskin di Bioskop Capitol agar film Krisis diberi jatah tayang di sana. Namun, Weskin menolak keras permintaan tersebut. Ia memandang sebelah mata film Indonesia dan tidak percaya bahwa karya lokal bisa laku atau menandingi kualitas film Hollywood.

Mendengar penolakan yang merendahkan martabat perfilman nasional tersebut, darah seni dan nasionalisme Usmar Ismail mendidih. Di luar dugaan semua orang, sang sutradara yang biasanya santun ini langsung melayangkan pukulan fisik ke arah wajah Mister Weskin. Tindakan nekat Usmar Ismail ini menggegerkan kalangan perfilman saat itu. Namun, peristiwa “gaya koboi” ini justru membawa akhir yang sangat baik.

Film Krisis akhirnya tayang. Bioskop Capitol luluh dan bersedia memutar film Krisis. Ternyata film ini tidak seperti dugaan Mister Weskin. Film Krisis meraih sukses besar. Film ini justru meledak luar biasa (box office), bahkan mengalahkan jumlah penonton film-film Barat yang diputar di pekan-pekan sebelumnya.

Antara Usmar Ismail dan Mister Weskin yang bermusuhan lalu bersahabat. Setelah insiden pemukulan dan kesuksesan film tersebut, Usmar Ismail dan Mister Weskin justru menjadi sahabat dekat. Sejak saat itu, Capitol tidak lagi mempersulit peredaran film-film garapan Usmar Ismail. Ternyata, memperjuangkan karya anak bangsa di masa lalu tidak hanya butuh idealisme, tapi kadang juga butuh “nyali” yang besar!

Maka tak aneh jika nasionalisme dalam film-film Usmar Ismail bukan slogan. Di Darah dan Doa, melalui kisah tokoh Sudarto korban revolusi: menggambarkan cinta lintas bangsa, konflik sesama anak bangsa, pengorbanan tanpa pamrih. Dalam film ini Usmar tak ikut aliran Belanda, Tionghoa, atau propaganda Jepang. Ia ciptakan “national personality”. Film nasional lahir dari tangan anak bangsa, tanpa campur asing.

Usmar Ismail wafat 2 Januari 1971, dalam usia 49. Tapi namanya hidup. Tahun 2021, Pemerintah Republik Indonesia melalui Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh yang juga disebut Bapak Perfilman Indonesia. ‘

Gelar ini bukan sekadar gelar kehormatan kosong, melainkan bentuk apresiasi mendalam atas dedikasi Usmar Ismail yang telah berjuang membuat perfilman Indonesia mandiri dan berkarakter asli Indonesia tanpa campur tangan bangsa asing. Riwayat hidup Usmar Ismail memberikan teladan luar biasa bagi kita semua.

Ia membuktikan bahwa perjuangan membela tanah air tidak selamanya harus dilakukan di medan perang menggunakan senjata api. Lewat media seni, film, dan karya tulis yang mengedepankan nilai nasionalisme, patriotisme, serta nilai-nilai moral kehidupan, Usmar Ismail telah berhasil mengedukasi dan membangkitkan kebanggaan nasionalisme di hati rakyat Indonesia. Jejak langkahnya akan selalu abadi di dalam sejarah perjalanan bangsa dan perfilman Indonesia.

Kini, saat kita nonton film Indonesia yang sudah meraih jutaan penonton, ingatlah Usmar. Ia yang mulai dengan modal Rp12.500, kamera tua, dan mimpi besar. Ia yang bilang: “Film itu adalah betul-betul seni ‘make believe’, membuat orang percaya tentang sesuatu, membuat kenyataan baru dari yang ada.” Dari Bukittinggi ke layar dunia, Usmar Ismail tak sekadar sutradara. Ia bapak yang melahirkan perfilman nasional. Ia pejuang yang pakai kamera sebagai senjata. Ia storyteller yang abadi.

Di akhir hayatnya, Usmar pernah bilang: “Saya akan mengabdikan diri dalam perfilman dan kebudayaan.” Dan ia lakukan. Sampai nafas terakhir. Layar perak Indonesia masih menyala karena api yang ia nyalakan tahun 1950 itu. Darah dan doa. Revolusi dan mimpi. Itulah Usmar Ismail – manusia biasa yang jadi legenda.

Jika Usmar Ismail masih hidup hari ini, ia akan berusia 105 tahun. Ia akan melihat industri film Indonesia yang telah berubah total—dari perfilman analog yang ia kenal, ke era digital, streaming, dan konten global. Ia akan melihat bioskop-bioskop modern dengan teknologi IMAX dan Dolby Atmos. Ia akan melihat film-film Indonesia yang ditonton jutaan orang di Netflix dan platform global lainnya.

Mungkin ia akan tersenyum. Mungkin ia akan menangis. Mungkin ia akan mengatakan, “Ini bukan perfilman yang saya bayangkan—tapi ini lebih baik dari yang saya harapkan”.

Selamat Hari Film Nasional – 30 Maret 2026. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *