Home / Wisata / Surat dari Alexandria: Menelusuri Jejak dan Sejarah Tersembunyi di Istana Montaza

Surat dari Alexandria: Menelusuri Jejak dan Sejarah Tersembunyi di Istana Montaza

Istana Montaza (FOTO: Maspril Aries)

KINGDOMSRIWIJAYA – Saat menjejakkan kaki di Alexandria ada yang menyebutnya Iskandariyah, angin Laut Mediterania datang menyapa membawa cerita. Ia berhembus melewati pecahan gelombang yang menghantam tepian batu, menyusuri dermaga-dermaga tua yang pernah menjadi saksi bisu Cleopatra, dan kini, ia membelai dedaunan palem di sebuah kompleks yang berdiri megah di ujung timur Alexandria.

Di sini, di distrik Montaza, waktu seolah berjalan lebih lambat. Bukan karena jam yang melambat, melainkan karena beban sejarah yang begitu padat memenuhi setiap jengkal tanah ini.

Bayangkan Anda berdiri di sebuah titik di mana sejarah berbisik lewat desiran angin laut, di mana kemegahan arsitektur berpadu dengan kehijauan taman yang tak berujung, dan di mana setiap sudut menyimpan cerita tentang para penguasa yang pernah mendefinisikan nasib sebuah bangsa. Itulah sensasi pertama yang menyambut siapa pun yang melangkahkan kaki ke dalam kompleks Istana Montaza, sebuah permata tersembunyi di kota Alexandria, Mesir.

Istana Montaza lebih dari sekadar sebuah bangunan bersejarah, Montaza adalah sebuah epilog yang hidup, sebuah naskah megah yang ditulis oleh waktu, dengan Laut Mediterania sebagai saksi tak bergerak dari segala dramanya.

Istana Montaza, atau dalam lidah penduduk lokal disebut Asr el Montaza (قصر المنتزه), bukan sekadar bangunan batu dan semen. Ia adalah monumen hidup yang mencatat detak jantung Mesir selama lebih dari satu abad. Dari masa kejayaan Dinasti Muhammad Ali, melalui gejolak revolusi 1952, hingga era republik modern di bawah presiden-presiden Mesir, Montaza tetap berdiri tegak. Ia adalah istana, museum, taman, dan kini, sebuah ruang publik di mana rakyat biasa dapat berjalan di atas karpet rumput yang dulunya hanya diinjak oleh kaki para raja.

Sebelum kita melangkah masuk ke gerbang besi yang megah di komplek istana, kita harus memahami konteks geografisnya. Mesir adalah negeri yang didominasi oleh gurun, oleh warna cokelat pasir dan terik matahari yang menyengat. Namun, Alexandria adalah anomali. Kota ini adalah napas segar Mesir. Terletak di delta Nil yang bertemu dengan Laut Mediterania, Alexandria memiliki iklim yang lebih sejuk, lebih lembap, dan lebih Eropa dibandingkan dengan Kairo yang panas dan padat.


Istana Montaza dari arah laut Mediterania. (FOTO: Maspril Aries)

Bagi wisatawan yang berangkat dari Kairo, perjalanan menuju Montaza adalah sebuah ritual transisi. Jarak antara Kairo dan Alexandria adalah sekitar 220 kilometer. Jika ditempuh melalui jalan tol gurun yang modern, perjalanan ini memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam menggunakan kendaraan pribadi atau bus. Namun, bagi para pelancong di masa lalu, perjalanan ini adalah sebuah ekspedisi.

Selain itu menuju Alexandria dari Kairo bisa menggunakan kereta api dari Stasiun Ramses di Kairo tiba di Stasiun Sidi Gaber atau Misr di Alexandria dalam waktu sekitar 2,5 jam, dengan harga tiket yang sangat terjangkau (sekitar $1-3 untuk kelas ekonomi).

Bayangkan diri Anda di awal abad ke-20. Tidak ada aspal mulus. Kereta api uap adalah tulang punggung transportasi. Para bangsawan Mesir, termasuk keluarga kerajaan, sering kali menggunakan kereta api khusus untuk berpindah dari ibu kota politik di Kairo ke ibu kota musim panas di Alexandria. Mengapa? Karena Kairo di musim panas bisa menjadi sangat tidak nyaman. Suhu bisa melampaui 40 derajat Celcius. Alexandria, dengan angin lautnya, menawarkan pelarian.

Saat kendaraan Anda meninggalkan kepadatan Kairo, melewati piramida Giza yang samar di kejauhan, dan melaju ke arah utara, lanskap perlahan berubah. Gurun yang gersang mulai diselingi oleh lahan pertanian delta Nil yang hijau subur. Sawah-sawah kapas, gandum, dan tentu saja, pohon-pohon palem mulai tampak. Semakin dekat Anda dengan pantai, udara semakin terasa asin. Ini adalah aroma Mediterania.

Istana Montaza adalah komplek dengan pagar tinggi yang menyembunyikan apa yang ada di dalamnya. Ini adalah desain klasik istana-istana timur: misteri di balik tembok. Namun, hari ini, gerbang itu terbuka. Tiket masuknya terjangkau, sebuah simbol bahwa kerajaan telah berakhir, dan rakyatlah yang kini menjadi tuan rumah.

Perjalanan kali ini bukan sekadar perpindahan titik koordinat. Ini adalah perpindahan suasana hati. Dari hiruk-pikuk ibu kota yang penuh tekanan politik dan bisnis, menuju ke tempat di mana sejarah beristirahat di bawah naungan pohon-pohon tua. Montaza menunggu.


Gerbang taman dan Istana Montaza (FOTO: Maspril Aries)

Istana Montaza merupakan sebuah kompleks istana, museum, dan taman kerajaan yang menjadi saksi bisu peradaban Mesir dari masa Khedive hingga era republik modern. Istana ini bukan hanya bangunan batu dan menara megah. Ia adalah cerita hidup tentang kekuasaan, kemewahan, dan kelangsungan tradisi. Dari tangan Khedive Abbas II yang membangun pondok berburu sederhana pada 1892, hingga Raja Fuad I yang memperluasnya menjadi istana musim panas pada 1932, hingga renovasi Presiden Anwar Sadat dan penggunaan terakhir oleh Hosni Mubarak. Hari ini, istana ini terbuka untuk wisatawan, di sini sebuah perpaduan sejarah hidup dengan keindahan alam yang bisa dinikmati dengan harga tiket hanya 25 Pound Mesir (sekitar Rp20.000).

Lahirnya Istana Salamlek

Tidak ada yang kebetulan dalam sejarah kerajaan. Setiap batu bata di Montaza menyimpan cerita. Untuk memahami Montaza, kita harus mundur ke belakang, jauh sebelum Republik Persatuan Arab (RPA) Mesir berdiri. Ada kisah tentang Dinasti Muhammad Ali yang memerintah Mesir dan Sudan dari awal abad ke-19 hingga revolusi 1952. Mereka adalah penguasa yang ambisius, modernis, dan memiliki selera arsitektur yang tinggi. Mereka ingin Mesir terlihat setara dengan kerajaan-kerajaan Eropa.

Kompleks Istana Montaza yang luas ini tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh secara organik, seiring dengan kebutuhan dan keinginan penguasa pada masanya. Bagian tertua dari kompleks ini adalah Istana Salamlek yang

dibangun pada tahun 1892. Pemesannya adalah Khedive Abbas II atau Abbas Hilmi Pasha yang merupakan penguasa terakhir Dinasti Muhammad Ali yang memegang gelar Khedive atas Khedivate Mesir dan Sudan.

“Khedive” adalah gelar yang setara dengan Wapres atau Wakil Kaisar dalam hierarki Ottoman, namun di Mesir, mereka memegang kekuasaan otonom yang besar. Abbas II naik tahta saat masih sangat muda, dan masa pemerintahannya diwarnai oleh ketegangan dengan Inggris yang saat itu menduduki Mesir secara de facto.

Sebelum membangun Salamlek di Montaza, pada masa itu, kawasan Montaza adalah hutan, semak belukar, dan pantai yang belum tersentuh. Bagi seorang penguasa yang lelah dengan protokol istana di Kairo atau Istana Abdeen di Alexandria, Montaza menawarkan kebebasan.

Istana Salamlek awalnya dirancang sebagai pondok berburu (hunting lodge) dan tempat tinggal bagi rekan-rekannya.


Berfoto di depan gerbang utama Istana Montaza. (FOTO: Dok. Maspril Aries)

Abbas II yang dibesarkan di Wina, Austria, terobsesi dengan gaya arsitektur Eropa. Untuk membangun Istana Salamlek Abbas memanggil seorang arsitek yang namanya akan terukir dalam sejarah arsitektur Mesir, Dimitri Fabricius Pasha. Lahir di Yunani namun mengabdi di istana Khedivate.  Fabricius adalah Kepala Insinyur Istana sekaligus Direktur Bangunan Khedivial. Ia memahami selera Abbas yang unik—perpaduan antara gemerlap Eropa dan nostalgia Ottoman.

Hasilnya adalah Istana Salamlek, selesai pada tahun 1892. Arsitekturnya terinspirasi dari pondok-pondok berburu Austria yang elegan namun sederhana—sesuatu yang jarang ditemukan di tanah Nil. Dinding berwarna krem, atap berbentuk tajam dengan ornamen kayu ukir, dan teras-teras yang menghadap langsung ke laut. Di dalamnya, ruang-ruang dirancang untuk privasi: kamar tidur utama dengan balkon pribadi, ruang makan yang intim, dan sebuah perpustakaan kecil yang menghadap ke taman.

Tetapi yang paling istimewa adalah Taman Montaza itu sendiri. Abbas memerintahkan pengumpulan tanaman langka dari seluruh dunia—pohon palem dari Maghreb, bunga tropis dari Hindia Belanda, dan pohon ek dari Eropa. Setiap tanaman ditanam dengan perhitungan matematis untuk menciptakan mikroklimat yang sejuk di tengah panas Alexandria. Sistem irigasi bawah tanah yang canggih—mutakhir untuk zamannya—memastikan taman tetap hijau sepanjang tahun.

Namun, sejarah tidak membiarkan Abbas II menikmati masa kekuasaannya dengan tenang. Tekanan Inggris semakin besar, dan pada akhirnya, dia digulingkan pada tahun 1914 saat Perang Dunia I pecah, menandai akhir dari gelar Khedive dan awal dari gelar Sultan di bawah protektorat Inggris.

Lahirnya El-Haramlek

Kematian Abbas II pada 1944 di Jenewa, Swiss, menutup babak pertama Montaza. Tetapi warisannya tidak berakhir begitu saja. Setelah Revolusi 1952 yang menggulingkan Raja Farouk, terjadi pergeseran kekuasaan yang dramatis. Namun sebelum itu, pada era 1930-an, Montaza sempat mengalami transformasi megah berkat seorang penguasa lain dari Dinasti Muhammad Ali: Raja Fuad I.


Jembatan di dalam taman Istana Montaza yang jadi destinasi foto wisatawan. (FOTO: Dok. Maspril Aries)

Fuad adalah pria dengan visi yang berbeda dari Abbas. Jika Abbas membangun Montaza untuk pelarian pribadi, Fuad melihatnya sebagai simbol kekuasaan kerajaan. Pada tahun 1932, ia memutuskan untuk memperluas kompleks dengan sebuah istana yang lebih besar, lebih megah, dan lebih representatif yang diberi nama “El-Haramlek Palace”. Untuk membangun istana ini Fuad memanggil Ernesto Verruci, arsitek Italia yang sedang naik daun di kalangan elite Mesir. Verruci memiliki reputasi dalam memadukan gaya—sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan istana baru ini. Hasilnya adalah arsitektur yang hingga kini membuat arsitek dan sejarawan terpesona, perpaduan Ottoman dan Florentina yang harmonis.

El-Haramlek berdiri megah dengan dua menara yang menjulang. Menara utama, yang terinspirasi dari Palazzo Vecchio di Florence, Italia, dihiasi dengan detail Renaissance Italia yang rumit—lengkungan berornamen, relief batu pualam, dan jendela-jendela tinggi dengan kerangka besi tempa. Menara kedua lebih pendek tetapi tidak kalah elegan, dengan desain yang lebih mengarah ke estetika Ottoman—kubah bulat dan balkon berukir kayu.

Yang paling memukau adalah serambi panjang yang terbuka di setiap lantai, menghadap langsung ke Mediterania. Bayangkan berjalan di koridor marmer ini pada sore hari, angin laut bertiup lembut, dan matahari terbenam mewarnai langit dengan gradasi oranye dan ungu. Di bawah, ombak berdebur tenang di pantai pribadi. Ini adalah kemegahan yang didesain untuk mengesankan—bukan hanya penghuni istana, tetapi juga tamu negara dan diplomat yang berkunjung.

Di dalam, El-Haramlek memiliki lebih dari 100 ruangan. Ruang-ruang utama termasuk, Ruang Takhta (Throne Room), Ruang Resepsi Kerajaan, Apartemen Pribadi Raja, Apartemen Ratu, Perpustakaan Kerajaan, Ruang Makan Formal. Di bawah tanah, terdapat ruang yang luas dapat untuk jamuan untuk 500 orang, ruang penyimpanan anggur yang dikontrol suhu, dan koridor-koridor rahasia yang digunakan para pelayan untuk bergerak tanpa terlihat oleh tamu istana. Verruci memastikan bahwa setiap jendela menghadap ke taman atau laut. Dari menara utama, pengunjung bisa melihat seluruh kompleks Montaza—hutan pinus yang rimbun, kebun mawar yang terstruktur geometris, dan garis pantai yang berliku seperti pita biru.


Taman Montaza

Istana Montazah di Alexandria, Mesir, seperti legenda Firaun. Di halamannya, pohon kurma berbaris, menjadi atraksi wisata. Saat panen, warga naik pohon dengan tali sederhana, mirip petani damar di Lampung Barat. Kurma muda merah dijual 15 EGP/kg. Mirip kunjungan ke kebun kurma Madinah bagi jemaah Umrah.

Taman Montaza bukan hanya tentang kurma. Ia adalah cagar hutan (forest reserve). Keberadaan taman ini sangat vital bagi ekologi Alexandria. Ia berfungsi sebagai penyerap karbon, penghasil oksigen, dan penahan angin dari laut. Burung-burung migran sering singgah di sini saat berpindah dari Eropa ke Afrika. Bagi penduduk Alexandria, taman ini adalah “paru-paru” kota. Di akhir pekan, ribuan keluarga datang ke sini untuk berpiknik. Mereka menggelar tikar di bawah pohon, memanggang ikan, dan anak-anak berlarian bebas.

Ini adalah transformasi yang luar biasa. Dulu, jika rakyat biasa ketahuan masuk ke area ini tanpa izin, mereka bisa ditangkap atau diusir oleh pengawal kerajaan. Kini, mereka adalah pemilik sah. Taman ini menjadi ruang demokratis di mana semua kelas sosial bertemu.

Dari Monarki ke Republik

Sejarah Montaza tidak berhenti pada keindahan taman dan arsitekturnya. Ia terikat erat dengan nasib politik Mesir. Titik balik terbesar terjadi pada tanggal 23 Juli 1952 atau Revolusi 1952. Gerakan Perwira Bebas (Free Officers Movement) yang dipimpin oleh Kolonel Gamal Abdul Nasser melakukan kudeta terhadap Raja Farouk. Ini adalah akhir dari Dinasti Muhammad Ali yang telah berkuasa selama 150 tahun. Raja Farouk dipaksa turun tahta.  Farouk melarikan diri ke Italia dengan kapal kerajaan Mahroussa, meninggalkan Montaza yang sepi.

Apa yang terjadi pada Istana Montaza? Dalam banyak revolusi, istana-istana kerajaan dijarah atau dibakar. Simbol-simbol monarki dihancurkan. Namun, di Mesir, pendekatan yang diambil sedikit berbeda. Republik Arab Mesir yang baru didirikan mengambil alih aset-aset kerajaan. Istana Montaza menjadi properti negara (state property).


Menjual hasil panen kurma di taman Istana Montaza. (FOTO: Aina RA)

Di bawah kepemimpinan Gamal Abdel Nasser, presiden pertama Mesir, semua aset milik keluarga kerajaan dinasionalisasi dan menjadi milik negara. Montaza tidak lagi menjadi istana raja; ia menjadi milik rakyat Mesir. Nasser tidak tinggal di Istana Montaza atau tempat bekerja. Baginya, Montaza mungkin terlalu sarat dengan kenangan monarki yang ia dan revolusinya singkirkan. Namun, ia memahami nilai historis dan potensi wisatanya. Ia adalah orang yang memprakarsai pembukaan sebagian besar taman untuk umum, mengubahnya dari tempat eksklusif menjadi ruang publik.

Kekuasaan bealih kepada Presiden Anwar El-Sadat (1970-1981), Montaza mengalami renovasi besar-besaran. Sadat, yang berasal dari Alexandria, memiliki ikatan emosional dengan tempat ini. Ia memutuskan untuk merenovasi Salamlek menjadi kediaman resmi presiden. Renovasi dilakukan dengan cermat—mempertahankan arsitektur asli sambil menambahkan fasilitas modern seperti AC sentral dan sistem keamanan canggih.

Sadat sering mengadakan pertemuan-pertemuan penting di Montaza. Di sinilah ia menerima delegasi Israel menjelang Perjanjian Damai Camp David pada 1978. Bayangkan tegangnya suasana: di ruang yang sama tempat Fuad I mengadakan pesta dansa, Sadat dan Menachem Begin duduk berunding tentang masa depan Timur Tengah.

Namun, masa jabatan Sadat berakhir tragis dengan pembunuhan, ia ditembak pada tahun 1981. Setelah kematiannya, Montaza kembali menjadi simbol negara yang dijaga ketat.

Kemudian kekuasaan beralih ke tangan Hosni Mubarak (1981-2011). Mubarak menggunakan Montaza secara ekstensif—terlalu ekstensif, menurut para kritikus. Ia sering menghabiskan akhir pekan di Salamlek, dan kompleks ini menjadi terlalu eksklusif lagi. Akses publik ke bagian-bagian tertentu dibatasi. Banyak keputusan politik penting dibuat di sini, jauh dari jangkauan protes dan media. Namun, ironisnya, istana yang dulunya simbol kekuasaan raja yang terasing dari rakyatnya, di bawah Mubarak menjadi simbol kekuasaan presiden yang juga semakin terasing dari rakyatnya.

Kemudian Revolusi Mesir 25 Januari 2011 membawa perubahan baru. Menggulingan Mubarak dari kursi kepresidenan Mesir. Seperti halnya setelah 1952, istana-istana presiden menjadi sorotan. Montaza, sekali lagi, mengalami transisi fungsi. Era kekuasaan yang terkonsentrasi di tangan satu orang telah berakhir, dan Montaza harus menemukan tujuan barunya di era Mesir baru. Montaza kembali menjadi milik rakyat—secara harfiah. Aktivis dan warga Alexandria mengorganisir “piknik revolusioner” di taman, menandai reclaiming ruang publik ini.


Pantai Mediterania di Allexandria. (FOTO: Maspril Aries)

Bagaimana wajah Montaza hari ini? Istana ini telah bertransformasi menjadi pusat wisata multifungsi. Istana El-Haramlek sebagai Museum: Saat ini, El-Haramlek berfungsi sebagai museum publik. Wisatawan dapat masuk dan melihat koleksi sejarah keluarga Dinasti Muhammad Ali, benda-benda seni, hingga perhiasan kerajaan yang memukau. Ini adalah tempat terbaik untuk mempelajari bagaimana Mesir bertransisi dari pengaruh Ottoman ke modernitas.

Istana Salamlek telah berfungsi sebagai hotel.  Bagi mereka yang ingin merasakan sensasi tidur seperti raja, Istana Salamlek telah dikonversi menjadi hotel mewah. Untuk taman dan pantai telah menjadi ruang publik dengan tiket masuk yang sangat terjangkau. Taman ini menjadi tempat favorit untuk piknik keluarga, olahraga pagi, atau sekadar duduk memandang laut. Ada jembatan ikonik yang menghubungkan daratan dengan sebuah pulau kecil di tengah teluk yang menjadi spot foto paling populer bagi wisatawan.

Mengapa Harus ke Montaza?

Mengunjungi Montaza adalah tentang meresapi kesinambungan. Di sini, kita melihat bagaimana sebuah bangunan yang dibangun dengan ego kekuasaan berubah menjadi ruang publik yang inklusif. Kita melihat bagaimana teknik memanjat pohon kurma dari ribuan tahun lalu tetap bertahan di tengah era digital.

Bagi wisatawan Indonesia, ada rasa akrab yang unik. Melihat pohon kurma di tanah asalnya memberikan perspektif baru—bahwa kurma bukan sekadar oleh-oleh haji atau menu berbuka puasa, melainkan simbol ketangguhan alam Mediterania. Seperti pepatah Arab kuno yang sering dikutip para petani di sana: “Kegunaan pohon kurma adalah sebanyak jumlah hari dalam setahun.” Di Montaza, pohon-pohon itu tidak hanya memberi buah, tapi juga memberi keteduhan bagi sejarah yang panjang.

Sepucuk surat dari Alexandria menutupnya dengan pesan, “Jika Anda berada di Mesir, sempatkanlah diri untuk duduk di bawah naungan pohon kurma Montaza. Dengarkan bisikan angin dari laut, tataplah menara Italia yang megah itu, dan sadarilah bahwa Anda sedang berdiri di salah satu titik paling romantis dan bersejarah di muka bumi”.

Istana Montaza adalah lebih dari sekadar sebuah destinasi wisata. Ia adalah sebuah mikro kosmos dari sejarah Mesir modern dalam 150 tahun terakhir. (maspril aries)

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *