Home / Opini / Hidup Itu Cuma Tiga Episode – Lahir, Menikah Lalu Mati

Hidup Itu Cuma Tiga Episode – Lahir, Menikah Lalu Mati

Ilustrasi (FOTO-FOTO: AI)

Oleh Udo Z Karzi (Tukang tulis saja, tinggal di Bandar Lampung)

ZULKARNAIN Zubairi bin Zubairi Hakim bin Abdul Hakim bin Djarusin bin Djamil bin Djamaluddin bin Abdullah, lahir di Negarabatin, Liwa, 12 Juni 1970.

Begitu. Saya menyebutkan nama asli saya lengkap dengan nama-nama ayah, kakek sampai leluhur dari Marga Liwa serta tempat/tanggal lahir saya. Tanpa keraguan. Tanpa rasa malu. Bahkan, dengan sedikit gurauan. Sebab, pada generasi ketujuh ke atas saya hanya bisa menyebut nama Abdullah—hamba Allah—karena saya memang tidak lagi mengetahui nama leluhur sebelumnya. Jika harus menyebut Adam sebagai asal mula manusia, tentu itu sudah terlalu jauh.

Ada orang yang menyarankan agar tempat dan tanggal lahir, umur, serta nama orang tua tidak dicantumkan dalam biodata atau biografi yang kita bagikan. Katanya, itu termasuk data pribadi. Tapi, saya sering berpikir sebaliknya. Justru data-data itulah yang paling mendasar dari keberadaan manusia. Ia bukan sekadar angka atau nama, melainkan penanda asal-usul: dari mana seseorang datang dan dari siapa ia dilahirkan.

Pengalaman menulis obituari atau in memoriam sering membuat saya merenung lebih jauh tentang hal itu. Berkali-kali saya kesulitan menuliskan tempat lahir atau tanggal lahir seseorang karena datanya tidak jelas, atau bahkan sengaja disembunyikan. Padahal, informasi semacam itu adalah pintu pertama untuk memahami riwayat hidup seseorang.

Saya sering bertanya dalam hati: mengapa orang harus malu menyebut tanah kelahirannya? Mengapa harus segan menyebut tanggal lahir atau nama orang tuanya?

Bukankah dari situlah sebuah kehidupan bermula?

Jika kita mau berhenti sejenak dan memandang kehidupan dengan jarak yang lebih tenang, sebenarnya riwayat hidup manusia sangat sederhana. Terlalu sederhana bahkan.

Sehebat apa pun seseorang—betapa pun tinggi gelar akademiknya, sebanyak apa pun karya dan prestasinya—kehidupan manusia sesungguhnya hanya terdiri dari tiga episode besar: lahir, menikah, dan mati.

Di luar itu hanyalah bab-bab kecil yang mengisi sela-selanya.

Episode pertama adalah kelahiran. Pada saat itulah manusia memasuki dunia. Ia hadir sebagai makhluk kecil yang tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupan yang akan dijalaninya. Ia tumbuh dari bayi menjadi anak-anak, dari anak-anak menjadi remaja, lalu dewasa. Ia belajar mengenal dunia, mengenal manusia lain, dan perlahan-lahan mengenal dirinya sendiri.

Kehidupan kemudian berjalan seperti sungai yang terus mengalir. Manusia belajar, bekerja, bercita-cita, dan mencoba menemukan tempatnya di tengah dunia.

Dalam perjalanan itu, banyak orang sampai pada episode kedua: menikah. Menikah sering dipahami hanya sebagai peristiwa sosial atau seremoni keluarga. Padahal, ia memiliki makna yang jauh lebih dalam. Pernikahan adalah cara kehidupan memperpanjang dirinya. Dari sanalah lahir generasi baru—anak-anak yang kelak akan melanjutkan kisah manusia di dunia.

Dalam pengertian tertentu, manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang selama keturunannya masih hidup. Nilai-nilai yang ia tanamkan, cara hidup yang ia ajarkan, bahkan kenangan-kenangan kecil tentang dirinya akan terus hidup melalui anak-anak dan cucunya.


Namun, setelah semua perjalanan itu, manusia akan sampai pada episode ketiga yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun: kematian.

Tidak ada manusia yang mampu menolak kematian. Kita boleh takut mati, tetapi kita tidak bisa menghindarinya. Kematian adalah kepastian paling mutlak dalam kehidupan manusia. Ia seperti garis akhir yang sudah ditetapkan sejak awal kita dilahirkan.

Karena itu, yang paling penting sebenarnya bukanlah apakah kita akan mati atau tidak—karena itu pasti terjadi—melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk mati.

Kadang-kadang kesadaran itu datang secara tiba-tiba. Ia bisa muncul dari kenangan tentang orang tua yang telah pergi, dari kabar kematian seorang kawan, atau dari saat-saat sunyi ketika kita menyadari bahwa kehidupan tidak akan berlangsung selamanya.

Perasaan semacam itu pernah saya tuliskan dalam sebuah puisi pendek:

Aku Akan Pulang pada Waktunya

ramadan datang idulfitri menjelang
tiba-tiba bak datang membayang
: pulanglah kau!

dan aku tak mungkin bisa menolak
dan aku tak bakal bisa menampik
: ya, aku akan pulang pada waktunya

2025

Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/732333/alasan-saya-tetap-menulis-panjang-pendek-tak-sekadar-cuitan/

Saya menyebut bak (ayah, bapak) saya, Zubairi Hakim,  yang sudah berpulang sepuluh tahun, 2015 lalu dalam puisi ini. Karena itu kata “pulang” dalam puisi ini bermakna jelas bermakna kematian. Puisi itu lahir dari kesadaran yang sederhana tetapi sangat dalam: bahwa setiap manusia pada akhirnya akan pulang. Pulang bukan hanya ke rumah atau ke kampung halaman, melainkan pulang kepada asal mula kehidupan. Kepada Tuhan.

Jika dipikirkan lebih jauh, seluruh hal yang sering kita banggakan dalam kehidupan sebenarnya hanyalah bagian kecil dari perjalanan yang sangat singkat itu.

Sekolah, kuliah, memperoleh gelar sarjana, doktor, atau profesor; bekerja, meraih jabaStan, naik pangkat; menjadi terkenal, menjadi kaya, atau menciptakan karya besar—semuanya penting dalam kehidupan manusia. Tetapi semua itu tetap berada di antara tiga episode utama tadi: lahir, menikah, mati.

Mungkin karena itulah tiga peristiwa itu selalu diumumkan kepada orang banyak.
Kelahiran diberitakan dengan sukacita.
Pernikahan dirayakan dengan keramaian.
Kematian disampaikan dengan duka.

Ketiganya adalah penanda utama perjalanan manusia di dunia.

Namun, setiap kali seseorang meninggal dunia, selalu muncul satu pertanyaan yang tidak terucapkan tetapi terasa jelas: apa yang bisa kita ceritakan tentang dirinya?

Jika selama hidupnya seseorang tidak melakukan apa-apa yang berarti, orang akan kesulitan mengenangnya. Tidak ada karya yang bisa disebut. Tidak ada pemikiran yang bisa dicatat. Tidak ada kepemimpinan yang bisa dikenang. Tidak ada kebaikan yang bisa diceritakan.

Yang tersisa hanya tiga data dasar: ia lahir, ia menikah, lalu ia mati.

Padahal, kehidupan seharusnya lebih dari sekadar itu. Kehidupan seharusnya meninggalkan jejak: dalam bentuk karya, pemikiran, kebaikan, persahabatan, atau bantuan kepada sesama manusia. Jejak-jejak kecil itulah yang membuat sebuah kehidupan terasa berarti.

Di situlah manusia diuji.


Kita diberi waktu yang sangat terbatas untuk meniti kehidupan. Tidak ada yang tahu berapa panjang perjalanan yang diberikan kepada kita. Ada yang hidup sampai usia tua, ada yang berhenti di usia muda, bahkan ada yang dipanggil kembali ketika hidupnya baru saja dimulai.

Karena itu hidup sebenarnya adalah kesempatan. Kesempatan untuk berbuat baik. Kesempatan untuk memberi makna kepada orang lain. Kesempatan untuk mempersiapkan bekal menuju kematian.

Pandai-pandailah meniti kehidupan. Jangan sampai hidup habis hanya untuk mengejar hal-hal yang pada akhirnya tidak terlalu penting. Kekayaan bisa hilang. Jabatan bisa berakhir. Popularitas bisa pudar.

Namun, kebaikan yang kita berikan kepada orang lain sering kali hidup jauh lebih lama daripada diri kita sendiri.

Ada banyak cara untuk menjalani kehidupan dengan selamat. Menjaga hubungan dengan Tuhan. Menjaga hubungan dengan sesama manusia. Dan, meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi dunia.

Dalam tradisi Islam dikenal istilah husnul khatimah—akhir kehidupan yang baik. Bukan sekadar mati dengan tenang, melainkan mati setelah menjalani kehidupan yang bermakna.

Husnul khatimah tidak datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari: dari niat yang kita jaga, dari kejujuran yang kita pelihara, dari kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan tanpa banyak diketahui orang.

Pada akhirnya, jika direnungkan lebih dalam, kehidupan manusia sebenarnya adalah sebuah perjalanan menuju pulang.

Kita lahir. Kita tumbuh. Kita bekerja. Kita membangun keluarga. Kita melakukan banyak hal. Namun, semua itu perlahan-lahan membawa kita ke satu tujuan yang sama: Kematian.

Kesadaran ini bukan untuk membuat kita takut atau putus asa. Sebaliknya, ia justru mengingatkan kita untuk hidup dengan lebih sadar. Untuk menggunakan waktu dengan lebih bijaksana. Untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepada kita.

Sebab, pada suatu hari nanti, seseorang akan menuliskan kisah tentang kita. Mungkin hanya satu paragraf. Mungkin hanya beberapa kalimat.

Di sana akan tertulis bahwa kita lahir pada tanggal tertentu, menikah pada waktu tertentu, lalu meninggal pada suatu hari.

Tapi, di antara tiga episode itu, semoga ada banyak cerita yang bisa dikenang. Cerita tentang kebaikan. Cerita tentang persahabatan. Cerita tentang karya dan pemikiran. Cerita tentang kasih sayang yang pernah kita berikan kepada dunia.

Sebab, benar adanya: hidup itu hanya tiga episode—lahir, menikah, lalu mati.

Tapi, makna kehidupan tidak ditentukan oleh ketiga peristiwa itu. Ia ditentukan oleh apa yang kita isi di antara ketiganya. ●

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *