Ilustrasi pembalap, lintasan dan tribun penonton sirkuit Jakabaring Sport City. (FOTO: AI)
Slot MotoGP Terbatas, Persaingan Ketat
KINGDOMSRIWIJAYA – Kalender MotoGP bukan daftar belanja yang bisa diisi sembarangan. Dorna Sports hanya mengizinkan maksimal 20 seri per musim, dan slot untuk 2018-2019 sudah hampir penuh. Ketika Alex Noerdin berjuang di Sumsel, Thailand—yang juga punya ambisi serupa—bergerak lebih cepat. Pada pertengahan 2017, beredar kabar buruk, Thailand berhasil mengamankan slot MotoGP 2018 di Sirkuit Buriram.
Alex Noerdin, yang bersiap fokus menata infrastruktur di Palembang, terkejut. “Biarin aja, dulu. Masih ada harapan”, kata Alex dalam wawancara dengan Mobilinanews, 7 Juni 2017. Ia masih percaya proses deal dengan investor sudah hampir final. Menunggu Perda (Peraturan Daerah) tentang sirkuit keluar, ia yakin Palembang bisa “take off to MotoGP”.
Namun realitasnya lebih kompleks. Pembangunan sirkuit membutuhkan investasi besar—estimasi awal Rp2-3 triliun—dan Pemprov Sumsel sendiri tidak bisa menanggung semuanya. Alex membutuhkan investor swasta.
Alex Noerdin bukan lah pria yang mudah menyerah. Pada November 2017, ia kembali terbang ke Jerman. Kali ini, bukan hanya untuk bertemu Tilke, tetapi untuk menghadiri acara-acara bergengsi otomotif Eropa dan melobi stakeholder Dorna Sports yang berada di sana.
“Terbang ke Jerman, Gubernur Bahas Moto GP Palembang,” begitu judul berita koran lokal terbitan November 2017. Dalam perjalanan itu, Alex membawa tim teknis dari Dishub Sumsel dan konsultan independen. Mereka mengunjungi kantor Tilke Engineering di Aachen, melihat mock-up desain sirkuit Jakabaring dalam bentuk 3D, dan membahas detail teknis homologasi FIM (Fédération Internationale de Motorcyclisme). “Persiapan sudah siap 90 persen”, kata Alex kepada media setelah kembali dari Jerman. “Tinggal finalisasi funding dan persiapan ground breaking”.
Namun di balik optimisme itu, Alex menyadari ada sesuatu yang berubah. Dorna Sports menunjukkan ketidakpastian. Ezpeleta, yang dulu antusias di Sepang, menyatakan, “Kami masih mengevaluasi beberapa lokasi di Indonesia”. Yang Alex Noerdin tidak tahu, saat itu di Jakarta, ITDC sedang menyiapkan proposal alternatif.
Pada akhir 2016, saat Alex Noerdin sibuk dengan Tilke di Jerman, sesuatu terjadi di Lombok. Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) — BUMN yang dulu bernama BTDC (Bali Tourism Development Corporation) — mendapatkan sertifikat Hak Pengelolaan Lahan dari Badan Pertanahan Nasional untuk membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Mandalika, Lombok Tengah. ITDC melihat potensi yang lebih besar dari sekadar sirkuit balap. Mereka ingin mengembangkan “Nusa Dua baru” di Lombok—kawasan pariwisata terpadu dengan resor, hotel, dan fasilitas olahraga. MotoGP adalah katalisatornya, bukan tujuannya. Pada Januari 2017, Mark Hughes dari Mrk1 Consulting membuat sketsa awal tata letak sirkuit di Mandalika.

Pada 11 Maret 2019, Presiden Joko Widodo bertemu Carmelo Ezpeleta di Istana Bogor. Dalam pertemuan itu, Jokowi secara resmi merestui Indonesia menjadi tuan rumah MotoGP—bukan di Palembang, melainkan di Mandalika. “Kita akan dapat dua kemanfaatan selain olahraga, pariwisata kita juga secara brand akan terangkat. Dan Mandalika mendapatkan investasi karena ini”, kata Jokowi dalam keterangan pers.
Pada 28 Januari 2019, ITDC dan Dorna Sports menandatangani Promoters’ Contracts di Madrid. Abdulbar M. Mansoer, Direktur Utama ITDC, dan Carmelo Ezpeleta, CEO Dorna, berjabat tangan di hadapan media internasional. MotoGP Indonesia resmi akan digelar di Mandalika mulai 2021. Alex Noerdin? Ia sudah tidak lagi menjabat gubernur. Masa jabatannya berakhir pada 2018, dan ia tidak bisa lagi mendorong proyek sirkuit MotoGP di Jakabaring Sport City.
Pembangunan Sirkuit Mandalika dimulai pada Oktober 2019, dua tahun setelah rencana awal. ITDC mengalokasikan dana besar—Rp3,6 triliun hanya untuk infrastruktur dasar KEK, ditambah investasi dari AIIB (Asian Infrastructure Investment Bank) sebesar Rp1,6 triliun. Sirkuit dengan panjang 4,31 km dan 17 tikungan ini dirancang dengan standar homologasi kelas A FIM—standar tertinggi untuk sirkuit MotoGP. Berbeda dengan konsep Tilke di Palembang yang mengitari danau, Mandalika menggunakan konsep “street circuit” yang mengikuti kontur tanah alami Lombok.
Empat tahun tahun setelah debutnya, MotoGP Mandalika mencapai puncak kejayaan. Pada 3-5 Oktober 2025, Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 mencatat angka yang membuat dunia melirik. Data Resmi MotoGP Mandalika 2025 mencatat, jumlah penonton total: 140.324 orang (naik 15,73% dari 121.252 di 2024). Penonton Race Day (Hari Puncak): 67.905 orang (naik dari 60.709 di 2024). Okupansi Hotel di KEK Mandalika: 100% penuh – Okupansi Hotel Seluruh NTB: Rata-rata 93% (Mataram 90%).
Penerbangan tambahan: 44 extra flight dari Garuda Indonesia, Citilink, AirAsia, Pelita Air, dan Wings Air. UMKM Terlibat: 120 pelaku (naik dari 60 di 2024). Perputaran Ekonomi: Rp4,8 triliun (setara US$289 juta). Tenaga Kerja Lokal: 2.073 orang asal NTB terlibat langsung. Realisasi Investasi KEK Mandalika: Rp5,7 triliun (hingga Juni 2025) – Penyerapan Tenaga Kerja KEK: 19.010 orang – Eksposur Media Internasional: 1,2 miliar tayangan digital Agenda MotoGP ini sebagai bagian penting dari promosi Indonesia.

Dampak ekonomi yang meluas. Angka Rp4,8 triliun bukan sekadar statistik. Ia terdistribusi ke sektor akomodasi yang membuat hotel-hotel di Lombok Tengah hingga Senggigi penuh sesak. Harga kamar melonjak 200-300% dari harga normal. Rumah warga disewakan sebagai homestay. Pada sektor transportasi: Bandara Internasional Lombok melayani 44 penerbangan tambahan. Taksi online, rental mobil, dan ojek pangkalan mendapat berkah.
Kemudian sektor kuliner jug kebagian. Restoran dan warung makan di sepanjang jalan menuju sirkuit ramai pengunjung. Omzet naik 60-80%. UMKM lokal pun demikian, produk tenun Sasak, madu trigona, kopi Sembalun, dan kerajinan lokal menjadi primadona. Industri kreatif dan media juga ikut kebagian, ada lebih dari 300 jurnalis asing meliput acara ini, membawa nama Lombok ke seluruh dunia tanpa biaya promosi. “Event seperti MotoGP menjadi etalase Indonesia yang berkelas global. Ini adalah bentuk nyata dari pemerataan pembangunan dan penguatan ekonomi masyarakat”, kata Menpora Dito.
What If? Andai MotoGP di Palembang
Saat melihat kejayaan Mandalika, tidak bisa tidak, muncul pertanyaan: Bagaimana jika Alex Noerdin yang berhasil mewujudkan Sirkuit MotoGP di Jakabaring Sport City?
Mari kita bayangkan skenario alternatif. Pertama, Infrastruktur Pendukung: Pada 2021, jika sirkuit Jakabaring sudah berdiri, infrastruktur pendukungnya akan sangat berbeda dengan Mandalika. Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS) Lampung-Palembang sudah selesai sejak 2019, memungkinkan fans dari Jakarta menempuh perjalanan darat hanya 6-8 jam melalui Pelabuhan Bakauheni. Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sudah internasional dengan kapasitas besar.
Kedua, Basis Penonton: Sumatera Selatan memiliki populasi 8 juta jiwa, lebih besar dari NTB (5 juta). Ditambah potensi penonton dari Jambi, Bengkulu, dan Lampung yang bisa datang via darat. Basis fans MotoGP di Sumatera sangat besar—buktinya, 23,81% penonton Sepang Malaysia adalah wisatawan Indonesia, banyak dari mereka berasal dari Sumatera.
Ketiga, Dampak Ekonomi Lokal: Jika Mandalika bisa menghasilkan Rp4,8 triliun dalam satu akhir pekan, Jakabaring bisa melampaui angka itu. Palembang memiliki infrastruktur kota yang lebih matang, hotel lebih beragam, dan jaringan restoran/kuliner yang lebih luas. Potensi multiplier effect ke sektor UMKM Palembang—songket, kain jumputan, pempek, tekwan—bisa sangat besar.
Keempat, Legacy Alex Noerdin: Alex akan melihat mimpi besarnya terwujud. Jakabaring, yang sudah menjadi ikon olahraga sejak SEA Games 2011, kemudian Asian Games 2018 akan naik kelas menjadi tuan rumah MotoGP. Ia akan dikenang bukan hanya sebagai “arsitek Jakabaring”, tetapi sebagai “Bapak MotoGP Indonesia”. Namun skenario itu tidak terjadi. Kekuasaan politik berikutnya tidak berniat melanjutkan dan merealisasikan mimpi Sumatera Selatan, mimpi Alex Noerdin dan mimpi pecinta otomotif yang kemudian menjadi mimpi Indonesia dan terwujud di Mandalika, NTB.

Namun perlu diingat, tanpa Alex Noerdin yang memulai perjuangan ini pada 2016, mungkin tidak akan ada MotoGP di Indonesia sama sekali. Alex adalah “pembuka jalan” yang menunjukkan bahwa Indonesia serius ingin kembali ke kalender MotoGP setelah 20 tahun absen.
Alex Noerdin mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada 25 Februari 2026. Ia pergi dengan mimpi Jakabaring yang belum tuntas. Namun warisannya tetap hidup. Setiap kali sorak-sorai penonton menggema di Stadion Gelora Sriwijaya, setiap kali dayung atlet membelah air Danau Jakabaring, setiap kali bendera antarbangsa berkibar di Bumi Sriwijaya—nama Alex Noerdin akan selalu dibisikkan oleh sejarah.
Rosihan Arsyad, pendahulunya sebagai Gubernur Sumsel (1998-2003), menulis pesan perpisahan yang menyentuh. “Selamat jalan, adinda Alex Noerdin. Anda telah melanjutkan pembangunan yang saya mulai dengan jauh lebih baik. Anda mempelopori pendidikan gratis dan mewujudkan Jakabaring Sport City menjadi kenyataan. Semoga semua ini menjadi amal ibadah dengan pahala yang tak terputus”.
MotoGP Mandalika 2025, dengan 140.324 penonton dan Rp4,8 triliun perputaran ekonomi, adalah bukti bahwa mimpi Alex—meski tidak terwujud di tempat yang ia inginkan—adalah mimpi yang valid dan berharga. Ia membuktikan bahwa olahraga bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, bahwa visi besar bisa mengubah nasib daerah, bahwa “rawa-rawa” bisa menjadi emas.
Kini, saat kita melihat ke arah Jakabaring—di mana sirkuit Tilke yang direncanakan Alex tidak pernah terbangun—kita tidak melihat kegagalan. Kita melihat sebuah monumen bagi seorang pria yang berani bermimpi lebih besar dari yang orang lain berani bayangkan. “Selamat jalan, Bapak Alex Noerdin. Mimpi Anda mungkin “dibagi” ke Lombok, tetapi semangat Anda—semangat untuk menantang ketidakmungkinan—akan selalu tinggal di Bumi Sriwijaya.
Alex Noerdin mungkin gagal membawa MotoGP ke Palembang, tetapi ia berhasil mengubah pola pikir pemimpin daerah di Indonesia. Ia membuktikan bahwa seorang Gubernur dari provinsi di Sumatera pun berani bermimpi setinggi langit dan duduk sejajar dengan arsitek dunia serta bos-bos olah raga global.
Gagalnya proyek sirkuit Jakabaring bukanlah kegagalan kapasitas, melainkan pergeseran momentum politik dan strategi nasional. Namun, setiap kali kita melihat bendera kotak-kotak dikibarkan di Mandalika, dan setiap kali data triliunan rupiah perputaran ekonomi diumumkan, kita diingatkan bahwa Alex Noerdin sudah membicarakan hal itu sepuluh tahun sebelum orang lain memikirkannya. (maspril aries)
Tamat.
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.





