Kawasan Jakabaring Sport City, Palembang. (FOTO: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA – Di bawah terik matahari Sumatera Selatan (Sumsel) yang membakar, angin berbisik membawa cerita tentang perubahan di sebuah kawasan yang berada di pinggiran Palembang, ibu kota Provinsi Sumsel. Dahulu, di wilayah Seberang Ulu (SU) Palembang, adalah hamparan hijau semak dan rawa yang tak terjamah pembangunan, di tempat ini hanya dihuni beberapa orang warga. Tempat ini mereka menyebutnya “Jakabaring”.
Jakabaring nama yang melekat merupakan kawasan yang mencekam, yang oleh warga setempat dijuluki sebagai “tempat jin buang anak”, Entah jin mana yang buang anaknya di sini? Kisah ini bukanlah dongeng mistis semata, melainkan realitas geografis yang keras. Di kawasan ini luas rawa dan semak belukar mencapai 2.400 hektar, terbentuk akibat genangan dan aliran dari anak Sungai Musi di sebelah utara serta Sungai Ogan di sebelah selatan. Beberapa anak Sungai Musi yang berada di Palembang Ulu, seperti Sungai Aur, dulunya bermuara langsung ke kawasan ini.
Sebelum menjadi pusat perhatian nasional, Jakabaring memang menjadi tempat yang ditakuti. Buaya, ular sanca, bahkan beruang dan rusa masih menjadikan kawasan ini sebagai habitat mereka. Bahkan pada 1950-an, wilayah ini bahkan menjadi jalur jelajah harimau Sumatera—predator puncak yang kini hampir punah.
Kawasan yang tadinya hutan semak belukar dan rawa menjelang awal reformasi 1998 di kawasan yang menyimpan kisah kelam, dikenal sebagai sarang nyamuk, dan wilayah yang ditakuti warganya, mulai dilakukan reklamasi. Reklamasi dilakukan pada masa Sumsel dipimpin Gubernur Ramli Hasan Basri.
Zusneli Zubir dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat dalam penelitiannya, “Even Olahraga Dan Kota Satelit: Perkembangan Jakabaring Dalam Tinjauan Sejarah Kota” (2016) menulis, Geliat Jakabaring mulai terasa, Gubernur Ramli Hasan Basri (1988-1998) bersama Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut, menginginkan Jakabaring menjadi sebuah pusat perkotaan dan perkantoran. Dalam impiannya Ramli Hasan, menginginkan kawasan hutan-rawa itu ‘disulap’ menjadi kawasan pusat perkantoran dan pusat niaga sebagaimana yang terletak di kawasan Seberang Ilir”.
Tentang nama “Jakabaring: menurut Zusneli Zubir, ketika nama Jakabaring pertama kali dicetuskan tahun 1972, dianggap sebagai ‘terra incognita’ dalam ingatan memori warga Palembang. Kawasan yang sepi itu, masih berupa rawa rawa yang dihuni oleh kawanan buaya dan ular berbisa. Kawasan Jakabaring pada periode 1970an masih ditutupi pohon besar yang juga digenangi oleh air rawa sepanjang tahun.

“Pada mulanya, Jakabaring hanya dihuni oleh beberapa orang yang menghuni tempat itu, yakni dari suku Jawa, Kabale, Batak dan Komering. Kisah akronim Jakabaring pun bermula dari gagasan Tjik Umar, seorang anggota TNI AD yang bertugas di Kodam Sriwijaya”, tulisnya.
Namun pasca reformasi 1998, kawasan Jakabaring yang dianggap ‘belantara kosong dari manusia’ itu sesungguhnya telah mulai didiami oleh beberapa orang bahkan sejak dekade 1950-an. Di atas lahannya seluas 325 hektar, kini berdiri sebuah mahakarya kebanggaan bangsa bernama “Jakabaring Sport City” (JSC), sebuah kota kawasan olahraga.
JSC adalah monumen hidup dari keberanian, visi, dan kerja keras para pemimpin daerah. Jika Jembatan Ampera adalah ikon cinta dan sejarah, maka Jakabaring adalah ikon masa depan, bukti bahwa dari tanah yang lunak dan tak menjanjikan, bisa lahir beton-beton pencakar prestasi dunia.
Rosihan Arsyad dan PON
Keberanian, visi dan kerja keras itu dimulai oleh seorang gubenur, bernama Rosihan Arsyad, seorang perwira tinggi TNI AL. Visi besar mulai menemukan bentuknya di era Gubernur Rosihan Arsyad (1998-2003). Ketika Sumatera Selatan ditunjuk sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI tahun 2004, Palembang membutuhkan sebuah stadion utama yang representatif. Rosihan Arsyad-lah yang berani mengambil keputusan bersejarah: menjadikan lahan semak belukar dam rawa Jakabaring sebagai pusat olahraga terpadu. Pilihannya sangat logis namun penuh tantangan. Di sinilah babak pertama pembangunan fisik dimulai.
Tiang pertama pembangunan stadion yang kini bernama Stadion Gelora Sriwijaya dimulai pada awal Januari 2001. Tahun 2001 menjadi tahun yang tidak terlupakan. Gubernur Rosihan Arsyad melakukan groundbreaking atau pemancangan stadion berkapasitas 36.000 penonton. Saat itu belum terbayang kemegahan yang akan datang. Yang ada hanyalah tekad untuk membangun stadion kebanggaan.
Prosesi pemancangan tiang pertama ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah penaklukan. “Untuk menjangkau lokasi groundbreaking kami saat itu naik perahu, karena dengan transportasi itu yang terdekat”, kenang seorang wartawan surat kabar nasional. Pembangunan stadion ini berlangsung bertahap dan akhirnya rampung pada tahun 2004, dan menjadi tempat untuk pembukaan serta penutupan PON XVI
Masih di kawasan Jakabaring, pada hari yang sama Gubernur Rosihan Aryad melakukan pemasangan batu pertama pembangunan markas Polresta Palembang, sekarang Polrestabes. Peristiwa ini menandai bahwa kawasan ini tidak hanya diperuntukkan bagi olahraga, tetapi juga direncanakan menjadi pusat pelayanan publik baru di Seberang Ulu. Ini adalah langkah awal yang brilian untuk memecah kepadatan penduduk dan pusat kota.

Pada saat itu di kawasan tersebut dibangun dua gedung olahraga atau GOR, yaitu GOR Dempo untuk cabang senam dan GOR Ranau untuk cabang olahraga bulutangkis. Hebatnya pembangunan dua GOR ini dibiaya dua perusahaan swasta, yang bergerak di minyak dan gas, serta industri pulp. Untuk pembangunan stadion membutuhkan anggaran sekitar R 98 miliar ini didanai melalui kombinasi Rp 50 miliar dari pemerintah pusat dan sisanya dari pemerintah Pemerintah Provinsi Sumsel dan Pemerintah Kota Palembang.
Rosihan Arsyad tidak hanya membangun fisik, tetapi juga merancang blue print dan network planning yang komprehensif untuk kawasan olahraga tersebut. Selama hampir empat tahun, mantan perwira angkatan laut dengan pangkat terakhir Laksamana Muda, memimpin persiapan penyelenggaraan dengan mengamati kemajuan fisik berbagai fasilitas olahraga agar semua berjalan sesuai rencana.
“Ketika ditetapkan sebagai tuan rumah PON XVI 2004, kami menyadari bahwa Sumatera Selatan harus membuktikan diri”, kenang Rosihan Arsyad. “Tidak mudah memang, karena kami harus membangun fasilitas olahraga dari nol di atas rawa yang dalam”.
Proses teknis pembangunan di atas rawa gambut merupakan tantangan engineering yang signifikan. Tanah gambut memiliki karakteristik khusus: kompresibilitas tinggi, daya dukung rendah, dan potensi penurunan (subsidence) yang besar. Untuk mengatasi ini, tim konstruksi melakukan reklamasi dengan menyemprotkan pasir dari Sungai Musi dan Sungai Ogan ke atas rawa yang memiliki kedalaman hingga 20 meter di beberapa titik.
Meski data spesifik volume timbunan tanah tidak tercatat secara detail dalam dokumen publik, analisis teknis menunjukkan bahwa untuk menimbun area seluas 325 hektar dengan kedalaman rata-rata 2-3 meter diperlukan volume material sekitar 6,5 hingga 9,75 juta meter kubik. Timbunan tanah berasal dari daerah di luar Palembang, dari Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan Ogan Komering Ilir (OKI).
Syahrial Osman dan SFC
Namun, periode kepemimpinan Rosihan Arsyad berakhir pada 2003, sebelum PON XVI terselenggara. Dalam sebuah momen bersejarah yang menunjukkan kontinuitas kepemimpinan, Rosihan Arsyad yang kalah tipis dalam pemilihan gubernur 2003 di DPRD Sumsel melawan Syahrial Oesman, justru mengajak pemenangnya untuk berkeliling Jakabaring.

“Saya ajak Pak Syahrial keliling Jakabaring untuk melanjutkan komplek ini. PON tinggal beberapa bulan lagi”, ujar Rosihan. Gestur ini menunjukkan bahwa Jakabaring bukanlah proyek pribadi, melainkan warisan bangsa yang harus dilanjutkan siapa pun yang memegang tampuk kekuasaan di Bumi Sriwijaya.
Syahrial Oesman yang sebelumnya Bupati Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menerima tongkat estafet kepemimpinan Sumsel sebagai Gubernur Sumsel 2003 – 2008 dengan meneruskan pembangunan fasilitas olahraga di kawasan Jakabaring dan mempersiapkan atlet yang akan berlaga di PON XVI.
Di bawah Gubernur Syahrial Oesman, PON XVI 2004 akhirnya terselenggara dengan sukses di Palembang. PON dibuka Presiden Megawati Soekarnuputri dan menjadi PON pertama kalinya pasca Reformasi yang diselenggarakan di luar Pulau Jawa. Keberhasilan ini membuka mata banyak pihak bahwa provinsi di luar Jawa mampu menghelat even olahraga berskala nasional dengan standar tinggi.
Prestasi atlet Sumsel pun ikut melonjak, untuk pertama kalinya berada pada peringkat kelima atau peringkat pertama di luar Jawa di bawah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Atlet Sumsel sukses mengumpulkan total 111 medali yang terdiri 30 medali emas, 41 medali perak dan 40 perunggu.
Stadion Gelora Sriwijaya, yang diresmikan untuk PON XVI, langsung menjadi ikon baru Palembang. Dengan desain yang mengadopsi standar internasional. Nama “Gelora Sriwijaya” dipilih Syahrial Oesman untuk menghormati dan merayakan kejayaan Kerajaan Sriwijaya, imperium maritim yang berpusat di Palembang pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, yang berhasil menyatukan wilayah barat kepulauan Nusantara.
Namun, pasca-PON 2004, Jakabaring mengalami masa stagnasi. Fasilitas yang dibangun dengan susah payah mulai mengalami underutilization. Stadion megah itu jarang terisi penuh, dan kompleks olahraga yang luas mulai terasa berlebihan untuk kebutuhan olahraga lokal. Ada risiko bahwa Jakabaring akan menjadi “white elephant”—proyek infrastruktur mahal yang tidak terawat dan tidak produktif.
Di sinilah peran seorang pemimpin baru menjadi krusial. Syahrial berpikir bagaimana agar stadion dan dua GOR yang ada serta fasilitas lainnya tidak menjadi aset statis, tetapi sebagai platform dinamis untuk transformasi sosial dan ekonomi. Gubernur Sumsel Syahrial Oesman kemudian membeli klub Persijatim FC yang kemudian menjelma menjadi Sriwijaya FC. Cara ini terbukti berhasil, Sriwijaya FC lalu menjadi ikon baru Sumsel dan kawasan olahraga Jakabaring pun kembali ramai dengan aktivitasnya.
Jakabaring menjadi pusat pertumbuhan baru (growth center) di Palembang, bukan sekadar kompleks olahraga yang mati setelah PON selesai, seperti yang terjadi pada beberapa provinsi yang pernah menjadi tuan rumah PON.

Alex Noerdin dan JSC
Setelah kepemimpinan Gubernur Syahrial Oesman berakhir, tongkat kepemimpinan Sumsel beralih ke tangan Alex Noerdin yang sukses mengalahkan calon petahan Syahrial Oesman pada pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung pada 2008.
Alex Noerdin datang sebagai seseorang yang memahami bahwa olahraga bukan sekadar pertandingan, melainkan instrumen diplomasi, pengembangan sumber daya manusia, dan pemicu pembangunan infrastruktur. Sebelumnya saat menjabat Bupati Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) sukses membangun beberapa fasilitas olahraga yang waktu itu Sekayu ibu kota Kabupaten Muba menjadi tempat beberapa cabang olahraga PON XVI, yaitu cabang berkuda, olahraga dan tenis meja. Alex Noerdin sukses membangun kolam renang, stable berkuda dan wisma atlet.
Kepedulian Alex Noerdin yang terpilih sebagai Gubernur Sumsel 2008 – 2013 semakin bersinar ketika dirinya ditunjuk menjadi Chief de Mission (CdM) kontingen Indonesia ke SEA Games XXV yang berlangsung di
Vientiane, Laos tahun 2009. Delapan tahun kemudian pada Islamic Solidarity Games (ISG) ke-4 tahun 2017 yang berlangsung di Baku, Azerbaijan, 12 – 22 Mei, Alex Noerdin kembali memimpin kontingen. Indonesia. Alex Noerdin menjadi orang kedua Sumsel yang menjadi CdM setelah sebelum Rosihan Arsyad menjadi CdM pada Olimpiade Beijin rahun 2008.
Dengan bekal pengalaman itu, setelah Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah SEA Games XXVI yang akan berlangsung di Palembang, dengan visi yang tajam tentang potensi Jakabaring yang belum tergarap maksimal. Alex Noerdin bergerak cepat. Bagi nya olahraga adalah “instrumen diplomasi paling tajam untuk mengangkat marwah daerah.”
Tahun 2009 menjadi titik balik paling krusial dalam karier kepemimpinan Alex Noerdin, saat itu ia menyatakan kesiapan Sumatera Selatan menjadi tuan rumah tunggal SEA Games 2011 di luar Jakarta. Keputusan ini bukanlah tanpa risiko. Banyak pihak di tingkat nasional memandang remeh meski Sumsel telah membuktikan diri melalui PON 2004. Keraguan muncul: mampukah sebuah provinsi di luar Jawa menghelat gelaran akbar negara-negara Asia Tenggara dalam waktu persiapan yang sangat singkat—kurang dari dua tahun?
Alex justru melihat celah strategis di tengah keraguan tersebut. Di bawah komandonya, kawasan Jakabaring dengan beberapa fasilitas atau venue olahraga yang sudah, justru bermetamorfosis mencengangkan. Dalam kurun waktu yang sangat singkat, kurang dari dua tahun, Alex berhasil membangun dan merevitalisasi venue yang ada menambah dengan venue yang baru serta memenuhi standar internasional.

Proses ini bukanlah tanpa tantangan, salah satunya keterbatasan anggaran daerah memang menjadi kendala nyata. Sama seperti pendahulunya, Rosihan Arsyad yang melibat swasta membangun beberapa venue. Alex tidak lagi terpaku pada APBD, ia melancarkan diplomasi lobi yang memikat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan raksasa swasta untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur olahraga.
Salah satunya PT Bukit Asam (PTBA) Tbk BUMN tambang batu bara yang berpusat di Tanjung Enim membangun stadion tenis standar internasional. Membangun Aquatic Center yang menjadi salah satu terbaik di Asia Tenggara saat itu dan mendapatkan sertifikasi dari Federasi Renang Internasional (FINA). Membangun Stadion Atletik sesuai standar internasional Asosiasi Atletik Dunia (IAAF). Stadion ini dilengkapi dengan fasilitas penunjang untuk nomor lempar, lompat, dan lari.
Ada Lapangan Tembak menjadi salah satu yang tercanggih di Indonesia dengan sistem perangkat elektronik untuk berbagai nomor pertandingan, mulai dari pistol hingga senapan angin, dan Venue Dayung (Regatta Course) sekaligus ski air dengan memanfaatkan danau buatan di tengah kompleks JSC. Lintasan ini merupakan salah satu lintasan dayung, kano, dan kayak terbaik di Asia karena kondisinya yang tenang dan pemandangannya yang estetis.
Alex Noerdin datang dengan energi baru, gaya kepemimpinan yang blak-blakan, dan visi yang melampaui batas-batas provinsi dan jauh ke depan. Bagi Alex, Jakabaring yang sudah ada sejak era Rosihan adalah aset tidur yang harus dibangunkan. Ia tidak ingin Jakabaring hanya menjadi sebatas tuan rumah PON. Ia ingin Jakabaring menjadi tuan rumah olahraga dunia dunia ata interansional.
Dalam suatu kesempatan usai pelaksanaan SEA Games XXVI Alex berdiskusi dengan wartawan di lantai 18 sebuah hotel berbintang lima di Palembang, ia mengatakan, “Ke depan kita ingin menjadi tuan rumah even olahraga sekelas Asia seperti Asian Games atau Olipimade. Untuk even nasional, biar provinsi lain yang menyelenggarakannya”.
Itu bukan kalimat yang sombong, tapi bukti dan kepercayaan diri dari Sumatera Selatan. Ini terbukti, Sumsel kembali menyenggarakan Islamic Solidarity Games (ISG) 2013 memanfaatkan berbagai venue yang telah dibangun untuk SEA Games 2011, dengan beberapa peningkatan fasilitas. Sumsel menyelamatkan wajah Indonesia di hadapan negara-negara Islam yang menjadi peserta ISG setelah sebelum Provinsi Riau yang ditunjuk tidak mampu menyelenggarakan, kemudian ditunjuk Jakarta sebagai penggantinya juga tidak siap.
Usai menjadi tuan rumah ISG, Alex Noerdin kembali bersiap untuk mempersiapkan kawasan Jakabaring Sport City (JSC) yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang pembukaan SEA Games, sebagai tuan rumah Asean University Games 2014

Tahun 2014 menjadi saksi bisu keberhasilan Jakabaring menyelenggarakan ASEAN University Games (AUG) ke-17. Even ini berbeda dari sebelumnya karena pesertanya atlet-atlet mahasiswa dari universitas-universitas di 10 negara ASEAN plus Timor Leste. Dengan motto “ASEAN In Harmony”, even ini menekankan persatuan dan kerjasama antarnegara-negara Asia Tenggara melalui olahraga. Dari 10 – 21 Desember 2014, sekitar 1.000 atlet dari 11 negara berkompetisi dalam 18 cabang olahraga dengan 497 event. Indonesia sebagai tuan rumah berhasil meraih 66 medali emas, 78 perak, dan 46 perunggu, menempatkan mereka di posisi pertama klasemen medali, mengungguli Thailand (53 emas) dan Malaysia (40 emas).
Upacara pembukaan yang megah di Stadion Gelora Sriwijaya dibuka Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla. Gubernur Alex Noerdin saat itu menyatakan dengan percaya diri: “Hosting AUG is easier to prepare compared to SEA Games or Islamic Solidarity Games because all of the supporting facilities are complete”. Pernyataan ini mencerminkan keberhasilan transformasi Jakabaring dari kompleks olahraga baru menjadi venue matang yang siap menghelat berbagai even internasional dengan persiapan minimal.
Jika Rosihan Arsyad adalah peletak batu pertama yang berani membuka hutan rawa, Syahrial Oesman melanjutkan dengan menyelenggarakan pekan olahraga multi even pertama di Sumsel, maka Alex Noerdin adalah arsitek yang mengubah bangunan bata dan menyempurnakannya menjadi istana peradaban.
Ia datang dengan energi baru, gaya kepemimpinan yang blak-blakan, dan visi yang melampaui batas-batas provinsi. Bagi Alex, Jakabaring yang sudah ada sejak era Rosihan adalah aset tidur yang harus dibangunkan. Ia tidak ingin Jakabaring hanya menjadi tuan rumah PON setiap empat tahun sekali. Ia ingin Jakabaring menjadi tuan rumah dunia.
Di Jakabaring terlihat kedewasaan tiga Gubernur Sumsel tersebut dalam kebersamaan melanjutkan program-program pembangunan dari pendahulunya. Tidak ada persaingan ego dalam program mereka dalam membangun Sumatera Selatan.
Alex Noerdin telah pergi ke haribaan Ilahi, namun legasinya abadi di setiap sudut Jakabaring. Di setiap tiang pancang yang menyangga stadion megah, di setiap air mancur yang menghiasi danau buatan, di setiap senyum atlet yang berlatih di fasilitas kelas dunia—sang arsitek terus hidup.
Selamat jalan, sang arsitek penyempurna Jakabaring. Terima kasih telah mengajarkan kita bahwa visi besar, ketika diiringi kerja keras dan kebijakan strategis, mampu mengubah “tempat jin buang anak” menjadi “kota olahraga dunia”. Sejarah akan selalu mengingatmu, bukan hanya sebagai gubernur, melainkan sebagai pelukis peradaban yang berani bermimpi dalam skala megah dan mewujudkannya dengan tangan sendiri. (maspril aries)





