Gubernur Alex Noerdin dan Pengurus PWI Pusat di kampus Missouri of University, Amerika Serikat. (FOTO: Dok, Kingdomsriwijaya,id)
Sekolah Jurnalisme Indonesia
Tak sampai di situ. Alex Noerdin tetap berusaha merealisaikan gagasnya untuk mendirikan Sekolah Jurnalisme yang kampusnya ada di Palembang. Gagasan ini lahir dari pengamatannya akan realitas jurnalisme Indonesia yang pahit. Meskipun kebebasan pers berkembang pesat pasca-Reformasi, kualitas pelaporan seringkali menjadi masalah. Banyak wartawan—terutama di daerah—tidak memiliki pendidikan formal jurnalisme. Mereka belajar “on the job”, seringkali tanpa pemahaman mendalam tentang kaidah jurnalistik, etika, bahasa jurnalistik, metode investigasi, sampai analisis kritis.
Akibatnya, jurnalisme Indonesia seringkali terjebak dalam “sensasionalisme” atau menjadi alat kepentingan politik/komersial tanpa kesadaran kritis. Berita yang seharusnya mengedukasi malah memecah belah. Liputan yang seharusnya mengawal malah menjilat. Dan wartawan yang seharusnya menjadi penjaga demokrasi malah menjadi budak rating atau kepentingan pemilik modal.
Alex melihat ini sebagai masalah struktural yang memerlukan solusi struktural. Jika Indonesia ingin memiliki media massa yang berkualitas, maka diperlukan institusi pendidikan yang dapat melahirkan wartawan-wartawan dengan standar internasional. Bukan akademi yang sekadar mengajarkan teknik menulis berita, tapi sekolah yang membentuk “public intellectual” —wartawan yang memahami konteks sosial, politik, dan ekonomi, serta mampu melakukan jurnalisme investigatif yang mendalam.
Menurut Ketua PWI Hendry Ch Bangun saat mengaktifkan kembali SJI di Bandung, “Kami dari PWI Pusat bekerja sama dengan Gubernur Sumsel pada waktu itu Pak Alex Noerdin yang menggagas sebuah produk yang bernama Sekolah Jurnalisme Indonesia”.
Gagasan SJI mendapatkan respons positif dari PWI Pusat. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi profesi ini mencerminkan model “public-private partnership” yang inovatif dalam pengembangan sumber daya manusia. Alex Noerdin menyediakan dukungan politik dan infrastruktur, sementara PWI menyediakan keahlian jurnalisme dan jaringan profesional. SJI yang diresmikan Tanggal 9 Februari 2010—bertepatan dengan HPN—di Palembang adalah adalah institusi pendidikan non-formal pertama di Indonesia yang didedikasikan khusus untuk meningkatkan kompetensi wartawan secara sistematis dan berkelanjutan.

Riset yang dilakukan beberapa tahun setelah berdirinya SJI menunjukkan dampak yang signifikan, terjadi peningkatan kualitas penulisan berita di media lokal Sumatera Selatan yang lebih mengedepankan data dan analisis dibanding opini mentah. Wartawan-wartawan SJI menjadi known for their depth—mereka yang datang ke sebuah konferensi pers tidak hanya mencari quote sensational, tapi memahami konteks kebijakan.
University of Missouri
Tapi Alex Noerdin tidak berhenti pada gagasan domestik. Ia memiliki visi internasional. Dengan menggandeng PWI, Alex Noerdin berkeinginan mendirikan sebuah sekolah tinggi jurnalisme di Palembang. Pada 2014 Alex Noerdin bersama pengurus PWI terbang ke Amerika Serikat untuk memastikan berjumpa dengan mitranya sebuah institusi jurnalisme terbaik di dunia untuk memastikan standar global. Pilihannya jatuh pada University of Missouri, Amerika Serikat atau School of Journalisme —sekolah jurnalisme tertua dan paling bergengsi di AS, yang telah melahirkan puluhan pemenang Pulitzer Prize.
Kedatangan Alex ke Missouri menandai puncak dari visi internasional Alex Noerdin. Dalam kunjungan ke Amerika Serikat, ia bertemu dengan pimpinan School of Journalism, University of Missouri, untuk menjalin kerja sama formal.
Kunjungan ke Missouri bukan sekadar tour akademis. Alex membawa misi diplomatik yang jelas: membawa standar jurnalisme Missouri ke Indonesia. Missouri School of Journalism, didirikan tahun 1908, adalah institusi yang menciptakan model “Missouri Method”—pendekatan hands-on learning di mana mahasiswa belajar jurnalisme dengan benar-benar bekerja di media profesional (newspaper, TV, radio, digital) yang dikelola oleh sekolah. Model ini dianggap gold standard dalam pendidikan jurnalisme global.
Dalam pertemuan tersebut, yang berlangsung di St. Louis. Media of the future facilitator Profesor Mike McKean menyambut delegasi dari Indonesia dengan antusias. “Merupakan kebanggaan bagi kami berbagi ilmu pengetahuan dengan Indonesia. Kami siap berbagi karena Kami sudah lama fokus terhadap pengajaran yang berbasis teknologi dan sosial media”, katanya.

Fritz Cropp, Associate Dean for Global Programs dari Missouri School of Journalism, menjelaskan bahwa Universitas Missouri sebagai salah satu kampus terbaik di bidang jurnalisme akan memberikan bantuan berupa kurikulum dan juga tenaga pengajar untuk perguruan tinggi jurnalisme yang akan dibangun di Sumsel.
Menurut McKean, kurikulum di kampus tersebut dirancang dengan sangat hati-hati. Setiap mahasiswa baru akan diajarkan ilmu dasar jurnalisme secara global. Memasuki tahun ketiga, mahasiswa diperkenankan mendalami satu atau dua jenis mata kuliah yang diajarkan. “Setelah mendapat basisnya kita beri kesempatan memilih spesialisasi” ujarnya.
Gubernur Alex Noerdin dalam pertemuan di kampus Missouri tersebut, mengungkapkan visinya dengan penuh semangat. “Kehadiran perguruan tinggi jurnalisme di Sumatera Selatan merupakan impian sejak lama. Karena kehadiran dunia jurnalisme dapat menjadi penyeimbang sekaligus memperkuat posisi Sumatera Selatan di tataran nasional hingga global. Ini mimpi saya yang telah lama ada di benak”, katanya.
Kerja sama ini mencakup, Kurikulum yang disesuaikan dengan standar Missouri: Mengadopsi best practices dari sekolah jurnalisme tertua di dunia. Pelatihan dosen dan instruktur oleh fakultas Missouri: Transfer knowledge langsung dari pengajar berpengalaman. Program exchange mahasiswa dan dosen: Membuka wawasan internasional bagi wartawan Indonesia. Sertifikasi standar internasional: Memberikan credential yang diakui global bagi lulusannya,
Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat Marah Sakti Siregar dan Direktur Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Ahmed Kurnia Soeriawidjaja ikut hadir di kampus School of Journalism di Universitas Missouri menyaksikan tercapaunya kesepakatan itu dengan penuh harap. Marah Sakti, wartawan senior yang pernah bertugas di majalah Tempo, meyakini keinginan Alex Noerdin akan terwujud.
“Keyakinan itu terwujud mengingat Sumsel bukan hanya pionir berdirinya SJI akan tetapi keberadaan SJI Sumsel sudah terbukti sebagai SJI terbaik dari 9 daerah yang ada”, katanya. “Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sudah menyiapkan izin pendirian SJI yang berbasis internasional ini”.
School of Journalism di Universitas Missouri merupakan sekolah jurnalisme tertua di dunia didirikan Walter William pada 1908. Sekolah ini dikenal sebagai sekolah yang menerapkan teori dan praktik secara bersamaan. Dengan track record tersebut Marah Sakti berharap dalam dua tahun mendatang kampus kembar Universitas Missouri di bidang jurnalisme akan ada di Sumatera Selatan.

“Semua itu akan kita mulai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU antara Universitas Missouri, PWI dan Pemerintah Provinsi Sumsel”, ujar Ahmed Kurnia.
Kunjungan ini juga mencerminkan karakter Alex Noerdin sebagai “gubernur visioner” yang tidak terbatas oleh batasan geografis atau administratif. Ia melihat bahwa pembangunan sumber daya manusia—khususnya dalam bidang jurnalisme—memerlukan exposure internasional dan transfer knowledge dari institusi terbaik dunia. Dan kunjungan ke Missouri menunjukkan konsistensi komitmennya terhadap jurnalisme.
Diplomasi jurnalisme ini juga mencerminkan pemahaman Noerdin tentang soft power. Dalam konteks internasional, kualitas media dan kebebasan pers menjadi indikator penting bagi demokrasi dan good governance. Dengan menghubungkan PWI (SJI) dengan Missouri, Alex tidak hanya meningkatkan kualitas jurnalisme lokal, tapi juga membangun citra internasional Sumatera Selatan sebagai provinsi yang progresif dan terbuka.
Kembali ke Indonesia, Alex Noerdin ingin mempercepat implementasi Sekolah Jurnalisme Indonesia. Dengan dukungan PWI Pusat dan kolaborasi Missouri, SJI sendiri mulai beroperasi secara intensif untuk kemudian menjadikan Sumatera Selatan sebagai pusat pendidikan jurnalisme nasional.
Dampak dari SJI mulai terasa sejak awal. Bagi wartawan yang sudah bekerja, SJI menawarkan program professional development untuk meningkatkan skill. Bagi generasi baru, SJI menjadi gateway menuju karir jurnalisme yang berkualitas. Lebih penting lagi, SJI menciptakan kultur baru: jurnalisme sebagai profesi yang memerlukan pendidikan formal, bukan sekadar “bakat alami” atau “kerja sambilan”.
Sampai akhir masa jabatan tahun 2018, sekolah jurnalisme tersebut belum bisa terealiasi walau Alex Noerdin telah mengalokasikan tanah untuk kampusnya di kawasan Jakabaring tak jauh dari kampus Politeknik Pariwisata (Poltekpar). Selain itu, pada masa tersebu efisiensi APBD tengah diberlakukan pada pemerintah provinsi sehingga perguruan tinggi jurnalisme yang ia cita-citakan tidak terwujud.

Dalam lingkup area kerjanya di lingkungan kantor Gubernur Sumsel, Alex Noerdin menginstruksikan Kepala Biro Humas dan Protokol saat itu, Irene Camelyn untuk mempersiapkan ruangan dan fasilitas press room tempat wartawan berkumpul dan bekerja. Sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang kerjanya, hanya dalam hitungan belasan langkah akhirnya siap digunakan. “Press room nya nyaman, fasilitas tersedia, dari komputer, jaringan internet sampai untuk ngopi dan camilan tersedia”, kata seorang reporter televisi.
Untuk organisasi wartawan, salah satunya PWI Sumsel, Alex Noerdin membangun sebuah gedung baru berlantai dua terletak di kawasan Jaka Baring. Selama ini PWI Sumsel memiliki kantor sekretariat menempati sebuah bangunan atau rumah yang dipinjamkan oleh Kodam II/ Sriwijaya di Jalan Supeno. Entah apa penyebabnya, kemudian gedung baru tersebut berubah menjadi kantor Bawaslu Provinsi Sumsel.
Sebelumnya, Alex Noerdin yang ditunjuk menjadi Chief de Mission (CdM) atau pimpinan kontingen Indonesia ke SEA Games XXV di Vientiane, Laos tahun 2009, untuk liputan juga melibatkan wartawan daerah dari Sumatera Selatan. “Kami dari beberapa wartawan dari surat kabar daerah dilibatkan Pak Alex untuk meliput SEA Games di Laos. Untuk mencapai Vientiane ibu kota Laos, kami menggunakan perjalanan darat dari Bangkok setelah sebelumnya terbang dari Jakarta – Bangkok”, kenang seorang wartawan senior yang ikut dalam rombongan tersebut.
Cerita lain dari Palembang, saat beberapa wartawan foto di Sumsel menggagas pameran foto bertajuk “Kilas Balik” langsung mendapat respon dari Alex Noerdin. “Saat kami sampaikan proposal ke beliau dan beliau langsung setuju memfasilitasi pameran foto tersebut yang menjadi pameran foto terbesar bertempat di mal”, kata seorang pewarta foto senior. Semasa Alex Noerdin menjabat Gubernur Sumsel, pameran foto tersebut sempat berlangsung beberapa kali pada setiap akhir tahun.
Hubungan antara Alex Noerdin dengan pers atau wartawan adalah sebuah kisah yang jujur yang bercerita tentang puncak-puncak gemilang kesuksesan dan keberhasilan Provinsi Sumsel pada masa kepemimpinan Gubernur Alex Noerdin dua periode, 2008 – 2013 dan 2013 – 2018.
Mengingat kembali warisan Alex Noerdin dalam bidang pers dan jurnalisme, beberapa poin krusial yang seharusnya menjadi warisan dalam hubungan seorang kepala daerah dengan wartawan atau pers. Pertama, institusionalisasi dukungan terhadap pers. Piagam Palembang 2010 dan SJI bukan sekadar proyek ad hoc yang mati begitu sang gubernur lengser. Mereka adalah institusi yang terus berkembang. Piagam Palembang menjadi acuan kebijakan Dewan Pers sampai sekarang, sementara SJI melahirkan generasi wartawan yang lebih berkualitas dan telah direplikasi di provinsi lain seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jakarta.

Kedua, model kolaborasi pemerintah-organisasi profesi. Hubungan Noerdin dengan PWI menunjukkan bahwa kerja sama antara kekuasaan politik dan media bisa produktif tanpa mengorbankan independensi. PWI tetap kritis terhadap kebijakan Noerdin ketika perlu, tapi juga mengakui kontribusi positifnya. Ini adalah model hubungan yang sehat: tidak antagonistik, tapi juga tidak kooptatif.
Ketiga, internasionalisasi standar jurnalisme. Kolaborasi dengan Missouri University membuka wawasan bahwa jurnalisme Indonesia harus bersaing secara global. Ini mengangkat martabat profesi dan menarik generasi muda yang berkualitas untuk memasuki bidang jurnalisme. SJI tidak lagi dipandang sebagai “pelatihan lokal”, tapi sebagai institusi dengan credential internasional.
Keempat, pendidikan sebagai solusi. Alex Noerdin memahami bahwa masalah fundamental dalam jurnalisme Indonesia adalah kualitas SDM. Dengan mendirikan SJI, ia menawarkan solusi struktural, bukan sekadar retorika tentang “kebebasan pers”. Ia membuktikan bahwa kebebasan tanpa kompetensi adalah berbahaya, dan kompetensi tanpa kebebasan adalah sia-sia.
Dalam konteks kontemporer, di mana kebebasan pers di Indonesia menghadapi tantangan baru—dari regulasi yang membatasi, serangan digital, hingga konsentrasi kepemilikan media—warisan Alex Noerdin menjadi semakin relevan. Model SJI menunjukkan bahwa penguatan kapasitas wartawan adalah pertahanan terbaik terhadap ancaman terhadap kebebasan pers.
Seorang pengamat media digital menulis: “Di era di mana semua orang bisa jadi content creator dan berita palsu menyebar lebih cepat dari kebenaran, kita membutuhkan institusi seperti SJI lebih dari sebelumnya. Kita membutuhkan wartawan yang tidak hanya bisa menulis cepat, tapi bisa memverifikasi, menganalisis, dan mengedukasi. Visi Alex Noerdin tentang wartawan sebagai public intellectual bukan lagi luxury, tapi necessity”.
Dari perspektif akademis, hubungan Alex Noerdin dengan pers bisa dianalisis melalui beberapa kerangka teori yang membantu kita memahami mengapa ia berbeda dari politisi-politisi lain: 1. Political Communication Theory: Alex menggunakan media sebagai alat political communication yang efektif. Tapi berbeda dari politisi yang hanya menggunakan media untuk propaganda, ia juga berinvestasi dalam capacity building media—menciptakan “win-win” yang langka. Ia memahami bahwa komunikasi politik yang efektif memerlukan media yang kompeten, bukan hanya media yang patuh.

2. Media Development Theory: Kontribusi Alex Noerdin terhadap SJI dan Piagam Palembang mencerminkan pemahaman tentang “media development”—konsep yang menekankan bahwa kebebasan pers memerlukan infrastruktur pendukung, termasuk pendidikan dan regulasi yang mendukung. Ia tidak hanya berbicara tentang hak, tapi juga membangun kemampuan untuk menjalankan hak tersebut.
3. Patron-Client Relationship dalam Politik Indonesia: Seperti diungkapkan dalam kajian Northwestern University (2014), politisi Indonesia seringkali membangun hubungan patron-klien dengan berbagai kelompok. Hubungan Alex dengan wartawan bisa dilihat sebagai bentuk “clientelism” yang positif—di mana sumber daya negara (dalam bentuk dukungan terhadap SJI) digunakan untuk membangun koalisi dengan kelompok profesi, bukan untuk eksploitasi pribadi. Perbedaannya adalah: dalam hubungan patron-klien tradisional, yang diberikan adalah “hadiah” untuk loyalitas. Dalam hubungan Alex – pers, yang diberikan adalah “investasi” untuk kualitas.
4. Soft Power dan Public Diplomacy: Kolaborasi dengan Missouri University mencerminkan penggunaan “soft power”—menggunakan pendidikan dan budaya untuk membangun reputasi internasional. Ini relevan dengan teori public diplomacy yang dikembangkan oleh Joseph Nye. Noerdin memahami bahwa reputasi internasional Sumsel tidak hanya dibangun oleh infrastruktur fisik, tapi juga oleh kualitas institusi intelektualnya.
Sebagai Gubernur Sumsel, Alex Noerdin bukan sekadar “baik hati” atau populisme, tapi memiliki logika politik dan teoritis yang koheren. Ia memahami bahwa dalam demokrasi modern, legitimasi politik sangat bergantung pada performa di media—dan performa terbaik datang dari media yang berkualitas dan bebas.
Epilog
Alex Noerdin meninggal dunia pada 26 Februari 2026 pada bulan Ramadan, meninggalkan warisan yang kompleks—pencapaian pembangunan infrastruktur yang monumental, program sosial yang ekspansif. Tapi dalam bidang pers dan jurnalisme, jejaknya tetap jelas dan positif. Alex Noerdin menunjukkan bahwa politisi dan wartawan bisa menjadi mitra dalam membangun demokrasi. Bukan hubungan tanpa konflik—tapi hubungan yang mengakhiri konflik dengan dialog, bukan kekerasan.
Tapi mungkin yang paling penting adalah spirit yang ia tanamkan. Spirit bahwa kebebasan pers bukan sekadar hak konstitusional yang diperjuangkan di jalanan, tapi infrastruktur yang memerlukan investasi, pendidikan, dan perlindungan terus-menerus. Spirit bahwa pemerintah dan pers tidak harus berperang, tapi bisa saling menguatkan. Dan spirit bahwa jurnalisme adalah profesi mulia yang layak mendapatkan dukungan dan penghargaan tertinggi.
Selamat jalan Sahabat Pers Sejati, semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik bagi mu Sang Governor di sisi Nya. (maspril aries)
Tamat
#Penulisan konten ini diolah dengan bantuan AI.






