Anggrek Dendrobium yang telah dipetik di Anggrek Martha, Bukit Lama yang sudah dipesan dan siap menghiasi Tahun Baru Imlek. (FOTO: Maspril Aries)
KINGDOMSRIWIJAYA – Setiap menjelang Tahun Baru Imlek, Anggrek Martha yang beralamat di Jalan Sultan M Mansyur, Bukit Lama, Palembang selalu mendapat pesanan bunga anggrek. Jauh-jauh hari sebelum Imlek tiba bunga-bunga anggrek tersebut sudah dipesan. Untuk apa? Bunga anggrek tersebut untuk perayaan Tahun Baru Imlek yang pada 2026 bertepatan dengan tanggal 17 Februari. Jauh hari, sejak Desember 2025 dan Januari 2026 anggrek yang ditanam bunganya mulai bermekaran.
Bunga anggrek, khususnya jenis anggrek bulan (Phalaenopsis), punya kedudukan spesial dalam perayaan Imlek. Hubungannya bukan cuma soal dekorasi biar rumah kelihatan cantik, tapi lebih ke arah simbolisme dan filosofi mendalam bagi masyarakat Tionghoa.
Di Jakarta, pasa setiap perayaan Tahun Baru Imlek, di sudut sebuah pasar bunga di kawasan Glodok, Jakarta Barat, terlihat kepulan asap hio samar-samar menyatu dengan aroma tanah basah dan wangi floral yang lembut. Di antara keriuhan warga yang memburu lampion merah dan amplop angpao, ada satu sosok yang selalu menjadi primadona yang tenang namun dominan yakni bunga anggrek bulan.
Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian kalender. Ia adalah Chun Jie atau Festival Musim Semi—sebuah momen transisi dari musim dingin yang beku menuju kehangatan yang membawa kehidupan. Pada momen itu bunga anggrek hadir bukan hanya sebagai penghias meja tamu, melainkan sebagai pembawa pesan filosofis yang telah mengakar selama ribuan tahun.
Filosofi di Balik Keindahan
Mau tahu, mengapa harus bunga anggrek? Mengapa bukan mawar yang universal atau melati yang harum semerbak? Jawabannya terletak pada ketahanan dan struktur bunga itu sendiri.
Dalam kosmologi Tionghoa, anggrek dianggap sebagai representasi dari kesuburan. Bentuk kelopaknya yang simetris sempurna mencerminkan keseimbangan alam. Memajang anggrek di ruang utama saat Imlek dipercaya sebagai magnet bagi energi positif atau Chi. Keluarga yang memajang anggrek berharap bahwa sepanjang tahun, rezeki mereka akan tumbuh layaknya kelopak anggrek yang mekar satu demi satu—teratur, pasti, dan bertahan lama.

Berbeda dengan banyak bunga potong yang layu dalam hitungan hari, bunga anggrek dikenal dikenal karena daya tahannya yang luar biasa. Ia bisa mekar hingga berminggu-minggu, bahkan bulan. Karakter ini melambangkan martabat dan kemurnian. Di tengah badai perubahan tahun, anggrek tetap tegak dan anggun, mengajarkan manusia untuk tetap tenang dan mulia dalam menghadapi tantangan hidup.
Ini beberapa alasan mengapa anggrek selalu “eksis” saat Tahun Baru Imlek:
Pertama, Simbol Keberuntungan dan Kelimpahan. Dalam budaya Tionghoa, anggrek dianggap sebagai simbol kesuburan dan kelimpahan. Memajang anggrek di rumah saat Imlek dipercaya bisa menarik energi positif, kemakmuran, dan keberuntungan bagi penghuninya sepanjang tahun yang baru.
Kedua, Melambangkan Keanggunan dan Kemurnian. Anggrek dikenal sebagai bunga yang elegan dan tahan lama. Ini melambangkan karakter yang mulia, kehalusan budi, dan kemurnian. Memberikan atau memajang anggrek menunjukkan apresiasi terhadap keindahan hidup yang penuh martabat.
Ketiga, Makna Warna yang Selaras. Warna-warna anggrek yang populer saat Imlek biasanya membawa pesan tersendiri. Warna merah & pink (melambangkan kebahagiaan, gairah, dan nasib baik). Warna kuning/emas (melambangkan kekayaan dan kemuliaan atau warna kaisar. Warna ungu (melambangkan kemewahan dan penghormatan).
Keempat, Tradisi “Bunga Musim Semi”. Imlek juga dikenal sebagai Spring Festival (Festival Musim Semi). Karena anggrek mekar dengan indah dan bisa bertahan berminggu-minggu, bunga ini dianggap mewakili semangat musim semi yang membawa pembaruan dan harapan baru.
Kehadiran anggrek di rumah warga saat Imlek dipercaya mampu menarik energi positif (qi) dan kemakmuran. Filosofi ini sejalan dengan pemikiran filsuf Ernst Cassirer yang menyebut manusia sebagai animal symbolicum—makhluk penghasil simbol. Menurut Harsono dalam “Imlek Sebagai Permohonan dan Syukur” (2008), bahwa bagi manusia, simbol bukan sekadar benda mati. Simbol adalah aktualisasi ekspresi manusiawi; sebuah jembatan antara relung hati dan realitas kehidupan.
Ketika sebuah keluarga memajang anggrek di ruang tamu, mereka tidak hanya melihat keindahan fisiknya, tetapi sedang mengekspresikan kerinduan akan hidup yang subur, berkecukupan, dan harmonis sepanjang tahun.

Anggrek adalah flora penanda musim. Imlek yang juga dikenal sebagai Spring Festival adalah waktu di mana alam bangkit kembali dari dinginnya musim dingin. Bunga anggrek yang mekar dianggap sebagai pembawa pesan—tanda bahwa pembaruan dan harapan baru telah tiba.
Bahasa Warna Kelopak Anggrek
Setiap warna bunga anggrek yang populer saat Imlek membawa pesan tersendiri, memperkaya simbolisme yang ingin disampaikan. Warna merah muda (pink) dan merah sering mendominasi dekorasi karena melambangkan kebahagiaan, keberuntungan, dan gairah hidup. Sementara itu, warna kuning atau emas yang menjadi favorit lainnya melambangkan kekayaan dan kemuliaan—warna yang secara historis dikaitkan dengan kaisar. Adapun warna ungu, yang kerap dipilih untuk acara-acara besar, melambangkan kemewahan dan penghormatan terhadap tradisi.
Dalam keseharian, warna-warna ini bukan hanya soal selera estetika. Sebuah penelitian di Medan, Sumatera Utara menunjukkan bahwa selera konsumen berpengaruh signifikan terhadap permintaan anggrek. Namun, jika ditilik dari kacamata budaya, selera tersebut dibentuk oleh pemaknaan turun-temurun. Masyarakat Tionghoa memilih anggrek merah bukan semata karena cantik, tetapi karena ia mewakili harapan agar tahun yang dijalani penuh dengan semangat dan energi baik.
Ritual Imlek
Kehadiran anggrek dalam rumah saat Imlek tidak bisa dilepaskan dari rangkaian ritual panjang yang menyertai perayaan ini. Harsono dalam tulisannya menguraikan bahwa ritual Imlek berlangsung selama 21 hari, dimulai dengan doa kepada Dewa Dapur dan diakhiri dengan Festival Lampion (Cap Go Meh). Seluruh rangkaian ini memiliki tujuan utama: mencapai kesejahteraan, ketentraman, dan kebahagiaan.
Susanne K. Langer, seorang filsuf yang menjadi rujukan utama dalam tulisan Harsono, berpendapat bahwa ritual adalah sebuah bentuk simbol. Ritual lahir dari ekspresi manusia yang membentuk pola tertentu, kemudian pola itu menjadi aturan yang harus diikuti. Dalam konteks Imlek, ritual adalah ekspresi syukur kepada Tuhan (Thian). Rasa syukur ini sekaligus mengandung permohonan agar berkah dilimpahkan di tahun mendatang.

Nah, di sinilah anggrek mengambil perannya. Dalam tata cara perayaan, anggrek dan tanaman hias lainnya menjadi bagian dari “persembahan” dan dekorasi yang hidup. Meskipun dalam ritual sembahyang lebih banyak menggunakan buah-buahan seperti jeruk (simbol kekayaan), pear (simbol keabadian), dan semangka (simbol rezeki lancar), keberadaan tanaman berbunga seperti anggrek di sekitar altar atau di sudut rumah melengkapi suasana sakral tersebut. Bunga yang mekar menjadi metafora visual dari doa-doa yang “mekar” menuju langit.
Pada Tahun Baru Imlek atau tradisi “Bunga Musim Semi”, anggrek jarang berdiri sendirian. Ia biasanya menjadi bagian dari trimurti bunga keberuntungan yang menghiasi rumah-rumah warga yang merayakannya. Selain anggrke juga ada bunga Mei Hwa (Plum Blossom) yang melambangkan ketabahan karena mekar di akhir musim dingin, dan Pussy Willow dengan tunas-tunas bulunya melambangkan pertumbuhan ekonomi dan tunas baru yang menjanjikan. Ketiganya bersama-sama menciptakan atmosfer harapan. Jika Mei Hwa adalah simbol keberanian, maka anggrek adalah simbol hasil dari keberanian tersebut: keindahan yang menetap.
Anggrek Jembatan Jiwa dan Alam
Dalam filsafat Tionghoa, bunga bukan sekadar tanaman; ia adalah cermin jiwa manusia. Anggrek, atau “lan hua” dalam bahasa Mandarin, menempati posisi istimewa sebagai salah satu dari “Empat Pria Terhormat” (Si Junzi)—bersama bambu, krisan, dan plum blossom—yang melambangkan kebajikan pria bijak.
Konfusius, sang filsuf abadi, pernah menulis puisi tentang anggrek: “Anggrek mekar di lembah sunyi, harumnya tak terganggu angin ribut”, menggambarkan integritas yang tak tergoyahkan. Saat Imlek, simbolisme ini menjadi lebih kuat, anggrek bukan hanya dekorasi, tapi doa visual untuk kesuburan jiwa dan tanah.
Alasan utama kehadiran anggrek di Imlek adalah simbol keberuntungan dan kelimpahan. Dalam feng shui, anggrek ditempatkan di arah timur laut rumah untuk menarik chi positif, energi yang membawa rezeki. Kelopaknya yang simetris melambangkan keseimbangan yin-yang, kesempurnaan yang langka di dunia yang kacau. Bagi masyarakat Tionghoa, memajang anggrek saat Tahun Baru berarti mengundang kemakmuran: “Seperti anggrek yang tumbuh dari akar kecil menjadi taman indah”, kata pepatah kuno.

Lebih dari itu, anggrek mewakili keanggunan dan kemurnian. Bentuknya yang ramping dan aroma halusnya mengingatkan pada wanita bangsawan di istana kekaisaran, simbol kehalusan budi yang mulia. Memberikan anggrek sebagai hadiah Imlek adalah ungkapan apresiasi mendalam: “Kau seperti anggrek, indah tapi tak sombong”. Pada konteks sekarang, ini berarti menghargai keindahan hidup yang penuh martabat.
Pasar Bunga
Di banyak pasar bunga, pada beberapa kota besar di Indonesia, selain di Jakarta, di Medan menurut penelitian Khairunnisa Rangkuti dkk dalam penelitian berjudul “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Tanaman Anggrek (Orchidaceae) di Kota Medan” (2018), memasuki pekan-pekan terakhir sebelum Tahun Baru Imlek, pemandangan berbeda selalu terlihat di sejumlah kios tanaman hias di Kota Medan. Di Jalan H Adam Malik, Desa Glugur Kota, Kecamatan Medan Barat, deretan pot berisi tanaman anggrek dari berbagai warna berjejer rapi. Para pembeli tampak sibuk memilah, memilih warna kesukaan mereka—ada yang merah membara, kuning keemasan, hingga ungu anggun. Bagi masyarakat Tionghoa, membawa pulang anggrek bukan sekadar mengganti dekorasi rumah, melainkan mengundang filosofi hidup dan harapan baik untuk tahun yang baru.
Menjelang Tahun Baru Imlek permintaan terhadap tanaman anggrek mengalami peningkatan signifikan. Penelitian tersebut mencatat bahwa perayaan seperti Imlek, Natal, dan Tahun Baru menjadi momentum yang mendorong pertumbuhan industri bunga dan tanaman hias. Namun, di balik hiruk-pikuk transaksi jual-beli dan tren pasar, tersimpan makna yang jauh lebih dalam tentang bagaimana manusia berhubungan dengan simbol dan tradisi leluhur.
Menarik untuk menelusuri bagaimana nilai filosofis bunga anggrek setiap Imlek terus bertahan di tengah arus modernitas. Menurut Khairunnisa Rangkuti, permintaan anggrek dipengaruhi secara nyata oleh pendapatan dan lokasi, namun yang paling menarik adalah pengaruh selera. Mengapa selera begitu dominan? Jawabannya mungkin kembali pada fungsi anggrek sebagai simbol status dan keindahan abadi.

Pada masa lalu, seperti diceritakan dalam dokumen Harsono berjudul “Imlek Sebagai Permohonan dan Syukur”, perayaan Imlek berawal dari decak kagum para petani di Tiongkok menyaksikan musim semi. Mereka melihat tunas-tunas baru, bunga mulai tumbuh, dan alam “hidup kembali”. Keterpesonaan itu kemudian diabadikan dalam ritual. Kini, ketika seorang kolektor atau penghobi di Medan membeli anggrek seharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah, ia sejatinya sedang melakukan hal yang sama: mengabadikan rasa takjub akan keindahan dan mengharapkan keberlanjutan hidup yang makmur.
Saat ini, tren memajang anggrek saat Imlek telah bergeser dari sekadar tanaman dalam pot plastik menjadi sebuah karya seni floral arrangement. Banyak kolektor yang mengombinasikan Phalaenopsis dengan aksesoris seperti pita merah, koin emas imitasi, dan kartu ucapan keberuntungan.
Menurut para pedagang tanaman hias, permintaan Anggrek Bulan menjelang Imlek bisa meningkat hingga tiga kali lipat. Hal ini membuktikan bahwa meskipun zaman berganti menjadi serba digital, kerinduan manusia akan simbol-simbol alam yang membawa ketenangan dan harapan tetap tidak tergantikan.
Sejarah Anggrek
Sejarah hubungan manusia dengan anggrek dimulai jauh sebelum era modern. Catatan tertua tentang anggrek muncul dalam literatur dan seni Cina serta Jepang sekitar 700 SM—artinya, hubungan spiritual antara peradaban Timur dan bunga ini telah berlangsung selama lebih dari 2.700 tahun. Dalam dinasti-dinasti awal Tiongkok, anggrek bukan hanya dinikmati sebagai tanaman hias, tetapi juga dihargai sebagai tanaman obat dan simbol status sosial.
Di Cina kuno, anggrek dipercaya memiliki aroma yang begitu halus dan murni sehingga dikaitkan dengan kehadiran Kaisar atau bangsawan tinggi. Konon, kehadiran anggrek yang wangi menandakan keberadaan sosok mulia di dekatnya. Ini adalah awal dari asosiasi anggrek dengan kemurnian, keanggunan, dan kedudukan tinggi—makna-makna yang kemudian berkembang pesat dan meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk perayaan Imlek.

Ketika perdagangan dan eksplorasi maritim berkembang pada abad ke-18 dan 19, anggrek menjadi salah satu komoditas yang paling diburu oleh kolektor Eropa. Di Inggris Victoria, anggrek dijuluki “Keluarga Kerajaan Tanaman” (The Royal Family of Plants). Kelangkaannya, kesulitan dalam budidayanya, dan keindahannya yang eksotis membuat harga anggrek melambung tinggi—bahkan mencapai level di mana hanya kaum bangsawan dan konglomerat yang mampu memilikinya. Lelang-lelang anggrek menjadi acara sosial yang sangat prestisius, di mana para kolektor bersaing dengan harga astronomis untuk mendapatkan spesimen langka dari hutan-hutan Asia Tenggara dan Amerika Selatan.
Epilog
Mari kembali ke ruang tamu rumah yang tengah merayakan Tahun Baru Imlek, ada vas keramik putih itu berisi anggrek merah yang membara, diapit oleh Pussy Willow yang menjulang dan lukisan Mei Hwa yang anggun—kita menyadari bahwa apa yang kita lihat bukan hanya dekorasi. Itu adalah sebuah altar hidup, sebuah komposisi doa yang dibuat dari materi paling indah yang ditawarkan alam: bunga-bunga yang mekar.
Anggrek dalam tradisi Imlek hadir sebagai pengingat bahwa kehidupan terbaik adalah kehidupan yang “mekar”—yang tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dengan keanggunan, kemurnian, dan tujuan. Ia mengajarkan bahwa keberuntungan bukan hanya soal nasib, tetapi juga soal persiapan, niat, dan kemampuan untuk melihat keindahan bahkan dalam kondisi yang menantang.
Ketika aroma dupa menyatu dengan keharuman halus anggrek, ketika cahaya lampion merah memantulkan warna-warni kelopak, dan ketika keluarga berkumpul dalam kehangatan—disitulah tradisi hidup. Bukan dalam buku-buku sejarah atau museum, tetapi dalam vas-vas sederhana di sudut-sudut rumah, dalam perawatan harian yang penuh perhatian, dalam momen-momen bersama yang tak terlupakan.
Menempatkan setangkai Anggrek Bulan di sudut rumah saat Imlek adalah sebuah pernyataan. Ia adalah pernyataan tentang apresiasi terhadap keindahan hidup, doa untuk kelimpahan yang terus mengalir, dan pengingat bahwa untuk menjadi anggun, seseorang harus memiliki daya tahan.
Saat kelopak anggrek perlahan terbuka menyambut matahari pagi di hari pertama tahun baru, ia seolah membisikkan pesan kuno yang selalu relevan, “Keindahan yang dirawat dengan sabar akan menghasilkan keberuntungan yang abadi”.
Selamat Tahun Baru Imlek. (maspril aries)





