Ilustrasi kelas menulis.(FOTO: AI)
Oleh: Udo Z Karzi (Jurnalis-Penulis, Tinggal di Bandar Lampung)
MENULIS, bagi sebagian orang hari ini, seolah hanya perkara kecepatan. Siapa paling cepat bereaksi, paling singkat menyampaikan opini, paling ringkas menyederhanakan persoalan, maka dialah yang dianggap relevan. Dunia bergerak dalam ritme notifikasi, linimasa, dan cuitan pendek yang menuntut ketepatan sekaligus keringkasan. Di tengah lanskap itu, pilihan untuk tetap menulis panjang kerap dianggap kuno, melelahkan, bahkan tak efisien. Tetapi saya justru merasa, di tengah derasnya arus serba cepat itulah tulisan panjang memiliki alasan untuk terus hidup.
Saya pernah ditanya seorang teman: apakah tidak ada kekhawatiran suatu hari tulisan-tulisan saya tidak lagi dibaca siapa pun? Pertanyaan itu sederhana, tetapi mengandung kegelisahan zaman. Kita hidup dalam masa ketika perhatian manusia makin pendek, distraksi makin banyak, dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, tampak mampu menggantikan sebagian kerja pikir manusia. Jika mesin dapat merangkum, menulis, bahkan meniru gaya, untuk apa seseorang masih bersusah payah menulis panjang? Pertanyaan itu sebenarnya bukan hanya tentang masa depan tulisan, tetapi juga tentang makna keberadaan penulis itu sendiri.
Saya sempat terdiam. Bahkan sempat berpikir, mungkin memang tidak perlu terlalu banyak menulis. Mungkin cukup berkomentar seperlunya, menyampaikan satu dua kalimat, lalu selesai. Namun kesadaran itu tidak bertahan lama. Ada dorongan yang lebih kuat daripada rasa ragu: kebutuhan untuk menulis. Menulis bukan sekadar kegiatan luar, melainkan proses batin. Ketika tidak menulis, ada ruang kosong yang mengganggu.
Ketika menulis kembali, ruang itu terasa terisi. Di situlah saya memahami bahwa menulis bukan pilihan strategis, melainkan kebutuhan eksistensial.
Lucunya, saat saya terus menulis, saya justru menyadari bahwa tulisan itu dibaca. Reaksi muncul, kadang keras, kadang sinis, kadang tidak setuju. Ada yang tersinggung, ada yang menolak, ada pula yang menilai tulisan saya sekadar “yapping” — omong panjang yang tidak perlu. Tetapi bukankah reaksi adalah tanda bahwa tulisan itu hidup? Tulisan yang sama sekali tidak dibaca tak akan menimbulkan respons apa pun. Maka bagi saya, ketidaksetujuan bukan ancaman, melainkan bukti bahwa komunikasi terjadi.

Di era digital ini, orang kerap mengira bahwa kesepakatan adalah tujuan utama tulisan. Saya justru berpikir sebaliknya. Menulis bukan untuk membuat semua orang setuju. Menulis adalah upaya menghadirkan sudut pandang. Jika tulisan saya sama saja dengan apa yang sudah dipikirkan semua orang, buat apa saya menuliskannya? Menulis berarti menghadirkan keberanian untuk berbeda, meskipun perbedaan itu berisiko disalahpahami. Dalam dunia yang cenderung menyeragamkan opini melalui algoritma, keberanian untuk berpikir sendiri menjadi semakin penting.
Perkara Kecil
Di sisi lain, saya juga sering membahas hal-hal yang dianggap sepele. Ada yang mempertanyakan: untuk apa menulis panjang tentang perkara kecil, kebiasaan sehari-hari, sikap orang di ruang publik, percakapan ringan, atau gejala sosial yang tampak remeh? Saya justru percaya, hidup manusia dibangun oleh hal-hal kecil itu. Sejarah besar sering berawal dari kebiasaan sederhana. Perubahan sikap lahir dari kesadaran yang tumbuh pelan. Apa yang terlihat sepele hari ini bisa menjadi persoalan besar esok hari — atau sebaliknya, sesuatu yang kecil bisa menjadi benih perubahan yang berdampak panjang dalam kehidupan manusia.
Sering kali kita baru menyadari pentingnya suatu hal ketika ia sudah hilang: sopan santun dalam percakapan, kejujuran dalam hal kecil, cara kita menghargai waktu, atau kebiasaan membaca secara tuntas. Tulisan yang mengangkat hal kecil sebenarnya sedang berusaha menangkap denyut kehidupan sebelum ia membesar menjadi krisis. Menulis tentang hal sepele bukan berarti berpikir dangkal, tetapi justru mengajak pembaca melihat bahwa detail-detail kehidupanlah yang membentuk peradaban. Yang remeh kadang menentukan arah yang besar.
Ketika menulis fiksi, saya tentu ingin menghibur. Namun hiburan yang saya bayangkan bukan hiburan kosong. Saya ingin pembaca berhenti sejenak, merenung, melihat sesuatu dari perspektif lain. Fiksi memberi ruang bagi imajinasi sekaligus refleksi. Sementara ketika menulis pendapat, saya sadar bahwa tulisan itu lebih langsung menyentuh ranah perdebatan. Di situ saya membawa pikiran, pengalaman, teori yang pernah saya baca, juga intuisi yang saya bentuk dari perjalanan hidup. Tulisan menjadi ruang pertemuan antara pengalaman pribadi dan realitas sosial.

Menariknya, kebebasan itu hanya mungkin ketika menulis tanpa beban pesanan. Jika saya tidak diminta membuat advertorial atau tulisan promosi, maka saya bebas memilih kata, memilih sudut pandang, bahkan memilih nada. Kebebasan ini penting karena dari sinilah kejujuran tulisan lahir. Pembaca boleh setuju atau tidak, tetapi mereka membaca sesuatu yang otentik, bukan sekadar konstruksi yang disesuaikan dengan pasar atau kepentingan tertentu.
Penyakit Baru
Dalam suasana media sosial yang serba cepat, tulisan panjang sering dianggap tidak efektif. Orang berkata, tidak ada yang membaca sampai tuntas. Jika benar demikian, mengapa tetap menulis panjang? Jawabannya sederhana: karena persoalan hidup tidak selalu bisa dipahami dalam tiga paragraf pendek. Kompleksitas membutuhkan ruang. Pikiran manusia berkembang melalui penjelasan, contoh, dan penelusuran gagasan yang tidak bisa selalu dipadatkan menjadi slogan. Kebiasaan membaca sekilas telah melahirkan penyakit baru: literasi yang tidak tuntas. Orang bereaksi sebelum memahami, marah sebelum membaca sampai selesai, menyimpulkan tanpa menelaah konteks.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada penulis, melainkan pada budaya membaca kita. Banyak orang lebih cepat tersulut emosi ketimbang menimbang argumen. Dalam situasi seperti itu, menulis panjang justru menjadi bentuk perlawanan. Ia menuntut pembaca untuk meluangkan waktu, memberi perhatian, dan bersedia berpikir pelan. Menulis panjang bukan sekadar soal jumlah kata, tetapi soal penghormatan pada proses berpikir.
Saya sadar pula bahwa gaya menulis saya sering sinis, suka menyindir. Bagi sebagian orang, nada ini dianggap tajam atau tidak nyaman. Tapi satire, sindiran, dan sinisme memiliki fungsi sosialnya sendiri. Ia adalah cara untuk menyoroti kemunafikan, mengganggu kenyamanan kekuasaan, atau mengingatkan bahwa ada etika dan moral yang sering diabaikan. Sindiran bukan semata-mata untuk melukai, melainkan untuk mengguncang kesadaran. Dalam sejarah sastra dan jurnalistik, suara sinis sering menjadi penyeimbang ketika pujian terlalu dominan.

Saya menulis tentang kekuasaan yang korup, tentang budaya menjilat, tentang orang-orang yang kehilangan etika. Tentu ada risiko. Tetapi menulis selalu berisiko. Seorang penulis tidak hanya berhadapan dengan pembaca, tetapi juga dengan dirinya sendiri: apakah ia berani jujur, apakah ia bersedia menanggung konsekuensi dari kata-kata yang ia keluarkan. Jika tulisan hanya berisi hal-hal aman, mungkin ia tidak akan menimbulkan kegaduhan, tetapi juga tidak akan meninggalkan jejak berarti.
Ada alasan lain yang lebih personal mengapa saya terus menulis: saya tidak pandai menyanyi, tidak bisa berakting, dan bukan pembicara yang memukau. Menulis menjadi medium yang paling jujur bagi diri saya. Saya lebih suka menjadi pendengar, pengamat, pembaca. Dari sana saya merangkai kembali pengalaman dan pengamatan menjadi kata-kata. Menulis adalah cara saya berpartisipasi dalam dunia tanpa harus menjadi pusat perhatian. Melalui tulisan, saya bisa hadir tanpa berteriak.
Dalam konteks hari ini, ketika teknologi mampu menghasilkan teks secara instan, barangkali pertanyaan tentang relevansi penulis manusia akan semakin sering muncul. Namun saya percaya, yang membedakan manusia dengan mesin bukan hanya kemampuan menyusun kalimat, melainkan pengalaman hidup, kegelisahan, luka, ironi, dan intuisi yang tak selalu bisa dirumuskan secara matematis. Tulisan manusia membawa jejak emosional dan historis yang tidak sepenuhnya dapat direplikasi.
Pada akhirnya, alasan saya tetap menulis panjang-pendek bukan karena ingin melawan zaman, melainkan karena ingin setia pada cara saya memahami dunia. Menulis adalah cara berpikir, cara mencatat, cara berdialog dengan diri sendiri sekaligus dengan orang lain. Kalau ada yang membaca dan tidak setuju, itu bagian dari perjalanan. Kalau ada yang tersinggung, mungkin karena tulisan menyentuh sesuatu yang nyata. Kalau ada yang menganggapnya terlalu panjang, saya menerima — karena tidak semua hal memang harus dibaca cepat.
Saya percaya, di tengah dunia yang semakin bising oleh kata-kata pendek, tulisan panjang tetap memiliki tempat sebagai ruang hening untuk merenung. Dan selama saya masih merasa perlu berpikir, selama saya masih ingin memahami manusia dan kehidupan — termasuk hal-hal kecil yang diam-diam menentukan nasib besar — saya akan terus menulis, panjang ataupun pendek, dengan cara saya sendiri.
Tabik. ●



