Mengabadikan koleksi koran-koroan era tahun 30-an di Rumah Pohan Artspace Semarang. (FOTO: Christian Saputro)
KINGDOMSRIWIJAYA, Semarang — Bersamaan dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) setiap tanggal 9 Februari, di Semarang pada Senin (9/2) berlangsung kegiatan Heritage Walking Tour bertajuk “Menapak Gang, Membaca Zaman”, Kali ini menelusuri sejarah perkembangan pers Indonesia yang pernah tumbuh di kawasan Pecinan Semarang.

Kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan HPN 2026, diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan. Tur diawali dari Artspace Rumah PoHan di Jalan Kepodang No. 64, kawasan Kota Lama, milik pasangan Pohan dan Silvia. Dari lokasi tersebut, peserta mendapatkan pengantar singkat sebelum bergerak menuju Klenteng Tay Kak Sie sebagai titik awal penelusuran jejak pers di Pecinan Semarang.
Selanjutnya, peserta menyusuri gang-gang Pecinan yang pada masa lalu menjadi pusat aktivitas percetakan, kantor redaksi, serta peredaran surat kabar di Semarang. Sejumlah titik penting sejarah pers lokal dikunjungi, antara lain bekas kantor redaksi dan percetakan surat kabar Makmur, Jawa Tengah, Soeara Semarang, Sorot, Sinar (Soda), Warna Warta, Nan Sing, serta kawasan Sidorejo 126. Percetakan Nan Sing tercatat pernah berpindah lokasi ke Gang Besen. Semua tempat itu mencerminkan dinamika dunia pers pada masa tersebut.
Salah satu titik yang mendapat perhatian khusus adalah jejak Koran Pesat, media pergerakan yang pernah dikelola oleh S.K. Trimurti dan Sayuti Melik. Keduanya dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah nasional. Sayuti Melik tercatat sebagai pengetik naskah Proklamasi 17 Agustus 1945, sementara S.K. Trimurti dikenal sebagai tokoh pers dan pejuang perempuan.

Pasangan suami istri Pohan – Sylvia, pemilik rumah seni Pohan sekaligus kolektor koran dan buku lama menunjukan salah satu koleksi poster film zaman dulu. (FOTO: Christian Saputro)
Pemandu tur, Yvonne Sibuea yang juga peneliti sejarah pers lokal menjelaskan, bahwa kegiatan ini berangkat dari riset bersama Rumah PoHan dan EIN Institute. Menurutnya, kawasan Pecinan Semarang memiliki peran strategis dalam perkembangan pers modern Indonesia, terutama melalui surat kabar yang dikelola secara mandiri oleh warga Tionghoa Peranakan.
“Di kawasan ini, pers tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai medium gagasan, identitas, dan perlawanan”, ujar Yvonne.
Tur kemudian berakhir di rumah keluarga Pohan di Jalan Sidorejo, Semarang. Di rumah yang dikenal sebagai tempat penyimpanan ribuan koleksi buku, cetakan, dan koran lawas tersebut, peserta mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab bersama penyelenggara serta pemilik koleksi.
Sementara itu, Widya Khoirunnisa, penggagas kegiatan, mengatakan bahwa Heritage Walking Tour ini bertujuan menghadirkan sejarah pers secara lebih dekat dan kontekstual kepada masyarakat. “Sejarah pers tidak hanya dibaca melalui arsip dan buku, tetapi juga dapat dialami langsung melalui ruang kota”, katanya.
Kegiatan ini menjadi pembuka rangkaian Jelajah Sejarah Semarang #1, hasil kolaborasi Rumah PoHan, Asosiasi Pegiat Sejarah Muda Semarang, EIN Institute, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kranggan, serta Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang.
Melalui kegiatan ini, publik diajak untuk kembali memahami peran kawasan Pecinan Semarang sebagai salah satu ruang penting dalam sejarah pers Indonesia dan perjalanan panjang menuju kemerdekaan. (Christian Saputro – Semarang)





