Oleh: Muhamad Saman (Penulis Novel “Stetoskop yang Dicuri”)
KINGDOMSRIWIJAYA – Langkahku mendarat di atas kayu-kayu tua Kampung Almunawar atau Al-Munawar dengan rasa takzim yang ganjil. Seolah-olah, setiap derit papan di bawah sepatuku adalah dentang lonceng yang memutar balik jarum jam, menyeretku mundur ke masa ketika adab diletakkan jauh di atas rak paling tinggi, melampaui segala jenis ilmu dan pangkat duniawi.
Di pemukiman yang telah tabah berdiri ratusan tahun ini, aku merasa seperti sebutir debu yang baru saja memasuki sebuah ruang waktu yang kedap dari kebisingan dunia modern yang serakah.
Warisan Para Penjaga Syariat
Lelaki tua di beranda itu menatapku dengan mata yang menyimpan keteduhan ribuan malam sujud. Di sini, di Almunawar, garis keturunan bukanlah sekadar deretan nama, melainkan silsilah emas yang melahirkan ulama-ulama habaib. Mereka adalah para penjaga benteng syariat yang teguh, yang memegang teguh ajaran leluhur layaknya memegang bara api—tak pernah padam meski dihantam badai zaman.
“Masoklah, Nak. Jangan sungkan, dodoklah di luan”, ucapnya dengan logat Palembang yang kental.
“Terima kasih, Pak”, jawabku, sembari refleks menundukkan kepala.
Ia tersenyum. Senyum pusaka yang kurasa telah disaring melalui tirakat panjang para habaib di kampung ini. “Laju, masoklah. Di sini ni emang mak inilah, galak-galaklah mampir ke rumah wong”.

Harmoni Arsitektur dan Iman
Rumah-rumah panggung di sini berdiri dengan keanggunan yang keras. Tiang-tiangnya tinggi, menantang gravitasi, menghadap langsung ke arah Laot Musi. (Budaya penduduk Palembang, sungai Musi itu disebut “laut”). Ia mengalir tenang membawa rahasia-rahasia masa lalu. Aku terpaku menatap ukiran jendela bercorak Timur Tengah yang duduk manis di atas struktur rumah Melayu.
Inilah sebuah metafora visual yang luar biasa. Di Almunawar, Arab dan Melayu tidak sedang bertukar sikut, melainkan sedang berpelukan erat dalam sebuah persetujuan budaya yang puitis.
Sayup terdengar, “A, Ba, Ta, Tsa, Ja,” seorang ustazah mengajarkan baca huruf hija-iyah.
“Budak-budak itu, kalu la balek sekolah, langsung ngaji, Nak. Dari jaman puyang kamek (kami) dulu, suara itulah yang jago kampung ini”, bisik seorang ibu yang sedang menyiram tanaman.
“Kampung kami ni memang idak pulok besak, tapi Insya Allah berkah. Di sinilah tempat lahirnyo para ulama, habaib yang istiqomah jagoi syariat. Wong kito di sini ni dididik dari kecik deket sama agama”, tambahnya dengan nada syukur sekaligus bangga namun tetap rendah hati.

Roh yang Istiqomah
Di sudut kampung, seorang pemuda yang baru saja selesai salat sunnah menyapaku. Di wajahnya, kulihat pancaran disiplin spiritual yang kuat, warisan dari pendidikan para habaib yang menjadikan Almunawar sebagai telaga ilmu.
“Kito di sini ni jagoi nian musala, bukan cuma dibagus-bagusi bae bangunannyo”, katanya tegas. “Yang penting itu rohnyo, syariatnyo. Dak katek guno rumah besak kalau dak katek ngaji di dalemnyo. Ulama-ulama kami ngajari, iman tu bukan cuma di lisan, tapi di akhlak”.
Kalimat itu menghantamku. Di tempat ini, religiusitas bukanlah sebuah panggung sandiwara atau komoditas politik. Islam hadir dalam ketegasan menjaga hukum Tuhan. Dibalut dengan kelembutan adab saat menyapa tamu.
Sebuah Doa yang Panjang
Menjelang zuhur, azan mengalun—tidak memekakkan telinga, namun penuh wibawa yang sanggup menghentikan detak dunia. Aktivitas langkah kaki manusia mengerucut ke satu titik yang sama. Aku ikut terduduk, menunduk, membiarkan vibrasi suara suci itu meresap sampai ke dasar hati.

Saat aku berpamitan, lelaki tua bersorban tadi kembali menatapku.
“Doakan kampung ini tetep cak inilah yoh, Nak. Tetep istiqomah njagoi syariat, tetap kental adab dan budayanyo”.
Aku mengangguk mantap. “Insya Allah, Pak”.
Aku pulang dengan menumpang sebuah perahu ketek, perlahan meninggalkan kampung bersejarah itu dengan hati yang jauh lebih ringan. Aku sadar, Kampung Almunawar yang juga kerap disebut “Kampung Arab”, adalah destinasi cagar budaya yang terjaga dengan doa-doa yang panjang. Ia bagikan sebuah laboratorium iman tempat para habaib menempa jiwa-jiwa manusia dengan keteguhan syariat dan kesederhanaan yang luar biasa.
Kepulanganku hari ini telah membawa ketenangan—seolah-olah baru saja dibasuh oleh air suci dari bejana sejarah yang sangat mulia. Wallahu a’lam. ●






