Home / Budaya / Catatan yang Tertinggal di 2025: Udo Z Karzi “Patah Arang” dengan Puisi Lalu Menulis 100 Sajak

Catatan yang Tertinggal di 2025: Udo Z Karzi “Patah Arang” dengan Puisi Lalu Menulis 100 Sajak

KINGDOMSRIWIJAYA – Awal tahun 2026 ini buku 100 Sajak karya Udo Z Karzi yang berjudul “Kesibukan Membuat Sejarah – 100 Sajak (1987 – 2025)” mencapai klimaks-nya sejak terbit perdana Juli 2025. Sudah banyak ulasan dan resensi tentang buku ini.

Tulisan ini pun seharusnya ikut dalam barisan itu, namun terlewatkan karena lupa. “Manusia adalah tempatnya lupa” kalimat ini berasal dari Hadis Rasulullah SAW, yang menyatakan, “Manusia adalah tempat salah dan lupa”. Ungkap Hadis ini bermakna, menunjukkan kelemahan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah, berbeda dengan Nabi yang mendapat perlindungan dari kesalahan dalam menyampaikan wahyu.

Artikel ini lupa diunggah pada 2025 walau sudah kelar harusnya diunggah di website Kingdomsriwijaya.id. Karena buku ini dikirim penulisnya Udo Z Karzi alias Zulkarnain Zubari sejak Agustus 2025 dari Bandarlampung ke Palembang. Baru pada awal 2026 bisa diunggah, semoga bukan dicap berada barisan ikut-ikutan alias latah. Tahu arti “latah” kalau tidak tahu ingat saja lagu anak-anak Adi Bing Slamet yang berjudul “Mak Inem Tukang Latah”.

Agar tak disebut latah, unggahan ini akan menuju ke wilayah wacana sederhana tentang sajak dan puisi. Walau Udo Z Karzi sudah mendeklarasikan buku “Kesibukan Membuat Sejarah” berisi 100 sajak, namun yang ngeyel tetap saja menyebutnya puisi atau berisi 100 puisi.

Unggahan ini akan menguliknya di permukaan saja, jangan jauh-jauh membedahnya sampai ke dalam, khawatir kalau “pisau bedah” terpeleset menimbulkan luka. “Kesibukan Membuat Sejarah: 100 Sajak (1987–2025)” bukan hanya kumpulan sajak, melainkan dokumen kultural yang hidup.

Melalui 100 sajak (ada yang menyebut puisi) yang ditulis selama hampir empat dekade, Udo Z Karzi yang pernah kuliah di Fisip Universitas Lampung (Unila) dan aktivis pers mahasiswa SKM Teknokra, menunjukkan bahwa menulis adalah cara untuk tidak dilupakan, untuk merawat ingatan, dan untuk membuat sejarah yang manusiawi.

Dalam diskursus kesusastraan Indonesia, istilah “sajak” dan “puisi” sering kali digunakan secara bergantian (interchangeable). Namun, ketika seorang sastrawan sekaliber Udo Z Karzi menyematkan subjudul “100 Sajak” pada buku terbarunya, Kesibukan Membuat Sejarah (1987-2025), sementara para kritikus dan pembaca secara refleks menyebutnya sebagai “buku puisi”, muncul sebuah ruang tanya yang menarik untuk dikulik tipis-tipis. Apakah keduanya benar-benar sama? Mengapa istilah “sajak” dipilih sebagai penegas kuantitas karya dalam buku tersebut?


Udi Z KARZI dan Buku kumpulan sajaknya. (FOTO: Dok Zulkarnanin Zubairi)

Terminologi Puisi dan Sajak

Secara etimologis dan konseptual, ada yang mengatakan, “puisi dan sajak memiliki akar yang berbeda meski bermuara pada entitas yang serupa”.  Tapi di seberang meja ada juga yang membantahnya.

Puisi itu poetry/poem. Istilah “puisi” berasal dari bahasa Yunani poiesis, yang berarti “pembuatan” atau “penciptaan”. Dalam pengertian luas, puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Puisi dipandang sebagai bentuk ekspresi seni yang paling murni, di mana setiap kata memiliki bobot estetika dan makna yang padat. Puisi adalah genus—sebuah konsep besar tentang seni bahasa yang mengutamakan intensitas.

Dalam perkembangan sastra Barat, istilah poetry kemudian mengacu pada karya sastra yang menggunakan bahasa terpilih, struktur ritmis, citraan dan metafora, serta intensitas makna. Namun sejak modernisme (abad ke-19–20), puisi tidak lagi terikat pada rima dan metrum ketat.

Sementara asal-usul puisi jika melihat dari istilah “puisi” masuk ke dalam kosakata Indonesia melalui pengaruh Barat (Eropa) pada awal abad ke-20. Para intelektual Indonesia yang mengenyam pendidikan kolonial mulai memperkenalkan konsep poëzie (Belanda). Sejak itu, “puisi” digunakan sebagai istilah akademik dan formal untuk mengkategorikan genre sastra yang berbeda dengan prosa atau drama.

Di Indonesia, penggunaan istilah “puisi” cenderung dianggap lebih formal dan akademis, sedangkan “sajak” terasa lebih personal dan akrab bagi para pelakunya (penyair). Seorang penyair sering mengatakan “saya sedang menulis sajak” daripada “saya sedang memproduksi puisi”.

Kemudian sajak itu verse/rhyme. Istilah “sajak” secara historis lebih dekat dengan aspek teknis bunyi dan rima. Dalam bahasa Melayu-Indonesia klasik, sajak merujuk pada kesesuaian bunyi di akhir baris atau kalimat.

Berbeda dengan puisi yang berasal dari tradisi Barat, istilah sajak berakar dari bahasa Arab saj‘ (سجع), yang merujuk pada prosa berirama, sering digunakan dalam khutbah, doa, dan teks-teks retoris Arab klasik.


Sastrawan Anwar Putra Bayu (kiri) menerima buku kumpulan sajak Udo Z Karzi. (FOTO: Dok Kingdomsriwijaya)

Dalam konteks Melayu dan Nusantara, sajak kemudian mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi sekadar prosa berirama, melainkan menunjuk pada ungkapan perasaan dan pikiran yang disusun secara ritmis dan imajinatif. Tokoh penting dalam pemantapan istilah sajak di Indonesia adalah Amir Hamzah, yang dengan sadar menggunakan istilah ini untuk menegaskan kemandirian estetik sastra Indonesia dari tradisi Barat.

Sajak dalam sejarah sastra Indonesia, pada masa Pujangga Baru, istilah “sajak” digunakan untuk menandai puisi modern Indonesia, membedakannya dari syair dan pantun tradisional, serta menegaskan subjektivitas penyair. Contohnya pada Chairil Anwar, meskipun sering disebut penyair puisi modern, dalam praktik dan semangat estetiknya lebih dekat pada tradisi sajak: bebas, personal, eksistensial, dan intens. Dengan demikian, sajak dalam konteks Indonesia memiliki konotasi kebaruan, kebaruan, keberanian individual, dan kedekatan dengan pengalaman hidup konkret.

Dalam perkembangannya, sajak dipahami sebagai bentuk fisik dari puisi itu sendiri. Jika puisi adalah “jiwa” atau “genre”-nya, maka sajak adalah “tubuh” atau “satuan” karyanya. Mengatakan “100 sajak” terasa lebih konkret secara teknis dari pada “100 puisi”, karena sajak merujuk pada wujud gubahan sastra yang utuh secara struktural.

Mari lihat persamaan dan perbedaan antara puisi dan sajak. Dari sifatnya, puisi itu lebih abstrak, merujuk pada genre seni. Sajak lebih konkret, merujuk pada satuan karya. Kemudian fokusnya, puisi penuh estetika, imajinasi, dan kedalaman makna. Sajak adalah keselarasan bunyi, rima, dan bentuk fisik.

Persamaannya, keduanya merupakan karya sastra berbasis bahasa estetik. Keduanya mengandalkan citraan, ritme, dan kepadatan makna. Keduanya merupakan sarana ekspresi batin dan refleksi pengalaman.

Perbedaanya, istilah puisi berasal dari Yunani-Barat. Istilah sajak dari Arab-Melayu. Puisi bersifat genre umum, saja bersifat bentuk/ kecenderungan. Puisi memiliki nuansa netral-teoritis, dan sajak bernuansa personal serta kultural. Sementara fungsinya, puisi adalah klasifikasi dan sajak adalah penegasan estetiik.

Dengan demikian, setiap sajak adalah puisi, tetapi tidak setiap puisi harus disebut sajak, tergantung konteks tradisi dan pilihan ideologis penyair.


Penyair Anto Narasoma menerima buku Udo Z Karzi. (FOTO: Maspril Aries)

Buku 100 Sajak

Buku Kesibukan Membuat Sejarah – 100 Sajak (1987–2025) karya Udo Z Karzi sepertinya menghadirkan sebuah persoalan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya fundamental dalam kajian sastra Indonesia: apa yang kita maksud ketika menyebut “sajak” dan ketika menyebut “puisi”?

Pada satu sisi, subjudul buku ini secara tegas menggunakan istilah sajak. Namun pada sisi lain, hampir seluruh ulasan, resensi, dan pembacaan kritis terhadap buku ini lebih sering menggunakan istilah puisi. Ketegangan terminologis ini bukan sekadar soal pilihan kata, melainkan menyentuh sejarah, epistemologi, dan orientasi estetik dalam sastra Indonesia modern.

Buku ini merangkum perjalanan kreatif dari penulisannya sejak tahun 1987 hingga 2025. Penggunaan subjudul “100 Sajak” dalam buku ini memiliki implikasi filosofis dan teknis yang dalam. Bagi Udo Z Karzi, 100 sajak ini adalah rekaman satuan waktu, juga sebagai seorang jurnalis, memiliki kecenderungan untuk merekam fakta.

Maka kata “sajak” dalam judul buku setebal 173 halaman ini berfungsi sebagai penanda unit sejarah. Setiap satu sajak adalah satu catatan kesadaran. Jika ia menggunakan kata “100 Puisi”, tekanannya mungkin lebih pada kemegahan estetika. Namun, dengan “100 Sajak”, Udo menekankan pada hasil kerja kreatif yang konsisten selama 38 tahun.

Bagaimana dengan karakteristik “sajak” Udo Z Karzi? Berdasarkan teks yang tersedia, karya-karya Udo dalam buku ini memiliki ciri, di antaranya, ekonomi dan jujur, yakni tidak terjebak pada metafora yang gelap. Ciri berikutnya, naratif-prosaik, ada beberapa sajaknya seperti “Damba 1” atau “Negeri Antah Barantah” memiliki kualitas cerita yang kuat namun tetap dalam bingkai puitis.

Ciri lainnya adalah kental dengan rima internal. Meskipun bersifat bebas, terdapat keselarasan bunyi yang natural (sajak dalam arti teknis). Dalam konteks ilmiah, karya-karya dalam buku ini lebih tepat disebut sajak jika kita melihatnya sebagai entitas individual yang merekam momen sejarah tertentu. Namun, secara kolektif, buku ini adalah sebuah antologi puisi karena merupakan representasi dari satu genre seni tertentu.


Tiga buku dari Udo Z Karzi ketika mendarat di Palembang. (FOTO: Maspril Aries)

Namun, ada kecenderungan menarik, istilah “sajak” sering dianggap memiliki ruh “perlawanan” atau “kerakyatan” yang lebih kuat (seperti Sajak-Sajak Sepatu Tua karya Rendra), sementara “puisi” terkadang dianggap terlalu elitis atau “menara gading”. Udo Z Karzi, dengan latar belakang jurnalisme dan keberpihakannya pada “orang-orang yang kalah”, tampak lebih nyaman dengan identitas “sajak” yang lebih membumi.

Jadi mengapa karya Udo lebih tepat disebut sajak dalam tradisi Indonesia modern, karena meski bebas metrik, ia mempertahankan irama naratif lugas, repetisi ritmis, dan nada kenabian—ciri sajak Melayu-Lampung. Tidak seperti puisi surealis, sajak Udo ekonomis, konkret, seperti laporan jurnalistik berirama. Buku 173 halaman ini kronologis (1987-2025), membentuk “linimasa kesadaran.”

Tema sentral dalam karya Udo Z Karzi ini adalah hubungan antara manusia dan sejarah. Ia menyoroti bagaimana individu berkontribusi pada sejarah melalui pengalaman dan kesadaran mereka. Melalui puisi-puisinya, ia mengajak pembaca untuk merenungkan peran mereka dalam menciptakan sejarah, serta pentingnya merawat ingatan kolektif.

Buku “Kesibukan Membuat Sejarah” adalah testament dari kekuatan sajak/ puisi sebagai alat untuk mencatat sejarah dan merawat kesadaran kultural. Udo Z Karzi berhasil menunjukkan bahwa sajak bukan hanya tentang keindahan bahasa, tetapi juga tentang kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, sajak menjadi sarana untuk menyuarakan yang terpinggirkan dan merawat ingatan kolektif bangsa.

Karya ini mengajak kita untuk merenungkan perjalanan hidup kita sendiri dan bagaimana kita dapat memberikan arti lebih dalam hidup kita dan orang lain. Udo Z Karzi, melalui sajaknya, menunjukkan bahwa menulis adalah tindakan yang tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan terhadap pelupaan dan ketidakadilan.

Jadi secara ilmiah, puisi adalah nama bagi seninya, sedangkan sajak adalah gubahan atau perwujudan dari seni tersebut. Dalam buku Kesibukan Membuat Sejarah, penggunaan istilah “100 Sajak” adalah pilihan diksi yang cerdas untuk menegaskan bahwa setiap karya adalah sebuah monumen kecil—sebuah satuan sejarah—yang berdiri sendiri namun terikat dalam satu garis waktu kekaryaan.

Udo Z Karzi telah membuktikan bahwa entah itu disebut sajak atau puisi, kekuatan utamanya terletak pada kejujuran. Ia tidak “menyibukkan diri” untuk menjadi penyair yang rumit, melainkan menyibukkan diri untuk mencatat sejarah yang sering kali dilupakan oleh kekuasaan. Buku ini adalah bukti bahwa bahasa Indonesia (dan napas Lampung) mampu menjadi wadah yang kokoh untuk merawat ingatan manusia.

Catatan yang tertinggal ini bukan untuk membuat perdebatan atau debat kusir. Catatan yang tertinggal ini Sami’na wa atho’na. Silahkan. (maspril aries)

Tagged:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *