Home / Budaya / Perempuan yang Menyalakan Lampu di Jalan Sunyi

Perempuan yang Menyalakan Lampu di Jalan Sunyi

Cerpen Oleh: AI

Lampu bohlam itu selalu menyala ketika matahari benar-benar menghilang dari langit. Tidak saat senja masih menggantung, tidak pula ketika azan magrib baru saja usai. Ratmi Larasati menunggu hingga warna biru di udara berubah menjadi kelabu pekat, barulah ia memutar sakelar kecil di dinding kayu warungnya. Cahaya kuning menyebar pelan, memantul di genangan air sisa hujan sore, dan memberi tanda tak tertulis bahwa malam telah resmi dimulai di Jalan Ikan Bawal.

Lampu bohlam kuning itu selalu menyala tepat pukul tujuh malam. Tidak pernah lebih cepat, tidak pernah terlambat. Seolah-olah lampu itu memiliki jam biologis sendiri, mengikuti detak kehidupan seorang perempuan, Ratmi.

Jalan Ikan Bawal, sebuah jalan yang siang hari nyaris tak menarik perhatian. Di siang hari, ia hanyalah jalan aspal berlubang, berdebu dengan rumah-rumah papan dan tembok yang sudah mengelupas catnya. Namun ketika malam turun, jalan itu berubah menjadi jalur sunyi yang hidup oleh hal-hal yang tak pernah tercatat di peta kota.

Warung itu berdiri persis di ujung jalan. Warung itu hadir di situ bukan karena Ratmi sengaja memilih tempat paling sunyi, melainkan karena hanya itu ruang yang bisa ia dapatkan. Sebidang tanah kecil milik kerabat jauh yang tak pernah datang menengok.

Bukan warung besar. Hanya bangunan semi permanen, dinding tripleks, meja kayu panjang, bangku-bangku tanpa sandaran, dan etalase kaca yang menampilkan gorengan—tempe, tahu, pisang—yang digoreng berkali-kali hingga warnanya keemasan pucat. Ada termos air panas, beberapa gelas kaca yang bibirnya sudah menipis, dan toples-toples plastik berisi kerupuk.

Namun bukan warungnya yang membuat orang datang. Adalah Ratmi.

Ratmi membuka warungnya bukan dengan gegap gempita. Tidak ada spanduk besar, tidak ada lampu neon warna-warni. Dari yang awalnya sepi, namun lambat laun, orang-orang datang. Bukan karena warung itu istimewa, melainkan karena malam selalu membutuhkan tempat singgah.

Di kota kami, tempat Ratmi tinggal, adalah kota yang hidup dari pelabuhan. Siang hari kota ini riuh oleh suara mesin derek, klakson truk, dan teriakan buruh. Malam hari, suara-suara itu mereda, digantikan langkah kaki orang-orang yang tidak segera pulang. Sopir truk yang menunggu giliran bongkar muat, buruh yang terlalu lelah untuk langsung tidur, penjaga malam yang butuh kopi agar tetap terjaga, dan lelaki-lelaki yang sekadar ingin duduk tanpa ditanya.

Pelanggannya beragam: sopir truk, buruh pelabuhan, pedagang kaki lima, polisi ronda, hingga lelaki-lelaki yang datang sendiri, duduk lama, dan pulang tanpa banyak bicara.


Ilustrasi Warung Jalan Ikan Bawal. (FOTO: AI)

Ratmi tidak menghakimi. Ia hanya menghidangkan kopi, nasi hangat, dan mendengarkan seperlunya.

Ratmi memahami mereka.

Ratmi tidak pernah bertanya terlalu banyak pada pelanggannya. Ia tahu, orang-orang yang datang ke warung malam tidak selalu ingin ditanya. Beberapa datang untuk makan, beberapa hanya untuk duduk, dan sebagian lagi datang untuk melupakan sesuatu.

Ratmi paham itu.

Pada usianya empat puluh satu tahun. Rambutnya selalu disanggul sederhana, dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh di dekat pelipis. Wajahnya tidak cantik menurut iklan sabun, tapi ada ketenangan di matanya—ketenangan orang yang sudah terlalu lama berdamai dengan nasib.

Setiap mereka yang datang ke warung memanggilnya Bu Rat. Tidak ada yang memanggilnya Ibu dengan nada resmi. Tidak ada yang memanggilnya Mbak, meski ia tidak keberatan. Tidak ada yang memanggilnya Ibu dengan nada hormat, meski ia sudah cukup usia. Panggilan “Bu Rat” terdengar pas—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Panggilan itu tumbuh begitu saja—seperti warung itu sendiri. Dan Ratmi menyukainya.

Ratmi sendiri bukan orang yang mudah pulang ke rumah. Rumahnya hanya beberapa ratus meter dari warung, tetapi di sanalah kenangan-kenangan lama sering datang tanpa diundang. Dinding rumah itu masih menyimpan gema suara seorang lelaki bernama Sutaryo, suaminya yang kini entah di mana. Tidak ada surat cerai. Tidak ada kabar. Lelaki itu menghilang seperti kapal yang berlayar terlalu jauh tanpa lampu. Meninggalkan Ratmi dengan dua anak dan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.

Setelah satu tahun usia perkawinan mereka, kebiasaan Sutaryo sering pulang larut. Lalu pulang dengan bau minuman keras keluar dari mulutnya dan bau asap rokok melekat di bajunya. Pulang membawa amarah yang tak pernah jelas asalnya. Hingga suatu malam, ia pergi dan tidak pernah kembali. Ratmi menunggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Pada akhirnya, ia berhenti menunggu.

Ratmi belajar bahwa hidup jarang memberi penutupan yang rapi.

Dari perkawinan dengan Sutaryo, Ratmi memiliki dua orang anak. Dua anaknya tumbuh dengan cepat. Yang sulung, Bagas, kini bekerja di bengkel motor. Yang bungsu, Dini, merantau ke kota lain untuk bekerja di pabrik. Keduanya kerap bertanya mengapa ibu mereka membuka warung malam. Ratmi selalu menjawab dengan kalimat yang sama, “Karena malam juga butuh orang yang berjaga”.


Ilustrasi Warung di Jalan Ikan Bawal. (FOTO: AI)

Anak-anaknya tidak selalu mengerti. Mereka khawatir. Mereka takut ibunya menjadi bahan omongan. Ratmi mengerti kekhawatiran itu, tetapi ia juga tahu bahwa rasa takut tidak pernah membayar beras.

Sebelum berjualan di warungnya, Ratmi bekerja apa saja. Mencuci baju orang. Membersihkan rumah. Menjaga anak tetangga. Namun pekerjaan itu tidak pernah cukup.

Ketika anak-anaknya mulai sekolah, Ratmi tahu ia harus menemukan sesuatu yang lebih tetap. Sesuatu yang tidak tergantung pada belas kasihan orang lain.

Warung itu awalnya hanya meja kecil dan kompor minyak. Ia buka sore hari, lalu makin lama makin malam. Hingga akhirnya, warung itu menemukan waktunya sendiri: malam.

Warung malam adalah satu-satunya pekerjaan yang memberinya ruang untuk bertahan tanpa harus terus-menerus meminta. Di sana, ia tidak perlu berpura-pura ramah berlebihan. Ia hanya perlu jujur dengan apa yang ia jual.

Mereka yang datang ke warungnya, ada pelanggan tetap seperti Jaya, sopir truk yang selalu memesan kopi pahit tanpa gula. Pak Darman, petugas ronda yang duduk paling ujung dan jarang bicara. Lukman, pemuda pengangguran yang sering datang hanya untuk memandangi jalan, seolah berharap sesuatu akan muncul dari gelap. Juga ada yang datang sekali lalu tak pernah kembali. Ratmi tidak mencatat siapa yang pergi. Ia hanya mencatat siapa yang masih duduk.

Ratmi tahu bisik-bisik tentang dirinya beredar. Perempuan yang membuka warung malam selalu mudah dicurigai. Tubuh perempuan, dalam bayangan orang-orang, selalu dianggap mengundang tafsir. Ratmi tidak marah. Ia hanya lelah.

Suatu malam, seorang perempuan datang ke warung. Pakaiannya rapi, sepatunya bersih, dan tasnya besar. Ia memandang Ratmi lama, seolah sedang menimbang sesuatu.

“Kamu yang buka warung ini?” tanyanya.

Ratmi mengangguk sambil menuang kopi.

“Kamu sendirian?”

“Sejak lama”.

Perempuan itu terdiam. Lalu berkata pelan, “Kamu harus hati-hati. Omongan orang itu lebih tajam dari pisau. Omongan orang tentang kamu tidak selalu baik”.


Ilustrasi Warung Jalan Ikan Bawal (FOTO AI)

Ratmi tersenyum kecil. “Pisau bisa diasah. Omongan orang tidak. Omongan orang tidak pernah minta izin sebelum datang”.

Perempuan itu lalu pergi tanpa membeli apa pun. Namun kata-katanya tertinggal di udara, bercampur dengan asap gorengan.

Beberapa bulan kemudian, di kota kami mulai berubah. Ada rencana penertiban. Ada spanduk. Ada rapat kelurahan. Spanduk-spanduk mulai muncul di sudut kota. Penertiban. Atas nama “Ketertiban Umum” dan “Jam Operasional”. Warung-warung malam disebut sebagai sumber keresahan. Dalam rapat kelurahan, nama Ratmi tidak pernah disebut. Namun ia tahu, warungnya termasuk dalam daftar yang dimaksud.

Petugas datang suatu sore. Mereka sopan, berbicara dengan bahasa aturan. Ratmi mendengarkan dengan tenang. Ia tidak membantah. Ia hanya bertanya satu hal, “Kalau saya tutup, orang-orang ini mau ke mana?”

Petugas itu tidak menjawab. Mereka mencatat sesuatu di kertas dan pergi.

Malam itu, Ratmi membuka warung seperti biasa. Lampu bohlam menyala tepat pukul tujuh. Hujan turun pelan. Orang-orang datang, duduk, makan, dan minum. Tidak ada yang tahu bahwa malam itu mungkin salah satu malam terakhir.

Ratmi bekerja seperti biasa. Menggoreng tempe. Menuang kopi. Menghitung uang receh. Ia tidak memberi tanda apa pun. Ia tidak ingin perpisahan menjadi acara. Namun ada perasaan aneh di dadanya—seperti sesuatu yang akan selesai, meski ia tidak tahu apa.

Beberapa minggu kemudian, warung itu tutup. Tidak ada pengumuman. Tidak ada keributan. Bangunan kecil itu dibongkar perlahan. Meja panjang dipindahkan. Bangku-bangku disingkirkan. Warung itu tidak ada lagi.

Jalan Ikan Bawal kembali gelap.

Namun orang-orang masih melewati jalan itu. Kadang mereka berhenti sejenak, menoleh ke arah bekas warung, seolah mencari sesuatu yang pernah ada. Tidak ada lagi lampu bohlam kuning yang menyala. Tidak ada lagi suara minyak mendesis.

Yang tersisa hanyalah ingatan tentang seorang perempuan yang pernah menyalakan lampu di jalan sunyi—bukan untuk menarik perhatian, melainkan agar orang-orang tidak merasa sendirian dalam gelap.

Dan mungkin, itu sudah cukup.

Beberapa minggu kemudian.

Namun orang-orang itu masih melewati Jalan Ikan Bawal. Masih ada yang berhenti sejenak, seolah mencari sesuatu yang hilang.

TAMAT

Penyusun: Maspril Aries

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *