Cabai setan hasil panen binaan PTBA di Desa Darmo. (FOTO: Humas PTBA)
Prolog:
Ketika matahari mulai condong ke barat, Agustian Kholiq memandangi keranjang penuh cabai. Di Desa Tanjung Agung, Putra Zaman menghitung benih nila yang akan ditebar di kolam baru. Keduanya adalah wajah baru dari Muara Enim, wajah yang diukir oleh keringat, inovasi, dan kepedulian.
Transformasi PETI adalah sebuah kisah tentang pengorbanan kecil yang menghasilkan panen besar.
KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Ini cara PT Bukit Asam (PTBA) Tbk merangkul anggota masyarakat, khususnya kelompok yang sebelumnya berpotensi terlibat dalam kegiatan PETI (Pertambangan Tanpa Izin) yang patut mendapat apresiasi dan acungan dua jempol kepada BUMN tambang batu bara yang berkantor pusat di Tanjung Enim, Sumatera Selatan
Melalui Program Transformasi PETI, PTBA memberdayakan masyarakat tersebut dengan program penanaman cabai, peternakan burung puyuh dan budi daya ikan nila.
Di Desa Darmo, Kabupaten Muara Enim, hari itu, matahari baru sepenggalah, udara pagi datang membawa aroma segar tanah yang gembur dan sedikit sengatan pedas. Bukan bau mesiu atau debu batu bara, melainkan wangi harum panen cabai rawit merah. Di bawah siraman matahari pagi, puluhan pasang tangan, yang dulunya akrab dengan cangkul di lubang galian yang gelap dan berbahaya, kini sibuk memetik buah berwarna merah menyala.
Di antara mereka, berdiri tegak Agustian Kholiq, Ketua Kelompok Peternakan Puyuh Simpang Karso. Wajahnya berseri, kontras dengan bayangan masa lalu ketika ia dan rekan-rekannya hidup di ujung tanduk, mencari rezeki dari celah-celah ilegal—Pertambangan Tanpa Izin (PETI).

“Dulu, kami hidup dihantui rasa bersalah dan ketakutan. Setiap hari adalah pertaruhan nyawa. Kami tahu itu salah, kami tahu itu merusak alam, tapi pilihan apa lagi yang kami punya?” kenang Agus, suaranya sedikit bergetar, sebelum kembali tersenyum bangga melihat hamparan tanaman cabai yang subur.
Agustian Kholiq, menyampaikan terimakasih dan apresiasinya atas pendampingan yang diberikan oleh PTBA. “Kami mengucapkan terima kasih atas support PTBA yang telah mendampingi pengembangan usaha ini. Kali ini kami bekerja sama dengan petani cabai untuk memanfaatkan kohe puyuh. Harapannya, PTBA dapat terus mendampingi kami ke depannya”, kata pria yang akrab disapa Agus.
Kepada mereka yang pernah dan berpotensi melakukan aktivitas PETI, PTBA punya program Sustainability Transformasi untuk PETI (Pertambangan Tanpa Izin) dengan bertanam cabai dan budi daya ikan nila.
Inilah pemandangan yang menjadi bukti nyata dari sebuah ikhtiar besar Program Transformasi PETI oleh PTBA. Program yang tidak hanya menawarkan pekerjaan, tetapi menawarkan harga diri, kepastian, dan masa depan yang ramah lingkungan.
Keberhasilan Kelompok Simpang Karso dalam panen cabai ini adalah contoh sempurna dari konsep keberlanjutan yang cerdas. Ini bukan sekadar menanam, tetapi memanfaatkan sisa.
Kelompok ini awalnya dibina PTBA untuk beternak puyuh. Hasil utamanya adalah telur. Namun, PTBA dan kelompok binaan berinovasi. Mereka memanfaatkan kohe (kotoran hewan) puyuh sebagai pupuk organik berkualitas tinggi untuk pertanian.
Rika Hiriansyah, Kepala Dusun III Desa Darmo menceritakan, “Dukungan PTBA tidak hanya uang atau bibit, tapi ilmu. Mereka ajarkan kami melingkarkan ekonomi. Kohe puyuh yang dulu mungkin dibuang, sekarang jadi nutrisi bagi 500 batang tanam cabai rawit merah atau cabai setan”.
Dengan estimasi hasil panen cabai mencapai 0,5 ton dari 25 kali masa panen bertahap, kelompok ini membuktikan bahwa pupuk organik Kohe puyuh membuat tanaman lebih subur dan tahan hama. Panen cabai ini adalah siklus ekonomi yang indah, tagline-nya: #Puyuh Kohe Cabai Uang Keberlanjutan.

Tidak berhenti di situ, di hari yang sama dengan panen cabai, Kelompok Puyuh Simpang Karso Desa Darmo resmi menjalin Perjanjian Kerjasama Penjualan Telur Puyuh dengan Agen Telur Puyuh Yandra Baturaja. Kesepakatan ini memastikan pasokan stabil hingga 1 ton per bulan.
Mustafa Kamal, Sustainable Economic, Social, & Environment Department Head PTBA, menyoroti makna pentingnya kerjasama ini. “Transformasi PETI bukan hanya soal mengganti pekerjaan, tapi memastikan pasar tersedia. Penambahan volume pasokan ini mengokohkan keberlanjutan usaha mereka dan memastikan eks-penambang memiliki pendapatan yang lebih stabil. Kami menghadirkan pemberdayaan yang terukur, terarah, dan berdampak nyata”.
“Kerjasama ini merupakan langkah penting dalam memperluas akses pasar kelompok binaan sekaligus mengokohkan keberlanjutan usaha produktif masyarakat. Penambahan volume pasokan telur dalam kerjasama ini bukan hanya memperkuat rantai pemasaran, tetapi juga memastikan kelompok memiliki peluang peningkatan pendapatan yang lebih stabil”, katanya, Selasa (18/11).
Mustafa menjelaskan, filosofi di balik dukungan pasar ini. “Kami tidak mau mereka hanya berdaya. Kami mau mereka berkelanjutan. Dengan jaminan pasar 1 ton per bulan ini, kelompok memiliki stabilitas finansial. Mereka tidak akan tergoda kembali ke lubang galian, karena ekonomi baru mereka jauh lebih kuat dan bermartabat.”
Kini sinergi kohe puyuh ke cabai, dan pasokan telur puyuh ke Baturaja, siap mengubah Darmo menjadi model desa ketahanan pangan, jauh dari bayang-bayang tambang ilegal.
Ikan Nila
Jika Desa Darmo sukses dengan cabai dan puyuh, kisah di Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Agung, Muara Enim, berpusat pada air. Di sini terhampar kolam-kolam budidaya ikan nila. Ada kelompok Budidaya Ikan Putra Susukan, binaan PTBA, menjadi motor penggerak. Program ini juga bagian dari payung besar Transformasi PETI, mengalihkan fokus masyarakat ke sektor perikanan yang ramah lingkungan dan menjadi bahan konsumsi utama.

Di desa ini berlangsung Panen Bersama Budidaya Ikan Nila yang acaranya dihadiri langsung Dedy Saptaria Rosa, Sustainability Division Head PTBA bersama Ajis Purnomo, Sustainable Community Development Section Head PTBA, dan dari Pemerintah Desa Tanjung Agung hadir Yusuf, selaku Kasi Pemerintahan, dan tentunya Putra Zaman, Ketua Kelompok Budidaya Ikan Putra Susukan yang hari itu menjadi tuan rumah acara panen ikan nila tersebut.
Putra Zaman sebagai ketua kelompok menyampaikan rasa syukur yang mendalam. “Kami dulu hanya melihat tanah sebagai sumber batu bara. Sekarang, kami melihat air sebagai sumber kehidupan yang baru. Dukungan PTBA bukan hanya bibit, tapi keyakinan”, katanya.
Dukungan PTBA diwujudkan dalam penyaluran 10.000 bibit ikan nila. Sebanyak 6.000 dikelola oleh Kelompok Putra Susukan, sisanya dibagikan ke kolam mitra binaan lain. Hasilnya? Sekitar satu ton ikan nila per masa panen, yang didistribusikan ke masyarakat sekitar, pasar tradisional, hingga rumah makan lokal.
Dedy Saptaria Rosa, Sustainability Division Head PTBA, melihat potensi yang lebih luas. “Ikan nila adalah konsumsi utama. Tapi kita tidak boleh berhenti di situ. Kita harus menjangkau pasar yang lebih luas seperti pengolahan abon ikan dan produk turunan lainnya. Inilah cara kita meningkatkan kapasitas produksi usaha sekaligus bentuk nyata upaya mengurangi aktivitas illegal mining.”
Melalui berbagai inisiatif pemberdayaan seperti ini, PTBA berharap produktivitas dan daya saing kelompok budidaya ikan di Desa Tanjung Agung dapat terus meningkat sehingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Program ini juga diharapkan menjadi contoh keberhasilan transformasi ekonomi masyarakat yang dulunya bergantung pada sektor pertambangan menuju kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.
Program Transformasi PETI ini adalah cerminan dari komitmen Corporate Social Responsibility (CSR) atau Corporate Shared Value (CSV) PTBA yang lebih luas, yang berfokus pada pembangunan keberlanjutan (Sustainable Development Goals).

PT Bukit Asam Tbk bukanlah perusahaan biasa, ini adala entitas yang menjadi pilar ekonomi Sumatera Selatan, tapi juga pelopor keberlanjutan. Dalam Laporan Keberlanjutan 2024 yang diterbitkan pada April 2025, PTBA memaparkan komitmen ESG (Environmental, Social, Governance) mereka, termasuk Program Transformasi PETI yang dimulai sejak 2022.
Pada tahun itu saja, PTBA berhasil memberdayakan 155 eks-pekerja PETI untuk beralih ke usaha formal non-pertambangan, seperti pertanian dan peternakan. Program ini bagian dari pilar TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan), yang mencakup pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lingkungan.
PETI Muara Enim – Lahat
Faktor ekonomi menjadi pendorong utama PETI, sehingga PTBA fokus pada alternatif penghidupan berkelanjutan. Pada 2025, program ini diperluas melalui Desa Impian, di mana local heroes—tokoh masyarakat seperti Agus—dilatih untuk memimpin inisiatif. Laporan IDX (2025) menyebut PTBA memaksimalkan potensi melalui TJSL, termasuk hilirisasi bambu, budidaya maggot, dan pertanian organik. Khusus untuk PETI, PTBA memberikan bantuan modal, pelatihan, dan akses pasar.
Tentang PETI batu bara di Sumatera Selatan sudah ada sejak awal tahun 2000-an dan PETI batu bara telah menjadi fenomena yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di sini. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam Laporan Kinerja Ditjen Mineral dan Batubara Tahun 2024 menyebutkan, aktivitas PETI di Sumatera Selatan, khususnya Muara Enim dan Lahat, telah menyebar luas sejak 2009. Di Muara Enim saja, yang memiliki cadangan batu bara mencapai miliaran ton, PETI telah meluas ke tiga kecamatan: Muara Enim, Lawang Kidul, dan Tanjung Agung.
Data statistik dari Polres Muara Enim mencatat, pada 2023-2024, ada puluhan laporan polisi (LP) terkait tambang batu bara ilegal, dengan salah satu kasus terbesar adalah pembongkaran tambang seluas 30 hektar pada Oktober 2023. Jumlah penambang ilegal diperkirakan mencapai ribuan, meski data pasti sulit didapat karena sifatnya yang clandestine. Kehadiran PETI memperburuk kerusakan lingkungan.
Dampaknya? Multidimensi dan menghancurkan. Secara ekonomi, PETI memberikan pendapatan instan bagi masyarakat miskin—seorang penambang bisa mendapat Rp500.000-1.000.000 per hari—tapi menciptakan ketergantungan. Dari laporan penelitian Universitas Sriwijaya (2023) menyebut Muara Enim sebagai “ekonomi mineral” di mana PETI memberikan dampak positif jangka pendek seperti peningkatan pendapatan rumah tangga, tapi jangka panjangnya merusak. Terjadi konflik sosial antar penambang, dan risiko kecelakaan fatal; Project Multatuli (2021) melaporkan puluhan kematian akibat longsor di lubang tambang ilegal.

Sementara lingkungan adalah korban terbesar. Tambang ilegal merusak hutan, mencemari sungai dengan limbah merkuri dan asam sulfat, serta meningkatkan emisi karbon. Laporan dari Asosiasi Energi dan Lingkungan (AEER) 2024 menyebut peningkatan penyakit ISPA di Muara Enim akibat polusi dari PLTU batu bara dan tambang ilegal. Di Lahat, deforestasi akibat PETI mencapai ribuan hektar, mengancam biodiversitas.
Aktivitas PETI bukan hanya masalah hukum, tetapi juga masalah sosial-ekonomi yang kompleks. Ia tumbuh subur karena faktor kemiskinan, minimnya lapangan kerja formal, dan akses mudah terhadap sumber daya mineral.
Menurut data dan kajian berbagai pihak, area di sekitar Muara Enim dan Lahat, yang kaya deposit batu bara, menjadi salah satu titik rawan PETI. Belum ada angka pasti jumlah pelaku PETI sulit diverifikasi, namun diperkirakan mencakup ratusan hingga ribuan individu yang bergantung pada sektor abu-abu ini, membentuk ekosistem ekonomi ilegal yang sulit diberantas hanya dengan penindakan keras.
PTBA menyadari bahwa pendekatan represif saja tidak akan menyelesaikan masalah. Solusi harus menyentuh akar permasalahan: ekonomi dan keberlanjutan hidup. Program Transformasi PETI, sebuah payung besar dalam bingkai Sustainability Division PTBA, yang bertujuan mengalihkan potensi penambang ilegal ke sektor ekonomi produktif dan berkelanjutan.
Epilog:
Bagi PTBA, ini bukan sekadar menjalankan kewajiban CSR, tetapi mewujudkan warisan: menciptakan masyarakat yang mandiri secara ekonomi, peduli terhadap lingkungan, dan berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Aroma cabai segar dan kesegaran ikan nila, bukan debu batu bara, kini menjadi aroma harapan di Bumi Serasan Sekundang. Jejak hitam masa lalu telah berhasil diubah menjadi panen “emas” yang berkelanjutan. (maspril aries)






