Home / Budaya / Marsinah Pahlawan Nasional untuk Kaum Buruh dalam Lembaran Sastra

Marsinah Pahlawan Nasional untuk Kaum Buruh dalam Lembaran Sastra

Keluarga menangis di dekat foto almarhumah Marsinah seusai pemberian gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). (FOTO: Republika/ Edwin Putranto)

Prolog:

10 November 2025, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pahlawan. Pada hari itu dari Istana Negara menggema ke seluruh penjuru negeri, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh dari berbagai daerah dalam sebuah upacara khidmat yang digelar di Istana Negara,

Salah satu tokoh penerima gelar Pahlawan Nasional tersebut adalah seorang perempuan bernama Marsinah. Sebuah nama yang, bagi sebagian generasi, terasa asing di telinga, bagai sebuah relik dari masa lalu yang jauh. Namun, bagi yang mengenang, bagi yang menyimpan luka sejarah yang sama, pengumuman itu bagai petir di siang bolong. Ia bukan sekadar pemberian gelar; ia adalah pembongkaran sebuah kuburan massal keheningan.

KINGDOMSRIWIJAYA-REPUBLIKA NETWORK – Pagi itu, 8 Mei 1993, udara di Nganjuk terasa pengap—bukan hanya karena kemarau yang mulai menggigit, tetapi oleh keheningan yang terlalu berat. Di sebuah gubuk reyot dekat hutan Wilangan, di antara semak belukar yang merunduk seperti sedang berdoa, terbaring tubuh seorang perempuan muda. Kakinya terlipat tak wajar. Pergelangan tangan lecet, luka memar menghitam di sekujur tubuhnya—bekas ikatan tali yang diikat terlalu kencang, terlalu lama.

Tulang panggulnya hancur. Di antara pahanya, terdapat bercak-bercak darah yang telah mengering, menempel pada sehelai kain putih yang kusut, berlumuran noda cokelat kemerahan—seolah-olah alam sendiri enggan membersihkan jejak kekejaman itu. Tidak ada saksi yang berani bersuara. Tak ada yang datang menjemputnya. Ia ditemukan oleh seorang petani yang sedang mencari kayu bakar, lalu kabar itu menjalar seperti api di padang ilalang: “Marsinah hilang. Marsinah ditemukan. Marsinah mati”.

Kemudian Indonesia dan dunia mengenalnya sebagai Marsinah, seorang buruh perempuan yang menjadi martir untuk memperjuangkan hak-hak buruh, tentang upah yang layak. Tetapi sebelum menjadi lambang, Marsinah adalah seorang perempuan bernasib biasa dalam arus besar Indonesia pada masa Orde Baru.


Presiden Prabowo Subianto memberikan ucapan selamat kepada ahli waris keluarga Pahlawan Nasional Marsinah. (FOTO: BPMI Setpres/Laily Rachev)
Presiden Prabowo Subianto memberikan ucapan selamat kepada ahli waris keluarga Pahlawan Nasional Marsinah. (FOTO: BPMI Setpres/Laily Rachev)

Ia lahir pada 10 April 1969, di sebuah tempat yang mungkin tidak akan pernah tercatat di peta sejarah nasional tanpa namanya. Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sumini dan Mastin, takdir sudah mulai mengukir garis kerasnya sejak dini. Ayahnya, Mastin, seorang buruh tani yang tangannya kasar dan suaranya jarang terdengar. Ibunya, Sumini, perempuan yang dipanggil Mbah Mini oleh tetangga—lembut, rajin, selalu membawa bekal nasi bungkus untuk suaminya yang bekerja di sawah.

Di usia tiga tahun, ia telah kehilangan pelukan hangat seorang ibu. Dunia yang seharusnya penuh warna, tiba-tiba berubah kelam. Takdir tak memberi Marsinah waktu cukup untuk mengingat wajah ibunya.

Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya, Pu’irah, dengan bantuan bibinya, di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Di sanalah ia belajar arti kehidupan yang sesungguhnya. Bukan dari buku pelajaran, tetapi dari dagangan kecil-kecilan yang harus ia jajakan untuk menyambung hidup.

Di balik seragam SD Karangasem 189 dan kemudian SMPN 5 Nganjuk, tersembunyi seorang gadis kecil yang telah akrab dengan bahasa rupiah dan tawar-menawar. Namun, kerasnya kehidupan tidak mematikan semangat untuk terus berlajar. Marsinah dikenal sebagai siswa yang cerdas, sang juara kelas. Ia adalah bukti nyata bahwa kemiskinan tidak identik dengan kebodohan.

Di SD Karangasem 189 yang berada di Kecamatan Gondang Marsinah tak pernah absen. Ia duduk di barisan paling depan, buku tulisnya rapi, hurufnya tegak, nilainya selalu di atas rata-rata. Guru-gurunya ingat, Marsinah tak pernah bertanya “kenapa?” — ia selalu bertanya “bagaimana?” Bagaimana caranya agar jawaban ini benar? Bagaimana caranya agar saya bisa mengerti lebih dalam?

Di SMPN 5 Nganjuk dengan gedung sekolah negeri yang lebih besar dari SD Karangasem 189, Marsinah bukan anak yang pemalu, ia menjadi siswi yang sering membantu teman-temannya mengerjakan PR matematika. Di sinilah Marsinah pertama kali belajar hidup mandiri—bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai keharusan. Ia berjualan berbagai jenis jajanan di halaman sekolah.


Foto-Foto Marsinah selalu menjadi bagian pada setiap peringatan Hari Buruh tanggal 1 Mei. (FOTO: Republika)
Foto-Foto Marsinah selalu menjadi bagian pada setiap peringatan Hari Buruh tanggal 1 Mei. (FOTO: Republika)

Pabrik Arloji

Lulus SMA Muhammadiyah di Nganjuk dengan segudang prestasi, impiannya sederhana namun mulia, melanjutkan pendidikan ke IKIP. Ia ingin menjadi guru, mungkin, sebuah profesi yang menjanjikan secercah cahaya untuk mengubah nasib keluarganya. Tetapi mimpi itu kandas di depan pintu biaya. Perguruan tinggi adalah kemewahan yang tak terjangkau bagi anak seorang petani atau buruh. Dunia seakan berkata padanya, “Cukup sampai di sini perjalananmu Nak”.

Namun, Marsinah bukanlah pribadi yang mudah menyerah. Tahun 1989, dengan semangat yang tak pernah pupus, ia mengirimkan lamaran kerja dan akhirnya diterima di pabrik sepatu Bata di Surabaya. Inilah pintu masuknya ke dalam dunia industrialisasi Indonesia era 90-an. Setahun kemudian, ia pindah ke PT Empat Putra Surya (PT CPS), sebuah pabrik arloji di kawasan industri Rungkut, dan kemudian dipindahkan ke cabangnya di Siring, Porong, Sidoarjo. Di sini, di tengah denyut mesin dan presisi jarum jam, takdirnya mulai berubah.

Meski hidupnya telah dihabiskan di lorong-lorong pabrik, Marsinah tidak menyerah pada stagnasi. Di sela-sela waktu kerjanya, ia mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris di Dian Institut, Sidoarjo. Sebuah upaya untuk memberontak terhadap takdir yang ingin membatasinya sebagai “sekadar buruh.” Di mata teman-temannya, Marsinah adalah sosok yang paradoks: pendiam, lugu, ramah, namun menyimpan api perlawanan yang tak kelihatan.

Ia ringan tangan dan setia kawan. Sifat inilah yang kemudian menjadi benih perlawanannya. Ia tidak bisa tinggal diam melihat kawan-kawannya diperlakukan tidak adil oleh atasan. Dalam diamnya, ia mengamati. Dalam keramahannya, ia mengorganisir. Dalam kesetia-kawanannya, ia menemukan kekuatan.

Lalu, datanglah momen penentu itu. Pertengahan April 1993, sebuah secarik harapan turun dari pemerintah, ada Surat Edaran Gubernur Jawa Timur tentang kenaikan upah buruh sebesar 20 persen. Bagi para pemilik pabrik, ini mungkin hanya sebuah imbauan. Tetapi bagi Marsinah dan kawan-kawannya, ini adalah sebuah janji, sebuah pengakuan atas jerih payah mereka.


Marsinah Pahlawan Sosial & Kemanusian. (FOTO: IG @kemenaker)
Marsinah Pahlawan Sosial & Kemanusian. (FOTO: IG @kemenaker)

Bersama buruh PT CPS lainnya, Marsinah, menyusun tuntutan. Bukan hanya tentang angka, ini tentang kemanusiaan. Mereka menuntut kenaikan upah pokok dari Rp1.700 per hari menjadi Rp2.250 per hari. Mereka menuntut cuti haid, cuti hamil, perhitungan upah lembur yang adil. Dan yang paling fundamental: pembubaran unit kerja SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) yang dianggap boneka, tidak mewakili kepentingan buruh. Mereka menginginkan hak berserikat yang sesungguhnya.

Keesokan harinya, 4 Mei 1993, pukul 07.00, para buruh PT CPS berunjuk rasa. Dua belas tuntutan dibacakan. Marsinah ada di tengah-tengah mereka. Suaranya mungkin tidak sekeras yang lain, tapi tekadnya membara. Mereka menuntut kebebasan, keadilan, dan pengakuan atas harga diri mereka sebagai manusia.

Empat hari kemudian, dunia berhenti. Tanggal 8 Mei 1993, di sebuah gubuk dekat hutan Wilangan, Nganjuk, sebuah tubuh ditemukan tidak bernyawa. Itu adalah Marsinah. Namun, ia bukan lagi Marsinah yang cerdas, ramah, dan penuh semangat. Mayatnya adalah sebuah lukisan kekejaman yang tak terperi.

Ratna Sarumpaet dan “Nyanyian Bawah Tanah”

Goenawan Mohamad wartawan senior dan sastrawan menangkap esensi tragedi ini dengan sempurna: apa yang dialami Marsinah adalah “sebuah gambaran yang menyesakkan, tentang bagaimana seseorang yang memperjuangkan tuntutan yang bersahaja pada akhirnya tersangkut dengan masalah hak dasar: hak untuk punya suara, hak untuk punya harapan, bahkan hak untuk punya jiwa dan badan”.

Kita mungkin tak pernah tahu dengan pasti siapa tangan-tangan yang mendaratkan pukulan itu. Proses pengadilan yang berlangsung penuh teka-teki dan tekanan hanya menghasilkan narasi resmi yang rapuh. Tapi, seperti kata Goenawan, kita tahu mengapa ia dibunuh. Ia dibunuh karena ia adalah suara. Ia adalah seorang buruh yang “mengais-ngais dari remah-remah dunia yang dikenalnya secara terbatas”. Ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya bermaksud mengubah nasibnya, dan untuk itu, ia harus mati.


Sampul buku naskah lakon "Marsinah Nyanyian dari Bawah Tanah" karya Ratna Sarumpaet. (FOTO: Maspril Aries)
Sampul buku naskah lakon “Marsinah Nyanyian dari Bawah Tanah” karya Ratna Sarumpaet. (FOTO: Maspril Aries)

Ratna Sarumpaet, dengan mata tajam seorang dramawan, melihat dua hal fundamental dari kematian Marsinah. Pertama, adalah kekerasan fisik yang mencabik-cabik rahim kewanitaannya dan merenggut nyawanya. Kedua, adalah perjuangannya sebagai buruh industri melawan mesin eksploitasi pabrik dan aparat keamanan yang menekan. Kematiannya adalah titik pertemuan antara patriarki dan kapitalisme yang represif. Dan dari tanah yang disirami darah itulah, bermekaranlah bunga-bunga seni yang paling perih dan paling indah.

Panggung itu gelap. Hanya suara yang terdengar, suara-suara dari bawah tanah. Suara itu adalah suara Marsinah, tapi juga suara ribuan buruh tak bernama. Inilah dunia yang diciptakan Ratna Sarumpaet dalam naskah lakonnya, “Marsinah: Nyanyian Bawah Tanah” (1994). Teater bagi Ratna bukanlah sekadar hiburan; ia adalah medium pengadilan rakyat, sebuah ruang dimana sejarah yang dibungkam bisa bersuara lantang.

Naskah Ratna tidak berusaha menceritakan ulang kronologi kematian Marsinah dengan detail jurnalistik. Ia melompat lebih dalam, ke dalam jiwa, ke dalam ruang batin korban dan pelaku. Lakon ini adalah sebuah eksplorasi psikologis dan politis yang menusuk. Ratna tidak ingin penontonnya menjadi saksi pasif; ia ingin mereka merasakan pukulan itu, merasakan ketakutan itu, dan akhirnya, merasakan kemarahan itu.

Dalam “Nyanyian Bawah Tanah”, Marsinah tidak mati. Ia berbicara. Ia bernyanyi. Ia mengutuk. Ratna menghidupkannya kembali sebagai ingatan yang menghantui para algojonya dan sebuah bangsa yang diam. Ini adalah strategi sastra yang genius. Dengan mengangkat Marsinah sebagai roh yang terus hidup, Ratna menegaskan bahwa perjuangannya tidak bisa dibunuh. Kematian fisiknya justru memberinya keabadian.

Lakon ini penuh dengan adegan-adegan yang surealis dan penuh metafora. Adegan penyiksaan tidak ditampilkan secara grafis, tetapi melalui bahasa puitis yang justru lebih menggigit. Penyiksaan itu bukan hanya terhadap tubuh, tetapi terhadap kebenaran. Ratna menyoroti bagaimana aparatur kekuasaan—mulai dari mandor pabrik, preman, hingga aparat militer—bermain dalam sebuah jaringan yang saling melindungi untuk memutar balikkan fakta.

Ratna juga saat mementaskan lakonnya ini di beberapa tidak mendapat izin penguasa, salah satunya di Bandarlampung. Pementasan lakon “Marsinah: Nyanyian Bawah Tanah” dilarang. Pintu gerbang masuk Taman Budaya Lampung di Jalan Cut Nyak Dien dijaga polisi, penonton yang datang diusir pulang.


Marsini Kakak Palawan Nasional Marsinah memberikan keterangan kepada wartawan di Istana Negara. (FOTO: BPMI Setpres/Laily Rachev)
Marsini Kakak Palawan Nasional Marsinah memberikan keterangan kepada wartawan di Istana Negara. (FOTO: BPMI Setpres/Laily Rachev)

Pentas “Marsinah: Nyanyian Bawah Tanah” adalah sebuah peristiwa politik itu sendiri. Setiap pementasannya sarat dengan risiko. Penonton yang menontonnya tidak hanya datang untuk menyaksikan sebuah drama, tetapi untuk ikut serta dalam sebuah aksi solidaritas. Mereka adalah orang-orang yang, dengan duduk di kursi penonton, telah menyatakan perlawanan mereka terhadap lupa.

Ratna Sarumpaet, melalui lakonnya, telah menjemput Marsinah dari kuburnya yang sepi di Nganjuk. Ia membawanya ke panggung-panggung kota, ke kampus-kampus, ke ruang-ruang publik dimana orang masih mau mendengar. Ia mengubah Marsinah dari sekadar headline korban pembunuhan menjadi sebuah simbol abadi tentang harga diri, perlawanan perempuan, dan kekejaman kekuasaan. Ia membuktikan bahwa seni, dalam ketidakberdayaannya yang semu, sebenarnya memiliki kekuatan untuk menciptakan ingatan kolektif yang lebih tangguh dari besi dan baja.

Sapardi Djoko Damono dan “Dongeng Marsinah”

Jika Ratna Sarumpaet menyuarakan Marsinah dengan teriakan lantang di panggung, Sapardi Djoko Damono justru mendekatinya dengan bisikan yang dalam, pelan, namun menusuk sampai ke tulang. Puisi panjangnya, “Dongeng Marsinah,” yang ditulis dari 1993 hingga 1996, adalah sebuah elegi. Sebuah ratapan yang disusun dengan kata-kata yang presisi, seperti arloji yang pernah dirawat oleh Marsinah sendiri.

Sapardi, yang sering diidentikkan dengan puisi-puisi cinta yang melankolis, menunjukkan sisi lain yang garang. Tetapi kegarangannya bukanlah amuk. Ia adalah kemarahan yang disuling, kesedihan yang dikristalkan menjadi bait-bait yang dingin dan mematikan.

Mari kita selami bagian pertama dan kedua dari puisi ini, yang dengan genius menangkap esensi konflik:

1.

Marsinah buruh pabrik arloji,

mengurus presisi:

merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;

waktu memang tak pernah kompromi,

ia sangat cermat dan pasti


Foto 10 penerima Pahlawan Nasional di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). (FOTO: Republika/ Edwin Putranto)
Foto 10 penerima Pahlawan Nasional di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025). (FOTO: Republika/ Edwin Putranto)

Sapardi membuka dengan gambaran Marsinah yang sesungguhnya: seorang pekerja yang terampil, yang hidupnya diatur oleh “presisi.” Kata “presisi” adalah kunci. Ia berbicara tentang ketepatan, keteraturan, dan disiplin dunia industri. Marsinah adalah bagian dari mesin besar yang bernama kapitalisme, yang menuntut segala sesuatunya berjalan seperti jam. “Waktu memang tak pernah kompromi”, tulis Sapardi, menggambarkan betapa mesin produksi tidak manusiawi, tidak mengenal belas kasihan.

Kemudian, Sapardi melompat ke sebuah kontras yang menohok:

2.

Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,

ia hanya suka merebus kata

sampai mendidih,

lalu meluap ke mana-mana.

“Ia suka berpikir,” kata Siapa,

“itu sangat berbahaya.”

Di sinilah kejeniusan Sapardi bersinar. Senjata Marsinah bukanlah batu atau pentungan, melainkan kata. Kata-kata yang direbus “sampai mendidih” adalah metafora yang powerful untuk sebuah kesadaran kritis. Pikiran adalah senjata paling berbahaya bagi rezim otoriter. Marsinah, dengan diskusi-diskusinya, dengan pertanyaannya, dengan tuntutannya, telah “memasak” kata-kata hingga mencapai titik didihnya—titik dimana ia tidak bisa lagi dibendung dan “meluap ke mana-mana”. Dalam beberapa kata saja, Sapardi telah menggambarkan paranoia sebuah rezim terhadap kecerdasan rakyatnya.

Bait berikutnya adalah puncak dari metafora arloji:

Marsinah tak ingin menyulut api,

ia hanya memutar jarum arloji

agar sesuai dengan matahari.

“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,

“dan harus dikembalikan

ke asalnya, debu.”

Ini adalah bagian yang paling puitis dan paling menghancurkan. Marsinah, sang perakit arloji, hanya ingin menyesuaikan “jarum arloji” dengan “matahari”. Ia hanya ingin hidupnya, dan hidup kawan-kawannya, selaras dengan keadilan alamiah. Ia ingin upah mereka sesuai dengan jerih payah, waktu kerja mereka dihargai dengan layak. Ini adalah tuntutan yang sangat mendasar, sangat manusiawi.


Tetapi bagi “Siapa”, tindakan sederhana ini adalah sebuah ancaman eksistensial. “Ia tahu hakikat waktu”. artinya Marsinah sadar bahwa waktu adalah miliknya, hidup adalah miliknya, dan ia berhak mengaturnya. Kesadaran inilah yang tidak bisa ditolerir. Maka, hukumannya adalah dikembalikan “ke asalnya, debu”. Kematian adalah hukuman bagi mereka yang berani memahami “hakikat waktu” dan berusaha merebutnya kembali dari mesin kapital yang hanya melihat waktu sebagai satuan produksi.

“Dongeng Marsinah” Sapardi adalah sebuah masterpiece yang menunjukkan bahwa puisi bisa menjadi alat kritik sosial yang sangat efektif. Ia tidak menggurui, tidak berteriak. Ia merangkai kata dengan indah, dan melalui keindahan itulah kebenaran yang pahit disampaikan. Puisi ini adalah sebuah pengakuan dari dunia sastra yang lebih “arus utama” bahwa kasus Marsinah bukanlah isu pinggiran, melainkan sebuah luka di jantung kemanusiaan kita semua.

Epilog:

Seorang perempuan muda dari Nganjuk, yang tidak punya senjata, tidak punya partai, tidak punya jaringan kekuasaan. Tapi ia punya sesuatu yang lebih berharga dari semua itu: nurani. Dan dalam sejarah bangsa, nurani sering kali menjadi hal paling berbahaya bagi kekuasaan.

Nama Marsinah kini sejajar dengan para tokoh besar, ada Cut Nyak Dien, Kartini, Dewi Sartika, Fatmawati, Rasuna Said, Ratu Kalinyamat dan Rahma El Yunussiyah. Namun ada yang berbeda, Marsinah tidak melawan penjajah asing. Ia melawan penjajahan yang lahir dari dalam negeri — dari sistem yang menghisap rakyatnya sendiri.

Perjuangannya bukan di medan perang, melainkan di pabrik, di ruang lembur, di rapat kecil para buruh, di meja yang penuh slip gaji dan formulir lembur. Di sanalah bentuk baru dari nasionalisme itu hidup: nasionalisme yang tidak berseragam, tidak berpidato, tapi bekerja keras dan menuntut hak-hak dasar manusia. Marsinah mengajarkan bahwa patriotisme tidak selalu berarti mengangkat senjata. Kadang, ia berarti berdiri tegak di hadapan ketidakadilan — meski tahu risikonya adalah kehilangan segalanya. (maspril aries)

Tagged: