Fiksi AI
Kaki-kaki itu bergerak cepat, saling menyusul, tak peduli satu sama lain. Suara langkah mereka membentuk irama aneh yang bertabrakan dengan dentang musik instrumental lembut dari speaker tersembunyi di langit-langit mal. Aroma parfum mahal, kopi, dan makanan cepat saji bercampur menjadi satu, memenuhi udara ber-AC yang dingin. Di tengah keramaian itu, ada Maya, berdiri tepat di bawah kubah kaca raksasa yang memancarkan cahaya matahari sore yang tersaring.
Dia tidak bergerak.
Arus manusia mengalir di sekitarnya, tak berhenti. Ada remaja gen-Z dan milenial melintas dengan tas branded terbaru, ibu-ibu mendorong kereta bayi sambil memegang segelas boba, pasangan muda berpegangan tangan, Maya hanya diam. Matanya memandang lurus ke depan, tetapi seolah tidak melihat apa-apa. Di tangannya, ada beberapa kantung belanja dari toko-toko yang baru saja dia datangi. Sebuah kemenangan kecil dalam ritual akhir pekannya. Tapi hari ini, kemenangan itu terasa hampa.
“Pin ATM ditolak lagi?” tanya seorang sales girl tadi, dengan senyum tipis yang penuh penilaian.
Maya menggeleng, wajahnya memerah. “Bukan. Saya… lupa nomornya”.
Dia berbohong. Dia ingat betul enam digit itu, sama seperti dia ingat saldo di rekeningnya yang hampir habis. Tiga ratus dua puluh ribu rupiah. Itu harus cukup sampai gajian lima hari lagi. Tapi di sini, di Mal Metropolitan ini, tiga ratus ribu terasa seperti recehan yang pantas dibelanjakan untuk secangkir kopi artisan dan sepotong kue.
Maya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Mal ini seharusnya menjadi pelariannya. Sebuah kapsul yang melindunginya dari kekacauan hidup di luar. Di sini, suara klakson dan bau polusi Jakarta digantikan oleh musik lembut dan aroma vanili. Suara bentakan bos dan tenggat waktu yang menyesakkan digantikan oleh senyuman palsu para pramuniaga. Di sini, dia bisa menjadi siapa saja. Seorang perempuan karier yang sukses, setidaknya untuk beberapa jam.
Tapi hari ini, ilusi itu retak.

Dia mulai berjalan lagi, tanpa tujuan. Kaki-kakinya membawanya melewati toko-toko yang sudah hapal di luar kepala. Toko pakaian dengan maneken-maneken kurus yang mengenakan gaun-gaun indah, toko elektronik dengan layar-layar besar yang menampilkan wajah-wajah presenter berita, toko perhiasan dengan kilau emas dan berlian di balik kaca anti maling. Semuanya menjanjikan kebahagiaan. Beli ini, dan kau akan cantik. Beli itu, dan kau akan dihormati. Beli yang lain, dan kau akan dicintai.
Maya berhenti di depan etalase sebuah toko tas mewah. Sebuah tas kulit berwarna soft pink dipajang di sana, dengan gembok emas kecil yang menggantung. Harganya setara dengan gajinya tiga bulan. Dia membayangkan memegang tas itu, menyandangnya di pundak, berjalan dengan kepala tegak. Bayangan itu terasa manis, seperti gula yang melapisi kekosongan.
Tiba-tiba, bayangannya di kaca etalase menatap balik. Seorang perempuan dengan blus putih lusuh, celana hitam yang sudah mulai pudar, dan kerutan halus di sudut matanya. Rambutnya diikat sembarangan. Dia terlihat lelah.
Sangat lelah.
Itukah dirinya? Perempuan yang dulu bercita-cita menjadi arsitek, yang sekarang menghabiskan hari-harinya sebagai admin di perusahaan kontraktor, mengurus dokumen-dokumen yang tak berarti? Perempuan yang dulu bermimpi menjelajahi dunia, yang sekarang tersesat di labirin mal yang sama setiap akhir pekan?
Maya berpaling, merasa mual. Aroma kopi dari kafe terdekat mendorongnya untuk masuk. Dia memesan latte dengan oat milk, pilihan yang membuatnya merasa sedikit lebih baik tentang dirinya sendiri. Saat menunggu, matanya menjelajahi ruangan. Pasangan di sudut berbisik-bisik mesra. Seorang lelaki dengan laptop terbuka, wajahnya berkerut konsentrasi. Sekelompok perempuan dengan tas belanja berlogo, tertawa terbahak-bahak.
Dia duduk sendirian di dekat jendela, menatap orang-orang yang lalu lalang. Setiap wajah punya cerita. Setiap langkah punya tujuan. Dan di sini dia, Maya, terjebak di tengah-tengah, tidak tahu harus pergi ke mana.
* * *

“Kamu harus keluar, May. Jangan di rumah terus”, kata Sari, sahabatnya, melalui telepon tadi pagi. “Belanja itu terapi. Percaya sama aku”.
Sari adalah ahli dalam terapi semacam itu. Apartemennya penuh dengan barang-barang yang dibeli sebagai ‘penyembuh’ hati—tas baru setelah putus cinta, sepatu baru setelah dapat teguran dari bos, perhiasan baru setelah bertengkar dengan orang tua. Siklus itu tidak pernah berakhir. Dan Maya, tanpa sadar, mulai mengikutinya.
Tapi hari ini, sesuatu berbeda. Rasa hampa itu tidak bisa diisi oleh kantung belanja baru. Rasanya seperti dia berjalan di treadmill—terus bergerak, tetapi tidak maju ke mana-mana. Mal ini, dengan lorong-lorongnya yang bersih dan toko-tokonya yang berkilau, adalah labirin yang indah. Sebuah penjara yang nyaman.
Dia ingat pertama kali datang ke Mal Metropolitan sepuluh tahun yang lalu, tak lama setelah dia lulus kuliah. Waktu itu, mal ini adalah simbol impian. Tempat di mana masa depannya yang cerah akan terungkap. Dia dan teman-temannya akan menghabiskan hari-hari dengan window shopping, membayangkan kehidupan yang akan mereka jalani—karir cemerlang, pernikahan bahagia, keluarga yang harmonis.
Sekarang, di usia tiga puluh dua, kehidupan itu tidak persis seperti yang dia bayangkan. Karirnya mandek. Hubungan terakhirnya berakhir pahit setahun yang lalu. Dan keluarga? Ibunya terus-menerus menanyakan kapan dia akan menikah, seolah-olah itu adalah satu-satunya pencapaian yang penting.
Dia menyelesaikan kopinya, rasa pahitnya tertinggal di lidah. Dia harus pulang. Tapi entah mengapa, kakinya menolak. Keluar dari mal berarti kembali ke realita—ke apartemen sempit yang sepi, ke kulkas yang hampir kosong, ke tumpukan cucian yang menunggu.
Dia memutuskan untuk berjalan lagi. Mungkin, jika dia terus berjalan, dia akan menemukan sesuatu—sebuah toko, sebuah penawaran, sebuah objek—yang akhirnya akan mengisi kekosongan itu.
* * *

Lorong-lorong mal mulai terasa seperti labirin sungguhan. Toko-toko yang tadi terasa familiar, sekarang terasa asing. Dia berbelok ke kiri, melewati toko mainan anak-anak dengan patung-patung karakter kartun besar. Lalu ke kanan, melewati department store yang penuh dengan wewangian. Naik eskalator, turun lagi. Semuanya terlihat sama. Kaca, marmer, cahaya neon.
Maya mencoba mengingat di mana pintu keluar parkiran yang biasa dia lewati. gunakan. Tapi semakin dia berusaha mengingat, semakin bingung dia. Pikirannya berkabut. Dia melewati toko roti yang aromanya menggoda, tapi perutnya terasa penuh meski belum makan siang.
Seorang anak kecil menabraknya, menjatuhkan es krim yang meleleh di lantai. Ibu anak itu segera menariknya, memarahi dengan suara berbisik. “Awas, dong! Lihat jalan!”
Maya meminta maaf, meski bukan salahnya. Dia membersihkan noda es krim di celananya dengan tisu. Tangan-tangannya gemetar. Kenapa dia bereaksi seperti ini? Kenapa segalanya terasa begitu… berat?
Maya mencari tempat duduk, tetapi bangku-bangku panjang di koridor sudah penuh. Akhirnya dia menemukan sebuah bangku di dekat area bermain anak, agak tersembunyi di balik tanaman hias palsu. Dia duduk, meletakkan kantung belanjanya di sampingnya.
Dari sini, dia bisa melihat keluarga-keluarga bahagia. Seorang ayah mengangkat anak perempuannya ke pundak, membuatnya tertawa riang. Seorang ibu menyuapi bayi di kereta dorong sambil tersenyum. Adegan-adegan kebahagiaan yang sederhana, tetapi terasa sangat jauh dari jangkauannya.
Apakah ini yang dia cari? Sebuah kehidupan yang terasa utuh? Sebuah identitas yang jelas—istri, ibu, bagian dari sesuatu yang lebih besar?
Tapi di mal ini, identitas itu dijual dalam kemasan yang menarik. Cinta datang dalam bentuk perhiasan berlian. Kebahagiaan keluarga dalam bentuk mobil baru. Kesuksesan dalam bentuk jam tangan mewah. Semuanya bisa dibeli, asal kamu punya uang cukup.
Dan Maya? Dia tidak punya uang cukup. Tidak hanya uang, tapi juga energi, keberanian, mungkin juga kepercayaan diri.
Maya membuka dompetnya, melihat foto lama bersama mantan pacarnya. Mereka tersenyum lebar, latar belakangnya pantai di Bali. Waktu itu segalanya terasa mungkin. Cinta itu cukup untuk mengisi semua kekosongan. Tapi ternyata tidak. Cinta pun bisa habis, seperti saldo di rekening bank.
Maya menyimpan dompetnya, menatap kantung-kantung belanja di sampingnya. Apa isinya? Sebuah blus dari toko fast fashion yang akan pudar setelah beberapa kali cuci. Sebuah lipstik warna baru yang tidak jauh berbeda dengan lima lipstik lain yang sudah dia punya. Sebuah buku self-help yang menjanjikan transformasi dalam 30 hari.
Barang-barang yang dibeli dengan harapan bisa mengubah sesuatu dalam dirinya. Tapi sekarang, barang-barang itu hanya terasa seperti beban. (Bersambung ke Bagian 2)
* * *
Penyusun: Maspril Aries
Catatan: Fiksi AI ini terinspirasi foto di IG @taniaadinda_






