Fiksi AI
Langit di luar kubah kaca mulai gelap. Lampu-lampu di mal menyala, menciptakan suasana yang berbeda. Siang hari, mal ini terasa seperti tempat transisi—orang datang dan pergi dengan tujuan jelas. Tapi di malam hari, terutama pada akhir pekan, mal ini menjadi tujuan itu sendiri. Tempat orang menghabiskan waktu, berkumpul, mencari hiburan.
Maya masih duduk di bangkunya. Dia sudah berada di sini selama berjam-jam, tetapi tidak merasa waktu berlalu. Rasanya seperti dia terperangkap dalam sebuah gelembung di mana waktu tidak bergerak.
Seorang perempuan tua duduk di sampingnya, meletakkan beberapa kantung belanja di lantai. Wanita itu mengenakan syal sutra dan cincin dengan batu permata yang besar. Parfumnya harum dan mahal.
“Kamu kelihatan lelah, sayang”, kata wanita itu tiba-tiba, suaranya lembut.
Maya terkejut. Di mal ini, orang jarang berbicara dengan orang asing. “Saya… baik-baik saja”.
Perempuan itu tersenyum. “Tempat ini bisa membuatmu lelah, bukan? Semua pilihan. Semua kemungkinan. Kadang lebih mudah ketika kita tidak punya banyak pilihan”.
Maya mengangguk pelan. “Iya. Terkadang saya merasa… tersesat di sini”.
“Kita semua tersesat, dengan caranya masing-masing”, kata perempuan itu. “Saya dulu seperti kamu. Berjalan di mal ini, membeli barang-barang yang tidak saya butuhkan, mencoba mengisi lubang yang tidak bisa diisi oleh benda”.
“Lalu apa yang Ibu lakukan?”
Perempuan itu mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. “Saya mulai menulis. Setiap kali saya ingin membeli sesuatu, saya menuliskan apa yang sebenarnya saya rasakan. Lapar? Bosan? Sedih? Kesepian? Lambat laun, saya mulai mengenali pola-pola itu. Dan saya belajar membedakan antara keinginan dan kebutuhan”.

Dia memberikan secarik kertas kepada Maya. “Ini alamat sebuah toko kecil di lantai tiga. Bukan toko yang menjual barang. Tapi mungkin kamu bisa menemukan sesuatu di sana”.
Sebelum Maya bisa bertanya lebih lanjut, perempuan itu sudah berdiri dan pergi, meninggalkan aroma parfumnya yang halus.
Maya melihat kertas itu. Tertulis: “Toko Buku Fajar, Lantai 3, Blok C-17”.
Dia tidak pernah mendengar toko buku di mal ini. Mal Metropolitan lebih banyak diisi oleh toko-toko retail besar, bukan toko buku kecil.
Rasa penasaran mengalahkan kelelahannya. Dia berdiri, mengambil kantung belanjaannya, dan berjalan menuju eskalator ke lantai tiga.
Lantai tiga biasanya adalah area food court dan bioskop. Tapi Blok C adalah area yang jarang dia kunjungi, lebih dekat ke pintu service dan toilet. Dia berjalan melewati deretan toko kecil—toko ponsel, toko kacamata, salon—sampai akhirnya dia melihat sebuah pintu kayu sederhana dengan papan kecil: “Toko Buku Fajar”.
Jendela tokonya kecil, dipenuhi dengan buku-buku tua. Berbeda dengan toko-toko lain yang terang benderang, toko ini remang-remang, hanya diterangi oleh lampu temaram.
Tangan kanan Maya membuka pintu, bel kecil berbunyi. Aroma kertas tua dan kayu menyambutnya. Toko ini kecil, penuh dengan rak-rak buku dari lantai ke langit-langit. Tidak ada musik, tidak ada display neon. Hanya kesunyian yang nyaman.
Seorang lelaki tua duduk di belakang meja kasir, membaca sebuah buku tebal. Dia melihat Maya, mengangguk, lalu kembali ke bukunya.
Maya berjalan di antara rak-rak buku, jarinya menyentuh punggung-punggung buku yang berdebu. Di sini, waktu terasa lebih lambat. Tidak ada tekanan untuk membeli, tidak ada salesgirl yang mengikuti dengan tatapan mengharap.
Maya menemukan sebuah buku tipis di rak paling belakang. Judulnya: “Labirin”. Tidak ada nama pengarang. Sampulnya sederhana, hanya gambar labyrinths hitam putih.
Maya membukanya. Halaman pertama tertulis: “Setiap labirin memiliki pusat. Tapi apakah pusat itu tujuan, atau hanya tempat di mana kita menyadari bahwa kita tersesat?”

Maya terus membalik halaman. Buku itu berisi kumpulan puisi dan esai pendek tentang orang-orang yang tersesat dalam berbagai bentuk labirin—labirin cinta, labirin kenangan, labirin harapan.
Satu puisi menarik perhatiannya:
Aku berjalan di lorong-lorong yang sama
Setiap hari, setiap malam
Mencari pintu keluar
Tapi yang kutemukan hanyalah
bayanganku di kaca etalase
Menatap balik dengan mata yang sama lelahnya.
Maya merasa seperti puisi itu ditulis untuknya. Selama ini, dia pikir labirinnya adalah mal ini, adalah dunia konsumerisme, adalah tekanan menjadi perempuan modern. Tapi mungkin, labirin yang sesungguhnya ada dalam dirinya sendiri.
Maya membawa buku itu ke meja kasir. Lelaki tua itu melihat buku yang dia pilih, matanya berkedip.
“Buku yang baik”, katanya sambil membungkus buku itu dengan kertas coklat. “Tapi ingat, membaca tentang labirin tidak akan membawamu keluar dari labirin. Hanya tindakanmu yang bisa”.
Maya membayar dengan uang tunai yang tersisa di dompetnya. Harga buku itu tidak mahal, tapi terasa lebih berharga daripada semua barang yang dia beli hari ini.
* * *
Dia keluar dari toko buku, merasa sedikit berbeda. Bukan transformasi dramatis, tapi semacam kejelasan kecil. Seperti kabut yang mulai tersibak.
Dia berjalan menuju food court, tidak untuk membeli makanan, tapi untuk duduk dan membaca bukunya. Di tengah keramaian orang yang makan dan tertawa, dia menemukan ketenangan.
Buku itu bercerita tentang seorang perempuan yang tersesat di mal raksasa. Setiap kali dia membeli sesuatu, lorong-lorong mal berubah, menjadi lebih rumit. Barang-barang yang dia beli menjadi beban yang harus dia bawa, memperlambat langkahnya.

Tapi kemudian, di pusat labirin, dia menemukan sebuah ruangan kosong. Tidak ada toko, tidak ada barang untuk dibeli. Hanya sebuah cermin besar. Dan di sana, dia harus berhadapan dengan dirinya sendiri—bukan dengan apa yang dia miliki, tapi dengan siapa dia sebenarnya.
Maya menutup buku itu. Matanya berkaca-kaca. Selama ini, dia menggunakan belanja sebagai pelarian. Setiap kali dia merasa tidak cukup—tidak cukup cantik, tidak cukup sukses, tidak cukup bahagia—dia datang ke mal ini untuk membeli perasaan ‘cukup’ itu. Tapi perasaan itu selalu sementara, seperti gula yang larut dalam air.
Dia melihat kantung-kantung belanja di sampingnya. Tiba-tiba, dia tahu apa yang harus dilakukan.
Maya berdiri, membawa semua kantung belanja itu, dan berjalan menuju toko-toko di mana dia membeli barang-barang tadi. Satu per satu, dia mengembalikan semuanya. Prosesnya tidak mudah. Beberapa salesgirl melihatnya dengan sinis, beberapa dengan kasihan. Tapi Maya tidak peduli. Untuk pertama kalinya hari ini, dia merasa yakin dengan keputusannya.
Uangnya kembali. Tidak banyak, tapi cukup.
Maya berjalan menuju pusat mal, di bawah kubah kaca itu. Sekarang, dia tidak membawa apa-apa. Tangannya kosong. Tapi anehnya, dia merasa lebih ringan.
Maya memandang sekeliling. Mal ini masih sama—berkilau, ramai, penuh janji. Tapi sekarang dia melihatnya dengan mata yang berbeda. Ini bukan labirin yang jahat. Ini hanya tempat. Labirin yang sesungguhnya ada dalam pikirannya, dalam ketakutannya, dalam rasa tidak amannya.
Dan labirin itu tidak bisa diatasi dengan membeli barang-barang. Labirin itu harus dihadapi dengan berjalan, dengan tersesat, dengan akhirnya menemukan keberanian untuk berdiri di pusatnya dan menerima bahwa dia, Maya, dengan segala ketidaksempurnaannya, sudah cukup.
Maya mengambil telepon selulernya, mengetik pesan kepada Sari, “Terima kasih untuk sarannya, tapi aku menemukan sesuatu yang lain hari ini. Aku akan pulang sekarang”.
Lalu, dengan langkah yang lebih pasti, dia berjalan menuju pintu keluar. Maya tidak lagi tersesat. Atau mungkin, dia sudah menerima bahwa dalam beberapa hal, kita semua tersesat. Dan itu tidak apa-apa.
Di luar, udara Jakarta yang panas dan bau menyambutnya. Tapi hari ini, udara itu terasa nyata. Dia menghirupnya dalam-dalam, lalu berjalan menuju halte bus, sambil memegang erat buku kecil di tangannya.
Labirin itu masih ada, tentu saja. Tapi sekarang, dia tahu bahwa kunci untuk keluar tidak ada di etalase toko manapun. Kuncinya ada dalam dirinya sendiri. Dan hari ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa sudah menemukan kunci itu.
* * *
Penyusun: Maspril Aries
Catatan: Fiksi AI ini terinspirasi foto di IG @taniaadinda_






