Fiksi AI
Di kota kecil yang tenang, sejak muda Pak Rudi menetap di kota yang berhawa sejuk ini. Pasca pensiun dari guru di sebuah sekolah negeri, Pak Rudi menghabiskan hari-harinya dengan merawat kebun kecil di belakang rumahnya.
Di rumahnya yang tidak terlalu besar, di salah satu sudut rumahnya, tersimpan sebuah telepon seluler tua yang sudah tidak digunakan lagi. Ponsel itu jadi pertanda bahwa dirinya pernah bercengkrama dengan teknologi digital. Ponsel itu adalah hadiah dari murid-muridnya saat ia pensiun dua tahun lalu. Kini ponsel iitu sudah usang namun Pak Rudi tidak pernah membuangnya. Ia menyimpan ponsel itu sebagai kenangan.
Pagi hari saat giliran membersihkan bagian dalam rumah, Pak Rudi menemukan ponsel tua itu. Ia mencoba menyalakannya, dan anehnya, ponsel itu masih berfungsi. Dengan penuh rasa ingin tahu, ia mulai memeriksa isi ponsel tersebut. Di dalamnya, ia menemukan beberapa pesan lama dari murid-muridnya yang penuh rasa hormat dan terima kasih. Namun, di antara pesan-pesan itu, ada satu pesan misterius yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dari nomor yang tidak tercantum nama pemilik nomor tersebut. Pesannya, “Jika kau membaca ini, tolong bantu aku.”
* * *
Pak Rudi penasaran dengan pesan tersebut. Ia mencoba melacak nomor pengirimnya. Ternyata, nomor itu milik seorang pemuda bernama Raka. Pak Rudi memutuskan untuk menemui Raka dan menanyakan tentang pesan itu. Ketika bertemu, Raka tampak bingung dan curiga. Ia mengira Pak Rudi adalah orang yang ingin mencelakainya.
“Apa maksud Bapak menghubungi saya? Apa Bapak mata-mata?!” tanya Raka dengan nada tinggi.
Pak Rudi mencoba menjelaskan bahwa ia hanya ingin tahu tentang pesan tersebut. Namun, Raka tetap tidak percaya. Setelah beberapa saat berbicara, akhirnya Pak Rudi berhasil meyakinkan Raka bahwa ia hanya ingin membantu. Raka pun mengungkapkan bahwa ia dulu mengirim pesan itu secara acak karena merasa putus asa akibat masalah keluarganya.
Pak Rudi memberikan nasihat bijak kepada Raka untuk memperbaiki hubungan dengan keluarganya. Dengan hati yang tenang, Raka akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan meminta maaf kepada orang tuanya.
Beberapa hari kemudian, Pak Rudi menerima panggilan dari nomor asing di ponsel tua itu. Suara di seberang telepon adalah seorang wanita bernama Siti. Ia mengaku menemukan nomor Pak Rudi di kontak lama milik suaminya yang telah meninggal dunia. Siti merasa kesepian setelah kepergian suaminya dan tidak tahu harus berbicara dengan siapa.
Pak Rudi mendengarkan cerita Siti dengan sabar. Ia mengingatkan Siti bahwa meskipun kehilangan seseorang yang dicintai sangat berat, hidup harus terus berjalan. Pak Rudi juga menyarankan Siti untuk bergabung dengan komunitas di lingkungannya agar tidak merasa sendirian.
Siti merasa terhibur oleh kata-kata Pak Rudi. Ia pun mulai aktif di kegiatan sosial di tempat tinggalnya dan perlahan menemukan kebahagiaan baru dalam hidupnya.
* * *

Cukup lama ponsel milik Pak Rudi tidak pernah mengeluarkan nada panggil. Beberapa minggu kemudian, ponsel tua itu berdering. Kali ini, panggilan itu berasal dari seorang pria muda mengaku bernama Dimas. Ia adalah salah satu mantan murid Pak Rudi yang kini bekerja sebagai sopir ojek daring di kota besar. Dimas bercerita bahwa ia merasa terjebak dalam pekerjaannya dan tidak tahu bagaimana cara mengejar impiannya menjadi seorang musisi.
Pak Rudi mengenang sosok Dimas kecil yang selalu membawa gitar ke sekolah dan bernyanyi dengan penuh semangat. Ia mengingatkan Dimas bahwa hidup adalah tentang keberanian untuk mengambil langkah pertama menuju impian.
Dengan dorongan dari Pak Rudi, Dimas mulai tampil di kafe-kafe kecil pada malam hari setelah bekerja. Perlahan, ia mulai dikenal dan mendapatkan kesempatan untuk tampil di acara yang lebih besar.
Setelah berbilang bulan, tak ada nada panggil lagi yang memanggil, roda kehidupan Pak Rudi bergulir seperti biasa. Empat bulan setelah telepon terakhir dari Dimas, Pak Rudi kedatangan Siti yang pernah menelponnya beberapa bulan lalu. Siti bercerita bahwa dirinya ketua komunitas sosial di lingkungannya. “Saya ketua dari komunitas itu Pak”, ujarnya.
Baca juga: https://kingdomsriwijaya.id/posts/714571/-trilogi-cerpen-ponsel-tua-ponsel-ku-diserang-malware
Setelah kedatangan Siti, Pak Rudi kedatangan Raka dan Dimas. Mereka datang bersamaan. Raka bercerita, sekaran g hidupnya damai bersama keluarganya. Dimas memberi kejutan, “Saya berhasil merilis lagu single pertama saya di media sosial. Wah sambutannya sangat antusias, Alhamdulillah follower saya sudah hampir 30.000”, katanya. Dimas dan Raka datang hadiah kecil yang mereka beli bersama untuk Pak Rudi sebagai tanda penghormatan, sebuah jam tangan.
Pak Rudi tersenyum bahagia melihat perubahan dalam hidup tiga orang yang pernah menjadi muridnya. Pak Rudi tersenyum ke arah ponsel tua yang sudah usang di hadapannya. Pnsel ini elah menjadi alat untuk membawa kebaikan bagi banyak orang.
Pak Rudi bergumam, “Kadang-kadang hal-hal kecil yang kita anggap sepele bisa membawa perubahan besar dalam hidup seseorang”.
Raka dan Dimas tertawa mendengar ucapan gurunya tersebut, sambul mereka menikmati sore yang hangat di kebun kecil Pak Rudi. Ponsel tua itu mungkin sudah tidak canggih lagi, tetapi kenangan dan kebaikan yang dibawanya akan selalu abadi.
* * *
*(Penyusun: maspril aries)






