Home / Budaya / Musim yang Tak Kunjung Rontok (Bagian 1)

Musim yang Tak Kunjung Rontok (Bagian 1)

Fiksi AI

Jakarta, bagai raksasa besi yang tak pernah terlelap, senantiasa mengeluarkan bunyi dengkur mesin dan desisan nafas terburu-buru. Di sebuah kafe yang terselip di antara gedung-gedung pencakar langit, empat sosok duduk melingkar. Mereka adalah veteran dalam pertempuran sehari-hari di kota yang zaman dulu namanya Batavia.

Wajah-wajah mereka menyimpan peta keruwetan seperti keruwetan lalu lintas kota yang padat, yang menceritakan puluhan tahun perjalanan, sementara mata mereka, meski lelah, masih menyimpan bara ambisi atau mungkin sekadar sisa-sia kebiasaan.

Ada Rendra, dengan kemeja lengan panjang bermotif yang terlalu muda untuk usianya, seolah berusaha menjahit kembali masa remajanya yang terlewat. Di depannya, Elisa, berpotongan rambut bob rapi, gaya bicaranya terukur bagai menteri sedang memberi konferensi pers.

Di seberang meja, Ari, dengan kacamata tebal dan ekspresi yang selalu memendam kalkulasi, bagai seorang arsitek yang terus-menerus merancang ulang blue print kehidupannya. Bima, sosok yang paling diam, namun setiap ucapannya kerap menggantung di udara bagai kabut tebal yang tak kunjung sirna.

“Serius, nih, ya”, kata Rendra, menyentuh gelas kopinya yang hampir habis. “Gue udah mikir, kalo gue udah tua banget, ompong, pikun, gak bisa apa-apa lagi, cuma jadi beban, paling gue bundir aja deh. Bersih. Gak usah repot-repot. Banyak, kok, contohnya di luar negeri. Itu tindakan terhormat untuk tidak merepotkan orang lain”, berbicara dengan nada santai, seperti membicarakan menu untuk makan malam.

Kalimat itu melayang dan menabrak dinding kafe yang hangat. Elisa menghela napas, jarinya yang bercincin silver mengetuk-ngetuk meja kayu. “Rendra, kamu ini selalu dramatis. Hidup ini kan soal persiapan. Lihat orang tua di luar negeri, banyak yang ternyata salah perhitungan. Tempat tinggal yang mereka impikan malah jadi penjara yang membosankan. Jadi, buat apa kita repot-repot kalau ujung-ujungnya menyesal?” katanya, seraya dalam hati ingin agar sahabatnya rasional dalam menjalani hidup.


Ilustrasi suasana Senior House. (FOTO: Aplikasi Imitasi)
Ilustrasi suasana Senior House. (FOTO: Aplikasi Imitasi)

Ari lalu menyela gayanya seperti nara sumber di talkshow televisi, matanya berbinar di balik lensa kacanya. “Gue lihatnya dari sudut lain. Katakanlah gue punya anak dan mereka sukses. Tinggal bersama mereka, dengan menantu dan cucu, itu belum tentu surga. Bisa jadi neraka kecil yang penuh dengan salah paham dan ekspektasi yang meleset. Maka, rencana gue jelas, harta bagi dua. Setengah untuk warisan anak-anak, setengah lagi untuk biaya tinggal di Senior House yang bagus. Bayar untuk kenyamanan dan profesionalisme. Itu investasi akhir yang paling masuk akal”.

Lalu, pandangan mereka beralih ke Bima yang sejak tadi hanya mendengar, menyeruput kopinya yang hitam pekat. “Aku,” ujarnya perlahan, suaranya serak bagai deru angin yang menyusuri celah-celah beton, “hanya ingin mandiri. Jakarta ini sudah seperti oven raksasa yang mengeringkan jiwa. Aku impikan sebuah rumah kecil di tanah sejuk, di mana pagi datang dengan embun, bukan dengan klakson. Punya sedikit tanah untuk ditanami, seorang pembantu yang setia, dan kegiatan-kegiatan sederhana yang masih sanggup aku lakukan. Kemerdekaan di masa tua adalah kemewahan terakhir.”

Obrolan sore itu adalah ritual mereka. Sebuah upacara kecil di tengah hiruk-pikuk kota untuk menenun jaring pengaman bagi masa depan yang tak terelakkan. Mereka semua telah menabung, berinvestasi, merencanakan. Mereka adalah para perencana ulung yang telah memenangkan banyak pertempuran finansial. Tapi, di tengah rencana-rencana yang terdengar begitu matang itu, ada satu kalimat dari Rendra yang seperti paku berkarat mencuat dari lantai kayu yang halus; menggangu, menusik, dan menyisakan pertanyaan yang mengendap di benak Bima lama setelah pertemuan usai.

Pertemuan tersebut sudah berlalu hampir tiga pekan, dalam benak Bima yang tak hilang pertanyaan yang selalu berulang. Pertanyaan itu terus mengikutinya, bagai bayangan sendiri yang memanjang di kala senja. “Kenapa bundir masih menjadi sebuah opsi?” Bukankahkita bekerja puluhan tahun, antara lain, untuk membangun support system itu? Bima merenung sendiri. Untuk memastikan bahwa saat tenaga mulai surut, kita tidak tenggelam sendirian?

Ilustrasi 4 orang sahabat minum kopi di coffee shop. (FOTO: Aplikasi Imitasi)
Ilustrasi 4 orang sahabat minum kopi di coffee shop. (FOTO: Aplikasi Imitasi)

Berbilang tahun berlalu, Jakarta masih sama, menjadi kota yang sibuk, bising, dan tak peduli. Musim hujan tiba dengan gemuruhnya, mengubah jalanan menjadi sungai-sungai beton yang macet. Di sebuah apartemen mewah, Rendra terbangun dari tidur siangnya. Tubuhnya terasa berat, bagai dipenuhi batu. Usia telah menggerogoti kekuatannya. Sebuah panggilan telepon mengagetkannya. Dokter menyampaikan hasil pemeriksaan: sebuah penyakit degeneratif yang akan perlahan-lahan mencabut kemandiriannya.

“Kami akan membutuhkan perawat penuh waktu, Pak Rendra,” ujar suara di seberang telepon.

Kalimat itu menggantung. Dan tiba-tiba, rencana bundir yang dulu diucapkannya dengan santai, kini terasa seperti hantu yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Dulu, itu adalah sebuah konsep abstrak, sebuah pernyataan sikap yang terdengar ‘keren’ dan ‘berani’. Sekarang, itu adalah sebuah pilihan nyata yang dingin dan menakutkan. Ia melihat tangannya yang mulai bergetar halus. “Inikah waktunya?” tanyanya dalam hati. Tapi, ketakutan yang lebih purba dari segala rencananya menyergapnya. Naluri untuk bertahan hidup.

Elisa sahabatnya, sudah tidak lagi di Jakarta, dia mewujudkan impiannya untuk pindah ke sebuah retirement community yang hijau dan tertata rapi di luar negeri. Awalnya, itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Tapi perlahan-lahan, keteraturan itu berubah menjadi monotonitas yang membunuh. Setiap hari sama: makan pada jam yang ditentukan, aktivitas kelompok yang dipandu, obrolan dengan para penghuni lain yang hanya berputar pada penyakit dan kenangan. Dia merasa seperti sebuah barang yang disimpan rapi di dalam lemari, aman tapi tak bernyawa.

“Inikah yang aku perjuangkan?” pikirnya suatu malam, memandang bulan dari jendela kamarnya yang bersih dan steril. Malam itu, dia merindukan kekacauan kreatif Jakarta, merindukan rasa “hidup yang tak terencana”. (Bersambung)

Penyusun: Maspril Aries

Catatan: Fiksi AI ini terinspirasi dari catatan pada laman FB Ramdani Sirat

Tagged: