FIKSI AI
Angin sore menyapu tepian Sungai Musi, membawa aroma lumpur dan bunga kenanga dari halaman rumah-rumah panggung. Di bawah langit jingga, seorang perempuan tua duduk bersila di atas tikar pandan, matanya menatap batu-batu besar yang mengintip dari permukaan sungai yang surut.
“Batu itu bukan sembarang batu”, gumamnya pelan. “Itu dulu kapal besar, pemiliknya mendapat kutukan dan menjadi batu hamparan”.
Perempuan tua itu dipanggil Mak Siti, perempuan yang dikenal sebagai penjaga cerita di kampung Ilir Timur. Menjelang sore, anak-anak sering berkumpul di sekelilingnya, mendengarkan kisah-kisah yang tak tercatat dalam buku sejarah.
Hari itu, Raka, mahasiswa antropologi dari Jakarta, datang menemuinya. Ia sedang meneliti narasi lokal tentang Sungai Musi dan mendengar desas-desus tentang “kapal batu beserta barang-barangnya yang dikutuk”.
“Mak Siti”, sapa Raka sopan, “Benarkah batu-batu itu dulunya kapal dan barang-barang yang dibawanya?”
Mak Siti menatapnya lama, seolah menimbang apakah anak muda ini cukup layak untuk mendengar kisah yang telah lama disimpan.
“Kalau kau hanya ingin cerita untuk skripsi, lebih baik kau pulang. Tapi kalau kau ingin tahu luka yang diwariskan air, duduklah”.
Raka duduk. Angin berhenti. Sungai Musi seolah menahan napas.
“Dulu”, kata Mak Siti, “Ada seorang anak sungai bernama Awang. Ia lahir dari rahim perempuan nelayan, miskin tapi berhati terang. Ibunya bernama Sari, membesarkannya dengan doa dan air sungai”.
Awang yang kelak dikenal sebagai Dampu Awang tumbuh menjadi pemuda cerdas dan tangguh. Ia belajar membaca bintang, mengenali arus, mengenal arah angin dan berdagang ke hilir. Lambat laun, ia menjadi saudagar kaya, memiliki kapal besar yang disebut Si Naga Laut. Ia berlayar hingga ke Melaka, Pattani, bahkan Tiongkok.
Namun, kekayaan mengubah hatinya.

“Awang mulai malu pada asal-usulnya”, lanjut Mak Siti. “Ia tak lagi mengakui ibunya. Ketika Sari datang ke pelabuhan, membawa pisang dan makanan dengan lauk ikan asin, Awang mengusirnya”.
“Nak, ini pisang kesukaanmu. Ibu datang jauh-jauh dari kampung”, kata ibunya.
“Siapa kau, pergi kau, perempuan tua! Aku tak kenal kau. Ibuku sudah meninggal”, kata Awang dengan menggerakan tangannya seperti mengusir.
Sang Ibu menjawab, “Kalau begitu, biarlah sungai yang menjadi saksi. Kau anak sungai, tapi kau durhaka. Aku tak akan menangis. Tapi air akan membalasnya”.
Malam itu, Sungai Musi bergemuruh. Langit gelap, angin berputar. Sungai menjadi murka, kapal Si Naga Laut yang hendak berlayar ke Tiongkok tak bisa bergerak. Tali putus, layar robek, dan suara perempuan terdengar dari dasar sungai.
“Kau anak sungai, tapi kau lupa air yang membesarkanmu. Maka air akan menelanmu”.
Kapal Awang bersama barang-barang bawaannya tenggelam perlahan, tapi tidak hancur. Ia membatu. Menjadi Batu Ampar—batu-batu besar yang kini muncul saat air surut.
Mak Siti menatap Raka. “Batu itu bukan hanya batu. Ia adalah peringatan. Bahwa siapa pun yang melupakan asalnya, akan dibekukan oleh sejarah”.
Raka terdiam. Sejak saat itu, ia tak lagi melihat Sungai Musi sebagai objek penelitian, tapi sebagai ruang ingatan. Ia tahu, cerita ini harus ditulis bukan sebagai legenda, tapi sebagai narasi perlawanan terhadap lupa.
Raka mulai menggali lebih dalam tentang cerita yang kemudian banyak disebut sebagai “Legenda Dampu Awang”, menemukan konflik antara narasi akademik dan narasi rakyat, serta mulai menyadari bahwa cerita ini bukan sekadar folklor, tapi bagian dari identitas dan luka sejarah yang hidup.
Malam itu, Raka tak bisa tidur. Kata-kata Mak Siti bergema di kepalanya, “Siapa pun yang melupakan asalnya, akan dibekukan oleh sejarah”.

Ia membuka laptopnya, mencari arsip digital, jurnal antropologi, dan catatan kolonial tentang Palembang. Tapi tak satu pun menyebut nama Dampu Awang. Yang ada hanya catatan tentang pelabuhan, perdagangan lada, dan kapal-kapal Belanda.
“Apa mungkin cerita ini sengaja dihapus?” gumamnya.
Keesokan harinya, Raka kembali ke rumah Mak Siti. Kali ini ia membawa kamera, buku catatan, dan rekaman suara.
“Mak, saya ingin tahu lebih dalam. Apakah ada naskah tua, atau benda peninggalan yang berkaitan dengan Awang?” katanya kepada Mak Siti.
“Ada. Tapi bukan di sini. Kau harus ke Kampung Kapitan. Di sana, ada rumah tua yang menyimpan manuskrip. Tapi hati-hati. Tak semua orang suka masa lalu diungkit”, jawab Mak Siti.
Kampung Kapitan adalah kawasan tua di Palembang, peninggalan komunitas Tionghoa yang telah menetap sejak abad ke-17. Di sana, Raka bertemu dengan Amei, cucu dari keturunan Kapitan terakhir.
“Kau ke sini mencari Dampu Awang? Banyak yang bilang dia cuma mitos. Tapi kakekku bilang, Awang itu nyata. Ia bukan hanya pelaut, tapi juga pedagang, kalau orang sekarang bilang pebisnis. Juga pemberontak yang tidak mau tunduk pada penjajah”, ujar Amei.
Amei menunjukkan sebuah manuskrip tua berbahasa Melayu dan aksara Tionghoa. Di dalamnya tertulis: “Dang Puhawang, pelaut dari Sungai Musi, menolak tunduk pada dagang Belanda. Ia memilih tenggelam bersama kapalnya daripada menyerahkan jalur air kepada penjajah”.
Raka terdiam. Ini bukan hanya cerita moral tentang anak durhaka. Ini adalah narasi perlawanan. Dampu Awang bukan hanya dikutuk oleh ibunya, tapi juga oleh sejarah yang menolak mencatatnya.
Malam itu Raka menulis artikel berjudul “Dampu Awang: Narasi yang Dibekukan Sungai”. Ia mengirimkannya ke jurnal kampus. Esoknya ia mendapat jawaban, dosen pembimbingnya menolak.
“Cerita rakyat tak bisa dijadikan sumber utama. Mana bukti arkeologisnya? Mana verifikasi sejarahnya?” tulis dosen pembimbing di email jawaban. (Bersambung ke bagian 2)
Penyusun: Maspril Aries
(Dikembangkan dari cerita dongeng Legenda Dampu Awang)






