Menulis 10.000 Fiksi Mini. (FOTO: Dok. Gol A Gong)
KINGDOMSRIWIJAYA – Ahad pagi, 13 Juli 2025 sebuah pesan datang via WA Chat dari Duta Baca Indonesia, Gol A Gong. Catatan: “Ayo, bergabung jadi bagian rekor muri menulis 10 ribu fiksi mini bersama Duta Baca Indonesia Perpustakaan Nasional RI dan Sip Publishing. Sudah 3700 orang yang bergabung.
Kami mengundang para penulis, guru, dosen, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk bersama-sama mengukir sejarah: Pemecahan Rekor MURI: Menulis 10.000 Fiksi Mini Bersama Gol A Gong, Duta Baca Indonesia”.
Masih ada pesan berikutnya, Gol A Gong juga akan memberikan pelatihan menulis fiksi mini secara daring pada Ahad, 20 Juli 2025, pukul 19.30 WIB.
Tidak berbayar. 15 karya terbaik akan dipilih dan berhadiah total Rp10.000.000. Pada 15 September 2025 akan diluncurkan buku kumpulan 10.000 fiksi mini pada Hari Kunjung Perpustakaan bertempat di Auditorium Lt.2, Gedung Perpustakaan Nasional RI Jl. Merdeka Selatan No 11 Jakarta Pusat. Pidato Utama: Prof. E. Aminudin Azis, M.A., Ph.D. (Kepala Perpustakaan Nasional RI).
Apakah anda akan ikut? Tidak ada batas usia kepada siapa pun yang akan berpartisipasi untuk menulis fiksi mini, bukan fiksi maksi (maksimal). Apa itu fiksi mini? Inni Inayati Istiana dalam “Fiksi Mini” (2020) menjawab bahwa fiksi mini atau biasa disebut fiksi kilat atau flash fiction adalah sebuah cerita sangat pendek yang berasal dari kata fiksi (cerita) dan mini (kecil atau pendek).
Fiksi mini atau microfiction juga memiliki sebutan lain, seperti nouvelles (Prancis); cerita setelapak tangan dan cerita kartu pos (Jepang); dan fiksi kilat (fiksi kilat), fiksi mendadak, fiksi mikro, fiksi nano (Amerika). Fiksi mini memuat 140 karakter yang terdiri atas judul dengan uraian 4—10 kata. Fiksi mini biasanya bercerita tentang isu sosial, kritik, pengalaman, dan kisah tokoh yang dihiasi ide-ide lucu, nakal, sedih, dan heroik.

Fiksi mini adalah teks sastra yang terdiri atas beberapa kalimat atau satu paragraf pendek dengan batas penulisan maksimal 140 karakter. Fiksi mini populer dalam dunia maya melalui jaringan media sosial (medsos) seperti twitter dengan nama pengguna fiksimini.
Fiksi mini juga bukan sekadar penulisan cerita dalam kalimat pendek, melainkan hasil dari sebuah pergulatan dalam menemukan plastisitas kisah yang memberikan ruang imajinasi yang luas. Kisah itu tampak “sekelebat”, tetapi merangsang pembaca untuk berimajinasi dan mengembangkan kemungkinan-kemungkinan penafsiran dan pemecahan teka-teki di dalamnya.
Keterbatasan jumlah kata dalam fiksi mini seringkali memaksa beberapa elemen dasar naratif (penokohan, alur, konflik, tantangan, dan resolusi) muncul tanpa tersurat, cukup hanya disiratkan dalam cerita.
Jika anda bertanya kepada perangkat kecerdasan buatan atau kecerdasan buatan, salah satu jawabannya sebagai berikut: Fiksi mini adalah bentuk cerita rekaan yang sangat singkat—lebih pendek dari cerpen—namun tetap memiliki unsur naratif seperti tema, alur, dan amanat. Ia sering disebut juga sebagai flash fiction, cerita kilat, atau cerita kartu pos, tergantung pada tradisi dan konteks budaya.
Jumlah kata atau karakter dalam fiksi mini bervariasi tergantung pada gaya dan tujuan penulisannya. Walau ada yang menyebut 140 karakter atau hanya 4 – 10 kata maka ini tergolong fiksi mini versi ultra pendek. Ada juga yang menyatakan, fiksi mini berkisar 250 kata – 1.000 kata.

Menurut Badan Bahasa, fiksi mini adalah sebuah cerita sangat pendek kata fiksi (cerita) yang berasal dan mini (kecil dari atau pendek). Berbeda dengan cerpen lain, fiksi mini membebaskan pembaca untuk mengembangkan tema, alur cerita, akhir cerita dan simpulan cerita sesuai daya imajinasinya. Fiksi mini memuat 140 karakter yang terdiri atas judul dengan uraian 4—10 kata. Fiksi mini biasanya bercerita tentang isu sosial, kritik, pengalaman, dan kisah tokoh yang dihiasi ide-ide lucu, nakal, sedih, dan heroik (2017).
Mungkin fiksi mini ini seperti Editorial atau Tajuk Rencana di media massa (surat kabar atau majalah) – sekarang di media online atau daring, editorial atau tajuk rencana sudah tergusur. Jumlah kata dalam Tajuk Rencana
Kisaran Jumlah Kata dalam sebuah Tajuk Rencana yang pendek sekitar 300–500 kata, yang sedang sekitar 600–800 kata (umumnya surat kabar harian di Indonesia mayoritas menggunakan standar ini). Ada juga Tajuk Rencana yang panjangnya bisa mencapai 1000 kata atau lebih.
Fiksi mini dapat diibaratkan seperti editorial atau tajuk rencana di media massa. Karena keterbatasan ruang, fiksi mini menuntut pemilihan kata yang tajam dan imajinatif. Cerita harus langsung ke inti, sering kali menyisakan “ledakan makna” di akhir yang menggugah pembaca untuk merenung atau menafsirkan lebih dalam.
Fiksi Maksimal
Selain fiksi mini tentu juga ada fiksi maksi atau “fiksi maksimal”. Berapa panjang sebuah fiksi maksi? Sebelum menjawab secara teori, mari melihat contoh karya fiksi maksi. Di dunia ini ada banyak fiksi maksimal atau fiksi panjang sampai fiksi yang terpanjang di dunia. Setidaknya ada dua karya fiksi terpanjang yang pernah ditulis—satu dari dunia internasional dan satu dari Indonesia. Keduanya luar biasa dalam skala dan nilai budaya.
Pertama karya fiksi terpanjang di dunia berjudul Subspace Emissary’s Worlds Conquest dengan penulis Christian (Aura Channeler Chris) dari Amerika Serikat, jumlah kata karya fiksinya 4,1 juta kata. Karya ini dipublikasikan melalui postingan online 2008, bukan buku cetak. Isinya bercerita sebagai fiksi spekulatif berdasarkan karakter dari gim Super Smash Bros, dengan elemen humor, aksi, dan pesan moral.

Kemudian karya fiksi maksi yang terpanjang ke dua di dunia adalah karya berjudul La Galigo ditulis oleh Colliq Pujie (disusun dari tradisi lisan Bugis) dengan jumlah sekitar 300.000 baris, diperkirakan setara dengan lebih dari 1,5 juta kata. La Galigo ditulis pada abad ke-13, merupakana karya syair epik dalam bahasa Bugis kuno. Sejak 2011 La Galigo telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World.
La Galigo adalah kisah mitologis dan spiritual tentang tokoh Sawerigading, Batara Guru, dan penciptaan dunia menurut kosmologi Bugis. Karya dari Sulawesi Selatan (Sulsel) ini bukan hanya karya fiksi terpanjang dari Indonesia, La Galigo adalah salah satu epos terpanjang di dunia. Bahkan disebut lebih panjang dari Mahabharata India. La Galigo merupakan tradisi lisan, lalu ditulis dalam aksara Lontara. Sementara itu Mahabharata di India ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Sebagai karya fiksi maksi, La Galigo dan Mahabharata keduanya adalah karya fiksi yang menyimpan nilai moral dan spiritual, menjadi panduan hidup dan etika masyarakat serta sumber identitas budaya dan kebanggaan kolektif. La Galigo lebih bersifat mitologis dan kosmologis, sedangkan Mahabharata lebih historis dan filosofis dalam konteks konflik dan ajaran hidup.
Fiksi Mini Sejarah
Sampai di sini sudah mengerti dan mengetahui apa fiksi maksi atau karya fiksi maksimal (panjang). Selanjutnya adalah lebih mendalam mengetahui atau mengenal fiksi mini yang menurut sejarahnya sudah ada sejak 1920-an, oleh Ernest Hemingway yang hanya berisikan kata For Sale: Baby Shoes, Never Worn. Lebih tua lagi, fiksi mini sudah ada pada 620—560 SM (sebelum masehi), yang muncul pada karya-karya Aeosop.
Mengutip Ibnu Wahyudi dalam “Flash Fiction di Indonesia: 1858 Hingga Kini” (2023), “mungkin saja kepenasaran kian menjadi-jadi saat mengetahui adanya komposisi enam kata yang dinyatakan sebagai novel. Karya yang berbunyi “For sale, baby shoes, never worn” yang konon dibuat oleh Ernest Hemingway, oleh beberapa pengamat dinyatakan sebagai “novel”.

Mungkin anda tidak percaya pada yang ditulis Hemingway “For sale, baby shoes, never worn” adalah novel. “Hemingway adalah penulis cerita yang terdiri atas enam kata tersebut tetapi belum ada bukti yang mampu menggugurkan isu ini” tulis M Debczak, M dalam “No, Ernest Hemingway didn’t write that six word ‘baby shoes’ story” (2019). Pendapat yang sama juga datang dari Alex Summerbell (2013), Bryan Searing (2017), dan Eugene Costello (2018).
Bagaimana di Indpnesia? Ibnu Wahyudi memberikan contoh pada karya fiksi di Indonesia. Dengan mengutip karya Arswendo Atmowiloto berjudul Menungggu Koran Pagi.
Menunggu
Alquran Pagi
SITUASI
Jalanan di muka rumah, seluruhnya
telah dijamah kaki. Siang meninggi hingga
ke titik yang paling tepi.
SEJAK PAGI HARI
Di kursi aku mencoba menggagalkan
sepi
MALAM HARI
Di depan tivi, malam nanti, beragam
mimpi menyita, menemani. ***
Karya Arswendo ini bersama dua karya lainnya berjudul “Testimonium Matrinomi” dan “Konsepsi” dimuat di Majalah Horison yang terbit tahun 1974. Karya Arswendo ini dimuat di bawah keterangan yang bertuliskan, “Cerpen-cerpen Arswendo Atmowiloto”. Dengan pengertian lain, karya yang telah disajikan, dikategorikan sebagai cerpen oleh pihak Horison—atau mungkin juga atas permintaan Arswendo sendiri.
“Adanya label “cerpen” pada karya seringkas itu boleh jadi menyebabkan orang bertanya-tanya. Pasalnya, selama ini barangkali yang dipahami sebagai cerpen adalah “kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang dimaksudkan memberikan kesan tunggal yang dominan” tulis Ibnu Wahyudi.

Sejak lama dikenal bahwa sebuah cerita atau cerita pendek terdiri atas sejumlah halaman (5-50 halaman). Pada era jayanya surat kabar dan majalah, koran atau majalah menetapkan ketentuan atau syarat penulisan cerpen paling banyak 9.000 atau 10.000 karakter dengan format pengetikan words atau antara 1.500 sampai dengan 2.000.
Menurut Jose Flavio Nogueira Guimaraes dalam “The Short-Short Story: a New Literary Genre” (2010), fiksi mini bukan merupakan tradisi baru dalam dunia sastra pada umumnya. Hal ini dapat dilihat pada penyebutan fiksi mini yang sangat beragam, dari flash fiction, the short short story, sudden fiction, micro fiction, micro-tory, postcard, blaster, snapper, mini fiction, skinny fiction, dan quick fiction.
Pada era ketika teman sarapan pagi atau makan siang dan makan malam berganti dengn media sosial, maka fiksi mini mendapatkan tempatnya. Fiksi mini menjadi bagian dari sastra cyber sebagai genre sastra yang lahir pada era digital. Menurut Muhammad Iqbal Wahyudi dan Rianna Wati dalam “Fenomena Sastra Cyber: Tren Menulis Cerita Sastra Dalam Bingkai Media Sosial” (2021), dalam perkembangan sastra, ruang sastra ada pergantian medium atau mediam baru, dari cetak ke digital berupa blog atau web dan jejaring media sosial (medsos) seperti facebook, twitter, dan instagram. Ketiganya menurut Muhammad Iqbal Wahyudi dan Rianna Wati memiliki ciri khas sendiri dalam menampung suatu karya oleh penulis-penulis cyber. Seperti twitter atau sekarang X dengan keterbatasan ruang ciutannya ia memiliki alternatif berupa fiksi mini. Facebook dengan ruang gerak yang cukup luas juga bisa menjadi medium fiksi mini bahkan cerpen. Serta instagram yang memberi ruang untuk fiksi mini, bahkan bisa dilengkapi dengan ilustrasi atau foto.
Jika berminat menulis fiksi mini, ayo segera mendaftar bergabung menjadi bagian dari “Menulis 10.000 Fiksi Mini”. (maspril aries)






