Home / Wisata / Hachiko Anjing Setia yang Berulang Tahun ke 101 pada 10 November 2024

Hachiko Anjing Setia yang Berulang Tahun ke 101 pada 10 November 2024

KINGDOMSRIWIJAYA Ada banyak kisah atau cerita tentang satwa atau hewan yang setia pada pemilik atau tuannya. Ini salah satunya, tentang seekor anjing di Jepang yang setia pada tuannya. Ini bukan kisah fiksi melainkan cerita nyata yang terjadi di negeri sakura antara tahun 1925 – 1935.

Anjing tersebut bernama Hachiko, kini diabadikan dalam bentuk patung perunggu yang ada di kawasan sangat terkenal di Tokyo, kawasan tersebut nama Shibuya, sebuah kawasan bisnis yang selalu ramai oleh lalu lalang manusia manca negara setiap harinya. Nama kawasan tersebut berasal dari nama stasiun kereta yang ada di situ, Stasiun Shibuya. Patung Hachiko ada di taman yang berada di depan stasiun yang mulai beroperasi tahun 1885.

Hachiko adalah seekor anjing berjenis Akita yang lahir 10 November tahun 1923, tahun 2024 jika Hachiko masih hidup maka usianya tepat 101 tahun. Hachiko lahir anjing betina bernama Aka di sebuah peternakan di Prefektur Akita, Jepang.

Hachiko kemudian diadopsi oleh Profesor Hidesaburo Ueno, seorang pengajar di Universitas Tokyo. Hachiko lalu dibawa ke Shibuya yang dulu masih sebuah desa tempat tinggal Ueno. Sejak saat itu terjalin ikatan dan persahabatan yang kuat antara sang tuan dengan satwa yang dipeliharanya.

Hachiko adalah anjing berjenis Akita Inu. Dalam novel “Hachiko Monogatari” Karya Kaneto Shindo menceritakan persahabatan dan kesetiaan seekor anjing benama Hachiko biasa dipanggil “Hachi” dengan tuannya bernama Ueno Shujiro tepatnya Profesor Ueno Shujiro seorang dosen Fakultas Pertanian di Universitas Tokyou Tei yang sekarang bernama Universitas Tokyo.

Asal usul Hachi adalah seekor anjing keturunan asli dari Akita yang memilik ciri khas dengan bentuk ekornya yang melingkar. Hachi lahir dari seekor anjing betina yang bernama Aka milik keluarga Kondo yang tinggal di Odate prefektur Akita. Pada 10 November 1923 Aka melahirkan empat ekor anjing dan Hachi adalah salah satunya.


Berfoto dengan obyek patung Hachiko di depan stasiun Shibuya. (FOTO: Dok. Maspril Aries)
Berfoto dengan obyek patung Hachiko di depan stasiun Shibuya. (FOTO: Dok. Maspril Aries)

Kemudian, teman keluarga Kondo yaitu Kakita meminta salah satu anak Aka untuk atasannya yang bernama Mase. Mase menginginkan anak anjing keturunan Akita asli untuk temannya yang tinggal di Tokyo. Lalu Hachi yang kira-kira baru berumur 20 hari dikirim dengan kereta barang ke Tokyo kepada keluarga Ueno yang tinggal dekat stasiun Shibuya.

Saat tiba di Tokyo kondisi Hachi terbaring seperti sudah mati. Lalu oleh Ueno diberi susu, Hachi meminumnya dan sehat kembali. Ueno lalu memberi nama anjing kecil yang waktu duduk, kaki depannya membentuk huruf delapan dengan nama “Hachiko”.

Pada awalnya Hachiko atau Hachi akan dipelihara oleh Chizuko anak Profesor Ueno, namun tidak jadi karena tetapi karena Chizuko akan menikah dengan Moriyama. Akhirnya, Hachi tinggal bersama Profesor Ueno Shujiro dan istrinya Shizuko Ueno. Hubungan Hachi dan Ueno sangat dekat sampai-sampai mandi di Ofuro pun berdua dan ketika hujan besar turun, Ueno membawa Hachi ke dalam rumah dan tidur sambil memeluk Hachi di ruang baca.

Selain keakraban di rumah, ada satu kebiasaan Hachi yang menjadi kegiatan rutinitas, adalah saat Ueno berangkat ke stasiun Shibuya untuk mengajar di Universitas Tokyo, Hachi selalu ikut serta mengantar sampai stasiun. Lalu pada setiap sore Hachi pergi ke stasiun Shibuya dan duduk di dekat pintu keluar menunggu sampai Ueno pulang. Itu dilakukan Hachi tanpa mengenal hujan ataupun salju. Setiap hari Hachi pergi ke stasiun Shibuya menunggu tuannya pulang.

Sampai suatu saat, pada bulan Mei 1925 Profesor Ueno meninggal dunia mendadak akibat serangan jantung di tempat kerjanya dan tidak pernah kembali ke stasiun Shibuya tempat Hachiko selalu menanti kedatangannya. Sejak saat itu, Hachiko tidak lagi bertemu dengan tuannya. Meski begitu, Hachiko tetap kembali ke stasiun setiap hari, menanti kepulangan tuannya dan itu ia lakukan selama 10 tahun.

Dalam novel “Hachiko Monogatari” Kaneto Shindo menuliskan, “Tetapi siang itu, tiba-tiba dia lari ke sana ke sini seperti gelisah, dia pergi menghampiri istri majikannya dan menarik-narik bajunya. Pada waktu itu mungkin dia mempunyai firasat sesuatu yang buruk akan terjadi pada majikannya. Dan benar sekali, pada waktu itu ketika Ueno sedang mengajar tiba-tiba dia terkena serangan jantung, dia terjatuh lemas dan ketika dokter datang dia sudah meninggal”.


Simpang lima Shibuya yang terkenal dan ikonik di Tokyo. (FOTO: Maspril Aries)
Simpang lima Shibuya yang terkenal dan ikonik di Tokyo. (FOTO: Maspril Aries)

Sejak suaminya meninggal, Shizuko Ueno pindah rumha tinggal bersama bersama anaknya Chizuko, menantu dan cucunya Toru. Hachi dititipkan pada keluarga Hashida di Asakusa. Tetapi Hachi malah kabur dan kembali ke rumah Ueno. Hachi untuk kedua kali dititipkan ke Hashida di Asakusa, lagi-lagi ia kabur dan kembali ke rumah Ueno tempat pertama kali ia tinggal setelah pindah ke Shibuya. Kemudian Shizuko Ueno kembali ke rumah ibunya di Akita karena

Istri Ueno datang untuk berpamitan karena dia akan pulang kembali ke rumah ibunya di Akita. Sementara anaknya, Chizuko akan ikut suaminya Moriyama ke London untuk dinas. Istri Ueno meminta Ume untuk menjaga Hachi. Ume kemudian meninggal dunia, istri Ume akhirnya pulang ke kampungnya, lalu tinggal Hachi sebatang kara di Shibuya.

Namun kebiasaan, Hachi setiap sore datang ke stasiun Shibuya menunggu tuannya pulang terus berlangsung menjadi rutinitas. Tome, seorang pemilik warung sate di depan stasiun selalu melihat Hachi setiap sore duduk di depan pintu keluar stasiun. Tome pun kerap memberi makan Hachi.

Keberadaan Hachi di stasiun Shibuya tersebut menarik minat seorang wartawan koran Asahi untuk menulis artikel tentang Hachiko. Kisah tentang Hachiko pun tersebar luas di Jepang, sampai istri Ueno yang sudah tinggal di Akita membaca artikel tersebut. Ia pun sempat kembali ke Tokyo untuk mencari Hachiko.

Kaneto Shindo menulis dalam novelnya, istri Ueno menitipkan uang pada Tome untuk memberi makan Hachi makanan yang pantas dan setelah itu dia pergi meninggalkan Hachi kembali ke Akita. Semenjak hari itu keluarga Tome lah yang memberi makan Hachi. Dan setiap Hachi lapar dia pasti datang ke warung Tome.

Kisah Hachiko yang setia menanti tuannya menyentuh hati banyak orang, dan pada tahun 1934, dibuatlah patung Hachiko di depan Stasiun Shibuya sebagai penghargaan atas kesetiaannya. Selain patung yang ada di Shibuya, ada patung Hachiko yang dibuat di Universitas Tokyo tempat Profesor Ueno dulu bekerja dan di depan stasiun Odate perfektur Akita asal Hachiko.


Berfoto dengan obyek patung Hachiko di depan stasiun Shibuya. (FOTO: Dok. Maspril Aries)
Berfoto dengan obyek patung Hachiko di depan stasiun Shibuya. (FOTO: Dok. Maspril Aries)

Banyak orang terkesima dengan kesetiaan Hachiko yang menunggu tuannya meski sang profesor sudah lama meninggal. Hachiko kemudian menjadi anjing gelandangan sampai akhir hidupnya. Ia ditemukan mati di depan stasiun Shibuya pada tanggal 8 Maret 1935. Jasadnya kemudian diawetkan dan dipajang di National Science Museum of Japan di Ueno, Tokyo.

Film Hachiko

Hachiko adalah anjing berjenis Akita Inu yang dikenang dengan lambang kesetiaannya kepada pemiliknya. Ia setia menunggu si pemilik yang tak akan pulang di depan stasiun hingga hampir 10 tahun. Karena kisahnya yang selalu dikenang oleh banyak masyarakat Jepang, selain patung Hachiko juga menjadi inspirasi banyak penulis untuk menulis ulang kisahnya.

Kisah nyata anjing Hachiko telah menjadi sumber inspirasi dari berbagai kisah cerita pendek, novel termasuk cerita untuk anak-anak, kisahnya juga diangkat ke layar lebar. Ada tiga film dibuat tentang Hachiko. Cerita film tersebut mengadaptasi kisah nyata Hachiko.

Pertama film berjudul “Hachiko Monogatari” yang diproduksi tahun 1987. Film ini disutradarai Seijiro Koyama dengan menampilkan Tatsyuya Nakadai, Kaoru Yachigusa, Mako Ishino dan Toshiro Yanagiba. Film yang diproduksi di Jepang laku keras di sana, tercatat sebagai salah satu film yang box office di Jepang masa itu. Film ini berdurasi 107 menit.

Kedua film berjudul “Hachiko: A Dog’s Story” diproduksi tahun 2009 dengan sutradara Lasse Hallstrom. Film ini jelas-jelas terinspirasi dari kesuksesan film Hachiko Monogatari. Industri film Hollywood lalu mengadaptasi film Hachiko versi Amerika. Aktor dan artis yang berlakon dalam film ini, Richard Gere, Joan Allen, Sarah Roemer, Jason Alexander dan Cary-Hiroyuki Tagawa. Film ini fokus pada hubungan anjing Hachiko dan sang pemilik didukung dengan bahasa visual yang lebuh mudah dicerna sehingga alur cerita tidak terlalu membosankan.

Ketiga film berjudul “Hachiko (2023)” yang diproduksi tahun 2023. Film ini merupakan produksi sineas Tiongkok. Narasi cerita Hachiko anjing setia berasal dari Jepang menjadi latar belakang film yang disutradarai oleh Xu Ang dan dibintangi oleh Bai Jugang, Feng Xiaogang, dan Joan Chen dengan durasi 124 menit. Anjing Hachiko dalam film ini bernama Ba Tong, yang setia menanti tuannya bernama Chen.


Menyebrang ramai-ramai di Shibuya Crossing yang ikonik. (FOTO: Safira Yasmin)
Menyebrang ramai-ramai di Shibuya Crossing yang ikonik. (FOTO: Safira Yasmin)

Berbeda dengan kisah asli, dalam film ini menggunakan setting cerita kereta gantung. Sang tuan bernama Profesor Chen meninggal, namun Ba Tong selalu menunggu tuan di stasiun kereta gantung.

Terlepas dari berbagai versinya, tiga film tentang kisah Hachiko tersebut memberikan pelajaran tersendiri bagi para penontonnya, terlebih perihal kesetiaan dan cinta yang tulus dari seekor satwa kepada tuannya.

Kisah tentang Hachiko yang berulang tahun pada 10 November dan Profesor Ueno telah menjadi simbol kesetiaan yang mendunia. Kisahnya menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia. Dalam kisahnya, ada kesetiaan yang abadi dari anjing bernama Hachiko. Dan Hachiko telah menjadi legenda yang hidup, tentang kesetiaan Hachiko menyebar ke seluruh Jepang dan ke seluruh dunia. Ia menjadi simbol kesetiaan yang tak tergoyahkan dan menginspirasi banyak orang.

Sementara dari novel “Hachiko Monogatari” yang ditulis Kaneto Shindo, menurut Pitri Haryanti dalam “Analisis Unsur Intrinsik Novel Hachiko Monogatari Karya Kaneto Shindo”, ada amanat moral yang dapat diambil dari cerita Hachiko, yaitu rasa kasih sayang yang diberikan dengan tulus akan menjadi suatu kenangan yang terindah yang akan sulit untuk dilupakan. Ini tercermin dari rasa kasih sayang Ueno kepada anjingnya Hachi yang tulus sehingga setelah meninggal dunia pun Hachi terus menanti kepulangan majikannya.

“Seekor binatang seperti anjing pun apabila diberikan kasih sayang, cinta dan kepercayaan dia bisa menjadi anjing yang baik dan setia apalagi kita sebagai seorang manusia yang lebih baik dari binatang. Jangan melupakan jasa atau kebaikan seseorang yang telah mengurus dan mencintai kita dari kecil dalam hal ini orang tua kita. Seperti Hachi yang tidak melupakan kebaikan Ueno yang telah mengurusnya dari kecil”, tulis Pitri Haryanti.

Shibuya

Sementara Stasiun Shibuya yang tadinya hanya melayani perjalanan Tokyo – Yokohama telah menjelma menjadi salah satu stasiun tersibuk di Tokyo, sekaligus pusat transit utama di area Shibuya, tempat persimpangan berbagai jalur kereta seperti JR East, Tokyo Metro, dan Tokyu Corporation. Stasiun Shibuya ini melayani ratusan ribu penumpang setiap harinya. Stasiun ini juga terkenal karena interiornya yang modern, dengan banyak fasilitas untuk kemudahan dan kenyamanan penumpang.


Berfoto di patung perunggu Hachiko di depan stasiun Shibuya. (FOTO: Dok. Maspril Aries)
Berfoto di patung perunggu Hachiko di depan stasiun Shibuya. (FOTO: Dok. Maspril Aries)

Stasiun Shibuya juga dikenal sebagai gerbang Hachiko yang menjadi titik pertemuan populer dan menjadikannya sebagai salah satu lokasi paling ikonis di Tokyo. Wisatawan dapat dengan mudah menjangkau berbagai destinasi di sekitar Shibuya hanya dengan berjalan kaki dari stasiun. Tidak jauh dari stasiun ada satu area yang sangat terkenal, yakni Shibuya Crossing atau Simpang Lima Shibuya. Persimpangan ini adalah salah satu titik lalu lintas pejalan kaki tersibuk di dunia. Setiap pergantian lampu lalu lintas, ribuan orang dari berbagai arah menyeberang bersamaan.

Pemandangan yang terlihat sangat ikonik. Di sini terasa energi kota Tokyo yang dinamis. Menyeberang di Shibuya Crossing adalah pengalaman yang unik dan menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan. Kawasan ini kini menjelma menjadi pusat mode, hiburan, dan budaya pop Jepang. Ada banyak pusat perbelanjaan modern, gedung-gedung pencakar langit, dan tempat-tempat hiburan yang semarak. Simpang Lima Shibuya adalah persimpangan pedestrian yang terkenal di dunia, menjadi ikon visual yang paling sering dikaitkan dengan Shibuya.

Dari kisah Hachiko yang setia hingga kemeriahan Simpang Lima Shibuya dan sekitarnya menjadikan Shibuya sebagai pusat kebudayaan urban Tokyo yang tak pernah sepi. Ada Shibuya dan berfoto di patung Hachiko adalah adalah cara menyelami kehidupan modern Jepang sekaligus mengapresiasi sejarah dan budaya Jepang, khususnya tentang kesetiaan dan kemanusian. Kisah Hachiko menyentuh hati manusia karena mengingatkan kita tentang pentingnya hubungan antara manusia dan hewan, serta nilai-nilai kemanusiaan seperti cinta, kasih sayang, dan kesetiaan.

Kesetiaan Hachiko kepada Profesor Ueno tidak luntur oleh waktu hingga menggerakan hati semua orang. Pesan moral yang ingin disampaikan dari cerita pendek, novel atau film yang terinspirasi dari kisah nyata seokor anjing bernama Hachiko adalah betapa berharga dan pentingnya sebuah kesetiaan. Sebagai manusia, kita bisa belajar menghargai sebuah komitmen, baik kepada pasangan, teman, orang tua, siapapun atau apapun di dunia ini. (maspril aries)

Tagged: