Menjual buah kurma hasil panen di Taman Istana Montazah, Mesir (FOTO: Aina RA)
KINGDOMSRIWIJAYA – Istana Montazah dan kurma, keduanya sama menjadi legenda di negeri tempat Firaun pernah berkuasa. Negeri tersebut kini bernama Republik Mesir. Istana Montazah atau El Montazah terletak di Alexandria, kota terbesar setelah Kairo yang letaknya berhadapan dengan laut Mediterania.
Di halaman luar istana tersebut ada pohon banyak pohon kurma, ketika musim berbuah banyak orang yang datang ke sana. Datang untuk sekedar melihat panen kurma atau membeli kurma muda yang baru saja dipanen. Selintas memandang, komplek Istana Montazah seperti Istana Bogor yang ada banyak pohon tumbuh di halaman. Jika berada di taman Istana Montazah sejauh mata memandang yang terlihat adalah pohon kurma.
Jauh dari Alexandria, di Indonesia saat bulan Ramadhan, maka kurma adalah buah yang tersedia untuk berbuka puasa. Buah kurma banyak dijual di pasar sampai di pusat perbelanjaan. Jika malas ke pasar, kurma bisa dibeli di mini market yang tidak jauh dari rumah, di sana kurma juga dijual.
Saat berbuka puasa disunahkan memakan buah kurma, mengikuti sunnah Nabi Muhammmad SAW. Saat berbuka puasa dianjurkan kurma menjadi menu yang tersedia di meja makan, bisa juga saat sahur dilengkapi dengan makan kurma. Menjadi kebiasaan umat Muslim di seluruh dunia berbuka puasa dengan kurma dan air putih, atau kurma dan susu.
Panen kurma di komplek atau taman Istana Montazah adalah salah satu atraksi wisata yang banyak didatangi wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke Mesir. Untuk masuk ke komplek istana setiap pengunjung harus membeli tiket terlebih dulu, harga tiket masuknya 25 Pound Egypt (EGP) mata uang Mesir yang setara sekitar Rp20.000 per orang. Taman istana Montazah adalah area publik yang merupakan taman lanskap umum dan cagar hutan. Letak taman ini menghadap ke pantai Laut Mediterania.

Saat menjejakkan kaki pertama kali di Alexandria yang juga kerap disebut Iskandariyah hari masih pagi setelah sebelumnya menempuh perjalanan darat yang berangkat dini hari dari Bandara Internasional Kairo. Jarak Kairo – Alexandria sekitar 240 km. Setelah beristirahat sejenak di hotel, matahari sudah mulai tinggi, perjalan dari hotel ke Taman Istana Montazah dimulai.
Hari itu tengah ada panen kurma. Seorang warga Mesir naik ke pucuk pohon kurma yang tengah berbuah. Pohon kurma tersebut tingginya berkisar dari enam meter sampai 10 meter. Naik ke pucuk pohon kurma tanpa alat bantu, hanya dibantu seperti gelang yang dililit ke pohon dan tubuhnya, lalu bergerak naik. Lalu buah kurma yang dipetik bersama rantingnya diikat dengan tali untuk diturunkan perlahan dari atas.
Cara naik seperti ini mengingatkan pada petani damar di Kabupaten Lampung Barat, naik dengan cara yang sama dengan alat rotan berbentuk gelang melingkar di pohon damar berdiameter besar.
Buah kurma yang sudah dipanen, lalu dirontokan. Sebagian kurma muda tersebut ada yang dijual di lokasi panen. Banyak warga setempat dan juga wisatawan membeli kurma muda yang masih berwarna merah tersebut, dijual dengan harga 15 Pound Egypt (EGP) sekitar Rp13.000/ kilogram.
Berkunjung ke destinasi taman kurma di Istana Montazah, tak jauh berbeda jika setiap jemaah Umrah selalu ada perjalanan berkunjung ke kebun kurma di Madinah. Di sini juga banyak dijual berbagai jenis kurma.
Kisah Pohon Kurma
Apa anda tahu dari mana asal tanaman kurma? Ada menjawab dari Jazirah Arab. Tanaman kurma berdasarkan kisahnya, berasal dari dataran Mesopotamia, Palestina atau sekitar Afrika bagian Utara (Maroko) 4000 tahun sebelum Masehi dan tersebar ke kawasan Mesir, Afrika, Asia Tengah dan sekitarnya sejak 3000 tahun sebelum Masehi. Kurma dikategorikan buah tertua yang masih hidup sampai saat ini.

Menelusuri asal muasal kurma atau buah kurma, para pakar sejarah mencarinya dari catatan tertulis masyarakat Mesir Kuno sebelum dinasti-dinasti Firaun berdiri. Pada masyarakat Mesir kuno, pohon kurma telah digunakan sebagai bahan bangunan, daunnya dianyam untuk kerajinan dan kehidupan sehari-hari lainnya. Pada zaman kekaisaran Yunani-Romawi kuno, biji buah kurma ditemukan di kawasan ibukota kerajaan.
Pada masa itu kurma telah menjadi bahan pangan dan diperdagangkan masyarakat. Menurut Cheng T Chao dan Robert R Krueger dalam “The Date Palm ( Phoenix dactylifera L.)” (2007), buah kurma sudah lama menjadi salah satu tanaman buah penting bagi daerah Semenanjung Arab, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Selama tiga abad terakhir, kurma sudah masuk produksi di beberapa kawasan negara seperti, Indonesia Australia, India/Pakistan, Meksiko, Afrika Selatan, Amerika Selatan dan Amerika Serikat.
Sebagai buah tertua yang masih hidup di muka bumi, kurma juga telah dibudidayakan bahkan sampai dibudidayakan di Afrika Utara dan Timur Tengah sejak sekitar 5000 tahun lalu. Catatan yang pernah ditemukan di Irak (Mesopotamia) menunjukkan bahwa budidaya kurma sudah ada sejak 3000 SM. Budidaya kurma juga menyebar sampai ke Mesir pada pertengahan milenium kedua SM. Juga sampai ke Eropa.
Orang Spanyol disebut sebagai orang pertama yang memperkenalkan kurma di luar Semenanjung Arab, Afrika Utara dan Timur Tengah, dengan membawa sampai ke Amerika. Sejak dulu, penanaman kurma menjadi simbol kesuburan.
Kisah lainnya, dalam ceritera Yunani kuno, asal muasal nama latin dari kurma (Phoenix) adalah mitologi burung api yang perkasa yang dianggap berasal dari Timur Jauh (far east) dengan bentuk fisik dari tanaman ini menyerupai sayap-sayap dari burung api yang diceriterakan.

Khasiat Kurma
Pada masa dinasti Firaun berkuasa di Mesir, buah kurma dan bijinya dianggap memiliki khasiat-khasiat istimewa. Diantara banyak khasiat yang dapat didokumentasikan adalah sebagai obat cacing, ramuan penyembuh luka luar, penyembuh penyakit hati dengan gejala dada terasa panas, digunakan sebagai stimulan pertumbuhan rambut, hingga diminum atau dioleskan ke hidung sebagai obat batuk dan pilek.
Kemudian pada abad pertengahan, para tabib muslim untuk pengobatan menggunakan sistem Greeko-Arab yang merupakan perkembangan dari sistem pengobatan Yunani. Ramuan-ramuan obat banyak mengikut sertakan kurma sebagai salah satu bahan dasarnya. Kurma digunakan sebagai bahan ramuan untuk afrodisiak (peningkat libido), analgesik dan antipiretik (penghilang rasa nyeri), anti-racun, anti-asma dan anti-inflamasi (pembengkakan pada saluran pernafasan dan ginjal), anti rabun-senja, anti-mencret.
Klaim pengobatan masa lalu tersebut jika digunakan saat ini tentu harus melalui uji klinis terlebih dahulu. Dengan pendekatan ilmu kesehatan, kurma mmemiliki sejumlah khasiat dan mengandung berbagai vitamin dan mineral yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit karena semua bahan itu adalah penawar atau obat.
Banyak penelitian menemukan bahwa kurma adalah buah yang sangat tinggi nilai gizinya dan amat sesuai dengan tubuh manusia yang diciptakan Allah SWT. Kemudian kurma bisa memberikan manfaat bagi manusia dari mereka yang masih berusia bayi hingga orang tua.
Dalam pendekatan ilmu kesehatan kurma adalah mencegah stroke dan serangan jantung, mempercepat penyembuhan demam berdarah, mencegah pendarahan rahim, meningkat daya pikir otak dan menyuplai kebutuhan energi saat berpuasa, serta melindungi kulit dari infeksi.
Menurut Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, “Pengobatan Cara Nabi,” (1997), khasiat dari kurma masak dapat memperkuat lever, merelaksasi usus, menambah produksi sperma dan menyembuhkan radang tenggorokan. Kurma masak sangat bergizi bagi tubuh karena esensinya panas dan basah, jika dimakan pada saat perut kosong kurma membantu mematikan cacing.

Lantas apa guna dan manfaatnya kita memakan kurma? Menurut pepatah kuno Arab, “Kegunaan pohon kurma adalah sebanyak jumlah hari dalam setahun”.
Kurma dalam Alquran
Pada bulan Ramadhan setiap tahun kurma yang menjadi teman berbuka dari menu-menu makanan lainnya. Tak salah jika kurma adalah salah satu makanan favorit bagi umat Islam yang tengah menjalani ibadah puasa. Kurma terhidang sebagai takjil untuk berbuka puasa umat Islam dari yang di rumah sampai di hotel berbintang.
Kurma di dalam Alquran ditulis dengan kata An-Nakhl, An-Nakhiil, An-Nakhlah dan An-Nakhlan yang berarti pohon kurma, kebun kurma dan buah kurma, seharusnya buah ini bisa tersedia kapan saja dan dimakan kapan saja, jadi tidak hanya pada bulan Ramadhan.
Kata An-Nakhl, An-Nankhiil, An-Nakhlah dan An-Nakhlan dalam kitab Mu’jam Al-Mufarras Al-fadhul Quran, menyebutkan kata An-Nakhl, An-Nakhiil, An-Nakhlah dan An-Nakhlan sebanyak 20 kali dalam 16 surat.
Menurut Abdullah Al-Qari B dan Hj. Salleh, dalam “Rahasia & Khasiat Air Zam-Zam, Buah Zaitun, Buah Tamar (Kurma)” (2004), kata-kata tersebut tertulis dalam Surat Ar-Rahman: 11 dan 68, surat Qaf: 10, surat Yasin: 34, surat As-Syu’ara’: 148, surat Ar-Ra’d: 4, surat Maryam: 23 & 25, surat Al-Baqarah: 266, surat Al-An’am: 99 & 141, surat An-Nahl: 11 & 67, surat Al-Isra’: 91, surat Al-Kahf: 32, surat Taha: 71, surat Al-Mu’minun: 19, surat Al-Qamar: 20, surat Al-Haqqah: 7 dan surat ‘Abasa: 29.
Dalam Alquran, Allah SWT selain menyebut buah kurma juga ada buah lainnya, diantaranya buah tin, zaitun, delima dan anggur. Aneka buah-buahan segar tersebut diciptakan Sang Khalik untuk umat manusia. (maspril aries)






